Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.
Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.
Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special part Arjuna
Sepulang dari pemakaman, aku tak mendapati Farhana di kamar. Lalu mata tertuju pada cincin dan kartu seluler yang tergeletak dimeja. Marah, kesal seketika menyeruak dari dalam hati. Apa maksudnya?
Aku mengacak rambutku kasar, meraup wajah gusar. Kenapa Farhana begitu kecil hati seperti ini?
Bayang - bayang wajah memohon dan ketakutan tadi terlintas dibenakku. Aku bisa melihat sebuah ketakutan dari matanya.
Han, kenapa kamu tak menungguku menjelaskan semuanya? Kenapa kamu malah pergi.?
Rasa bersalah pun membuat ku ingat semua kebersamaan kita tiga bulan ini dalam ikatan pernikahan.
Flashback on.
Hari itu gak pernah, aku bayangkan sedikitpun kisah ini terjadi padaku. Impian pernikahan bersama Dafina seketika hancur lebur menjadi debu. Kecewa, marah, dan malu membuatku semakin terluka.
Sejak malam hari dihari pernikahan itu, Dafina sudah tak dapat dihubungi. Sempat cemas dan gelisah. Tapi, aku menepis semua rasa itu. Aku yakin Dafina adalah jodohku. Perasaanku ini hanya karena rasa gugupku saja menantikan esok hari.
Dan hari itu tiba, Dafina tak juga datang dua jam lebih menunggu. Aku mencoba berkali - kali menghubungunya tapi ponselnya mati. Yang lebih mengejutkan lagi, orang suruhan ku mengecek rumah Dafina bilang rumah itu kosong sejak semalam.
Aku tak tahu harus bagaimana, aku telah membuat malu keluarga. Papa dan mama sangat kecewa padaku. Apa lagi dari awal mama sedikit keberatan dengan pernikahan ini.
Saat genting dan memalukan itu, papa memberiku pilihan untuk memilih salah satu perempuan disana untuk menggantikan Dafina.
" Pa, nggak harus seperti itu caranya."
" Lalu bagaimana caranya? Kamu mau mencoreng nama baik keluarga lebih banyak lagi.?"
Aku diam sesaat, bagaimana aku bisa mengorbankan perasaan seorang perempuan untuk melindungi nama baik keluarga.
" Bagaimana dengan Puspa?" usul mama.
"Tapi, Puspa tidak datang ma!" jawabku lesu.
" Kalau sekretaris kamu, Lisa?" papa memberi usul.
" Gak pa. Dia perempuan yang gak cukup baik untuk jadi seorang istri.!" kataku tegas.
" Yaa kalau begitu pilihan kamu hanya satu, Farhana!" sahut mama yang sepertinya cukup tertekan dengan semua ini.
Aku menghela nafas panjang. Berfikir sejenak, Farhana sahabat baikku. Dia perempuan yang sangat baik dimataku. Tapi, kami sudah berjanji tak akan saling jatuh cinta. Lalu tiba - tiba aku memintanya menikah denganku. Apa yang akan dipikirkan dia nanti, tentang aku? Lalu bagaimana dengan orang tuanya? Apakah akan mengijinkan anak perempuan satu - satunya menikah dengan cara seperti ini.
Baiklah lebih baik memilih Farhana, setidaknya aku sudah mengenalnya dan aku tau dia perempuan yang sangat baik.
" Baiklah ma, aku akan meminta Farhana saja yang akan menggantikan Dafina." jawabku.
Aku tahu keputusanku akan menghancurkan persahabatan kami. Dan aku akan menghancurkan masa depan juga mimpinya. Tapi, suatu saat nanti aku yakin dengannya aku akan mudah mengobati luka ini.
Dengan sekuat hati aku meminta pada Bapak dan Ibunya, juga meminta sendiri pada Farhana. Aku tak menyangka dia akan menerimaku tanpa meminta satu syarat apapun.
Kelak satu saat nanti, jika aku yakin bisa membuatmu bahagia, Han. Apapun akan aku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu.
*****
Banyak hal yang harus dihadapi kedepannya. Aku tak pernah menyangka ternyata diminggu - minggu awal sangat berat menjalani pernikahan ini. Tekanan demi tekanan semakin membuatku tak enak hati padanya.
