JANGAN BOOM LIKE! Kasih jeda 2 atau 3 menit.
Kehidupan keluarga kecil Puspa sangatlah damai tanpa adanya pertengkaran walaupun mereka orang sederhana, Puspa punya keinginan besar untuk merubah nasib keluarganya. Namun, tak ada yang tau mengenai takdir manusia termasuk Puspa sendiri.
Sosok pahlawan yang tak lain adalah Bapak Puspa menjadi perantara dimulainya kehidupannya yang tak lagi damai, ia menghancurkan keluarga kecil Puspa, ia terpikat pada seorang janda bahkan Ibu dan Adik Puspa meninggal.
Puspa bertemu dengan sosok laki-laki cuek dan dingin bernama Arga, namun lagi-lagi kisah hidupnya tidak sehalus dan semulus kertas HVS. Akankah Puspa mampu mencapai kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam
"Hm."
"Nama Tuan Muda siapa ya? Kita sudah agak lama kenal tapi nama masing-masing pun belum tau" Agak seidikit ragu.
Puspa menanyakan hal itu sambil memejamkan mata membayangkan amukan menerpa dirinya setelah melontarkan pertanyaan itu
"Hm ciri-ciri babu unfaedah. Nama majikan pun tidak tau." Puspa membuka matanya setelah dirinya di sebut 'Babu Unfaedah'
"Eemmm"
"Arga. Itu nama ku. Keren bukan?"
"Ohhhhhh baik Tuan Muda. Terima kasih." Puspa tersenyum
"Jadi Arga toh.." Gumamnya
"Dengar Puspa, walau pembantu, gajimu adalah 5 juta. Jika kau tidak menggunakan kesempatan ini kau akan menyesal"
"Apa? 5 juta? Apakah saya salah dengar Tuan Muda. Ya ampun 5 juta.. Bisa langsung lunas biaya sekolah." Ucap Puspa dengan mata berbinar.
Ia mengeluarkan Hp nya dan masuk ke kalkulator.
"Wahhh jika aku bekerja selama 1 tahun aku dapat gaji 60 juta. Makan di tanggung majikan beserta tidurnya juga.. Waahh bisa ku tabung beli lahan nih. 3 tahun kurasa cukup untuk membeli tanah nih"
"Cihhh hanya rencana." Arga meneguk floridina dingin
Puspa memicingkan matanya.
"Sewot"
"Kau numpaang mobil ini juga harus bayar."
"A-Apaaa!!" Refleks Puspa menutup mulutnya menggunakan jari jarinya yang lentik
"Hmmm Etika bicaramu buruk"
****
"Bi Ina.. Bi Inaa...." Puspa mengetuk pintu beberapa kali.
Mungkin sudah tidur karena sudah jam 9 malam. Tapi bagaimana lagi, Tadi siang Puspa sibuk hingga tidak bisa menemui Bi Ina
'Ceklek'
Akhirnya Bi Ina membuka pintu.
"Ah maaf... Lama nunggu ya? Ayo masuk" Puspa mengangguk
"Bi.. Kenapa Bi Ina melakukan itu? padahal jelas-jelas itu salah Puspa." Puspa tidak enak hati
"Kalau kaamu yang mengaku, kamu akan di pecat tadi pagi. Tapi kalau Bibi yang mengaku hanya di omeli. Puspa.. Lain kali hati-hati"
Bi Ina menggenggam tangan Puspa
"Heheh.. Iya.. Maaf" Puspa terkekeh
"Dan terima kasih"
Bi Ina mulai menjelaskan apa saja yang harus Puspa lakukan..
"Apa? jadi kalau Tuan Muda ingin aku melayaninya secara pribadi aku harus menurut?"
"Tenang.. Tuan Muda itu menghormati wanita kok"
"Menghormati apanya.. Dia selalu menarik ulur perasaanku. Memuji kemudian meledek. Begitu seterusnya" Cibir Puspa dalam hati
"Jadi selain tidak kuat pedas, Tuan Muda juga alergi udang?"
"Benar Puspa."
"Ah lidah orang kaya jelek. Padahal Puspa tuh suka sekali udang Bi. Apalagi masakan Ibu. Puspa rindu"
Seketika wajah Puspa murung.
"Jangan bersedih.. Anggaplah aku sebagai ibumu"
Puspa mendongakkan kepala. Menatap intens mata Bi Ina. Tidak di temukan kebohongan.. Refleks Puspa memeluk Bi Ina.
🍀🍀🍀
1 Bulan berlalu....
Arga sering menyuruh ini itu pada Puspa. Bahkan Arga mengangkat Puspa menjadi asisten pibadinya. Yang Puspa lakukan adalah menuruti perintah Arga saja.
Sebenarnya enak tidak enak... Setidaknya gaji Puspa di tambah 500 ribu.
'Tok tok tok.'
"Tuan Muda... Apakah anda masih belum bangun? waktunya sarapan. Katanya ada janji sama dosen?"
Tidak ada sahutan.
Puspa mondar mandir ... Sesekali melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 06:20
"Haduhhh bisa telat aku sekolah nih" Gerutu Puspa
Puspa mengetuk pintu lagi..
"Tuaaaaaannn Muda... Apa telinga anda mendengar panggilan saya?"
"Upss maaf" Lanjutnya
"Aaarrgggghhhhhhh kacau" Umpat Puspa.
Memberanikan diri, Puspa membuka pintu perlahan
"Maaf lancang" Gumamnya.
"Baru kali ini aku seperti maling.."
Setelah masuk ke dalam, Arga masih ada di dalam selimut. Puspa berjalan mendekati Arga.
"Eh wajahnya terlihat beda dari biasanya?" Heran Puspa menelusuri penjuru wajah itu. Oke lebay dikit.
"Emmm hembusan nafasnya juga seperti sedang sakit" Puspa meletakkan punggung tangannya ke atas dahi Arga.
"Aw Panas sekali.. Kamu demam ya. Eh maksudnya anda."
Arga membuka mata perlahan. Dilihatnya Puspa tapi agak butam sedang memandangnya dengan raut wajah agak khawatir.
"Puspaaa.." Erangnya. Arga menutup matanya kembali.
"Tuan Muda, saya ke dapur dulu." Puspa meletakkan tas nya yang dari tadi melekat di punggungnya. Ia meletakkannya di lantai dekat ranjang Arga.
"Puspa...." Erang Arga lagi tapi dengan kondisi mata yang masih tertutup
kau tega menyakiti kami pengagum sosok Arga,,,,😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
tega menyakiti perasaan sahabatnya sendiri,,,
...............hati Bapak Puspa sering beregup
Thor, itu ☝️☝️
Seperti ABG yang sedang..................
...............hati Bapak Puspa sering berdegup
bukan beregup