NovelToon NovelToon
Special Class

Special Class

Status: tamat
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:54k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ann Soe

Menjadi asisten di kelas tambahan sama sekali bukan keinginan Aqni. Apalagi harus berurusan dengan si pemalas Mehran atau Kanita si angkuh. Terlebih lagi harus menghadapi Mikail si tukang rayu, Yuan si super dingin, dan Laylah yang suka melanggar aturan sekolah.
Namun, demi bisa bertahan di sekolah Aqni mau tak mau melakukannya dan harus berjuang keras mempertahankan kelas tersebut. Siapa sangka sebuah keterpaksaan membuat Aqni menemukan teman-teman yang luar biasa dan menjadikan masa SMA-nya benar-benar berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal yang Baik

Bagaimana cara meningkatkan nilai anak-anak kelas tambahan?

Kepala Aqni berasap memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Melihat hasil tes kemarin, nilai anak-anak kelas tambahan jelas berada di kategori mengkhawatirkan. Ia hanya bisa berharap Pak Syamsul dan Bu Riska serta Pak Hamdan punya solusi untuk hal ini, mengingat ulangan kenaikan kelas yang semakin dekat.

“Aqni.”

Panggilan berikut colekan di bahunya, membuat Aqni memutar tubuh. “Kenapa, Na?”

“Udah ngerjain PR Fisika?”

Aqni mengangkat alis. “Sudah,” jawabnya. Jika Nana berniat meminjam PR Fisikanya, Aqni berniat untuk menolak.

“Alhamdulillah, bisa bantu jelasin cara ngejawab soal nomor 5. Aku nggak ngerti. Sudah ngerjain berkali-kali, tapi belum nemu juga jawabannya,” pinta Nana.

Aqni yang semula berniat bersikap sinis, melunak karena permintaan itu. Ia pun membantu Nana mengerjakan soal tersebut, berikut soal-soal lain yang belum bisa Nana jawab. Bahkan tak hanya Nana yang mendengarkan penjelasan Aqni, beberapa teman sekelasnya pun ikut bergabung.

“Thanks, Aqni. Aku bener-bener ngerti sekarang,” ujar Nana.

“Yup. Ternyata ada cara simpel buat jawabnya. Aku malah muter-muter ngitungnya,” timpal Agus sambil tertawa.

“Kamu mah emang suka muter-muter, kan, Gus,” Ida menimpali.

“Yang penting sampai ke hatimu,” sahut Agus disertai kedipan mata pada Ida. Lalu ia kembali menatap Aqni dan berkata, “Makasih, ya, Aqni. Jadi kelar deh PR-ku tanpa perlu nyontek.”

“Aku juga, makasih banget loh. Sering-sering aja bantu kita gini, biar kita cepet paham. Soalnya penjelasan kamu lebih ringkas dan mudah dipahami,” Ida menimpali.

“Gitu, ya?” Aqni tampak mencerna perkataan Ida.

“Hu’um, kamu bisa jadi guru yang hebat,” kata Nana.

“Makasih,” ucap Aqni.

“Tapi jangan jadi guru, deh. Gajinya kecil,” ujar Agus. “Mending jadi pacarku aja,” tambahnya.

“Emang kalo jadi pacarmu gajinya berapa?” tanya Aqni polos.

“Ekh?!” Ketiga temannya kaget.

“Aqni, kamu sehat, kan?”

“Kamu salah minum obat, ya? Atau nggak sempat minum obat tadi pagi?”

“Pasti tadi pagi kepalamu kejedot di kamar mandi, deh.”

Beragam tanggapan muncul. Aqni tersenyum kecut. Sepertinya, ia perlu mengendalikan diri. Karena kondisi keuangannya memprihatinkan sekarang, dengan tagihan listrik dan air menunggu untuk dibayar, belum lagi uang asuransi kesehatan, makanya omongan yang menyerempet tentang uang selalu ditanggapinya dengan serius.

“Tapi kalau kamu mau jadi pacarku, nggak papa deh, aku ikhlas. Lagian, aku kan jadi bisa belajar gratis.”

Sekarang Aqni benar-benar berada di ujung tanduk berkat pertanyaan spontannya tadi. “Tadi aku cuma bercan─”

“Hoy, cewek barbar!”

Aqni menghentikan kalimatnya yang belum selesai, memutar tubuh ke belakang dan berhadapan dengan Mehran.

“Siapa yang kamu panggil cewek barbar?” tanyanya seraya berdiri. Meskipun sudah berdiri, ia masih merasa terintimidasi karena puncak kepalanya hanya mencapai dada Mehran sehingga masih harus mendongak agar bisa bersitatap dengan pemuda itu.

