The Sekuel :
1. Heart Darkness
2.The Secret Woman of Mr. Mafia
Secret Love of Mr. Mafia...
Hellton Pascalito seorang pengusaha dari perusahaan terbaik dalam industri UHT, seorang CEO tetapi jua merupakan seorang Mafia yang tak pernah mengekspos dirinya ke dunia luar, hanya gunakan nama samaran untuk mengelola bisnis, telah terpancing ke permukaan publik saat seorang reporter wanita bergabung bersama Pemerintah lakukan genosida pada Mafia. Bisnis ilegalnya terhenti, keluarganya terseret ke balik sel, tetapi lebih dari itu ia terobsesi pada sang reporter yang sangat antipati pada Mafia. Hellton Pascalito akhirnya mulai berburu.
Reporter yang di maksud Hellton adalah Irishak Bella. Seorang wanita yang berani, tegas dan tak takut pada apapun. Ia selalu berdiri di depan kebenaran. Puteri salah seorang pengacara yang berjuang untuk bersihkan negara dari para Mafia. Ayahnya kemudian dibunuh, diracuni dalam pesawat saat akan bertemu Perdana Menteri. Dendam Irishak pada para Mafia membuatnya habiskan hari sebagai jurnalis yang terang-terangan mengejar Mafia. Tak menduga ia malah disekap oleh penjahat yang ia buru.
Sedangkan kolega Hellton Pascalito, Axel Anthony, Putera seorang petinggi Mafia, adalah seorang pria introvert sekaligus pemalu. Kehidupannya lurus taknikuti jejak sang Ayah. Ia sangat tampan, kendati demikian ia takut pada wanita. Ia adalah seorang insinyur dan miliki perusahaan besi baja. Suatu ketika Ayahnya terbunuh ketika putuskan berbalik mendukung pemerintah, dieksekusi di hadapan publik oleh pemimpin tertinggi dalam organisasi Mafia. Irama balas dendam dimulai. Kumpulkan informasi tentang Puteri Tetua yang mengeksekusi ayahnya, Axel Anthony bergerak gunakan kekuasaan Ayahnya untuk memburu Puteri Sang Tetua yang adalah seorang Dokter Muda.
Piqueena Mendeleya seorang dokter magang di sebuah rumah skait swasta, miliki kehidupan sederhana bersama kedua orang tuanya. Setidaknya itulah pikirannya. Tak menduga suatu ketika seorang pria menculiknya dan menodainya di sebuah base camp para Mafia ....
Kisah ini terjalin erat antara dua orang wanita yang dinodai oleh dua orang pria di waktu berbeda dan tempat berbeda.
Takdir secara aneh pertemukan mereka dan mempermainkan kehidupan mereka.
Well, kemana kisah mereka akan berakhir ....
****
Cinta butuh Dinamika.... Please baca Heart Darkness untuk ketahui asal muasal pertemuan para tokoh ini.
Plagiarisme dilarang keras. Please dukung author dengan Like, komentar, vote, rate dan share.
Ja'o Mora Ne'e Miu (I Love You All)
Big Love 😍😍😍 from Senja Cewen To #SenjacewenLover....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31. Bring Me Yourself
Bersembunyi di sebuah lorong basement yang gelap, Irishak dapat mendengar langkah kaki pelan sedang mencari-cari. Parkiran bawah tanah sepertinya tak ada orang atau memang basement tak lagi difungsikan sebab tak banyak mobil terlihat parkir di sana. Atau karena masih terlalu pagi hingga suasana basement sangat lengang. Irishak membekap mulut sendiri, mengatur napas. Ia terkejut ketika suara itu terdengar bergaung di dalam gedung.
"Irish Bella?! Kamu ingat siapa aku?" tanya si pria. "Ayo kita bicara, Sayang. Menyenangkan ternyata kamu masih hidup. Aku akan beritahu Rosemary dan dia mungkin akan sangat gembira dengar kabar ini."
Hening. Irishak menahan napas. Ia bisa dengar jantung bertalu kencang oleh ketakutan dalam keheningan. Insting terus berdering nyalakan tanda bahaya.
Si pria bertato menelpon seseorang.
"Rosemary?!"
"Ya, ada apa?"
Suasana hening mencekam basement mudahkan Irishak mendengar jawaban dari seberang ponsel si pria bertato.
"Rosemary, kamu tak akan percaya ini. Tebak, siapa yang aku temukan hari ini?"
"Jangan berliku-liku, aku sedang banyak urusan!" serang seseorang dari seberang. Seorang wanita.
"Irishak Bella, aku menemukannya di Marina swalayan di pinggiran kota."
Tersambut makian juga umpatan keras dari sisi sebelah.
"Si idiot itu memang tak becus! Harusnya kita tak percaya pada Geraldo! Urus wanita ja****** itu segera! Kali ini lakukan dengan benar! Kau dengar aku?"
"Tidak," sahut si pria menggeleng keras. "Kurasa aku akan bersenang-senang dengannya. Sedikit M***** akan bikin dia melayang. Aku akan nikmati tubuh sens*** dan kirimkan video panas kami pada pria sombong itu."
"Aku tak peduli, urus saja dia dan aku akan pindahkan isi otakmu ke liang kuburan jika kamu loloskan dia!"
"Jangan begitu Rose, aku ingin menyekap dia di rumahku untuk bersenang-senang. Cinta liar-mu lakukan itu padanya, aku juga ingin mencoba."
Ponsel dimatikan sepihak.
"Hei Rose?! Rosemary?! Kamu tak sopan. Aku sedang bicara! Oh, ja****** sialan. Pikirnya dia hebat?" Maki si pria sinis.
Irishak mengintip, ia akan berlari ke jalan yang sama dan mencari bantuan pada security. Inikah alasan ia takut bepergian, ia selalu dikejar-kejar penjahat. Keinginannnya untuk kabur keluar negeri kembali mencuat. Ia bisa naik kapal barang. Tetapi dirinya yang lain menentang gagasan itu. Harusnya ia terus bersembunyi tetapi sampai kapan? Ia tak bisa selamanya begini. Irishak putuskan untuk selamatkan diri sebelum tertangkap. Berubah sangat sedih sebab berulang kali Hellton Pascalito selalu datang menghalau segala murka darinya tetapi belakangan ..., ia seakan telah kehilangan Hellton. Lagipula, ia tak selamanya terus andalkan Hellton.
Irishak mengintip sekali lagi, pria bertato tak terlihat. Menarik napas dalam-dalam, tenangkan debaran mengerikan yang melengking dalam diri, Irishak keluar dari tempat persembunyian. Ia sekuat tenaga berlari menuju tangga keluar. Tetapi ia belum sampai di sana ketika sebuah tubuh menghadang hingga Irishak menabrak tubuh itu keras lalu terdorong jatuh.
"Mau kemana Irish?" tanya si pria rapikan topinya. "Ikutlah denganku, aku tak akan menyakitimu! Aku janji," ujar si pria menyeringai. Wajah pria itu dipenuhi bekas korengan semacam bekas terbakar sesuatu. Bulu kuduk Irish meremang.
"Tidak! Siapa kamu?!" tanya Irish tak ingin tunjukkan rasa takut, menggeser tubuhnya menjauh dari si pria yang datangi dirinya.
"Penting?!"
"Ya, aku tak mengenalmu! Jangan ganggu aku!"
Si pria semakin dekat, berjongkok dan memegang tangan Irish kuat.
"Lepaskan aku!"
"Hei ... hei ... hei ... Tuan, lepaskan dia!" Freya Simone muncul di ujung tangga acungkan pistol di tangannya. "Aku opsir Freya Simone! Anda tak boleh mengganggunya, Tuan! Menyingkir darinya!"
Si pria alihkan pandangan dan Irish segera bangkit berusaha lepaskan tangannya.
"Tolong jangan ikut campur, Opsir!"
"Wanita itu bersamaku! Pergilah sebelum aku menelpon petugas kepolisian dan datang kemari untuk menangkap Anda!" Freya beri peringatan keras.
Si pria bertato bangkit berdiri menarik Irishak ikut dan tiba-tiba saja keluarkan belati, tempelkan pada leher Irish.
"Kalau begini? Apakah Anda masih akan mengancamku?"
Freya tampak waspada. Sorot matanya tenang.
"Lepaskan dia! Mari kita bicara!" ajak Freya tak putus siaga.
"Buang senjata Anda!" suruh si pria.
Freya membaca situasi dan kelihatan putuskan untuk selamatkan Irish dengan cara lain. Rautnya tenang saat ia menaruh senjata di kaki.
"Good job, anda sangat kooperatif."
"Lepaskan dia sekarang!"
Si pria dengan gerakan sangat cepat mendadak lemparkan belati ke arah Freya dan tak mampu menghindar, belati itu kenai paha Freya menembus celana jeans yang ia pakai.
"Aaaarrrggghh ...."
Freya menjerit keras sisakan Irish yang shock seakan dihinggapi marah miliki keberanian untuk menggigit tangan yang melingkar di lehernya. Ia menggigit sangat kuat. Tak peduli kepalanya dipukuli ia terus tancapkan gigi-gigi di tangan si pria.
"B*****!!! Sialan kau!!!" maki si pria menumbuk kepala Irishak dan mendorong tubuh Irishak darinya. Tangan pria itu muncratkan darah segar. Irish meludah ngeri dengan jijik, gemetaran sebab mulutnya penuh darah.
Freya yang terduduk di lantai segera meraih pistol dan berusaha menembak. Mungkin terkena karena terdengar erangan dari pria itu. Freya terus menembak. Si pria berlari ke balik mobil selamatkan dirinya sedang Irishak dekati Freya.
"Freya?!"
"Irishak, kamu baik-baik saja?" tanya Freya kuatir.
"Aku baik-baik saja. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Irishak kebingungan, ia tak mungkin mencabut belati atau Freya akan alami pendarahan hebat.
"Jangan panik Irishak!"
Lakukan panggilan darurat. Freya segera bicara pada temannya.
"Pedro, terjadi penyerangan di basement Marina Centro Commercial. Tersangka, seorang pria tinggi bertopi, mantel hitam, tinggi 1,9 m. Aku butuh ambulans karena terkena lemparan belati."
"Freya ... bertahanlah. Petugas terdekat akan segera datang."
"Freya?!"
"Irishak, maaf aku kecolongan. Aku pikir kamu di dekatku tadi."
Freya menahan kesakitan. Irishak ketakutan melihat paha Freya. Setengah belati tenggelam di dalam paha wanita itu.
Beberapa menit berselang sebuah tubuh terlempar ke atas kap sebuah mobil dan langsung bergulingan, mendarat tak jauh dari mereka. Irish menjerit kaget.
Hellton Pascalito muncul di sana. Raut wajahnya dingin seperti pertama kali Irishak bertemu pria itu di peternakan. Ia menoleh tanpa ekspresi saat melihat Irishak dan Freya tetapi kedua wanita tahu seberapa marahnya Hellton. Datangi si pria tanpa senjata dan menarik kerah baju si pria, Hellton benar-benar meninju si pria berulang kali.
"Katakan padaku, siapa yang mengirimmu? Aku mungkin akan berikan pemakaman yang layak untukmu!" Hellton kembali memukuli si pria hingga wajah pria itu segera berlumuran darah. Giginya bahkan tanggal beberapa. Ia meludah ke lantai lalu tersenyum meledek.
"Ayahmu tak ajarkan-mu 10 perintah internal dalam organisasi?"
Hellton ayunkan satu pukulan pada wajah si pria hingga kembali mengerang kesakitan untuk hentikan omong kosong dan dibalas mengumpat tanpa takut pada Hellton.
"Tadinya aku ingin bercinta dengan Irish Bella dan buatkan video panas dengannya. Kamu akan sukai itu."
"Kamu melanggar banyak aturan, Sobat," sahut Hellton ayunkan pukulan lagi hingga si pria tak berhenti berdarah-darah. "Aturan nomer 2. Jangan melihat istri temanmu! Peraturan no. 3. Jangan dilihat polisi!"
"F**** with you!" sambut si pria melotot pada Hellton.
"H, bawa Irishak! Pergilah dari sini sebelum polisi datang!" seru Freya. "Biarkan aku mengurus bedebah gila itu!"
Satu pukulan kuat pada leher si pria bertato, pria itu lantas luruh ke lantai yang dingin. Hellton berlari pada Freya.
"Kamu baik-baik saja, Freya?"
"Aku akan baik-baik saja. Ini bukan pertama kali aku terluka. Pergilah, bawa Irishak sebelum petugas kepolisian datang."
"Tidak, aku akan membawamu ke Rumah Sakit," tolak Hellton keras.
"H, ini serius. Kamu akan dalam masalah jika terlibat skandal. Pergilah! Aku akan mengurus ini! Bawa Irish pulang dan pastikan anak-anak tak tahu keadaanku. Suruh pengasuh, bawa mereka kembali ke rumah. Pergilah H! Jangan sampai kamu tertangkap," dorong Freya kuat.
Sirene terdengar di kejauhan.
"Pergi sekarang!" teriak Freya berubah keras.
"Freya, bagaimana aku bisa pergi! Kamu butuh bantuan," ujar Hellton buka jaketnya dan melepas kemejanya. Merobeknya menjadi dua bagian dan ikatkan pada bagian atas juga bawah untuk kurangi pendarahan. Ia kembali kenakan jaket.
Freya pegangi tangan Hellton, bicara lemah untuk terakhir kali.
"Ini perintah! Pergi sekarang!"
Hellton keluarkan gadget pindai lokasi mereka dan melihat bahwa ada dua jalan keluar dari basement MCC. Hellton meraih Irishak, pegangi lengan Irish kuat dan menuntun Irish pergi dari sana.
"Apa kamu baik-baik saja, Irishak?!" tanya Hellton setelah mereka berhasil keluar dari basement. Mendorong Irishak ke dalam mobil, Hellton pasangkan sabuk pengaman.
"Hellton, anak-anak masih di dalam!" kata Irishak cemas. "Mereka tadi sedang nikmati Ice cream di Vanila Candy Bar."
Hellton keluar dari parkiran Marina CC, parkirkan mobil di seberang jalan. Ia tak akan heran jika suatu waktu aparat keamanan mencarinya karena kasus yang terjadi hari ini.
"Apakah kamu baik-baik saja, Irishak?" tanya Hellton lagi.
"Ya," sahut Irish pendek bersandar pada bangku mobil. Kepalanya terasa sakit dan pening terkena pukulan keras tangan si pria bertato. Terlebih darah yang sempat bersarang di mulutnya tak berhenti buat ia mual.
"Kamu berdarah! Kemarilah!"
"Ini darah si pria tadi. Aku menggigit tangannya." Irishak mengusap darah jijik dan meludah berulang kali. Ia bahkan buka sedikit pintu mobil dan muntah-muntah. Hellton melepas jaket Irishak dan paksa memeriksa tubuh Irishak. Mengeram marah, pria itu kembali pakaikan Irish jaket.
Mengusap pelan bibir Irishak dengan tisu dan keluar sebentar mencari minuman dan camilan untuk Irishak.
"Aku tak bisa makan apapun! Ini sungguh mengerikan! Mengapa kamu di sini?"
"Aku mengikuti kalian kemari. Tetapi, Marion menelpon karena ada masalah di kantor. Aku kehilangan jejakmu saat sedang menerima panggilan."
Mereka tak lantas pergi. Hellton amati situasi, seakan ingin pastikan Freya dapatkan pertolongan, ia terlihat sangat gelisah. Mungkin juga pikirkan anak-anak.
"Tuan, kurasa ..., Anda temani saja Freya dan aku akan mengajak anak-anak pulang!" tawar Irishak. Prianya itu muram dan marah. Secara aneh tak suka melihat Hellton frustasi dan suram.
"Jangan kemana-mana Irishak! Tinggalah di mobil sampai aku kembali! Please! Aku harus melihat keadaannya dan bawa anak-anak sebelum situasi menjadi rumit."
Irishak mengangguk.
"Berjanjilah, kamu akan diam dalam mobil dan tak menghilang!" Hellton beri peringatan lagi.
"Baiklah!" angguk Irishak.
Hellton turun dari mobil, seberangi jalan kembali ke Marina Supermarket. Hellton mengambil resiko untuk dirinya sendiri lantaran tak bisa tinggalkan Freya Simone juga kedua puterinya. Irishak perhatikan gestur Hellton Pascalito, mengusap kaca mobil kuat agar lebih jelas melihat Hellton. Entah mengapa, ia berharap Hellton tak hilang dari pandangannya. Satukan kedua tangan hingga urat-urat di jemari memutih, Irishak kemudian bersandar kembali pada bangku mobil ketika kepala berdenyut sakit.
Sementara peristiwa terjadi begitu cepat, Hellton dapati anak-anak ternyata telah mengetahui kondisi Freya, memaksa naik ambulans bersama Ibu mereka meskipun petugas kepolisian yang adalah teman-teman ibunya melarang keras anak kecil naik di mobil ambulans. Keduanya menangis sejadi-jadinya, berpelukan. Bahkan Hellton sekalipun tak berhasil membujuk Magda dan Marta.
Hellton Pascalito akhirnya ikut di ambulans, tenangkan kedua gadis kecil yang takut kehilangan Freya. Ia menelpon Carlos Adelberth untuk menjemput Irishak tetapi terhubung ke mailbox. Hubungi Axel Anthony tetapi juga tak dapat dihubungi. Ia akhirnya hubungi Pequeena langsung untuk menjemput Irishak.
"Uncle, apakah Mom akan pergi dengan cara yang sama seperti Daddy?" tanya Marta ketakutan di lengan Hellton.
"No, Dear. Ibumu wanita keras kepala yang kuat. Lagipula, kemana Freya Simone akan pergi? Dua puterinya di sini menunggui." Hellton menghibur dua gadis kecil yang tak berhenti terisak.
Freya tak hilang kesadaran cuma saja terbaring lemah. Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Freya segera dibawa keruang bedah untuk keluarkan belati dari pahanya. Hellton kemudian menggendong dua gadis yang kecil tunggui Freya di kafetaria tak jauh dari rumah sakit. Pikirannya buntu. Semoga Queena telah bawa Irishak ke rumah.
Tak menduga bahwa sesuatu terjadi pada Queena yang membuat wanita itu tak bisa menjemput Irishak.
Sementara Irishak duduk seharian dalam mobil selepas mobil ambulans pergi. Patuhi Hellton, terlebih ia tak ingin menarik perhatian lagi. Menunda makan siang, Irishak benar-benar duduk membeku di dalam mobil, menunggu Hellton kembali. Tatapannya terus terarah ke mana pria itu pergi.
"Jika, kamu muncul dalam hitungan ke - 100, aku akan lupakan harga diri dan mengajak anda menikah tak peduli pada surat cerai anda, Tuan."
Irishak mulai menghitung. Menunda-nunda detik untuk kesenangannya sendiri, ketika hampir hitungan ke 1000 pria itu tak datang, Irishak menjadi galau. Lampaui 100, 1000 hampir 2000 ia malah menguap.
