NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Mana Buktimu, Ci?

Semua tatapan beralih kepada Amaya.

Selena segera menunduk, seolah menyesali ucapannya sendiri. "Aku bukan menuduh Maya. Aku cuma bilang jus itu dari dia. Mungkin ada kontaminasi di dapur."

"Setelah ini Ci pasti bilang aku punya alasan untuk mencelakai Ci," sela Amaya.

Selena terdiam.

Amaya melanjutkan dengan nada manis, "Lalu Ci akan minta Papa dan Mama jangan memarahiku. Ci bilang kondisi Ci sudah membaik, jadi masalahnya nggak perlu diperpanjang. Papa dan Mama terharu karena Ci tetap melindungiku. Aku membela diri, tapi semua orang menganggapku sedang menyerang orang sakit. Begitu, kan?"

Wajah Selena berubah.

Itu memang urutan kalimat yang sudah disiapkannya.

"Maya, jangan ngawur," tegur Robert. "Selena baru selesai ditangani."

"Maaf, Pa." Amaya langsung menunduk. "Aku cuma takut salah menjawab."

Karina mengusap lengannya. "Kalau memang bukan kamu, bilang baik-baik."

"Bukan aku." Amaya mengangkat wajah, jernih dan tenang. "Kalau aku benar-benar ingin Ci Selena mati, aku pakai racun rumput atau cairan pembersih kloset. Kenapa harus bubuk kacang yang takarannya bahkan terlalu sedikit?"

"Amaya!" bentak Robert.

"Iya, Pa. Cara bicaraku salah." Ia merapatkan kedua tangan di depan tubuh seperti anak yang baru ditegur. "Tapi logikanya benar, kan?"

Nathan memijat pangkal hidung. "Nggak ada yang bilang kamu mau membunuh Selena."

"Belum." Amaya menoleh kepadanya. "Ci Selena baru sampai bagian jus."

Selena menarik napas gemetar. "Aku nggak menyangka kamu akan memikirkan aku seburuk itu."

"Ci salah paham. Aku sedang memikirkan urutannya."

"Cukup," kata Karina, kali ini kepada keduanya. "Kita cari tahu saja dari dapur."

"Setuju, Ma." Amaya tersenyum kecil. "Sekalian cari tahu kenapa Ci Selena sengaja mendorongku ke tumpukan kaca sampai aku harus dijahit."

Keheningan jatuh seketika.

Selena menatapnya. Air mata yang tadi menggantung di bulu mata seolah lupa jatuh.

"Aku nggak mendorongmu. Semua orang panik, mungkin kamu tersenggol."

"Tangannya ada di punggungku."

"Kamu pasti salah ingat karena kesakitan."

Robert menoleh kepada Sebastian. "Dari lukanya bisa terlihat dia jatuh sendiri atau didorong?"

Sebastian berdiri dekat meja, kedua tangan masuk ke saku jas. Wajahnya tidak menunjukkan keberpihakan.

"Bentuk luka bukan rekaman kejadian," jawabnya. "Tapi arah masuk pecahan kaca cukup tegak dan tekanannya kuat. Orang yang sengaja melukai diri biasanya secara refleks menahan tenaga. Lukanya cenderung lebih dangkal atau tidak beraturan. Luka Amaya tidak terlihat seperti itu."

"Jadi dia didorong?" tanya Karina.

"Saya bilang lukanya konsisten dengan dorongan atau benturan mendadak. Itu pendapat medis, bukan bukti pidana."

Selena mengepalkan tangan di bawah selimut. "Kalau begitu tetap nggak ada bukti aku yang mendorong."

"Benar," kata Amaya mudah. "Sama seperti nggak ada bukti aku menaruh bubuk kacang di jus Ci."

"Jusnya kamu yang kasih!"

Suara Selena meninggi untuk pertama kalinya.

Amaya tidak tersentak. Ia justru merogoh kantong baju pasien dan mengeluarkan ponsel.

"Aku yang mengambil dari nampan. Yang membuatnya orang lain."

Ia membuka aplikasi kamera rumah Halim. Saat berada di taksi, Amaya sudah memeriksa seluruh rekaman dari dapur dan ruang makan. Kamera di sudut pantry merekam lebih banyak daripada yang diperkirakan Selena.

Amaya menekan tombol putar.

Di layar tampak Bi Nah berdiri di meja pantry. Perempuan itu menoleh ke pintu dua kali, mengeluarkan bungkus kecil dari saku celemek, lalu menuangkan bubuk ke satu gelas jus jeruk. Sendoknya berputar cepat. Setelah bubuk larut, ia meletakkan gelas itu di posisi paling kanan pada nampan.