“Kamu, siapa lagi?” sahut Mehran.

“Hei, dengar, ya, gergasi─”

“Apa? Gergasi? Bahasa apa itu?” Mehran memotong kata-kata Aqni.

“Kamu nggak perlu tahu,” jawab Aqni. “Yang jelas, kamu nggak boleh manggil aku cewek barbar!” tegasnya.

“Kenapa? Tadi kamu juga manggil aku ger─”

“Gergaji,” celetuk Nana.

“Apalah itu.” Mehran melambaikan tangan. “Kamu juga nggak boleh manggil aku begitu.”

“Kan, kamu yang duluan,” tantang Aqni.

“Itu karena kemarin kamu mengambil makananku,” Mehran membela diri.

“Dan sudah kukembalikan,” sahut Aqni.

“Tapi sudah dingin.”

“Itu bukan urusanku.”

“Tentu saja, urusanmu, kamu yang ambil.”

“Siapa suruh kamu makan di kelas?!”

“Aku tidak makan di kelas.”

“Belum, tapi akan segera makan kalau nggak kuambil.”

“Nah, akhirnya kamu ngaku ngambil makananku.”

Dengan satu gerakan cepat Aqni menginjak ujung kaki Mehran yang berbalut sepatu. Mehran mengaduh kesakitan, dan Aqni tersenyum penuh kemenangan.

“Dasar cewek barbar!” Mehran mendumel sembari melangkah menjauh.

Aqni memandangi Mehran yang menjauh, bertanya-tanya apa yang membuat Mehran tadi memanggilnya. Apa Mehran ingin membicarakan sesuatu dengannya?

***

Saat kelas tambahan dimulai hari itu, Aqni memiliki niat yang kuat untuk membantu teman-temannya di kelas tambahan. Menilik keberhasilannya membantu teman-temannya di kelas tadi pagi, Aqni optimis pun dapat membantu anak-anak di kelas tambahan. Bukan karena uang lelah yang dijanjikan Pak Hamdan─walaupun hal itu memiliki pengaruh, tapi hanya sedikit─yang membuat Aqni berinisiatif menawarkan diri menjadi tutor, tapi karena ia gemas melihat nilai merah siswa kelas tambahan. Aqni percaya, siapa pun yang mau bersusah payah belajar akan mampu mendapatkan nilai yang baik. Dan jika anak-anak kelas tambahan mau belajar, mereka juga bisa mendapatkan nilai bagus.

Jadi, setelah Bu Riska pergi setelah menjelaskan materi dan memberikan soal latihan, Aqni berinisiatif menawarkan diri untuk membantu siapa saja yang merasa kesulitan menjawab soal latihan. Semula tak ada yang merespon, semua tampak sibuk mengerjakan soal, lalu seorang gadis berjilbab mengangkat tangan. “Aku nggak bisa ngerjain soal nomor dua, bantuin dong,” ujarnya.

“Bentar.” Aqni bergegas menghampiri gadis itu, kemudian membantu mengerjakan soal yang menurut gadis bernama Bulan itu susah. Sementara Aqni menjelaskan, siswa yang duduk di sebelah Bulan ikut mencuri dengar, walau berusaha terlihat tak tertarik.

“Eh, segampang itu?!” decak kagum Bulan menarik perhatian.

“Yup. Ini cara ringkasnya. Kalau pakai cara ini, kamu bisa menghemat waktu mengerjakannya. Jawabannya juga sama, kan?”

Siswa yang duduk di samping kanan dan kiri, serta yang duduk di depan dan belakang Bulan mulai tertarik.

“Iya, sama. Aku nggak tahu ada cara singkat begini. Soal berikutnya juga bisa pakai cara ini?”

“Iya. Coba aja.”

Bulan mengerjakan soal nomor tiga dengan cepat, tak sampai lima menit ia sudah mendapat jawabannya. “Keren! Sebelumnya, aku nggak bisa ngejawab soal kayak gini. Kamu genius!”

“Nggak kok. Aku nggak sepintar itu.” Aqni menyambut pujian itu dengan rendah hati.

“Tapi yang jelas lebih pinter dari aku,” kata Bulan. “Makasih, ya.”

“Sip.” Aqni memandang seisi kelas. “Ada yang perlu bantuan lagi?”

