IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Donor Darah
Mobil di depan Aksa melesat dengan begitu cepat, hingga terguling beberapa kali. Hingga akhinya bagian depan mobil menabrak pohon di pinggir jalan dengan keras, si pengendara langsung meninggal di tempat karena terhimpit bagian depan mobil yang tengah penyok.
Naasnya di dekat pohon tersebut ada Callista yang tengah berdiri, dia sedang menunggu bundanya yang sedang memberikan kue pada pemesannya tak jauh dari situ.
Nasib malang memang sulit untuk dihindari, tubuh bagian kiri Callista langsung terhempas cukup keras bagian samping mobil.
Callista pun langsung tak sadarkan diri, Najma langsung berlari sambil berteriak histeris. Dia memangku tubuh putrinya yang terkulai lemah, badan gadis kecil itu berlumuran dengan darah.
"Ya Tuhan! Tolong selamatkan putriku, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap putriku ya Tuhan." Najma terus saja menangis sambil memangku putrinya.
Saat menyadari Callista yang menjadi korban, Aksa langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Najma. Aksa terlihat sangat cemas, dia berlari dan langsung mengambil alih Callista dari gendongan Najma.
"Mas Aksa," ujar Najma lirih.
"Biar aku yang gendong," ujar Aksa yang merasa tidak tega terhadap dua wanita itu.
Aksa terlihat berteriak pada orang orang yang berkerumun dan menghalangi jalannya, dia sudah tidak memikirkan orang lain akan berkata apa padanya, karena yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan Callista.
"Tolong berikan jalan untuk kami, ini adalah hal yang darurat. Jangan sampai ada kata terlambat, minggirlah dengan cepat. Jangan menghalangi jalan!"
Aksa langsung membawa Callista masuk ke dalam mobilnya, dia menidurkan Callista di kursi penumpang. Najma langsung ikut masuk dan mendekap tubuh mungil Callista, sedangkan Aksa langsung membunyikan klakson terus menerus agar dia di beri jalan.
"Kenapa banyak sekali orang berkerumun? Kenapa tidak membiarkan jalanan lenggang agar bisa dengan cepat kami pergi?"
Aksa nampak kesel sekali, karena di saat ada kecelakaan seperti ini malah banyak orang yang berkerumun. Di sana bahkan tidak sedikit dari orang-orang yang ada memvideokan kecelakaan tersebut.
Mereka bukannya menolong orang yang kecelakaan, tapi malah mengabadikan momen tersebut lewat video. Sungguh memang inilah kelakuan negara +62.
Setelah orang orang terlihat memberi Aksa jalan, dia langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Hanya sepuluh menit perjalanan yang ia butuhkan untuk sampai ke rumah sakit, setelah sampai dia langsung menggendong Callista ke ruang IGD.
"Tolong selamatkan Icha, jangan sampai terlambat!" teriak Aksa.
"Akan kami tangani dengan cepat, silakan anda berdua tunggu di luar saja."
"Baik, Dok."
Dokter dengan cepat langsung menangani Callista, sedangkan Aksa dan Najma langsung ke luar sesuai arahan dokter. Aksa dan Najma begitu gelisah, Najma terus saja mondar mandir serya membaca istigfar dan melapalkan do'a.
"Ya Allah, tolong berikan kesembuhan kepada putriku," ujar Najma penuh harap.
Berbeda dengan Aksa, dia merasa sangat lemas karena melihat darah yang keluar banyak dari tangan dan kaki kiri Callista, bahkan tulang tangannya pun terlihat karena dagingnya terkelupas.
Aksa hanya duduk sambil bersandar di bangku tunggu, dia kini terlihat seperti orang linglung. Tak lama Dokter pun keluar dari ruang IGD, Najma langsung menghampirinya.
"Bagaiman keadaan putri saya, Dok?" tanya Najma pada dokter dengan nama tag Heryawan.
"Dia harus segera di operasi untuk membetulkan letak tulang tangan kirinya, dan tentunya untuk menutup dagingnya yang telah terkelupas." Dokter Heryawan nampak menjelaskan.
