Bulan Mahendra, seorang nona muda kaya raya yang sangat berkuasa di suatu sekolah swasta ternama.
Dia sangat di hormati di sekolah tersebut, tak hanya karna dia kaya raya, dia juga pemilik dari sekolah SMA Mahendra karna itu juga ia menjadi sangat angkuh dan sombong namun suatu hari tanpa sengaja ia bertemu dengan pemuda miskin yang merubah dirinya.
Dia mulai tertarik dengan pemuda itu dan tanpa ia sadari rasa ke tertarikannya berubah menjadi cinta yang akan mengubah kehidupannya dan nama pemuda itu adalah Awan.
Kisah cinta yang berawal dari sebuah pesta, akan kah berakhir bahagia? apakah Bulan bisa melewati semua batasan sampai bisa menuju ke tempat awan berada? atau malah Awan yang terbang menuju Bulan? atau mereka terpaksa untuk menyerah?.
Penasaran dengan ceritanya iyakan?
Yuk, baca dan jangan lupa untuk menambahkan like atau komentar untuk mendukung karya ini, biar rajin up! hehehe🙃.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Angelines, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
"Sudah, berhenti menangis. Saya tidak menyangka kalau nona Bulan begitu cengeng." seru Awan sambil mengejek Bulan yang tidak bisa membendung air matanya.
"Yeh, jangan gitu kan lu yang bikin gua nangis." seru Bulan sambil menyekah air matanya.
"Baik kalau begitu, saya akan bertanggung jawab karna telah membuat nona menangis." ucap Awan dengan nada yang begitu lembut.
"Gimana caranya bertanggung jawab?" tanay Bulan yang penasaran.
"Entahlah, mungkin saya bisa membelikan nona permen atau ice cream." seru Awan sambil tersenyum ringan.
"Lu pikir gua anak kecil ha? tapi gua mau ice cream rasa coklat." seru Bulan yang membuat Awan merasa Bulan sangatlah lucu dan mengemaskan sampai sampai ia tidak bisa mengalihkan pandangan nya.
"Astaga, imut sekali jantungku tidak bisa menahan goncangan ini." batin Awan
"Baik, nona tunggu di sini sebentar!" seru Awan yang langsung pergi membelikan ice cream yang di minta Bulan.
Setelah Awan pergi membeli ice cream, Bulan yang menunggu Awan pun merasa bosan lalu ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya, Namun saat di tengah perjalanan menuju kelasnya ia tidak sengaja bertemu Galaksi.
"Bulan!" pangil Galaksi.
"Apa?" jawab Bulan ketus.
"Lu udah punya partner belum? kalau belum gua bersedia jadi partner lu." seru galaksi menawarkan diri untuk menjadi partner Bulan.
"Udah." jawab Bulan singkat dengan muka datar yang terlihat sangat tidak suka merespon omongan Galaksi.
"Siapa?" tanya Galaksi namun Bulan diam saja karma ia engan menjawabnya.
"Oh, jangan jangan lu ngejadiin orang miskin itu sebagai partner lu?"
"Kalau iya kenapa? bukan urusan lu kali." jawab Bulan yang sangat ketus yang membuat Galaksi merasa tidak senang karna ia terus di campakan oleh Bulan dan Bulan malah memilih pria miskin dari pada dirinya.
"Bulan, lu ya! di luar sana itu banyak cewek yang rebutan jadi partner gua, sedangkan lu yang beruntung gua tawarin malah nolak gua, demi pria miskin itu." seru Galaksi dengan nada tinggi yang terdengar jelas bahwa ia sangat marah.
"Oh, gua gak perduli." seru Bulan.
Galaksi yang sudah begitu marah pun tidak bisa mengkontrol dirinya, ia langsung menarik tangan Bulan dan menghepaskannya ke tembok.
"Brak...." bunyi kepala Bulan yang terbentur tembok dengan sangat keras sehingga kepalanya mengeluarkan darah.
"Auu, apa apaan si lu." seru Bulan yang merinti kesakitan.
"Lu itu milik gua dan hanya bisa jadi milik gua!" seru Galaksi sambil mencengram pipi Bulan.
"Brak...pelak..."
"Berani berani nya lu mukul adek gua!" seru Langit yang baru saja sampai dan langsung memukul i Galaksi sehingga Galaksi tersungkur ke tanah dan tidak Lagi berdaya karna pukulan Langit yang begitu keras. Langit sangat marah saat melihat keponakannya di sentuh oleh pria bajingan yang otaknya sudah tidak lagi berada di kepalanya melainkan sudah pindah di telapak kaki.
Bulan yang merasa kepalanya begitu sakit pun hanya bisa melihat dan menahan rasa sakitnya, namun ia telah mengeluarkan banyak darah dan membuatnya hampir tak sadarkan diri, Awan yang baru saja sampai langsung melepas ice cream di tangan nya dan berlari menangkap Bulan, sedangkan Langit masi terus memukul i Galaksi untuk melampiaskan amarahnya.
"Bulan, kamu gak apa apa?" tanya Awan yang begitu khawatir.
"Awan?" seru Bulan yang akhirnya pingsan setelah lega bahwa ada Awan di sampingnya.