Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Langkahnya kian dekat, garis muncul diantara kedua alisnya, matanya seakan menatap tajam ke arahku. Tapi justru aku terpaku, lidahku terasa kelu namun hanya mataku saja yang mampu menangkap geraknya yang makin lama makin mendekat.
Aku terpaku. Aku mengamati tiap langkah yang menampakkan apa yang selama ini tak pernah kulihat. Diakah Reynand yang selama ini aku kenal? Rasanya aku seperti tak mengenalinya.
Oh, rasanya ada yang tidak beres dengan diriku. Hingga dia berjalan tegap melewatiku, tapi ekor mataku masih tetap mengawasi pergerakannya. Dia kini mengambil paperbag yang masih tergeletak di lantai dilanjut menutup pintu.
"Banyak orang diluar Ra, kamu mau aku jadi tontonan orang!" ucap Reynand saat sudahmenutup pintu.
Ya jelas banyak orang. Depan kamar yang aku tempati pas kolam renang apalagi sore begini.
"Ra?" tegur Reynand saat dia berada di depanku, dia tampak mengamati wajahku.
"Wajahmu merah!" ucapnya dengan mata menyipit.
Aku langsung menangkup kedua pipiku, lalu menggeleng kuat.
"Merah banget," tambahnya, bahkan kini senyum mengejeknya muncul.
Ah, kenapa situasinya jadi begini. Rasanya aku kayak orang yang lagi ketangkap basah.
Aku menggeleng, berusaha menyembunyikan kegugupanku. Lalu berkacak pinggang. "Jangan Ge-er. Wajahku merah bukan karena lihat kamu gak pake baju. Lagian gak sopan banget. Pakai baju kek, atau sengaja mau pamer perut rata didepanku?" ucapku.
Reynand menaikkan alis sebelah, terlihat dirinya menahan senyum.
**** banget, tadi aku barusan ngomong apa? Rutukku dalam hati.
"Rata??" sahutnya.
Aku mengangguk dan menjawab, "Iya, kalau gak rata apa lagi coba?" padahal dalam hatiku bersorak 'tRatakan Es batu'.
"Berarti sempat ngintip?"
"Bukan ngintip tapi udah lihat."
Akupun refleks menutup mulutku.
Kenapa ini mulut gak bisa di rem, rutukku dalam hati.
Reynand tersenyum tipis lalu menyerigai. Akupun menyipitkan mata, memberi tatapan sinis padanya, mengisyaratkan bahwa, "jangan coba-coba."
Tapi kini langkahnya kian mendekatiku. "Berarti kamu menikmatinya?"
"Gak, siapa bilang!" jawabku sambil berjalan menyamping, mundur gak mungkin sudah mentok pintu.
"Barusan."
"Kapan?"
Rasanya aku semakin gugup. Posisiku semakin terpojok, selanjutnya aku menuju ranjang untuk mengambil bantal dan melemparkan tepat diwajahnya.
bugh... Dia lambat untuk mengelak dan sudah pasti tepat sasaran.
Kini Reynand mengambil bantal yang tergeletak di lantai, yang baru saja mendarat tepat pada wajahnya. Lalu melanjutkan langkahnya mendekat ke arahku.
"Rey! Mundur gak!" Ancamku yang seakan sudah terjepit akan situasi.
Tetapi Reynand semakin dekat lalu melempar bantal yang dia bawa ke atas ranjang.
Akupun mengambil dan meraih bantal lain lalu memukulkannya pada tubuh Reynand yang berada di depanku.
Bugh... Bugh... Bughh..
"Rey, ngapain makin mendekat?" teriakku padanya.
"Aku mau—"
"Mau apa?" potongku sebelum dia selesai bicara.
Tapi Reynand tersenyum mesum, kemudian mendorong pundakku dan menyentak tubuhku hingga aku ambruk diranjang.
Kini posisiku berada dibawahnya. Jadi bisa kulihat jelas garis wajahnya. Mata kami saling bersitatap dengan jarak yang sedekat ini. Tengkukku mulai meremang. Tubuhku rasanya panas dingin. Sulit sekali aku menelan ludah, Rasanya tercekat. Dan dari jarak seperkian senti ini baru aku akui Reynand ternyata tampan.
Jari telunjuk Reynand terangkat, lalu menunjuk tepat pada keningku dan berujar, "Apa yang kamu pikirkan?"