Najma sebenarnya merasa was-was sekali, tapi dia berusaha untuk tegar. Dia terus saja melafalkan doa di dalam hatinya agar Tuhan memberikan kelancaran dan segera memberikan kesembuhan kepada putrinya.
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya, Dok. Tolong selamatkan putri saya," pinta Najma.
Dokter menatap iba ke arah Najma, karena dia sangat tahu kalau Najma pasti sangat terluka hatinya. Dia sangat tahu kalau Najma juga pasti sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"Tapi dia kehilangan banyak darah, sedangkan stok darah di rumah sakit kami sedang tidak ada." Dokter Heryawan berkata dengan penuh sesal.
Najma terlihat lemas karena dia dan Callista mempunyai golongan darah yang berbeda, Aksa tentunya melihat kekhawatiran dari mata Najma, Aksa segera bertanya.
"Memangnya golongan darahnya apa, Dok?" tanya Aksa.
"AB, Pak," jawab Dokter Heryawan.
"Golongan darah saya AB Dok, Dokter bisa ambil darah saya." Aksa langsung mengulurkan tangannya.
Walaupun dia merasa takut dan juga lemas, tetapi saat membayangkan Callista yang tidak berdaya, Aksa sangat tidak tega. Dia ingin menolong anak itu.
"Kalau begitu anda langsung ikut suster Yeni saja, dan untuk Ibu silahkan ikut suster Ane untuk menanda tangani berkas untuk operasi putri anda." Dokter Heryawan memberikan instruksi.
Najma dan juga Aksa langsung menganggukan kepala mereka dengan cepat, mereka paham kalau keduanya harus segera bertindak agar Callista bisa segera diselamatkan.
"Baik, Dok." Aksa dan Najma berucap dengan kompak.
Aksa segera mengikuti suster Yeni, dia harus segera melakukan pemeriksaan. Setelah masuk ke ruangan pemeriksaan, Aksa diminta untuk berbaring .
Aksa diperiksa dengan teliti oleh suster Yeni, setelah dinyatakan semuanya oke Aksa langsung mendonorkan darahnya.
"Semoga saja semuanya berjalan lancar," doa Aksa.
Di lain tempat Najma telah selsai dengan tugas yang harus dia kerjakan, Najma dan suster Ane segera berjalan menuju ruang operasi. Karena ternyata Callista sudah di pindahkan ke sana, suster Ane langsung masuk ke ruang operasi.
Sedangkan Najma menunggu di depan ruang operasi sambil mondar mandir, tak lama suster Yeni pun datang bawa dua kantong darah di tangannya.
"Yang sabar ya, Bu. Saya yakin semuanya akan berjalan dengan baik," ujar suster Yeni.
"Aamiin, semoga saja begitu sus," ujar Najma.
Saat suster Yeni akan masuk ke dalam ruang operasi, Najma menghentikan langkah suster tersebut. Dia merasa khawatir pada Aksa karena tak terlihat batang hidungnya.
"Maaf sus, mas Aksa mana, ya?" tanya Najma.
"Masih di ruang perawatan, dia terlihat lemas. Sepertinya dari pagi dia belum makan, tapi saya tadi sudah membawakan segelas susu hangat dan sepiring nasi lengkap dengan lauknya." Suster Yeni menjawab sambil menjelaskan.
"Ruangannya sebelah mana, sus?" tanya Najma lagi.
"Lurus aja, mentok belok kanan." Suster Yeni nampak mengarahkan.
"Terimakasih sus," ucap Najma.
Suster Ane pun mengangguk, Najma segera berjalan menuju ruang perawatan sesuai intruksi suster Yeni. Saat tiba di depan ruangan perawatan, Najma melihat Aksa yang sedang terbaring.
Wajah Aksa nampak pucat, Najma pun langsung masuk dan duduk di kursi pengunjung.
