Siapa sangka bekerja di sebuah hotel akan mengantarkan kesucian yang di jaganya, Dhea harus kehilangan mahkotanya di saat seorang pria memaksanya untuk melayaninya saat mengantar minuman.
Hingga gadis itu hamil dan melahirkan anak kembar yang sangat cantik.
Arya Ghora prasida, bahkan pria itu pun tak tau siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya puas hanya dengan satu malam, hingga rasa itu menjadi candu baginya, dan Arya tak bisa melupakannya walaupun sekejap.
Sampai lima tahun penantian yang hampa, akhirnya mereka di pertemukan kembali, meskipun tak saling mengenal, Arya merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat di saat ia berdekatan dengan Dhea.
apakah dunia akan mempersatukan mereka dengan hadirnya si kembar yang hebat?
ataukah Dhea memilih untuk hidup sendiri, dengan kedua putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung
Bukan tanpa alasan Dhea mau menginjakkan kakinya di rumah Arya, karena kini kedua putrinya adalah anggota keluarga Arya, tak dapat di pungkiri kedekatan mereka pada sosok Arya memang begitu dekat, dan tak di ragukan lagi kalau wajah kedua putrinya memang sangat mirip dengan papanya.
"Kenapa kamu masih disini sih, ayo masuk!" Arya menarik lengan Dhea yang menghentikan langkahnya di depan pintu, sedangkan Reina dan Rania sudah berhamburan masuk menghampiri Nyonya Septi yang ada di ruang keluarga.
"Mas, aku takut, bagaimana kalau Tante nggak terima dengan semua ini." Dhea memegang menarik pucuk kemeja Arya.
"Mama sangat baik, kamu jangan takut karena ini adalah salahku. Dan bagaimanapun juga aku akan bertanggung jawab."
Setelah mendengar ucapan Arya yang meyakinkan, Dhea pun mengikuti langkah Arya masuk ke dalam.
Dhea dan Arya tersenyum saat menatap kedua bocah itu manja di pelukan Nyonya Septi.
"Kalian lama sekali datangnya, hampir dua jam mama menunggu." seru Nyonya Septi.
Dhea dan Arya menghampiri Nyonya Septi yang sudah asyik bermain dengan Reina dan Rania.
"Tadi si Reina pup dulu Ma, jadinya sedikit lama."
Aaaaa....sontak Reina menjerit, tak terima dengan ucapan papanya yang memang sengaja berbohong.
"Bukan Oma, tapi papa Arya yang gangguin mama, jadi nggak berangkat berangkat." Ucap Reina dengan polosnya.
Arya dan Dhea saling pandang saat Reina mengadu. Wajah Dhea merah merona menahan malunya didepan nyonya Septi.
"Itu anak siapa pinter banget," bisik Arya menyenggol bahu Dhea yang duduk sampingnya.
"Anak aku," balas berbisik, karena Dhea masih sungkan saat berada di dekat Nyonya Septi.
Arya hanya terkekeh saat menatap wajah Dhea yang sangat manis, hatinya geregetan ingin menggigit bibir ranumnya. Tak disangka kehadiran Dhea sangat mempengaruhi senjata saktinya yang kini bergejolak.
"Beneran?" tanya Nyonya Septi kembali memastikan.
Si kembar mengangguk tanpa suara. Kini Arya dan Dhea tak bisa membantah lagi dan memilih diam.
"Ma, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Arya, beralih duduk di samping Nyonya Septi.
"Apa, sepertinya serius sekali?" menatap Arya dan Dhea bergantian.
"Mbak, tolong bawa Reina dan Rania ke kamar yang sudah di siapkan kemarin!" Titah Arya saat salah satu pembantu rumahnya itu melintas.
Jadi mas Arya sudah menyiapkan kamar untuk Reina dan Rania, sebenarnya kapan dia tau kalau mereka itu putrinya.
Setelah Reina dan Rania menghilang dari pandangannya, Arya kembali memegang punggung tangan Nyonya Septi.
"Ma, aku sudah menemukan wanita yang malam itu aku nodai." Cecar Arya.
Nyonya Septi terkejut dan menatap wajah Arya dengan lekat.
"Maksud kamu apa, mama nggak ngerti?"
Nyonya Septi meringsuk duduknya ingin tau lebih jelas dengan apa yang di katakan Arya.
"Ma, Rania dan Reina adalah putriku, dia adalah darah dagingku."
"Jadi, gadis itu adalah Dhea, dari mana kamu tau?"
Nyonya Septi kembali mengimintidasi Arya.
"Aku sudah tes DNA, Dan hasilnya positif, dan Dhea juga sudah menceritakan semuanya, Ma."
Nyatanya wajah Nyonya Septi tak sebahagia tadi, setelah mengetahui fakta baru, Nyonya Septi malah terlihat gelisah.
"Kenapa, Ma?"
"Sekarang apa yang mau kalian lakukan?" tanya Nyonya Septi.
Sebelum menjawab pertanyaan mamanya, Arya menatap Dhea yang masih setia menunduk menatap lantai.