Kemudian seisi kelas sibuk bertanya pada Aqni. Aqni sedikit kewalahan menghadapi mereka, tapi dalam hati ia merasa senang karena teman-temannya sudah antusias belajar. Namun, tetap saja ada beberapa orang yang tidak terihat antusias. Si Tuan Putri terlihat sibuk mengikir kukunya yang sudah terlihat sempurna, tapi Aqni tahu bahwa Kanita sudah mengerjakan soal latihan karena di tes kemarin Kanitalah yang mendapat nilai 80. Lagi pula, alasan Kanita berada di kelas ini bukan karena nilainya jeblok melainkan sebab absensinya yang kurang. Hadir di kelas tambahan berfungsi untuk memperbaiki nilai absensi Kanita. Di sebelah Kanita, Mikail sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dilakukannya, Aqni sudah menegur tapi percuma saja karena Mikail malah membalas dengan merayunya. Jadi, Aqni memutuskan untuk menjauh dari yang satu itu. Lalu ada Yuan yang sibuk menggambar di buku gambar A3-nya. Dari yang Aqni lihat, bangunan selalu menjadi obyek utama gambar Yuan. Lain lagi dengan Laylah, gadis itu malah sibuk dengan make up dan majalah fashion-nya, sewaktu Aqni mendekat Laylah malah menyuruhnya memilih gaun di halaman majalah.

Keempat orang itu masih lebih baik dibanding Mehran. Yah, setidaknya mereka masih sadar. Sedang Mehran langsung menelungkup di meja sesaat setelah Bu Riska meninggalkan kelas. Pemuda itu memang tidak memiliki motivasi belajar sama sekali, padahal kalau urusan basket Mehran sangat bersemangat.

Aqni tak tahu mesti melakukan apa untuk membuat kelima anak itu punya motivasi belajar, dan ia pun tak ingin terlalu memikirkannya. Toh, ia hanya bertanggung jawab mengawasi sedang untuk bantuan seperti yang ia lakukan sekarang, dilakukannya hanya karena kebaikan hati.

1
🥀_Aida//Fanse_🥀
baru mampir saya kak,ceritanya bagus banget,top deh,heheh thanks kak,,ceritanya menghibur di hari puasa ini,kaya nya saya yg baru baca tahun dan bulan ini 🥺🤣🤣

tapi gk pp,sukses selalu kak berkarya nya,always be healthy kak❤️😉
saklLireSy.aNa
terus hub aqni sama mehran gimana?
kok ngga sampai mereka kuliah sih?
Mayha
bagus hanya saja tulisan kurang Oke tapi jalan ceritanya really good✨👌
Mayha
ngeselin banget
Febi Miftah Rianti
Sahabat yang baik..
Febi Miftah Rianti
Guru BK kok seperti itu.. Jahat sekali
acenggg
ceritanyaa bgss bngt thorr sumpah smngtt trs ya thor ditunggu season slnjtny yaa hehe
Sagu_gulaaaaa
kak, season 2 dungs🥺🥺 ceritanya kereeeenn
Kiki Dhevin
ah seruu bgt, jadi inget jaman SMA
Ripting
Yah udah tamat
ceritanya seruh thor, semangat trus berkarya kak
writer in box
salam dari Iya dia istriku
Ramadhawani 2019
Ceritain ttg ortunya aqni dong thor
🦋Jen_Wi06🦋 [Hiatus]
Hai kak maaf yah baru sempat mampir nih🙏🏻
Semangat terus yah kak💪🏻
icha.sunflower
bagus ini perlu ilmu pedekatan hati. wkk
D.F_Azzahra
Thor ceritany bangusss. the best lahh tapi sayang nanggung/Diki banget ceritany
Arwidia Yanti
bagus ceritanya thor, suka deh☺☺☺
Ann Soe: makasih udah mampir ya. 😘
total 1 replies
Devi Maya Puspita
ada season ke 2 nya gak thor??
Ann Soe: sedang dibikin outlinenya. 😊
total 2 replies
_sshinta
Mampir di ceritaku juga ya kak "BERI AKU KEBAHAGIAAN" terimakasih. Like, komen, dan vote juga ya kak

Mari saling dukung😍
Ann Soe: makasih udah mampir. 😍
segera meluncur ke ceritamu.

yep, mari saling dukung!
total 1 replies
IG : Gledekzz97
yuk kak mampi ke novel aku yang berjudul " Wanita yang menyentuhku " Bergenre romantis

jangan lupa jempolnya ya kak like dan vote. 🤳

Buay athor semangat dalm berkarya. 💪📚✍️
Ann Soe: makasih dah mampir.
segera meluncur ke ceritamu. 😉
total 1 replies
Mahrita Mhrt
cerita nya bagus cerita anak sekolah d padukan dengan cerita percintaan
Mahrita Mhrt: Tapi knpa gk d enter malah d lanjut trus
Dan knpa gk d lanjut aja cerita nya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!