Menjadi istri kedua bukanlah keinginan Erina, wanita muda yang baru saja kehilangan suami dan anaknya dalam waktu yang berdekatan.
Akibat hutang suaminya yang begitu banyak, Erina terpaksa menikah dengan seorang CEO bernama Adrian yang saat ini istrinya sedang koma dan anaknya yang baru lahir membutuhkan ASI.
Keadaan Erina dimanfaatkan Adrian untuk menyusui anaknya yang baru saja lahir.
Namun ibu Adrian yang bernama Heni malah memaksa Adrian menikahi Erina karena ia sangat membenci menantunya yang saat ini sedang koma.
"Hutang almarhum suamimu akan ku anggap lunas, jika kau mau menyusui anakku sampai dia tidak membutuhkan mu lagi." Adrian.
"Tidak! Jangan hanya itu. Kau juga harus menikahi dia, Adrian!" Heni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Media
Beberapa hari kemudian.
"Apa-apaan ini!" Adrian mengamuk di ruangannya. Ia membanting sebuah surat kabar ke meja kerjanya.
Hal ini lantaran, Nick baru saja memberikan sebuah surat kabar yang memuat berita tentang Erina.
Terlihat jelas judul dari artikel dalam surat kabar itu.
Seorang Wanita hamil terlihat memeluk Adrian Sanjaya sebelum pergi bekerja. Apakah dia istri kedua Adrian?
Belum lagi artikel di media online. Begitu banyak berita tentang Erina yang tentu saja menyudutkan Erina.
**Diduga pelakor, intip kemesraan wanita yang bersama Adrian
Beberapa Netizen yang mengenal wanita itu mengatakan bahwa dia adalah Erina, seorang janda yang kehilangan anaknya beberapa tahun yang lalu.
Pelakor cantik itu bernama Erina, seorang janda tanpa anak yang telah menjadi duri dalam pernikahan orang lain**.
Adrian di duga menikah diam-diam saat istri pertamanya koma.
Di semua kolom komentar terlihat sumpah serapah dari netizen yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda.
[Dasar pelakor, semoga hidupmu selalu menderita]
[Seharusnya sesama wanita itu saling mengerti, bukan menyakiti]
[Istri pertama koma, dan dia menggunakan kesempatan itu untuk menggoda suaminya, dasar pelakor]
[Jika aku bertemu dengannya, sudah aku acak-acak wajahnya, dasar pelakor tidak tahu malu]
[Saya kenal dengan wanita itu. Namanya Erina, janda juga. Setahuku suaminya punya hutang yang banyak]
[Oh, jadi dia pelakor. Tidak hanya Adrian, suamiku juga menceraikan ku karena jatuh cinta padanya] Ini adalah komentar dari Sisil, mantan istri Dokter Dani.
Adrian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun segera pulang ke rumah. Ia yakin pasti para wartawan sudah ada di depan rumahnya. Hal ini sangat berbahaya pada Erina. Tak lupa, ia juga menyuruh Nick untuk melacak orang yang telah menyebarkan berita dan mengambil foto mereka diam-diam. Jika diingat, foto itu adalah foto mereka beberapa hari yang lalu. Erina mengantarnya sampai ke mobil. Hal itu membuat Adrian langsung memeluknya karena merasa senang.
Sesampainya di rumah, benar saja, sudah banyak wartawan di sana. Mereka lebih tertarik melihat wanita yang mereka duga pelakor daripada meminta keterangan dari Adrian di kantornya.
Banyak pengawal yang menjaga gerbang rumah besar itu.
Adrian langsung menerobos kerumunan tanpa mengatakan apapun. Dibantu pengawal, ia akhirnya bisa masuk ke dalam halaman rumahnya.
Namun sebelum itu, ia berbalik ke wartawan dan mengatakan, "Dia bukan pelakor, dia malaikat yang telah menyelamatkan anakku."
Setelah itu, ia pun masuk ke dalam rumah dan menemukan Erina sedang menangis di dalam kamarnya bersama Cintya yang berusaha menenangkannya.
"Erina." Adrian langsung menghampiri dan memeluk Erina.
"Sudah aku bilang, lebih baik kita berpisah saja!" Erina berteriak pada Adrian sambil memukul dadanya.
"Itu bukan jalan yang terbaik. Aku tidak akan menceraikan mu."
"Aku tidak suka seperti ini. Mereka semua sekarang membenciku." Tangisan Erina semakin pecah.
"Erina, tenangkan dirimu. Aku dan Adrian akan mengatakan pada media tentang semuanya. Sejak kau datang dan memberikan ASI untuk Arga. Kau adalah malaikat di rumah ini." Cintya mengusap punggung Erina.
"Cintya, sepertinya konferensi persnya harus dipercepat. Kita akan mengadakannya besok. Sekarang aku harus kembali ke kantor dan mengatasi klienku sekaligus mempersiapkan untuk besok. Jagalah Erina." Adrian menatap penuh harap.
"Baiklah, pergilah, aku akan tetap di sini bersamanya. Dia sedang hamil, moodnya memang sering sensitif."
Setelah itu, Adrian pun segera pergi kembali ke kantornya. Tak lupa ia berpesan pada wartawan bahwa besok akan di adakan konferensi pers di gedung miliknya.
Gw suka sama ceritanya..