Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
"Mengenai detail aturan setelah kita menikah dan pindah ke apartemen saya," Arga mengetuk layar ponselnya, mematikan tampilan kalender digital yang membuat kepala Kinan mendadak pening. "Saya tidak punya waktu untuk membahasnya sekarang. Lima belas menit waktu kosong saya sudah habis."
Kinan langsung menyandarkan punggungnya ke kursi rotan dengan lega. "Tawaran yang sangat bagus. saya juga sudah mencapai batas limit berbicara untuk hari ini," jawab Kinan santai.
Arga menatap Kinan sejenak, sedikit heran dengan respons gadis di depannya yang sama sekali tidak menuntut perhatian seperti wanita lain. "Hari Kamis minggu depan, pukul dua siang. Kamu harus datang ke kantor saya di Jakarta Pusat. Sekretaris saya akan mengirimkan kartu akses digital ke ponselmu. Kita akan menandatangani surat perjanjian pranikah di sana."
"Harus ke kantor?" Kinan mengernyit.
"Itu adalah opsi paling efisien untuk memotong waktu perjalanan saya," jawab Arga tanpa bantahan, sebelum akhirnya ia berbalik untuk masuk kembali ke dalam rumah.
**
Begitu keluarga besar Tante Mira pulang malam harinya, Ibu langsung menghampiri Kinan ke kamarnya dengan senyum cerah, seraya mendudukkan diri di atas kasur. "Kinan, apa benar minggu depan Nak Arga mau ajak kamu ketemu lagi?"
"Hmm..." jawab Kinan sambil terus menggambar di iPad-nya.
"Wah... bagus deh. Ibu harap hubungan kalian bisa semakin dekat. Omong-omong, gimana? Pilihan Ibu ganteng, kan?" ucap Ibu seraya menyenggol bahu Kinan.
"Biasa aja, Bu," Kinan meletakkan iPad-nya dan menyandarkan punggungnya dengan pandangan mata menatap langit-langit kamar. "Menurutku tampang itu bukan hal penting, Bu. Mau ganteng atau biasa aja, itu bukan jaminan kebahagiaan anakmu ini, Bu."
"Lagi pula kita sama-sama manusia yang diciptakan Tuhan, sama-sama makan nasi." Kinan menjeda kalimatnya seraya menarik selimut hingga ke dada dengan mata yang sedikit terpejam. "Warna kulit, ketampanan, kekayaan... bukankah semua itu tidak ada artinya jika karakternya buruk, Bu? Aku cuma berharap Pak CEO itu gak mengganggu surga duniaku. Itu aja sudah cukup."
"Aahh, dasar kamu ini... Tidurrr... aja yang dipikirin!" ucap Ibu seraya menyentil kening Kinan dan berjalan menuju pintu kamar untuk keluar. "Sudah, kamu tidur. Jangan begadang. Ibu gak mau nanti saat kamu kencan sama Nak Arga, wajah kamu kayak zombie."
Kinan membuang napas berat. "Iya, Ibu. Bye... Jangan lupa tutup pintunya."
Suara langkah kaki Ibu terdengar semakin menjauh. Sementara itu, Kinan masih terjaga. "Apa ini keputusan yang benar?" gumamnya pada diri sendiri.
**
Hari Kamis.
Kinan menatap jendela kamarnya dengan pandangan horor.
"Wah... cuaca di luar sana terik sekali. Kinan, are you okay? Apa kamu sanggup, Kinan?" gumamnya, bertanya pada diri sendiri.
Belum juga ia melangkah keluar dari rumah, pikirannya sudah penuh dengan kecemasan yang tidak perlu mengenai cuaca, kemacetan, kerumunan manusia, dan polusi udara yang bisa saja merusak kulitnya.
"Jam dua siang... itu adalah waktu sakral untuk ritual tidur siangku, dan si CEO itu dengan teganya memotong kenikmatan itu," gumam Kinan sambil memeluk gulingnya erat.
Kinan menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. "Come on, Kinan. You can do this."
**
Menuju kawasan SCBD Jakarta Pusat, tentunya Kinan lebih memilih memesan GrabCar ketimbang mengendarai mobilnya sendiri yang sudah beberapa minggu tidak ia gunakan dan hanya menjadi pajangan di garasi rumah.
Saat sampai, Kinan tidak henti-hentinya menyipitkan mata seraya membuang napas berat dari mulutnya. Ia melihat manusia-manusia necis dengan name tag yang menggantung di lehernya, berjalan tergesa-gesa di koridor gedung pencakar langit dengan kopi di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri. Pemandangan itu sudah cukup membuat persendiannya mendadak terasa ngilu.
"Astaga... Manusia-manusia di sini benar-benar memiliki energi yang full. aku yang melihat saja sudah lelah. Mungkinkah saat pembagian energi oleh Tuhan, aku tidak ikut mengantri?" gumam Kinan sambil terus berjalan menuju lift yang berada di pojok ruangan lobby.
