NovelToon NovelToon
GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duda / Persahabatan / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:8M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.

***

Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?

Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?

originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Bukti Lipstik Waterproof

Dean baru masuk ke mobil dan mendapati Toni yang sedang memandangnya dengan wajah memelas.

“Apa lo?” sergah Dean memandang sahabatnya.

“Enggak nyangka gue, De …. Anjing belagu? Muka bloon? Sinting?” Toni menyilangkan tangannya di dada dan menggelengkan kepalanya menatap ke luar jendela. “Baru aja lo manggil gue Sayang tadi,” ucap Toni.

“Cih! Diem lo! Lo ngapain di dalem lama banget? Gue bilang jangan lama-lama, lo tau bini gue lagi sensi. Sampe si bloon itu dateng.” Dean menatap Toni dengan tatapan kesal.

“Oh, yang bloon si Rey? Gue kira—”

“Lo juga!” kesal Dean. “Ngapain aja lo di dalem? Ngobrol? Pasti lo sempet-sempetin nyosor si Wulan. Gue di luar ngomong ama anjing belagu itu. Kalo sampe dia ketemu lo lagi. Wah … kayaknya kali ini, gue cukup jadi pengacara lo aja.”

“Enggak ada ngapa-ngapain, kok. Cuma ngobrol aja, nanya kabar, kegiatan dia selama ini." Toni sedikit meringis saat mengatakan hal itu.

“Oh, ya?” Dean menaikkan alisnya.

“Iya … bener, deh.” Toni memandang Dean dengan sorot mata tulus.

Dean lalu memajukan tubuhnya, membuka laci dasbor di depan Toni. Ia mengeluarkan sebungkus tisu yang belum dibuka. “Nih,” ujar Dean mencampakkan kemasan tisu itu pada sahabatnya.

“Untuk apa, nih?” Toni memeluk kemasan tisu yang cukup besar.

“Untuk lap mulut lo. Semahal apapun lipstik, se-waterproof apapun … mending lap bibir lo itu. Jijik gue! Mau nyoba ngibulin gue.” Dean melajukan mobilnya meninggalkan kantor Wulan.

“Sorry … gue lupa sedang berhadapan dengan siapa. Pak Dean yang jago dandan dan selalu detil,” ujar Toni.

Mendengar hal itu, Dean mengulurkan tangannya kembali pada Toni. “Minta tisunya,” ucap Dean. Toni yang bodoh, memberikan kemasan tisu itu. Dan untuk kedua kalinya, Dean kembali melemparkan tisu pada sahabatnya. Sambil tersenyum-senyum, Toni membuka kemasan tisu dan menurunkan sun visor untuk menyeka lipstik dari bibirnya.

Toni tertawa terbahak-bahak, dan Dean kali ini mencampakkan ponselnya ke pelukan sahabatnya. “Cari nomernya si Rojak. Bilang ke dia, pergi ke tukang sate Madura di simpang dan suruh tutup.”

“Hah?” Toni memegang ponsel Dean dengan wajah bingung.

“Buruan. Telfon!” seru Dean.

Toni mencari nomor telepon Rojak satpam di daftar kontak. Tak lama kemudian, “Halo? Pak Rojak? Bukan—bukan. Saya temennya Pak Dean. Ada pesan dari Pak Dean, pergi ke tukang sate Madura di simpang jalan. Terus bilang suruh tutup.”

Wajah Toni masih bingung. “Ha? Iya, suruh tutup. Terus … suruh pulang? Kok kayak Pamong Praja? Emang Pamong Praja kayak gitu? Emang iya, De?” tanya Toni pada Dean.

“Ih, bloon. Suruh tutup di simpang jalan, terus minta dateng ke rumah. Masuk ke halaman. Gue mau borong semuanya. Kalo kemaleman, khawatir satenya abis.” Dean melempar tatapan kesal pada Toni.

“Oh, gitu, Pak … denger, kan?” tanya Toni di telepon. “Oke—oke. Sebentar lagi Pak Dean nyampe di rumah, kok. Tunggu aja bilang ke tukang satenya. Bakal diborong. Buat istri dan seluruh staf di rumahnya.” Toni tertawa kecil. “Aman kalo itu, Pak Dean kaya dan murah hati. Jangan sungkan-sungkan—"

“Heh! Udah! Malah ngobrol kayak ibu-ibu.” Dean merampas ponselnya dari tangan Toni.

“Gue lebih deg-degan pulang ke rumah, ketimbang ngeliat si Rey dateng tadi.” Dean melihat lampu merah dengan raut tak sabar.

"Bini lo?" tanya Toni.

"Bini gue, featuring nyokap gue. Berbahaya sekali ...," gumam Dean.

“Gue kok jadi serem, ya, mau nikah lagi. Gambaran lo setelah menikah itu, menyeramkan.”

“Seremnya dikit, enaknya banyak. Duit abis juga keliatan ke mana. Lo pacaran juga pasti abis banyak. Apalagi jaman ama Tasya. Anak kuliahan pasti mintanya ini-itu. Nggak mungkin nggak lo kasi. Gue tau lo,” ujar Dean.

“Ah, bacot! Lo juga gitu. Tiap pacaran semua-semua lo kasi. Feby, Mega, Rahma, Disty, Lala, Poo—”

“Taaii!!” maki Dean.

Toni kembali tertawa terbahak-bahak.

“Pemberian gue itu, sesuai service aja.” Dean tergelak. “Standarlah kalo ngasi-ngasi. Apalagi kalo emang punya feeling, cewenya baik. Yang penting tau aja batasannya. Terlalu royal, bisa dimanfaatin. Terlalu pelit, juga menjijikkan.” Dean kembali teringat pada mantan kekasih istrinya, Utomo. Winarsih yang naif, menghabiskan waktu begitu lama bersama seorang pria yang tak mau rugi.

