"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memata-matai?
Arif menatap dalam ketenangan, namun tidak dengan sorot mata yang dipergunakan Daffa untuk membalas. Ada sorot amarah terpancar dari kedua matanya, tatapan sama yang selalu ada ketika harus berhadapan dengannya yang terus saja mengusik ketenangan hubungan pernikahan bersama Vania.
Seorang pelayan menghampiri mereka, menyampaikan pesan dari si empunya rumah, agar ketiganya masuk ke dalam. "Kita masuk, Nia?" tegur Arif mengulurkan tangan, seketika Daffa menarik istrinya ke balik tubuh.
"Nia punya kaki, gak perlu digandeng! Pergi aja sana, gak usah ajak-ajak!" sinis Daffa.
"Ya berarti lepasin tangannya, dia udah kesakitan! Bukan truk, kan? Jadi, gak perlu gandengan!" balas Arif, menoleh lelaki berkemeja navy dengan list putih pada saku kiri itu pada sang istri. Segera melepaskan tangan dari genggaman, tatkala ia mendapati wajah kesakitan yang berusaha dibungkus dengan senyuman. "Udah nyakitin hati, fisik juga disakiti. Gitu ngakunya suami?" santai Arif, lalu pergi masuk lebih dulu.
Daffa melangkahkan kaki hendak mengejar dan menyalurkan rasa kesal, tapi Vania cepat melingkarkan kedua tangan pada lengannya. "Mas!" cegah Vania.
"Ngeselin, Nia! Kamu gak liat muka dia kayak gimana?! Terus omongan dia yang kayak gitu, rasanya udah pengen banget nyumpal pakai sepatu!" tutur Daffa.
"Iya, aku ngerti. Tapi, udah jangan kayak anak kecil lagi. Mendingan kita masuk sekarang," kata perempuan tampak anggun itu.
Daffa melemparkan karbondioksida dengan sangat kasar, kemudian menggigit bibir bawah menahan kesal. Teringat akan istrinya yang kesakitan, Daffa meraih tangan Vania dan memperhatikan seksama. "Maaf, aku gak niat nyakitin kamu lagi." Sesalnya, menatap tangan Vania memerah.
"Enggak kok, Mas. Ini gak sakit," lembut Vania.
"Kapan sih kamu bisa jujur sama semuanya, Nia?! Gak harus kamu senyum dan ngomong baik-baik aja, aku juga butuh dikasih tau, karena aku bukan Tuhan yang tau semuanya tanpa ada omongan!" cecar Daffa.
"Ini sakit, tapi udah gak lagi. Mas jangan marah-marah terus dong, gak baik buat kesehatan." Vania berucap lembut.
"Udah telat, udah ketahuan kalau sakit!" malas Daffa, lalu melingkarkan tangan pada pinggang istrinya. "Tangan kamu sakit, jadi aku pegang ini. Lagian, aku juga gak mau dibilang kayak truk!" katanya saat ditatap.
Vania memahat senyum cantik pada bibir dibubuhi lipglos saja. Keduanya mengayunkan langkah bersama, menginjakkan kaki pada teras rumah di mana beberapa pelayan menyambut. "Berlebihan banget! Mau nunjukin kalau dia kaya dan punya kuasa?! Gak ngaruh!" gumam Daffa sangat lirih, nada benar-benar sinis dan tak menyukai.
Suara tak didengar oleh Vania, yang tengah menunjukkan sikap ramah pada pelayan. Seorang pria berdiri menyambut kedatangan mereka, Vania mendekat dan mencium tangan. Johan membimbing putrinya dalam dekapan sejenak, sebelum kening dikecup olehnya menyalurkan kasih sayang. "Cantik banget kamu malam ini," puji Johan.
"Hehehe, mas Daffa yang pilihin ini buat Nia, Pa." Ucapnya melirik sang suami.
"Itu terlihat bagus saat kamu yang memakainya. Tapi, papa yakin kalau tidak akan ada yang mau membeli saat gaun ini tergantung di toko." Johan melirik Daffa.
"Itu tidak digantung, karena hanya ada satu dan khusus pelanggan VVIP saja yang bisa membeli." Daffa menjawab.
"Satu belum tentu yang terbaik! VVIP dari member orang tua, apa gunanya?" ucap Johan, mengeras rahang lelaki ada di depannya. Vania menoleh pada keduanya, tanpa memahami apa perkataan yang terlontar dalam wajah tak biasa ditunjukkan.
