"Ikutlah dengan ku, aku akan membantumu membalaskan semua rasa sakit yang telah mereka berikan padamu!" seru Bram.
Sepuluh tahun kemudian...
Gadis kecil yang dibawa oleh Bram kerumahnya setelah menangis dan memeluk gundukan tanah, makam kedua orang tuanya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat menawan.
Syaheera sedang menunggangi kuda kesayangan nya dan mengarahkan anak panahnya ke sasaran bergerak yang sudah disiapkan oleh Bram.
Syut!
Suara tepuk tangan membuat Syaheera menoleh.
Prok! prok! prok!
"Good job, my little princess! kemampuanmu semakin baik!" puji Bram.
Syaheera telah di didik Bram menjadi gadis muda yang energik dan pintar.
Sesungguhnya Bram yang akan membantu Syaheera balas dendam, atau sebaliknya?
Happy reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Pertemanan Arthur
Arthur masih berada di ruangan Syaheera, hampir satu jam dia berada disana.
Perlahan Syaheera mulai sadar, dia membuka perlahan matanya dan menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang begitu menyilaukan nya.
Ketika dia menggerakkan tangannya, terasa ada sesuatu yang membuatnya sulit bergerak.
"Oh, astaga! di gips. Separah apa lukaku!" gumamnya.
Mendengar suara Syaheera, Arthur yang tadinya sedang memeriksa sesuatu di ponselnya, segera beralih ke Syaheera dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong jas nya.
"Syaheera, kamu sudah sadar?" tanya Arthur antusias.
Syaheera menoleh ke Arthur.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya balik Syaheera dengan suara lemah.
"Aku mencemaskan mu! bagian mana yang terasa sakit. Aku panggilkan dokter ya?" refleks Arthur memegang tangan Syaheera.
Syaheera menepisnya dengan tangannya yang satunya lagi.
"Tuan Arthur, sebaiknya anda keluar! aku tidak butuh simpati dari anda!" tegas Syaheera.
"Aku tahu aku salah, aku tidak tahu kalau kamu terluka dan masih memaksamu untuk balapan, aku hanya ingin bertemu dengan mu, aku hanya ingin bicara padamu!" jujur Arthur.
'Astaga, semua rencana sesuai dengan apa yang Om Bram inginkan dan katakan! Oh Tuhan, maafkan aku sudah membuat kedua saudara ini nantinya akan bertentangan!' batin Syaheera.
"Sudahlah, aku pun di bayar untuk melakukan itu?" ketus Syaheera.
"Berapa hutang mu pada Andrew Russel?" tanya Arthur.
Pertanyaan Arthur membuat Syaheera terkejut, apa yang dikatakan Bram benar-benar terjadi. Seperti yang Bram ucapkan tadi pagi bahwa Arthur akan berusaha keras melepaskan Syaheera dari Andrew.
Bukan demi Bastian adik tirinya, melainkan Arthur akan mulai terobsesi pada Syaheera.
Syaheera menghela nafasnya berat, dia juga harus melakukan bagiannya dengan baik bukan.
"Sudahlah tuan Arthur, itu urusan pribadiku!" jawab Syaheera memalingkan wajahnya dari Arthur.
'Gadis ini menolak bantuan ku?' tanya Arthur dalam hati.
Penolakan Syaheera membuat Arthur makin penasaran padanya. Arthur memegang kedua lengan Syaheera.
Syaheera terkejut dan menoleh, jika saja tangannya tidak di gips, dan jika saja dia tidak harus bersandiwara, pasti Arthur sudah mendapatkan tinju dari Syaheera.
"Tuan Arthur, jaga sikap anda!" bentak Syaheera.
Arthur dengan berat hati menarik kedua tangannya.
"Syaheera dengar, anggap saja ini sebagai ganti rugi atas apa yang sudah aku lakukan padamu!" ucap Arthur berusaha membujuk Syaheera.
Syaheera tersenyum pahit.
"Anda ingin tahu, dulu yang dikatakan oleh tuan Andrew juga seperti itu, 'Anggap saja semua ini adalah bantuan dariku'. Tapi setelah itu dia memintaku menjadi istrinya, dan apa dayaku selain menerimanya!" ucap Syaheera dengan raut wajah sedih dan suara yang dia buat agak bergetar.
Arthur memandangi wajah sendu Syaheera. Dan Syaheera memang memasang wajah yang sangat sedih, hingga siapapun yang melihatnya tidak akan mencurigai bahwa dia sedang berakting.
Benar, dia memang sedang berakting. Dia bahkan tidak punya hutang satu sen pun pada Andrew. Dan semua yang dia katakan memang tidak benar. Adiknya yang sakit parah dan buruh banyak uang untuk pengobatan, Astaga! dia bahkan tidak punya adik.
Arthur duduk di samping Syaheera. Dan Syaheera menoleh ke arah Arthur.