"Aku akan menikahi Dhea, demi anak anak kita akan bersatu."
"Tapi Om Joni orang yang berpengaruh dalam perusahaan kamu Ar, mama takut kalau kamu ada masalah sama dia. Dan mama yakin kalau Maya tidak akan menerima ini begitu saja."
Arya tertawa keras, baginya mamanya itu terlalu lebay untuk urusan kantor. "Arya tidak pernah takut pada siapapun termasuk Om Joni, lagi pula tidak ada ruginya jika dia memutuskan kerja sama dengan perusahaan kita, Ma."
Nyonya Septi kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat Maya mencoba bunuh diri setelah Arya menolak perjodohan itu. Dan hati seorang ibu tak bisa lepas dari rasa gundah begitu saja, baginya kebahagiaan anaknya adalah yang utama.
"Bagaimana dengan kamu Dhea?"
Wanita itu mendongak menatap ke arah Nyonya Septi.
"Maaf tante, Aku juga belum tau, karena aku sudah menerima lamaran mas Restu." Tukasnya.
Dhea pun tak kalah dilema dengan apa yang terjadi saat ini.
Nyonya Septi menghela napas. Ternyata tak hanya Maya yang menjadi penghalang mereka, masih ada Restu yang ada di tengah tengah Dhea dan Arya.
"Ar, bagaimana dengan Restu, apa menurut kamu dia akan menerima ini semua?"
Arya pun masih ragu dan belum menemukan jalan yang tepat.
"Nanti aku akan bicara sama dia, semoga dia mau mengerti keadaan."
Di satu sisi Arya masih memikirkan Restu, namun di sisi lain rasa cintanya yang begitu besar dan ikatannya dengan kedua putrinya mampu meninggikan egonya untuk memiliki Dhea.
''Nona, kamar Anda sudah siap. Silakan jika mau istirahat!" seorang pelayan muda menghampiri Dhea dan membungkuk ramah.
Bingung, itulah Dhea, bagaimana ia yang hanya seorang tamu di siapkan kamar untuk istirahat, bukankah ia hanya mampir sejenak.
"Ta----tapi, __
"Sudah ikut saja, anggap saja rumah ini rumah kamu." Nyonya Septi.
Bahkan Dhea tak punya kuasa untuk membantah Arya dan mamanya. Terpaksa Dhea mengikuti pelayan itu.
Bagaimana ini, kenapa aku bisa terjebak kayak gini sih, apa apaan juga mas Arya, aku harus ngomong sama dia, aku kan belum menjadi istrinya, masa iya aku sudah di perlakukan seperti tuan rumah.
Setibanya di sebuah kamar mewah, Dhea mengirim pesan untuk Arya yang masih ada di luar.
Baru saja sekitar lima menit berlalu, pintu kamar yang di tempati Dhea sudah di ketuk dari luar.
Segera Dhea membukanya.
''Ada apa, kangen ya?'' Dengan seringaian nakal Arya menaikkan kedua alisnya.
Dhea menatap luar yang sedikit sepi lalu menarik baju Arya hingga masuk ke dalam. Tak lupa Dhea kembali menutup pintunya.
''Mas, kamu itu apa apaan sih, masa tamu di sediakan kamar segala,'' Dhea mulai protes.
Tak ada jawaban, Arya hanya diam dan melipat kedua tangannya menatap Dhea yang terus ngomel ngomel, persis seorang istri yang kekurangan uang belanja.
''Mas,'' Dhea yang dari tadi memunggungi Arya itu terpaksa menoleh menatap Arya yang diam seribu bahasa.
''Kamu dengar ucapan aku kan?'' tanya Dhea, bulu halusnya mulai berdiri saat melihat senyuman licik dari sudut bibir Arya.
''Sekarang mas keluar!" Melihat ada yang aneh, Dhea mendorong tubuh kekar Arya.
Namun tak semudah itu, Arya kembali mendorong tubuh Dhea hingga terjatuh di atas kasur. Wanita itu nampak takut saat Arya membuka kancing bajunya bagian atas.
"Mas kamu mau apa, jangan macam macam, aku teriak nih," Ancam Dhea seraya meraih selimut.
Arya tersenyum dan mendekati Dhea, tak hanya itu Arya langsung mengungkung tubuh Dhea di bawahnya.
"Disini gerah, lain kali nyalakan ACnya, Sayang." meranggeh remot AC yang ada di nakas.
Akhirnya Dhea bernapas dengan lega saat Arya benar benar menyalakan mesin pendingin itu.
Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kali Dhe. Tapi aku juga tidak akan melepaskanmu begitu aaja.
typo ya thor,yg paling aneh di apartemen tapi denger klakson dan deru mobil 🙈
kok di klakson mobilnya naik keatas 🙈😛
terharu biru 💕
makasih Thor 🙏
cerita ny keren 👌👍
Arya vs Dhea wkwkwkwk
cocok nih Restu sama Yesi 🤔 akhirnya Restu menemui tambatan hatinya yaitu sahabatny Dhea c Yesi 🤔
terus Maya sama siapa nih 🤔