Johan mengayunkan satu jari pada pelayan, segera dihampiri. "Antarkan nona Vania ke kamar!" perintahnya.
"Bu-bukannya kita mau makan? Kenapa harus ke kamar?" sedikit kebingungan Vania.
"Papa menyiapkan sesuatu untukmu di sana, kamu bisa mengambilnya lebih dulu. Ambil saja yang kamu suka, tidak perlu mengurusi lainnya." Johan tersenyum, memasang wajah penuh kasih.
Vania menoleh pada Daffa, diberikan anggukan kepala sebagai izin tanpa kata. Berpamitan untuk pergi, pelayan mempersilahkan dirinya untuk mengikuti. Sementara Daffa, ia ke ruang tamu di mana Arif sudah duduk lebih dulu. Hari sudah panas semakin panas ketika mendengar ucapan santai namun menusuk Johan. Sebuah lambang terpajang di sebuah rak kaca sudut ruangan menarik perhatian, Johan menoleh pada apa yang ditatap oleh suami putrinya.
"Mengenali lambang itu? Bukankah kalian tadi ke sana?" tenang pria berpakaian santai itu, seraya mengambil cangkir berisi teh di atas meja.
"Anda memata-matai kami?" curiga Daffa, senyum simpul ditunjukkan olehnya yang baru saja menyeruput teh.
"Toko dan mall itu milik saya, lalu kenapa saya harus memata-matai? Kamu yang tidak melihat, karena saya ada di sana." Johan meletakkan cangkir. "Bagus karena saya di sana, karena bisa memecat pegawai yang menjelekkan Vania.
Daffa menatap dengan alis mengkerut, tapi Johan bukanlah orang gang akan bersedia untuk menjelaskan. Toko ponsel tempat Daffa membelikan Vania, memang milik Johan dan lambang yang dilihat, adalah sama dengan lambang yang terpampang jelas pada dinding toko. Namun, sungguh Daffa tak menyangka, jika itu adalah milik Johan bersama mall sering dikunjungi.
Sepertinya, Daffa harus mulai memperhatikan agar dia tak menjadi seperti orang buta informasi, hingga tak tahu aset-aset milik Johan—pria yang memang mendengar percakapan pegawai, dan langsung memecat tanpa hormat. Sedang memeriksa bersama orang kepercayaannya, Johan melihat adanya Vania dan Daffa masuk ke dalam toko, kemudian memilih untuk mengamati dari jauh.
Semua yang terjadi sanggup ditangkap jelas oleh kedua mata, begitu pula dengan telinga yang mendengar kata tak menyenangkan. Ingin pergi memeriksa tempat lain, namun melihat pegawainya berkumpul tanpa menangani pelanggan, Johan sengaja menghampiri langsung dengan isyarat meminta lainnya diam, tanpa memberitahu kedua orang yang asyik bergosip.
Langsung memberhentikan tanpa peduli permohonan maaf, bahkan sangat lantang Johan mengatakan jika yang tengah dihina adalah putrinya. Foto yang diletakkan dalam dompet ia buka, menunjukkan langsung dan seketika bersimpuh keduanya memegang kaki untuk sekedar memohon ampunan. Air mata tak dipedulikan, memerintahkan petugas keamanan melemparkan keduanya keluar.
Sontak apa yang dilakukan olehnya menjadi pusat perhatian, bukan hanya oleh pegawai yang gemetar ketakutan, tapi juga oleh pengunjung toko yang pada akhirnya tahu, jika Johan adalah pemilik tempat mereka bekerja dan putrinya sedang dihina oleh pegawai. Sungguh menyayangkan, namun ia tak bisa diam ketika ada yang menjelekkan putrinya, ditambah dengan lalai dalam pekerjaan dan sibuk berbincang, peraturan bekerja yang sudah jelas dilanggar tanpa ada pengampunan.
Daffa masih tak mengerti apa-apa, dia tetap mengamati Johan yang kini menoleh pada seseorang tengah berjalan menemui dirinya. Vania tak membawa apa-apa dari semua disediakan di atas ranjang. Perhiasan, kunci rumah dan mobil, pakaian, kartu-kartu penuh dengan uang, ponsel, tas, sepatu dan banyak lainnya dengan merek ternama. Semua sengaja dipersiapkan oleh Johan, sebagai hadiah untuk Putri kandungnya.
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe