NovelToon NovelToon
Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Badboy / Tamat
Popularitas:453.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irma Marmaningrum

Arisha Shanika gadis berusia 22 tahun. Ia baru lulus kuliah dan melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan. Nasib baik sedang berpihak padanya, karena ia langsung diterima di Kavin Cruise Ship Training.

Namun, ketika ia mulai bekerja sang pemilik perusahaan tiba-tiba menyeretnya dalam masalah hingga tidak ada pilihan lain selain menikah dengannya.

Kavindra Pramudya pria dewasa berusia 35 tahun itu menganggap Arisha adalah calon istrinya yang menghilang, hingga ia memaksanya untuk menikah.
Namun, ternyata gadis itu adalah kekasih dari adiknya bernama Davanka Pramudya.


"Aku bahkan tak mengenalmu."
_Arisha Shanika_


"Kamu adalah milikku dari dulu hingga sekarang."
_Kavindra Pramudya_


"Aku minta maaf karena telah menyiakanmu."
_Davanka Pramudya_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Marmaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lampu Merah

Riri terkesiap saat jari tangan Kavindra menyentuh pipinya. Ini pertama kalinya pria di sampingnya melakukan hal itu. Ada rasa hangat, saat tubuh gadis itu memang terasa dingin.

Yang lebih menakjubkannya bagi seorang Riri, saat tahu bahwa dirinya adalah mantan sang adik. Justru pria itu malah mengkhawatirkan keadaannya.

"Apa Dava pernah melakukan ini." Kavindra tiba-tiba mengecup bibir Riri yang terasa dingin itu sekilas, saat lampu lalu lintas berubah merah.

Gadis itu mengerjap kaget, saat benda basah itu menyentuh bibirnya. Riri benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan pria di sampingnya. Herannya tubuhnya tidak menolak, tetapi juga tak menanggapi.

Namun, saat tak ada penolakan dari Riri, Kavindra mengulang kegiatannya dan mulai memainkan benda kenyal itu. Riri menarik erat kemeja Kavindra dan menahan nafasnya. Matanya ia pejamkan dengan erat pula. Jantungnya berdetak tak karuan, seperti genderang mau perang. (Lirik lagu hehe)

Sampai akhirnya suara klakson di belakangnya saling bersahutan. Riri pun bisa berterimakasih pada klaskon-klakson mobil di belakang. Ya, tentu saja karena akhirnya ia bisa bernafas dengan normal, walau masih terdengar terengah-engah.

Kedua pipinya terasa sangat panas, pasti sudah merah seperti kepiting rebus. Gadis itu pun mengalihkan pandangannya ke arah jendela, sementara Kavindra mengomel.

"Ish, iya-iya." Kavindra mengomel sambil mulai melajukan kembali mobilnya.

Riri tak berbicara sepatah kata pun, saat mobil mereka sudah melaju jauh dari lampu merah tadi. Sementara itu, Kavindra juga tampak fokus menyetir, walau sesekali mencuri pandang ke arah gadisnya. Kedua ujung bibirnya membuat lengkungan indah, tanpa pria itu sadari.

"Aku yakin, aku yang pertama buat Riri," gumamnya dalam hati.

"Riri," panggilnya pelan, saat tak ada percakapan dari gadis itu.

"Iya?" jawab Riri cepat, dengan menoleh ke arah pria yang kini sedang menatapnya.

"Sudah sampai. Apa mau--" Kavindra belum menyelesaikan ucapannya, karena Riri sudah menyelanya cepat.

"Nggak mau, aku turun di sini, Pak." Riri buru-buru membuka sabuk pengamannya, lalu hendak membuka pintu mobil. Namun, sebuah tangan menahannya. Siapa lagi kalau bukan Kavindra.

"Biar saya, yang buka. Kamu tunggu sebentar," ucap pria itu, lalu bergegas keluar dan berlari kecil untuk membukakan pintu mobil.

Riri berjalan gegas menuju rumahnya, setelah mengucapkan terima kasih pada Kavindra karena telah mengantarnya. Namun, pria itu malah mengikutinya dari belakang.

"Pak Kavin, mau ke mana?" tanya gadis itu saat pria itu malah mengikutinya.

"Tadi aja manggilnya udah Bang Kavin, kenapa balik lagi?" Pria itu malah bertanya nama panggilannya yang kembali berubah.

"Ish." Riri memutar bola matanya.

"Aku mau bilang ke calon mertua, udah dikasih pinjem anaknya. Aku kan bukan kang ojek," jelasnya.

Riri dan Kavindra pun berjalan beriringan. Mereka sudah sampai di depan pintu. Riri pun mengucap salam, sambil membuka pintu rumahnya.

Baru saja gadis itu melangkah masuk, netranya teralihkan oleh tamu yang sang sangat ia kenal.

"Bang Agam?"

Kavindra menoleh ke arah pria yang sedang duduk dengan pakaian yang sangat rapi.

Pria itu merasa kalau tamu itu akan merebut gadisnya. Dengan refleks Kavindra menarik pinggang gadisnya agar merapat ke tubuhnya.

"Pak Kavin! Apa-apaan sih?" omel Riri sambil berusaha melepaskan pelukan pria itu.

Papa Satria dan Mama Rina beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri putri sulung mereka.

"Ayo duduk dulu, Ri, Nak Kavin," ajak keduanya.

Riri dan Kavindra pun mengikuti orang tua itu untuk duduk. Riri duduk diapit oleh kedua orangtuanya, sementara Kavindra duduk di samping Agam berhadapan langsung dengan ketiganya.

"Gini lo, Ri. Nak Agam ada niat buat …." Papa Satria ragu untuk melanjutkan ucapannya.

"Kenapa Pa?" Riri takut hal yang tak ia harapkan terjadi.

"Agam mau melamar kamu, apa kamu bersedia?" tanya sang mama yang lebih berani mengungkapkan semuanya.

"Apa?" Riri dan Kavindra memekik berbarengan.

Namun, setelah itu Kavindra mengutarakan isi hatinya.

"Maaf Om, Tante. Saya menyela pembicaraan kalian. Riri itu kekasih saya, kita baru saja menjalin hubungan," papar pria itu dengan menekankan kata kekasih ke arah Agam.

"Iya, kami tahu. Tapi kami tak mau Riri berpacaran lama-lama, takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan." Pria paruh baya itu berucap dengan bijak.

"Ya udah, Pa. Sekarang keputusan ada di tangan Riri, dia mau pilih siapa?" ucap sang mama.

Riri merem*s kedua tangannya gugup. Entah mengapa hari ini ia selalu mendapat kejutan yang membuat jantungnya benar-benar ingin meloncat keluar.

"Ikuti kata hatimu, Nak. Jangan memaksakan diri jika kamu memang nggak suka," ucap sang papa tenang.

Riri mengangguk mendengar petuah sang papa.

"Maaf ya sebelumnya Bang Agam. Riri … sudah menganggap Abang seperti kakak Riri sendiri nggak lebih," jawab Riri dengan gugup.

Agam memang sudah menyiapkan diri untuk hal ini, karena gadis pujaannya itu, sudah sering juga mengungkapkan hal yang sama. Namun, saat gadis cantik itu mengungkapkannya di depan orangtua dan pria lain, rasanya begitu sakit. Hatinya tercabik oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Mm k

"Maaf ya, Bang." Riri berucap lirih.

"Nggak apa-apa, Neng. Abang seneng kok, yang penting Neng bahagia," jawabnya dengan senyum di wajahnya.

"Kamu pasti akan mendapatkan gadis lain, yang cocok untuk kamu dan mencintai kamu," ucap Kavindra sambil menepuk bahu Agam. Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Kavindra.

Tak berselang lama, Agam pun pamit pulang. Kini tinggal Kavindra yang masih duduk di sofa ruang tamu. Riri pun menatap heran ke arah pria di depannya, yang menatapnya dengan tersenyum.

