Novelia hidup berdua dengan adiknya Milea, Novelia sangat menyayangi adiknya itu hingga sesuatu yang menyakitkan menimpa adiknya. Adiknya dinyatakan defresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa dan itu membuat hati Novelia sangat hancur.
Novelia curiga kalau defresinya adiknya ada hubungannya dengan lingkungan sekolah, maka dari itu Novelia bekerja sebagai penjaga kantin untuk menyelidiki siapa orang-orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa adiknya itu.
Akankah Novelia bisa menemukan pelakunya atau justru nyawa Novelia yang akan terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOVELIA BAB 31
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Keesokan harinya, seperti janjinya tadi malam Angkasa tidak berangkat ke sekolah tapi akan pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan Novelia.
Sementara itu, tidak jauh dari rumah Angkasa dan Novelia, mobil Mami Wilona sudah stand by. Selama satu bulan ini Mami Wilona sudah memikirkan semuanya, kalau pun Angkasa memang sudah selingkuh di belakang Patricia, Mami Wilona akan menemui wanita itu dan menanyakan langsung kepada Novelia.
Tidak lama kemudian, pintu gerbang rumah Angkasa pun terbuka membuat Mami Wilona tersentak dari lamunannya. Terlihat Angkasa dan Novelia bergandengan tangan dengan senyuman tersungging di wajah keduanya. Angkasa membukakan pintu mobil untuk Novelia, lalu dirinya segera berlari dan masuk ke dalam mobil.
"Pak, ikutin terus mobil Angkasa."
"Baik Nyonya."
Awalnya Mami Wilona ingin menunggu Angkasa pergi dan dia akan masuk ke rumah itu, tapi melihat Angkasa pergi dengan wanita itu membuat Mami Wilona akhirnya harus mengikuti mobil Angkasa.
"Angkasa mau pergi ke mana dengan wanita itu?" gumam Mami Wilona.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Angkasa sampai di sebuah rumah sakit. Angkasa kembali membukakan pintu mobil dan menggandeng tangan Novelia masuk ke dalam rumah sakit itu.
"Rumah sakit? Ngapain Angkasa ke sini? Pak, tunggu sebentar ya, saya mau masuk ke sana dulu."
"Iya Nyonya."
Mami Wilona pun segera masuk dan mengikuti Angkasa, Mami Wilona terus saja mengikuti Angkasa hingga akhirnya Mami Wilona tampak tertegun saat melihat Angkasa dan wanita itu masuk ke ruangan dokter kandungan.
Mami Wilona terdiam dan memutuskan untuk menunggu Angkasa di kursi tunggu.
"Usia kandungan Nyonya Novelia saat ini baru saja memasuki minggu ke dua, masih sangat rawan jadi saya harap Nyonya jangan bekerja yang berat-berat dulu, minum vitamin, dan makan makanan yang sehat," seru Dokter.
"Baik dokter, terima kasih."
Angkasa dan Novelia pun akhirnya keluar dari dalam ruangan dokter, mereka kembali berjalan bergandengan.
"Angkasa!"
Angkasa dan Novelia seketika menghentikan langkahnya, Angkasa tahu suara siapa itu. Perlahan Angkasa dan Novelia membalikan tubuhnya dan Angkasa melihat Maminya sudah berdiri dan menatap dirinya.
"Ma-mi," seru Angkasa gugup.
Novelia tampak terkejut, Novelia tahu siapa wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya itu karena Novelia dulu sempat menjadi pelayan untuk acara tunangan Angkasa.
"Nyo-nya," lirih Novelia.
Perlahan Mami Wilona mendekati Angkasa dan Novelia dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. Novelia susah payah menelan salivanya, sudah dipastikan saat ini dia akan ditampar, dijambak, oleh Ibu mertuanya itu.
Mami Wilona berdiri tepat di hadapan keduanya, Mami Wilona menatap tajam ke arah Novelia membuat Novelia menundukan kepalanya.
"Mami, Angkasa bisa jelaskan semuanya tapi tidak di sini, tolong Mami jangan marah kepada Lia karena semua ini Angkasa yang memutuskan," seru Angkasa panik.