“Kalo ke bini lo, sekarang gimana? Maksudnya—yah lo jangan tersinggung. Keluarga bini lo, kan, standarlah, ya. Kayak keluarga Wulan. Meski bisa dikatakan, keluarga Wulan itu, keluarga sederhana yang tinggal di kota. Nah, buat keluarga bini lo, ngebaginya gimana?” Toni mengerling Dean. Sebelum menikah dengan Wulan dulu, ia tak pernah memikirkan soal itu.

“Bini gue, duitnya banyak. Dia tau duitnya banyak, karena saham Cahaya Mas, dulu dia yang beli. Pake duit yang gue kasi. Tapi … bini gue, nggak pernah nyentuh duit itu. Untuk biaya keluarganya … yah, uang jajan ibu dan adiknya, gue kasi ke Novi. Novi yang urus pengirimannya. Termasuk jajan bini gue, masih Novi yang kasi. Tapi tetep … yang namanya bini. Dikasi berapapun, tiap ke mall kata-katanya masih sama, ‘Mas aja yang beliin’. Kalo udah kayak gitu, bini lo bakal keliatan makin gemesin. Gue suka. Gue suka kalo bini gue manja dan bergantung ama gue. Mungkin ada tipe laki-laki yang lebih suka perempuan mandiri. Tapi, gue sukanya ya ... begitu. Apalagi liat dia tidur ama anak-anak lo, sayang lo pasti nambah. Lo rela kasi apa aja yang lo punya. Asal dia bisa senyum.”

“Termasuk ke kampus dan nongkrong bareng temennya?” todong Toni.

“Kalo itu tetep enggak. Apa aja selain pergi sendiri atau ninggalin gue sendiri. Udah ah! Biaya hidup gue mahal, lo tau anak gue banyak. Ini udah tiga jam lo make tenaga gue. Ditambah menyingkirkan Tasya dan Rey, harusnya gue udah terima success fee hari ini.”

“Kalo mau konsultasi lagi, gimana, De? Soal Mami …,” ucap Toni.

“Lo dong yang ke kantor gue. Telfon Ryan dulu tanya jadwal gue, kosongnya kapan. Kalo full, lo minta Langit atau Rio buat nemenin.”

“Gue juga masih harus ngomong lewat Ryan?” tanya Toni. Mobil Dean telah berhenti di depan rumah di kawasan yang sama dengan kediaman Pak Hartono.

“Iya dong, kan, Ryan yang tau jadwal gue. Udah, sana turun! Hush!” Dean membuka kunci pintu mobil. “Oh, iya. Lo kirim dong bingkisan ke rumah Wulan, sekretaris lo yang bijak itu ngomong mau kirim bingkisan dari panitia outing. Minta sekretaris lo mikir, bikin kata-kata ucapan, yang Wulan ngerti itu dari Lo. Tapi cowonya nggak ngerti itu dari lo.”

“Gimana caranya?”

“Tanya sekretaris lo! Kalo dia nggak bisa, pindahin ke gudang aja. Jangan jadi sekretaris. Atau lo angkat jadi kepala cabang baru. Tapi di Papua.” Dean memasukkan persneling dan melaju meninggalkan Toni yang terbengong di depan rumahnya.

To Be Continued

Lanjutannya langsung di part berikutnya. Like-nya jangan terlewat ya sayang-sayang njusss :*

1
afri yani
ampun dah ah.. mestinya tadi poles lip balm dulu sebelum cekrak cekrek📸📸
afri yani
Sumpah memang kawan laknat tuh si Toni. emang dia siapa sih poros hidup keempat temen nya berputar ke dia semua.😄😄😄
afri yani
Nemu di mana si Toni sekretaris modelan si Mus 🤭
afri yani
jangan jangan si Mus masih sodaraan sama si Dean. sama sama nyebelin.😁
afri yani
si pria tipis iman tunjuk tangan😄
afri yani
🤭🤭🤭
afri yani
kawan durjana lu de🤭
afri yani
hadirr
afri yani
Mus Mus.. ngeselin aja. anak dukun kamu ya?😁
afri yani
si mus sakti juga ya. tiba tiba nongol tiba tiba ngilang. tapi kenapa yang selalu dihantui si pak de Mulu ya..🤔
Uphe Fenty Agesty💞
ngakaaaaak
Uphe Fenty Agesty💞
ampoooon nyampe keselek ini kelakuan pak De🤣🤣🤣🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
kuda lumping Mus🤣🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
yg ceo nya siape yg ngatur siape...🤣🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
🤣🤣🤣🤣
𝕯𝖍𝖎𝖓𝖆
siapa yg baca genk duda akut di tahun 2026☝🤣...
Uphe Fenty Agesty💞
sanusi DARMAJI...🤣🤣
Uphe Fenty Agesty💞
gua getok pala lu pak De🤣🤣🤣🤣
𝕯𝖍𝖎𝖓𝖆
tetap ngakak 🤣🤣🤣 padahal uda berulang" di baca, btwe, siapa yg baca novel ini di tahun 2026 , arti nya kita smaa guys 😄
juskelapa: Novel favorit aku juga ini 😍
total 1 replies
who i am?
2021 ➡️ 2026: Masih setia bolak-balik baca Genk Duda Akut 😂🫡

Buktinya nggak pernah bosen kan? Karena tiap baca ulang nemu aja part lucu baru.

Obat stress paling ampuh = bapak-bapak GDA.
Terima kasih kak penulis udah bikin karya selegendaris ini ❤️

#TimDudaAkut #BacaUlangKeSekianKali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!