Begitu pintu lift berdentang dan terbuka menuju ruang kerja CEO di lantai 25, Kinan disambut oleh suasana yang terlihat steril, dengan suhu yang dingin, dan terlihat sangat minimalis. Arga sedang mencondongkan tubuh di depan tiga layar monitor besarnya, berbicara dengan seseorang di seberang telepon menggunakan bahasa Inggris yang sangat lugas. Pria itu hanya memberikan isyarat tangan agar Kinan duduk di kursi tepat di depan meja kerjanya.
Kinan tidak memprotes. Dia melangkah perlahan, lalu menduduki kursi tersebut.
Luar biasa, batin Kinan takjub. Kursi ini memiliki penopang tulang belakang yang sangat sempurna. Jika saja aku punya kursi seperti ini di kamar, pasti ritual ketika duduk pun tidak akan terasa menyiksa tulang punggungku.
Klik. Arga menutup teleponnya, lalu langsung menggeser sebuah dokumen berlogo perusahaannya ke hadapan Kinan.
"Draf Kesepakatan Kemitraan Domestik," ucap Arga to the point. Dia membetulkan letak kacamatanya. "Saya tidak akan membahas masalah teknis seperti pekerjaan rumah tangga ataupun memasak. Apartemen saya memiliki housekeeper harian yang mengurus hal itu. Fokus saya adalah mengenai fokus kerja dan privasi."
Kinan menaikkan sebelah alisnya, menarik dokumen itu mendekat. "Baik, aku akan dengarkan, Pak CEO."
"Poin pertama, ruang kerja saya di apartemen adalah Red Zone. Kamu dilarang masuk atau memindahkan satu dokumen pun dari sana," Arga menjelaskan dengan nada perintah yang biasa dia gunakan di ruang rapat. "Poin kedua, saya tidak mentoleransi adanya tuntutan perhatian, drama rumah tangga, atau tangisan emosional yang bisa memecah fokus bisnis saya. Kita menikah untuk ketenangan orang tua, bukan untuk saling mengikat."
Kinan tersenyum tipis. Poin-poin yang sangat indah. "Saya setuju seratus persen. Menuntut perhatian dari pria super sibuk seperti Anda adalah pemborosan perasaan yang sia-sia. Tapi, saya punya permintaan tambahan." Kinan mengeluarkan pena dari tasnya.
"Apa?"
"Kamar tidur saya adalah Wilayah privasi Khusus. Anda dilarang masuk, dilarang mengatur kerapian versi Anda, dan dilarang mengkritik jam tidur saya," ujar Kinan tenang, membalas tatapan tajam Arga. "Poin berikutnya, mengenai acara korporat atau keluarga besar. Maksimal tiga kali dalam sebulan, dengan durasi maksimal dua jam per acara. Lebih dari itu, Anda harus membayar kompensasi dengan membebaskan saya dari makan malam keluarga di bulan berikutnya. Bagaimana?"
Arga terdiam beberapa detik. Otaknya sedang menimbang permintaan yang diajukan Kinan. Terdengar sangat transaksional, logis, dan tidak melibatkan perasaan sama sekali. "Deal. Saya setuju."
Tepat ketika Arga hendak meraih dokumen untuk ditandatangani, ponsel Kinan yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah nama dengan emoji kecil muncul di layar.
Danu 🎨.
Kinan melirik Arga sekilas. "Maaf, urusan proyek."
Arga hanya mengangguk datar, kembali menatap layar monitornya. Namun, begitu Kinan menggeser tombol hijau, suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah.
"Halo, Nu?" suara Kinan terdengar lebih santai. "Iya, draf ilustrasi yang kemarin sudah gue kirim lewat email... Hahaha, enggaklah, gue gak mager. Ini gue lagi di luar, lagi ada rapat pemegang saham masa depan."
Jemari Arga yang sedang mengetik di atas keyboard mendadak melambat. Matanya menyipit halus. Dia tidak bermaksud menguping, namun suara Kinan yang begitu akrab dengan pria bernama Danu itu memenuhi ruangan kerjanya yang sunyi.
"Iya, santai, Nu. Nanti malam lu luang, kan? Temenin gue cari makan yang gak perlu dikunyah lama ya. Oke, sampai ketemu di tempat biasa."
Kinan menutup telepon dengan senyum tipis yang masih tersisa di wajahnya. Dia kembali menaruh ponselnya dan menatap Arga, kembali ke mode wajah datar dan hemat energinya.
Arga tidak langsung melanjutkan pekerjaannya. Dia bersandar pada kursi kerjanya, melipat tangan di dada dengan pandangan menyelidik.
"Teman kerjamu?" tanya Arga.