Pelukan Rio membuat rasa traumatik dalam diri Diana Lorenza berangsur mereda. "Ri-rio?
"Iya, aku Rio ... apa kau masih mengingatku?Aku anak kecil gila yang pernah berjanji padamu 'I promise you that i never leaves you until my life ends, and i will always trying to prove to the whole world, that our love will come true in a marriege'. Dan percayalah, anak kecil gila itu pasti akan membuktikan janjinya." Rio semakin memperat pelukannya.
Diana terdiam, membiarkan dirinya hanyut dalam hangat dan nyamannya pelukan Rio.
Namun, bisakah Rio menepati janjinya itu?
Akankah Rio bisa membahagiakan Diana yang hidupnya terus dirudung kemalangan?
Sementara Rio sendiri sudah dijodohkan dengan sepupunya!
Mungkin saja ini hanya sebatas kebahagiaan semu untuk Diana!
Follow ig: @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuh Kerinduan
Untuk sesaat Diana masih terpaku di tempatnya berdiri, manik matanya memindai interior apartemen yang penuh dengan kenangan, dan hampir tidak ada perubahan dibanding 20-tahun yang lalu.
Furniture dan hiasan yang ada di ruangan itu masih sama, kecuali satu set sofa di ruang tamu yang sudah berganti. Mungkin Rio menggantinya karena sofa yang lama sudah benar-benar tidak layak pakai.
Dulu, Diana akan ke sini saat pulang sekolah, bermain hingga sore bahkan malam sampai ayahnya datang untuk menjemput, itu benar-benar kenangan masa kecil yang indah.
"Tuhan, aku rindu Papa," lirih Diana.
Mengingat masa kecilnya membuat mata Diana berkaca-kaca. Dia masih terlalu kecil saat insiden kecelakaan pesawat itu terjadi, lalu merengut habis kebahagiaannya.
Bahkan saat Diana merindukan sang ayah, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa. Anak yatim piatu lain mungkin masih bisa menziarahi makam orangtuanya, tapi Diana tidak. Karena makam ayahnya memang tidak ada.
Entah mungkin ayahnya jatuh ke laut lalu dimakan binatang buas, atau tubuhnya hancur bersama ledakan pesawat na'as itu, Diana tidak tahu.
Sampai saat ini Diana terus mendoakan, semoga di alam sana ayahnya bisa bertemu ibunya, dan hidup dalam kedaiaman.
Diana menarik napas panjang, dia tidak ingin hanyut terlalu jauh meratapi masa lalu. Ia pun melangkah menuju kamar yang ditempati neneknya.
Diana tersenyum lebar, saat membuka pintu ia mendapati neneknya dalam keadaan baik-baik saja.
"Dian, kamu sudah pulang. Nenek sangat mengkhawatirkan kamu," lirih nenek Dewi.
Diana mendekati neneknya.
"Dian nggak apa-apa, Nek. Nenek jangan cemas." Sembari mengatakan itu Diana menciumi punggung tangan neneknya penuh kasih.
"Apa Nenek sudah minum obat?"
Nenek Dewi mengangguk. "Sudah, Rio yang menyediakan semuanya, dia juga mendatangkan suster untuk menjaga nenek."
"Syukurlah." Diana tersenyum senang, lalu menoleh pada suster yang menjaga neneknya, "Suster, terimakasih."
"Tidak perlu sungkan, Nona. Saya di sini digaji untuk menjaga Ibu Dewi," balas suster Tari sambil tersenyum ramah.
"Kata Rio, besok nenek akan dibawa ke rumah sakit, anak itu sangat baik, kamu beruntung memiliki teman sepertinya Dian," tambah nenek Dewi.
"Iya Nek, Rio memang sangat baik," sahut Diana membenarkan, dia sendiri bahkan tidak tahu akan seperti apa nasibnya, jika tadi Rio tidak datang.
Pasti dia sudah menjadi budak pemuas untuk Tuan Jhoni.
Setelah berbincang sebentar dengan nenek, Diana pamit pergi mandi. Dia ingin membersihkan diri, sekaligus menghayutkan bekas bibir kotor Tuan Jhoni dari tubuhnya, sambil berharap kejadian buruk itu tidak akan terjadi lagi di hidupnya.
Sehabis mandi Diana pergi menuju dapur, dia memeriksa penyimpanan lalu mulai berkutat dengan peralatan memasak. Dia memang sudah lapar, selain sarapan setelah meninggal penginapan tadi pagi, belum ada apa pun lagi yang masuk ke perutnya.
"Kau sedang apa?" tanya Rio dari arah belakang.
Diana memutar kepala. "Kau sudah pulang, apa masalahnya sudah selesai?"
Rio mengangguk seraya meletakkan sebuah paper bag di atas meja. "Sudah, dan aku membawakan baju ganti untukmu."
"Terimakasih." Diana mematikan kompornya, lalu mengambil paperbag tersebut.
"Mengapa buru-buru mengganti pakaian?"
"Tentu saja aku harus segara menggantinya, sebab matamu itu sudah tidak bisa dikondisikan, persis seperti kucing kelaparan!" Diana menarik sudut bibirnya.
Saat ini Diana memang hanya mengenakan bathrobe, karena tidak memiliki pakaian ganti.
Rio terkekeh, matanya memang tidak berkedip memandang Diana, tapi bukan lekuk tubuh menggiurkan gadis itu yang menjadi fokusnya, melainkan pancaran kerinduan yang mendalam.
Bertahun-tahun dia mencari Diana, dan baru sekarang membuahkan hasil, ini adalah hari yang sangat dinanti-nanti oleh Rio.
"Ya sudah, pergilah ganti jika itu yang kau takutkan." Sebelah mata Rio mengedip genit, yang dibalas decakan oleh Diana.
Mereka meninggalkan dapur, Rio pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri, setelah itu mereka lanjut makan bersama.
Tatapan Rio yang selalu intens, membuat suasana menjadi sendikit canggung, dan itu berlangsung sampai mereka pindah ke ruang TV.
Memang mereka sudah saling mengenal sejak lama, tapi sekarang mereka adalah pria dan wanita dewasa, bukan lagi anak kecil. Terlebih sudah puluhan tahun lamanya tidak bertemu, jadi wajar saja Diana merasa kurang nyaman, dan sedikit asing.
"Rio, berhentilah menatapku seperti itu!" protes Diana.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Rio.
"Hah?" Diana terbebelak, permintaan itu seakan membuat kepalanya membeku.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar positif ya, terimakasih.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
tp klu tdk ada peran si ibu tiri pasti tdk seruu.