Jangan lupa memberi like...
Season 2 Takdir Cinta Millaerin.
Mega dan Eki.
Mega membuat komik tentang perjalanan hidupnya, ia adalah pemain protagonisnya.
Tapi sebuah komik lain muncul dan tenyata komik itu kisah tentangnya, tapi ia malah menjadi pemain antagonisnya?
Bagaimana ini?
Reputasinya jadi tercoreng!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Pagi hari berikutnya, Mega terbangun dan mendapati ruangan itu hanya dihuni oleh ia dan Eki.
Tapi Eki masih terlelap, rupanya lelaki itu mengambil waktu yang banyak untuk membayar satu minggu dirinya tidak beristirahat dengan baik.
Mega hanya memandangi wajah Eki dan memberi beberapa ciuman pada pria itu sebelum turun dari ranjang untuk membersihkan dirinya.
Ketika ia keluar dari kamar mandi ia mendapati Rando dan Zoy sedang mengatur makanan.
"Kemarilah, kami baru saja membeli beberapa makanan." Kata Rando melambaikan tangan pada gadis itu.
Mega melihat ke arah Eki yang masih tertidur dengan pulas, lalu ia bergabung dengan Rando dan Zoy untuk makan bersama.
"Apa kata dokter? Apakah donor ginjal sudah ditemukan?" Tanya Mega pada kedua pria itu.
"Katanya kita masih memiliki waktu 3 hari, jadi jangan terlalu cemas.
Kemarin Paman Morano sudah datang kemari dan bilang kalau ia sedang berusaha mencari pendonor.
Jangan berpikir terlalu banyak, fokuslah pada bayi yang ada di kandunganmu."
"Aku mengerti." Jawab Mega kembali meneteskan air matanya.
'Ya nangis lagi!' Gumam Zoy.
"Nih, lap air matamu, nanti malah jatuh ke makanan." Kata Rando menyerahkan tisu pada Mega.
"Terima kasih," ucap Mega.
Mega tidak nafsu makan, tapi ia tetap memaksa beberapa suap makanan untuk turun ke perutnya.
Beberapa kali ia juga meneteskan air matanya di sela-sela makannya.
'3 hari bukanlah waktu yang cukup untuk mencari donor ginjal yang tepat bagi seseorang yang memiliki golongan darah langkah.
Tapi aku sama sekali tidak bisa membantu, bayi kami akan terancam jika saja aku mendonorkan salah satu ginjal ku untuknya.'
"Hei, jangan terlalu bersedih, percayalah pada beberapa orang yang tulus membantu.
Kau tahu, bekerja dan berpikir sendirian itu sangat melelahkan, apalagi untuk bayi yang ada di kandungan mu.
Kau mengerti kan?" Kata Rando memperingatkan Mega saat ia melihat gadis itu makan dengan tatapan kosong.
"Ya,, hmmm,, aku tidak akan memikirkannya lagi." Kata Mega berusaha tersenyum lalu ia lanjut menyuap makanannya.
Mereka belum selesai makan ketika ponsel Mega berdering.
Mega langsung meraih ponselnya dan melihat panggilan dari Andi.
"Jadi kamu masih berhubungan dengan pria itu?" Tanya Rando ketika ia memanjangkan leher nya untuk melihat layar ponsel gadis itu.
"Tidak, Ini pertama kalinya ia menghubungiku sejak aku meninggalkannya di desa. Mungkin ada sesuatu yang penting." Ucap Mega lalu ia menekan tombol terima.
"Halo," katanya pada orang di seberang telepon.
"Halo Mega, Ada apa dengan suaramu? Apa kau sedang sakit?" Tanya Andi dengan nada khawatir nya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kelelahan. Oh ya bagaimana kabarmu?"
"Aku juga baik-baik saja. Oh ya sekarang aku ada di ibukota Aku ingin mengunjungimu. Apa kau punya waktu?"
"Aku punya waktu, tapi sekarang aku ada di rumah sakit dan tidak bisa keluar."
"Rumah sakit? Rumah sakit mana? Aku akan ke sana sekarang!" Kata Andi terburu-buru, sepertinya pria itu benar-benar kuatir jika terjadi sesuatu pada Mega.
Setelah itu, Mega memberitahu nama rumah sakitnya pada Andi lalu mereka menunggu pria itu.
Tak butuh waktu lama sampai Andi tiba di rumah sakit, ia langsung pergi ke kamar inap dan mendapati Mega sedang duduk di pinggir ranjang menggenggam tangan Eki.
"Aku membawa buah." Kata Andi seraya meletakkannya di atas meja. Ia merasa lebih baik ternyata bukan Mega yang sakit.
Tapi ia merasa sedikit ngeri melihat keadaan pria yang sedang ditemani oleh gadis itu.
"Terima kasih sudah datang. Ini Eki, kekasihku." Kata Mega sambil tersenyum kearah Andi lalu ia balik menatap Eki yang masih lelap.
'Gadis Malang ini, dia masih menyatakan Eki sebagai kekasihnya padahal Eki sudah bertunangan dengan Ellen.' pikiran Andi dalam hati merasa iba pada Mega.
"Aku doakan dia cepat sembuh."
"Terima kasih." Jawab Mega.
Di rumah utama keluarga Saputra.
Astri sedang minum obat dibantu oleh Ellen.
Morano tidak ada di rumah, sepertinya pria itu memiliki kesibukan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan.
"Ibu, mulai sekarang kau tidak boleh berpikir terlalu keras lagi. Bisa-bisa kau semakin sakit nanti." Kata Ellen seraya meletakkan gelas bekas minum Astri pada nampan di atas meja.
"Bagaimana bisa aku tidak berpikir, Eki sudah satu minggu tidak ada kabar.
Dan semua orang terlihat tenang seolah Eki baik-baik saja." Kata Astri seraya mengingat suaminya yang lebih memilih bekerja daripada mencari anak mereka.
"Memangnya Ayah sedang ke mana Bu?" Tanya Ellen yang memang sedari tadi kebingungan karena sejak pagi merana tidak ada di rumah.
"Ibu juga tidak tahu, iya keluar pagi-pagi sekali menggunakan setelan jas nya. Mungkin ia pergi untuk mengurus perusahaan."
"Pagi-pagi sekali? Apa jangan-jangan Ayah menyembunyikan sesuatu dari ibu?"
"Menyembunyikan sesuatu? Apa maksudmu?" Tanya Astri seraya memandang Ellen dengan penasaran.
"Mungkin saja Ayah tahu di mana keberadaan Eki, itu sebabnya ia tidak pernah khawatir. Tapi ayah menyembunyikannya dari kita supaya kita tidak berusaha mencarinya."
"Kau benar, tapi di mana dia akan menyembunyikan Eki?" Lagi tanya Astri.
"Sepertinya dugaanku benar. Ibu, aku akan menyuruh seseorang untuk mengecek seluruh rumah sakit di ibukota." Kata Ellen segera meraih ponselnya untuk mencari nomor seseorang.
"Mulailah dari rumah sakit yang paling besar, suamiku tidak mungkin menyembunyikan Eki di rumah sakit yang kecil."
Ellen mengangguk, ia segera tahu rumah sakit mana yang dimaksud oleh Astri. Lagipula, rumah sakit besar ibukota iyalah rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap untuk merawat seseorang.
Pencarian mereka berbuah manis karena pada tengah hari keduanya sudah mendapat informasi dari orang suruhan Ellen.
Keduanya langsung bergegas dan pergi ke rumah sakit besar ibukota.
Tentu saja keduanya sudah tahu di mana itu dirawat karena keluarga mereka memang memiliki 1 ruang VIP yang dikhususkan untuk keluarga Saputra.
Begitu mereka tiba di ruangan, keduanya mendapati Mega masih setia duduk diatas tempat tidur sambil memegangi tangan Eki.
"Anakku!" Isak Astri langsung berlari ke samping tempat tidur Eki dan memegang tangan anaknya.
"Kau di sini!" Isaknya seraya mengusap rambut Hitam Eki.
Mega yang melihat kedua wanita itu langsung mengarahkan pandangannya pada Rando dan Zoy.
Zoy langsung mengangkat bahunya sementara Rando langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Morano.
Andi yang melihat Ellen secara langsung, merasa sangat tidak asing dengan gadis itu.
Tapi ia tidak mengatakan apapun dan hanya melihat aura menakutkan di dalam ruangan itu.
Apalagi kalau bukan Naura permusuhan antara dua kubu.
"Kau!" Astri langsung menunjuk Mega ketika ia menyadari Gadis itu masih tetap duduk di samping Eki.
"Selamat siang nyonya, Tolong jangan membuat keributan di sini, karena Eki masih tidur." Kata Mega dengan suara lembutnya memperingati Astri.
"Beraninya kau berbicara seperti itu pada ibu mertuaku!" Ucap Ellen dengan suara pelan namun matanya sangat melotot pada Mega.
"Tidak perlu Ellen, kita akan membicarakan ini nanti." Kata Astri yang memang tak mau mengganggu istirahat anaknya.
'Untunglah kali ini Ibu Eki bersikap waras. Kalau tidak, kekacauan akan terjadi dan Eki bisa terganggu' kata Mega dalam hatinya seraya menghela nafas lega.
Jempol kanan, jempol kiri, yang mana ajah deh, yang penting kasih like ya....🙏👍