"Apakah dia ikut ke Rumah Sakit?"
Irishak tak berani merangkak keluar dari mobil meski perutnya mulai keroncongan. Ia mengisi perut dengan camilan di antara serangan mual.
"Kita pernah begini, Irish. Saat jadi penguntit untuk temukan fakta dari sebuah kasus. Kita pernah berhari-hari dalam mobil dan pelototi objek."
Menghibur diri, Irishak mengganti makan siang dengan camilan jagung. Dua kali tidur, bangun lagi hingga menjelang sore.
"Apa dia lupa, tinggalkan aku di sini? Baiklah, kita akan membeli ponsel."
Tanpa obat, tak cukup kenyang ditambah produksi liur meningkat, Irishak berubah sangat gelisah. Ingin menyetir pulang tetapi ia takut tersesat di tengah jalan. Otaknya kadang cepat lupa. Pagi berganti siang, berganti sore. Kini menjelang jam makan malam.
Melipat kedua tangan, Irishak angan-angankan masa depannya dan bayinya. Pertama-tama ia akan beli ponsel. Lalu akan mencari tempat yang nyaman bukan soal hunian tetapi lingkungan yang terpenting. Nyeri menyerang dirinya, teringat nasib anaknya nanti.
"Mari kita cari tempat yang nyaman dan mulai bangun kehidupan yang baik. Aku akan menjagamu."
Beberapa bulan lalu seseorang tawarkan sebuah rumah di pedalaman dengan tanah lapang pertanian dan peternakan di antara pegunungan Aragon. Depopulasi terus memicu kekosongan di desa-desa yang jauh di pedalaman. Jika tak bisa ke Islandia, ia akan hubungi agen properti dan membeli tanah seluas satu desa itu untuk dirinya sendiri dan mulai hidup yang baru. Ia punya banyak uang di Passbook karena ia tak pernah gunakan uang dengan sembarangan selama bertugas jadi jurnalis. Ayahnya juga tinggalkan banyak uang untuknya.
Jika nanti para penjahat temukan dirinya dan membunuhnya, Irishak anggap sebagai takdir. Ia tak akan bersembunyi lagi. Tetapi ia tak bisa beritahu Hellton ataupun Carlos. Ia mungkin akan mengajak Pequeena pergi ke bank dan bertransaksi.
Bayangkan dirinya menikmati hidup tenang dan damai buat Irishak tertidur lelap.
Sedangkan Hellton Pascalito dijemput Marion pulang ke peternakan. Ia menunggui Freya bersama anak-anak. Tinggalkan kedua gadis kecil itu bersama pengasuh mereka setelah keduanya terlelap dan meminta Marion menjemputnya.
"Kakak, Anda harus hadir dalam rapat pengawasan produk beberapa hari lagi. Seorang customer temukan sesuatu seperti jempol orang dewasa bersisik ikan dalam produk kemasan UHT Gold."
Marion pecahkan situasi canggung di antara mereka. Ini pertama kali berkendara bersama selama puluhan tahun. Marion tampak agak gugup.
"Kamu tak bisa selesaikan?"
"Baiklah. Aku akan selesaikan."
"Trims Marion. Kasus benda asing dalam produk steril kita adalah hal paling tak masuk akal. Tuntut customer itu untuk pencemaran nama baik."
"Yes,Sir. Boleh aku bertanya?" tanya Marion oleh rasa penasaran.
"Um," angguk Hellton tak menyangka Marion membahas masalah pribadi.
"Apa kabar Irishak? Wanita itu tak ada seharian di rumah. Lucia menelpon Ibu ingin tahu, apakah Irishak pergi denganmu?"
Hellton mengerut.
"Irishak tak di rumah?"
Marion mengangguk pasti. "Ya. Apakah Irishak bersama Tuan Adelberth seperti terakhir kali?"