"Kenapa Pak Kavin, masih di sini? Nggak ikut pulang?" sindirnya.

"Sebentar lagi dong," jawab Kavindra begitu menyebalkan di telinga Riri. Sementara Papa Satria dan Mama Rina mengantar Agam, Riri dan Kavindra malah berdebat.

"Gimana tadi enak, kan?" goda Kavindra pada gadis di depannya.

"Apa sih nggak jelas?" gerutunya.

"Dih, pura-pura lupa, padahal menikmati," ucap Kavindra merajuk.

"Apa sih, Pak Kavin. Nggak jelas banget." Riri berucap kesal.

"Lampu merah." Kavindra menaikturunkan alisnya menyebalkan.

Riri memelototi pria di depannya. Namun, berbanding terbalik dengan Kavindra yang tersenyum penuh kemenangan.

"Ada apa di lampu merah?" Tiba-tiba Mama Rina sudah berada di samping Riri dan bertanya tentang apa yang didengarnya.

"Ini lho, Tante, tadi di lampu merah kita--"

"Langsung berhenti lah, Ma. Emang kenapa?" Riri langsung menyela ucapan pria yang begitu menyebalkan hari ini.

"Bagus dong, kalau jalan terus kalian melanggar rambu-rambu lalu lintas," ucap sang mama.

"Eh, tapi bentar deh, kenapa kalian pulang malam begini? Hayo abis dari mana?" imbuhnya.

"Maaf, Tante. Tadi anaknya aku culik dulu buat makan malam di rumah. Papi sama mami mau ketemu calon mantu katanya," papar Kavindra yang membuat Riri kembali gugup.

"Ooh, terus gimana tanggapan orangtuanya, tentang anak Tante?" Wanita paruh baya itu tampak antusias, hingga mereka tak menyadari bahwa Riri sudah tak ada diantara mereka.

Sang papa yang baru dari toilet, menatap heran ke arah putri sulungnya yang berlari kecil sambil mengendap-endap.

"Kamu ngapain?" tanya pria paruh baya itu dengan mengerutkan dahinya heran.

"Ssstttt!" Riri menempelkan jari telunjuk pada bibinya.

"Kenapa?" Papa Satria mengulang pertanyaannya dengan berbisik.

"Riri kebelet pipis, Pa," bisik gadis itu serius yang sontak mendapat usakan di kepalanya.

"Kirain apa, udah sana!" titahnya. Pria itu pun berlalu menuju ruang tamu kembali.

Tampak sang istri dan pria tinggi itu sedang berbincang. "Seru banget kayanya, kalian ngobrolin apa sih?" Pria paruh baya itu duduk di samping sang istri.

"Ini lho, Pa. Riri abis makan malam sama keluarga Nak Kavin." Wanita paruh baya itu menjelaskan.

"Iya, Om. Maaf kalau pulangnya agak malam," jelas pria itu.

"Oh, iya nggak apa-apa sih, tapi lain kali kasih kabar orang rumah ya, biar kita nggak khawatir."

"Siap, Om."

Sementara itu, di kamar Riri.

Gadis itu mengajak sang adik ke kamarnya. Lalu menceritakan semua kejadian hari ini, yang menimpa dirinya.

"Apa? Ja-jadi Pak Kavin itu, Kakak dari mantan Kakak yang selingkuh itu?" pekik sang adik yang langsung mendapat anggukkan dari Riri.

"Ribet amat si, Kak. Coba aja tadi terima Bang Agam, kan aman." Gadis itu malah langsung mendapat toyoran di keningnya, hingga terjengkang ke belakang.

"Emang kamu denger gitu, Kakak nolak Bang Agam?"

"Dengerlah, Sera kan punya kuping." Gadis itu menjewer kupingnya sendiri.

"Terus Kakak harus gimana dong, Dek?"

"Iya Kakak suka nggak sama Pak Kavin? Kalau Sera lihat nih ya, dia itu baik banget, udah gitu ganteng, kaya pula. Sempurna pokoknya," jelas sang adik.