"Kamu melakukan semua ini demi Bastian kan? tidak perlu tuan Arthur, aku juga tidak ingin Bastian terluka lagi, aku bisa bayangkan mungkin sekarang saat ini Bastian pastian sedang terluka parah, dan mungkin tidak sadarkan diri. Aku sungguh tidak ingin menyakitinya lagi...hiks..hiks..!" ucap Syaheera sambil menangis.
Arthur kembali di buat tak bisa berkata-kata. Dia makin yakin kalau dia menyukai gadis di depannya ini. Karena saat Syaheera mengatakan sesuatu yang menyatakan bahwa dia sangat mencemaskan Bastian. Hati Arthur tidak senang.
"Bastian memang tidak berguna, dia tidak bisa apa-apa. Tapi aku tidak Syaheera!" tegas Arthur.
Syaheera mengusap air matanya. Dia menatap Arthur yang begitu percaya diri.
'Astaga, pria ini bahkan mengolok saudaranya sendiri. Hanya gadis mata duitan dan penggemar pria tampan yang akan tertarik padamu! huh!' batin Syaheera kesal.
"Sekarang katakan lah, berapa hutang mu pada keluarga Russel?" tanya Arthur lagi.
Syaheera menggelengkan kepalanya.
"Tidak tuan..."
Arthur sangat emosional, dia memegang tangan kiri Syaheera hingga Syaheera terkejut dan menghentikan kalimatnya.
"Syaheera percayalah, aku pasti bisa melindungi mu, aku bisa membayar semua hutang mu pada Russel itu! Aku mampu Syaheera!" tegas Arthur meyakinkan Syaheera.
Sesungguhnya saat ini Syaheera merasa sangat muak, dia benar-benar ingin tertawa. Pria di depannya ini benar-benar sangat arogan. Begitu mudah nya mulutnya berucap dan se yakin itu dia dengan kekayaan orang tuanya.
Sementara Syaheera masih terdiam, Andrew dan Bram yang berada di luar ruangan mendengarkan percakapan antara Syaheera dan Arthur.
Andrew sejak tadi sudah gemas ingin membuka pintu ruangan di hadapannya itu. Tapi Bram masih melarangnya.
"Lelaki di dalam itu rajanya buaya Bram, Syaheera bisa termakan rayuannya nanti!" ucap Andrew pelan dan menekan setiap kata dalam kalimatnya.
"Lalu apa sebutan untuk lelaki di hadapan ku ini?" sindir Bram sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hey, aku ini lelaki baik. Sembarangan!" balas Andrew.
Dari jauh Andrew melihat kedatangan Jimmy, dia pun dengan cepat menarik Bram menjauh dari tempat itu.
"Jimmy datang, ayo pergi!" ucap Andrew.
Andrew dan Bram pun pergi dari tempat itu. Mereka melihat apa yang terjadi dari jauh.
"Kemana dua anak buah mu?" tanya Bram pada Andrew.
Andrew mengangkat bahunya sekilas lalu meraih ponsel dari kantung jas nya.
"Mereka tidak mengangkat ponselnya, sudahlah! biarkan saja!" ucap Andrew cuek.
Sementara itu di dalam ruangan, Arthur masih berusaha membujuk Syaheera untuk menerima bantuannya.
"Syaheera, aku baru bertemu dengan wanita yang sungguh keras kepala seperti mu! Aku mau membantumu bukan meminta sesuatu dari mu! Kenapa kamu menolak terus?" tanya Arthur dengan ekspresi wajah yang mulai tidak sabar.
Syaheera menghela nafasnya.
"Aku sudah bilang, aku tidak butuh bantuan mu!" jawab Syaheera tegas.
"Lalu kamu akan menikah dengan orang yang tidak kamu suka, kamu akan mengubur semua mimpi dan cita-cita mu?" tanya Arthur lagi dengan wajah yang dibuat sangat tampan. Memang sudah tampan dari lahir sih, tapi Arthur bisa membuat wajahnya semanis Andika Pratama saat mengatakan itu.
Sungguh rasanya Syaheera ingin tertawa.
'Aduh, ini menggelikan!' batin Syaheera.
Jika gadis yang lain yang berada di depannya, mungkin akan sangat terharu atas segala ucapan yang Arthur ucapkan. Perkataan manis yang seolah akan membawakan bulan dan bintang jika Syaheera menginginkannya.
Ditambah wajah tampan yang bisa membuat mata tidak ingin berpaling darinya.
"Hentikan tuan Arthur, aku tidak ingin membuat semua semakin sulit. Kamu akan melepaskan aku dari Andrew Russel dan membuatku terikat dengan mu? seperti itu?" tanya Syaheera.
Arthur terdiam.
'Gadis ini sangat pintar!' batin Arthur
Tapi hal itu membuat Arthur makin terobsesi pada Syaheera.
"Bagaimana jika yang aku tawarkan adalah pertemanan?" ucap Arthur mengulurkan tangannya pada Syaheera.
...Bersambung.......
...❤️❤️❤️...
...Yuk, tinggalkan jejak Like Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...