Posisi yang kemudian diberikan kepada Amaya.

Karina menutup mulut. "Bi Nah?"

Robert mengambil ponsel dari tangan Amaya dan memutar rekamannya sekali lagi. Rahangnya mengeras.

"Dia sudah belasan tahun bekerja di rumah kita."

"Durasi kerja nggak membuat bubuknya hilang, Pa," ujar Amaya.

"Rekaman ini bisa saja potongan," Selena berkata cepat. "Sekarang video gampang diedit."

Sebastian mengulurkan tangan. Robert memberinya ponsel. Ia memeriksa waktu rekaman, menggeser tayangan beberapa menit ke belakang, lalu beberapa menit ke depan. Urutannya utuh, lengkap dengan pergerakan staf lain dan jam digital di dinding pantry.

"Tidak ada lompatan waktu yang terlihat," katanya. "Tapi pemeriksaan forensik tetap dilakukan pada berkas asli, bukan video dari ponsel ini."

Amaya mengangguk. "Kepala keamanan sudah menyalin berkas langsung dari penyimpanan utama di depan petugas. Perangkat aslinya juga diminta jangan dimatikan."

Robert menatap putrinya seolah baru pertama kali melihat cara otaknya bekerja. Dalam keadaan berdarah dan sendirian di taksi, Amaya tidak menelepon untuk menangis. Ia mengunci bukti, menahan orang yang terekam, lalu baru datang mengurus lukanya.

Tidak cocok dengan anak pendiam yang selama ini selalu terlambat membela diri.

"Kenapa kamu langsung memeriksa kamera?" tanya Karina.

"Karena jatuhku terlalu pas, Ma. Ci Selena sesak, semua orang berlari kepadanya, lalu gelas pecah tepat di belakangku. Kalau cuma satu kebetulan, aku percaya. Kalau tiga sekaligus, aku periksa."

Nathan mendekat untuk melihat layar. "Kamu dapat rekaman ini kapan?"

"Di taksi. Aku minta kepala keamanan rumah mengunci akses keluar, mengamankan rekaman asli, lalu menelepon polisi. Petugas datang sebelum aku selesai dijahit. Bi Nah sudah dibawa untuk dimintai keterangan awal."

Robert menatapnya tajam. "Kamu memanggil polisi tanpa bicara dengan Papa?"

"Kalau aku menelepon Papa, Papa akan angkat?"

Pertanyaan itu membuat Robert bungkam. Saat itu seluruh perhatiannya memang tertuju pada Selena.

"Kamu seharusnya menunggu keluarga," kata Nathan.

"Bukti digital bisa dihapus. Orang bisa pergi." Amaya mengulurkan tangan, meminta ponselnya kembali dari Robert. "Aku hanya memastikan semuanya tetap ada sampai keluarga sempat memperhatikanku."

Karina memalingkan wajah. Kalimat terakhir itu lebih menyakitkan daripada tuduhan.

Selena buru-buru menggeleng. "Bi Nah mungkin punya dendam sendiri. Aku nggak tahu apa-apa."

"Aku belum bilang Ci yang menyuruhnya."

"Tapi caramu melihatku seolah aku pelakunya."

"Ci tadi melihatku dengan cara yang sama saat bilang jus itu dariku. Bedanya, aku membawa rekaman."

Selena mencari wajah Nathan, lalu Robert. "Ada banyak orang di ruang makan. Pasti ada yang melihat aku nggak mendorong Maya."

"Silakan panggil," jawab Amaya. "Kalau ada saksi, aku dengarkan."

Tidak seorang pun segera mengeluarkan ponsel. Mereka semua tahu para tamu berkerumun di depan Selena saat kejadian. Tidak ada yang memperhatikan gadis yang jatuh di belakang.

Untuk pertama kali, kelalaian mereka sendiri berubah menjadi ruang kosong yang tidak bisa dipakai membela Selena.

Robert menyerahkan ponsel kepada Amaya. "Biarkan polisi memeriksa Bi Nah. Tidak ada yang menghubunginya diam-diam."

Nathan menatap Selena, kali ini tanpa langsung membela. Karina berdiri lebih dekat kepada Amaya. Hanya Sebastian yang tetap di tempatnya, tetapi sorot matanya berubah seperti seorang penonton yang baru sadar pertunjukan ini jauh lebih menarik daripada dugaan awal.

Amaya memasukkan ponsel ke saku.

"Buktiku sudah kuserahkan, Ci." Ia tersenyum lembut kepada Selena. "Sekarang, mana buktimu kalau tadi Ci nggak mendorongku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!