Namun yang aku tangkap dari ucapnya adalah, pertanyaan itu yang kerap muncul di laman Facebook?
Akupun hanya menggelengkan kepala, mataku masih fokus menatap atau mungkin menikmati tiap pahatan wajahnya.
"Aku tampan?" ujar Reynand, tapi terdengar bertanya.
Tanpa sadar aku menganggukkan kepala. Kini Reynand terlihat mengulum senyum.
Aku pun tersentak seakan sadar dengan posisiku yang sekarang.
"Rey..." cicitku.
Reynand terlihat mengangkat alisnya.
Begitu sorot mataku beralih menatap ke bawah, aku sadar masih ada jarak di antara kami. Akupun menggerakkan tangan kananku lalu memberi mencubit maha dahsyat pada perut six packnya. Tak kupedulikan ringisan yang keluar dari mulutnya.
Akhirnya dia menggulingkan tubuhnya ke sisi kiriku, tepatnya tengah ranjang. Akupun beralih naik ke atas tubuhnya.
"Kenapa kamu jadi semesum ini?" teriakku pada Reynand. Akupun mengambil bantal dan memukulinya tanpa ampun.
Bugh Bugh
Reynand seakan malah tertawa dengan apa yang aku lakukan.
"Yak... memangnya lucu?" Bugh
"Wajahmu semakin merah, Ra!" ucap Reynand yang malah meledekku.
"Gak—aku cuma kepanasan," kilahku.
"Akui saja, kalau kamu tadi sudah melihatnya."
"Apa?"
"Lalu menikmatinya."
"Tutup mulutmu!" Ancamku.
"Kamu juga tadi mengakui kalau aku tampan."
"Sudah kubilang tutup mulutmu!"
"Apa jangan-jangan kamu menyukainya ," ucap Reynand menahan bantal yang akan mendarat diwajahnya.
"Kenapa Kamu jadi senarsis ini??" kataku geram sambil membekap wajahnya dengan bantal.
"xxxxxxccccccccxxww.'" Ucapan Reynand terdengar tak jelas sebab aku membekap kepalanya, juga meronta mencoba melawan, tapi sepertinya kesulitan karena posisiku tengah menduduki perutnya. Aku melampiaskan rasa kesal, gemas, geram dan juga malu lalu tersenyum puas dengan kegiatanku kini.
Tangan Reynand berusaha menggapai ke udara lalu tiba-tiba gerakannya melemas. Akupun panik kemudian melepas dan melempar bantal yg baru saja aku pergunakan untuk membekap Reynand.
Terlihat wajah Reynand memerah. Rupanya dia kehabisan nafas. Aku yang panik segera turun dari atas perutnya.
"Rey kamu belum matikan?" tanyaku memastikan.
"Rey!"
"Rey! Bangun—" kataku sambil menepuk kedua pipinya.
"Rey— jangan mati!" aku berteriak makin panik.
"Gimana sama aku, masak belum genap seminggu jadi janda!"
"Rey—Reynand! Hiks.. hiks.... huaaaaaaa."
Reynandpun terkikik, kulihat tak kuasa dia menahan tawa lalu bangkit dari pembaringannya dan mulai mengatur nafas.
Sedangkan aku sudah sesegukan dan berderai air mata, perasaanku takut. Takut kalau beneran aku bunuh orang, tapi orangnya kini justru menertawakan tingkah konyolku yang baru saja menangisinya.
"Aku belum mati," ucapnya sambil tersenyum sumringah menatapku.
"Kenapa gak mati sekalian!" ucapku kesal.
"Udah nangisnya, itu ingusnya keluar," sahut
Reynand menunjuk tepat ke hidungku.
Dan benar saja, akupun mengelap hidungku dengan punggung tangan dan kemudian mengelapnya lagi pada lengan milik Reynand.
"Jorok!" ucap Reynand.
Aku bergegas bangkit dari ranjang sebelum Reynand membalas aksiku, aku berlari cepat menuju kamar mandi.
Sebelum aku menutup pintu kamar mandi, Reynand berujar, "Siap-siap kita akan makan diluar."
"Ok," sahutku lalu menutup pintu.
Jangan lupa tinggalkan jejak
jempol tanda cinta maupun kritik dan saran dikomlom komentar
To be Continue