Sejujurnya aku merasa berat untuk mengacuhkannya, tak menganggap keberadaannya. Aku hanya tak mau dia menjadi sasaran kemarahan dari kekecewaan ini. Sudah cukup dia mengorbankan dirinya.
Namun, aku tak pernah menyangka sikapku malah membuatnya semakin terluka. Sudah cukup aku menjerumuskannya dalam masalah ku.
Harus aku akui, dari dulu aku selalu nyaman bersamanya. Dia selalu mengerti segala hal tentangku. Memahami aku melebihi diriku sendiri.
Masalah demi masalah terus terjadi, mulai dari orang tua yang memaksa kami menunaikan kewajiban pasangan suami istri. Padahal kami belum siap melakukannya. Walaupun aku lelaki normal, tapi meminta hak ku tanpa ada disertai rasa cinta apa ini adil untuknya.
Pada akhirnya pun aku melakukannya, ketakutan dan kekonyolan yang sempat melanda seketika sirna saat aku merasakan satu perasaan yang tak bisa ku jelaskan. Entah mengapa dari saat itu aku menjadi kecanduan untuk melakukannya lagi dan lagi bersama Hana.
Bahkan saat aku digoda oleh Lisa dengan tubuhnya yang sengaja diumbar, aku malah teringat dan membayangkan Hana, istriku.
Dibalik penampilan tertutupnya, ternyata segala dari keindahan dirinya membuatku ketergantungan. Dirinya teramat jauh lebih segalanya dibandingkan perempuan yang mengumbar aurat diluar sana. Termasuk Lisa dan Dafina. Haah,... perasaan apa ini sebenarnya? Sejak malam pertama itu aku tak bisa lepas dari bayang - bayang keintiman kami.
Hari terus berlalu pertengkaran, kesalahfahaman terus terjadi. Sampain pada akhirnya aku tahu Hana mulai mencintaiku terlebih dahulu. Dia cemburu saat Lisa sekretarisku mencoba untuk mendekati dan merayuku. Sungguh, lucu sekali perubahan sikapnya itu.
Keberatan iya aku keberatan karena dia mencintaiku terlebih dulu. Bukan karena aku tak suka, hanya aku tak tahu kapan aku bisa membalas cintanya.
Melihat ketulusannya sebenarnya aku bertekat untuk membuka hati untuknya. Belajar mencintai dan menghargainya sebagai seorang istri. Tapi, sulit untuk itu. Bayangan Dafina kadang kala masih terlintas dibenakku.
*****
Hari itu saat aku tahu Hana tak sengaja bertemu dengan Bima, entah mengapa hatiku rasanya sangat sesak. Marah, cemburu dan takut seketika menyeruak membutakan mataku. Aku marah padanya, pikiran yang berprasangka buruk membuat ku melontarkan kata - kata yang menyakitkan.
Menyesal yaa aku menyesal saat itu. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengakui kalau aku cemburu. Apalagi untuk meminta maaf padanya.
Apalagi aku tak pernah menyangka saat itu membuatku sadar, kalau aku jatuh cinta padanya. Yaa, aku mencintai Farhana. Istriku.
Mulai hari itu aku bersikap sedikit melunak, meskipun aneh dan mengesalkan. Sikap Hana yang bermanja padaku sejatinya membuatku bingung untuk membalasnya.
Mungkin rasa gengsi dan harga diri yang terlalu tinggilah membuatku masih saja bersikap dingin padanya.
Farhana, gadis cantik yang telah menjadi sshabat baikku sejak lama. Tak menyangka dia menjadi jodoh ku dengan cara tak terduga seperti ini. Awal pernikahan tanpa komitmen dan keterpaksaan, ternyata membuatku jatuh cinta secepat ini padanya.
Hana, aku mencintaimu.
Flash back offf.
Aku merutuki diri sendiri, kenapa tadi aku harus pergi.?
Pastilah Hana mengira aku masih mencintai Dafina. Sekarang pasti dia merasa ketakutan memikirkan aku akan kembali pada Dafina.
Aku bergegas mengganti semua pakaianku. Aku harus segera menemui istriku. Menjelaskan semuanya.
Tunggu aku, Han! Aku tak ingin kehilangan kamu. Aku tak mau kecewa lagi. Apalagi menyesal karena mengabaikanmu selama ini.
Terima kasih sudah mampir
Semoga suka.