Angkasa tidak mau sampai Maminya memarahi Novelia. Perlahan tangan Mami Wilona menyentuh kepala Novelia dan itu membuat Novelia memejamkan matanya, dia sudah siap kalau Mami mertuanya menjambak dirinya karena memang pada kenyataannya dia sudah merebut Angkasa dari Patricia.
Sedangkan Angkasa sudah terlihat cemas, dia tidak mau sampai Novelia terluka.
"Siapa namamu, Nak?"
Seketika Novelia mengangkat kepalanya dan terkejut saat melihat wajah mertuanya sedang tersenyum kepadanya, Novelia menoleh ke arah Angkasa yang saat ini terdiam mematung, tidak percaya dengan sikap Maminya.
"Mami yakin, pasti kamu punya alasannya melakukan semua ini, Angkasa. Tapi Mami ingin mendengar langsung darimu, dan Mami harap alasan yang kamu ucapkan tidak membuat Mami kecewa."
"Ya sudah, lebih baik kita bicaranya di tempat lain jangan di sini. Kebetulan di sebrang rumah sakit ini ada restoran, kita bicara di sana," seru Angkasa.
Ketiganya lalu memutuskan untuk pergi ke restoran itu, Angkasa langsung menceritakan semuanya kepada Maminya apa yang sudah Patricia lakukan.
"Astaga, Mami tidak menyangka kalau Patricia akan melakukan semua itu."
Novelia tampak terdiam. "Sepertinya aku juga harus memberitahukan semuanya kepada Mas Angkasa dan Nyonya Wilona, dan mungkin ini adalah saatnya," batin Novelia.
Novelia pun mengeluarkan ponselnya dan langsung menyalakan rekaman Patricia saat bicara dengan Joni, bahkan saat Patricia membawa Joni ke rumah Angkasa waktu itu.
Angkasa dan Mami Wilona saling pandang satu sama lain, hingga rekaman itu pun selesai.
"Sayang, kenapa kamu menyembunyikan rekaman ini?" tanya Angkasa.
"Maaf Mas, tadinya aku ingin menyimpan rekaman ini saat aku sedang terdesak, dan sekarang mungkin sudah saatnya aku membeberkan kebobrokan Patricia dan Pak Prima," sahut Novelia.
"Pak Prima? Apa yang dia lakukan?" tanya Mami Wilona.
Novelia kembali menunjukan rekaman Pak Prima dan Pak Dedi, sehingga membuat Angkasa tanpa sadar mengepalkan tangannya.
"Jadi, Milea?"
"Iya Mas, siswi yang gila dan dikeluarkan dari sekolahan waktu itu adalah Milea adikku. Pria tua bejad itu sudah merusak masa depan adikku, makanya waktu itu aku mengambil ponsel Pak Dedi bukan karena aku ingin mencuri ponselnya, tapi aku ingin melihat barang bukti yang ada di dalam ponsel Pak Dedi itu," sahut Milea dengan deraian airmata.
Angkasa mengusap airmata Novelia dan memeluknya dengan sangat erat.
"Maafkan aku sayang, aku kira kamu ingin sebuah ponsel, maaf sudah menyangka kamu yang enggak-enggak."
"Tidak apa-apa Mas."
"Kalau itu alasan kamu melakukan semua ini, Mami mendukung kamu dan Mami sangat senang kalau di perut kamu sedang ada calon cucu Mami," seru Mami Wilona dengan mengusap perut Novelia.
Novelia melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Mami Wilona, kemudian Novelia meraih tangan Mami Wilona dan mencium punggung tangan Mami Wilona.
"Maafkan aku Nyonya, karena sudah merusak rumah tangga anak Nyonya."
"Kamu panggil Mami saja, karena sekarang kamu sudah menjadi menantu Mami dan Mami pastikan, kamu akan menjadi menantu Mami satu-satunya."
Mami Wilona memeluk Novelia, Novelia meneteskan airmatanya saking bahagianya begitu pun dengan Angkasa tampak tersenyum melihat kedua wanita yang sangat dia sayangi saling berpelukan seperti itu.
semangat buat Novelia,,😉😉
buat Authornya semangat juga,,🙂🙂
mksh k popy untuk sajisn yg bagus maaf lama nggak baca lg sibuk di rl... 🙏🙏🙏