"Dia juga udah--" Riri menunjuk bibirnya sendiri yang membuat Sera kembali memekik, hingga Riri membekapnya.

"Di mana, Kak?"

"Lampu merah." Riri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Beuh, kaya film yang lagi viral itu lho, Kak. Yang lampu merah, lampu ijo." Sera tergelak.

"Ish, apaan sih. Kakak lagi kesel ini, Dek."

"Tragedi Lampu Merah." Sera tertawa lalu berlari keluar.

"Lampu merah siyalan."

Bersambung...

Happy Reading

Aku kalau di lampu merah nggak ngapa-ngapain, paling liatin lampu doang kapan ijo. Bang Kavin jago ya, dia nggak takut ketuaan apa ya sama orang lain.

Okelah jan lupa gerakin jempolnya ya, aku tunggu komen kalian yang banyak atuhlah sekali-kali ramein.

1
Dewi Kadimen
Luar biasa
Sulaiman Efendy
SIAPA LAGI NI BETINA, BKNKH CMA KIANDRA SATU2NYA WANITA MASALALU KAVIN
Sulaiman Efendy
ENAK BANGET LO, UDH TUBUH LO DINIKMATI DAVA,, TRUS DINIKMATI MNTAN SUAMI LO, LO MSH INGIN MNGHARAPKN KAVIN, INDAH BANGET IDUP LOO.
Sulaiman Efendy
TPI TUBUH LO UDH LO BRIKAN KE DAVA... MNGPA MSH MNGHARAPKN KAVIN, KN LO CMA ANGGAP KAVIN SEBAGAI ABANG... HRSNYA YG LO KEJAR SKRG SI DAVA....
Sulaiman Efendy
LO ISTRI SAH, JGN TAKUT DGN PELAKOR, LAWAN TU PELAKOR MURAHAN....
Sulaiman Efendy
MUNCUL2, LO MLH INGIN GANGGU KAVIN,, HRSNYA LO TMUI DAVA..
Sulaiman Efendy
LO CARI TU KIANDRA YG TELAH LO RUSAK...
Sulaiman Efendy
SEMOGA TU KIANDRA GK MUNCUL LGI DI KHIDUPAN KAVIN... BILA PERLU UDH MATI AZA.. KLO MAU MUNCUL. DAVAN YG HRS LO TEROR..
Sulaiman Efendy
KEJADIAN DLU KRN ULAH ANAK LO SI DAVAN ALIFA. .. SDHLH MNUSUK ABANGNYA DRI BELAKANG, TU CALON ISTRI ABANG NYA JUGA DI ZINAHIN..
Sulaiman Efendy
DO'A SI PAPA KYKNYA TERKABUL KLO PUTRINYA DILAMAR PMILIK PRUSAHAAN .
Sulaiman Efendy
SKRG GILIRAN, LO REBUR RIRI DRI DAVAN...
Sulaiman Efendy
AKHIRNYA RAKA BEBERKN JUGA FAKTA 2 TH YG LALU..
Sulaiman Efendy
DAVAN JUGA PACAR SI ARISHA
Sulaiman Efendy
Luar biasa
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
CEWEK CANTIK KAV. .
Sulaiman Efendy
SUATU SAAT PSTI KETAUAN & TRBONGKAR.. SERAPAT APAPUN BANGKAI LO SIMPAN, PSTI AKN TRCIUM JUGA BAU BUSUKNYA
Sulaiman Efendy
KLO LO TAU SALAH SATU ADIK LO ADALAH PENGHIANAT, APA LO MSH MNYAYANGINYA...
Sulaiman Efendy
TEENYATA,SI DAVA YG MNUSUK ABANGNYA DARI BLAKANG DGN MNGGODA CLON KK IPARNYA, DN SIALNYA SI KIANDRA TRGODA, DN SELINGKUH HINGGA BRZINAH..
Sulaiman Efendy
JGN2 HILANGNYA KIANDRA, CALON ISTRI ABANGNYA ULAH SI DAVA NI...
Irma Wati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!