"Terimakasih sudah mau mendonorkan darah kamu untuk putriku, dan maaf sudah membuat kamu seperti ini," ucap Najma tulus.
Dia memang sangat mengkhawatirkan putrinya, karena saat ini putrinya akan menjalani operasi. Namun, dia juga merasa tidak enak hati kepada Aksa, karena pria itu mau menolong putrinya dan bahkan mendonorkan darahnya.
Setidaknya dia harus menemui Aksa terlebih dahulu walaupun sebentar, dia harus berterima kasih kepada pria itu. Karena justru pria yang bukan kerabatnya malah mau menolong putrinya, Aksa bahkan terlihat begitu tulus saat menolong putrinya.
"Tak perlu merasa bersalah, aku lemas karena dari pagi belum makan."
Aksa berbohong karena pada kenyataannya dia merasa lemas setelah diambil darahnya, dia juga merasa lemas karena memang tadi dia begitu cemas dan ketakutan.
Sungguh dia merasa khawatir saat melihat Callista, dia takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap putri cantik dari Najma tersebut.
"Kalau begitu mas Aksa bangun dulu, biar aku suapin," ucap Najma.
Mendengar ucapan Najma, Aksa langsung merasa semangatnya kembali lagi. Jarang jarang kan' bisa di suapin, apa lagi Najma tipe cewek yang susah buat di sentuh.
Aksa segera duduk dan menyandarkan punggungnya, Najma nampak mengambil piring yang sudah disediakan di atas nakas.
Ada nasi, sepotong daging dan tumis brokoli. Terlihat enak, tentunya dapat membantu pemulihan badan Aksa yang terlihat sangat lemah.
Najma mengambil satu sendok nasi beserta lauknya, dengan perlahan dia menyodorkannya di depan mulut Aksa.
"Buka mulutnya, Mas," ujar Najma yang sudah seperti hendak ingin menyuapi anak kecil.
Aksa membuka mulutnya, Najma langsung menyuapi Aksa. Satu suap, dua suap, tiga suap sampai tak terasa kini tinggal piring kosong yang dipegang oleh Najma.
"Mas Aksa sekarang minum susunya ya," ujar Najma.
Aksa sempat kaget saat Najma mengatakan susu, karena sedari tadi dia hanya melamun saja. Rasanya seperti mimpi bisa disuapin wanita cantik dan begitu menjaga jarak seperti Najma.
"Susu?" tanya Aksa dengan dahi berkerut.
Najma langsung menggelengkan kepalanya, dia tahu kalau Aksa saat ini memang terlihat tidak fokus.
"Susu ini loh, Mas. Jangan nyari susu yang lain," ucap Najma seraya mengangkat gelas berisi susu.
"Eh? Iya, sini aku minum." Aksa sedikit malu, dia sudah salah duga karena pikirannya tidak fokus.
"Karena Mas Aksa udah terlihat mendingan, aku tinggal ya, Mas. Aku mau nungguin operasinya Icha, tidak apa, kan?" tanya Najma.
Aksa langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, karena wanita itu memang harus menunggu operasi putrinya.
"Pergilah, aku mau telpon ayah dulu. Nanti kalau sudah selsai aku akan menyusul," ucap Aksa.
Najma segera keluar dari ruangan Aksa, sedangkan Aksa langsung menelpon ayahnya. Dia mengabari apa yang sudah terjadi, dia juga meminta ayahnya untuk membawakan baju ganti.
Tak lupa Aksa juga meminta tolong pada ibunya agar membelikan baju untuk Najma saat perjalanan ke rumah sakit nanti, untungnya ibunya pun mau membantunya.
Bukan tanpa alasan dia meminta ibunya untuk membelikan baju, karena baju Najma penuh dengan darah putrinya.
Tidak mungkin Najma terus saja memakai baju itu, Najma harus mengganti bajunya dengan baju yang bersih. Bahkan, Aksa juga meminta ibunya untuk membawakan makanan karena wanita itu pastinya akan merasa lapar.
"Semoga saja itu bisa membantu," ujar Aksa.
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he