Hellton menggeleng segera mengerti situasi. "Marion, bisakah kita lewati Marina Supermarket?"
"Kita harusnya berbelok kanan depan sana. Tetapi jika ingin ke Marina kita harus memutar dua blok lagi."
Marion lajukan kendaraan. Hellton mendesah berat saat temukan mobilnya masih terparkir di tempat yang sama sejak pagi tadi ia tinggal.
"Mobilmu di sini, Kak?" tanya Marion heran. "Apakah Irishak di dalam? Seharian?" Marion semakin prihatin. "Apa dia tak bisa menyetir? Tak tahu jalan pulang?"
Hellton menggeleng sedih, rasa bersalah menghampiri dirinya. Buru-buru turun dari mobil.
"Terima kasih untuk tumpangannya! Pulanglah!"
Marion abaikan Hellton.
"Apa yang kamu lakukan, Kak? Tinggalkan wanita yang hilang sebagian ingatan di pinggir jalan? Tunggu sampai Nyonya Adelle Diomanta tahu ..., aku yakin ia akan meneriakimu Kak. Ya Tuhan, wanita itu bahkan sedang hamil."
Marion mengomel dan baru berhenti ketika pintu dibanting keras oleh Hellton. Ini pertama kali Marion mengoceh mengkritik sikap kakaknya dan Hellton Pascalito terlihat kusut masai.
Irishak terbangun ketika pintu mobil dibuka dari luar.
"Irishak ..., apa yang terjadi? Mengapa kamu masih di sini?"
Hellton tampak sesali hari ketika temukan wanita itu tidur dengan posisi sama seperti tadi pagi. Kepala bersandar di jok dan pejamkan mata rapat.
"Apakah Freya baik-baik saja?" tanya Irishak kuatir lekas bangun, sipitkan mata ketika cahaya lampu malam dari bangunan terdekat menghujam matanya. Bersyukur Freya selamatkan dirinya sekaligus cemburu, Hellton lupakan dirinya.
"Irishak, ya Tuhan. Kamu menunggu seharian di sini?"
Tidak meminta maaf. Pria itu sepertinya tak tahu cara minta maaf. Irishak menengok pria yang tampak kacau di sebelahnya.
"Bukankah aku disuruh menunggu?"
"Ya Tuhan Irishak ... Ya Tuhan. Kamu tidak makan seharian?" Antara ingin marah dan prihatin.
"Bisakah kita pulang sekarang?!" tanya Irish.
"Kamu ingin makan sesuatu? Kita bisa mampir di restoran dan makan."
"Bawa saja aku pulang!"
Begitulah malam itu, mereka kembali ke rumah. Sekalipun terlihat kelelahan, Hellton temani Irish makan hingga kenyang, minum obat dan menggiringnya tidur. Tak mampu pejamkan mata lagi, Irishak menonton pertunjukan lelap lelaki di sisinya.
Kadang matahari menjadi sangat kejam dan hujan terlalu pendiam untuk bicara. Hellton adalah satu-satunya pria yang berhasil pada hatinya.
Masih sangat pagi, jam tiga pagi. Irishak tak bisa katupkan kelopak mata karena terlalu banyak tidur di siang hari tetapi pura-pura lelap ketika Hellton Pascalito bangun dari ranjang, memakai jaket dan tinggalkan kamar tidur.
"Irishak, aku harus pergi dan mengurus sesuatu!" Berbisik lalu mengecup keningnya.
Mobil keluar dari garasi dan pria itu pergi. Tidak akan ada danau dan kano.
Are you still mind?
"Apakah Anda masih milikku, Tuan?"
***
Tinggalkan komentarmu di bawah sini. Aku gak nulis panjang ya Chapternya. Aku harus bekerja di dunia nyata. Hiks.
tapi kenapa aku mesti balik lagi kesini 😭
semoga diluar sana tidak ada wanita yg bernasib seperti irishak