Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran seseorang yang tidak terduga.
Zalina masuk ke ruang IGD dengan setengah berlari. Wajahnya tampak pucat, dan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Setelah mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal tadi, ia segera pergi menuju rumah sakit. Si penelepon mengabarkan, bahwa ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan. Dan kini, ia sedang berada di ruang IGD untuk melihat kondisi ayahnya.
Luka yang di derita Reyhan cukup parah. Ia perlu menginap beberapa hari di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan secara intensif. Dokter perlu mengawasi apakah kecelakaan itu juga mengenai organ bagian dalam tubuhnya atau tidak.
Walaupun belum sepenuhnya merasa lega, namun ia bersyukur ayahnya telah melalui masa kritisnya.
Kini, pria itu sudah di pindahkan ke kamar perawatan setelah sadar dari pengaruh obat bius.
"Ayah..." panggil Zalina ketika melihat ayahnya perlahan membuka mata.
Wajah Zalina masih diliputi oleh kekhawatiran. Ia menggenggam tangan ayahnya yang kini terasa dingin, tidak lagi hangat seperti biasanya.
"Zalina..." sebut ayahnya dengan suara serak. Pria itu tampak melihat ke sekeliling ruangan, matanya berhenti ketika menatap tiang infus yang berdiri tegak di samping ranjangnya. "Apa... ini di rumah... sakit?"
Zalina mengangguk.
"Ya, Ayah. Kita ada di rumah sakit." jawabnya lembut. "Kemarin, Ayah mengalami kecelakaan. Kaki Ayah patah, dan ada bagian tulang di lengan Ayah yang retak."
"Ayah sama sekali tidak bisa mengingatnya. Ayah hanya ingat bahwa Ayah sedang berada di dalam perjalan menuju tempat kerja." sahut Reyhan, mencoba mengingat kejadian tersebut.
"Ya, sudah. Ayah tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya. Yang terpenting, Ayah sudah di tangani dengan baik sekarang." ucap Zalina, mencoba menenangkannya.
Namun, Reyhan malah tampak khawatir. Ia menatap putrinya dengan wajah penuh tanya. "Hmm... bagaimana dengan biaya rumah sakitnya, Nak? Itu pasti malah, kan?" tanyanya.
"Ayah tidak perlu memikirkan hal tersebut. Aku yang akan mengurus biayanya." jelas Zalina berusaha terlihat tenang.
"Tapi, kau dapat uang dari mana. Ayah 'kan sudah lama tidak membayar tagihan asuransi kita." Reyhan tidak begitu saja percaya dengan perkataan putrinya itu.
Setahu Reyhan, Zalina tidak punya simpanan uang apa-apa, selain beberapa perhiasan yang masih ia simpan rapi dalam brankas kecil di lemarinya.
Reyhan seketika mengernyit, menatap putrinya yang terlihat seperti seseorang yang tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kau... tidak menjual perhiasanmu, kan?" tanya Reyhan, dengan nada menyelidiki yang tajam.
Zalina tidak segera menjawab, ia malah tampak mengalihkan pembicaraan. "Apa ayah lapar? Atau mau minum?"
"Ayah tidak lapar, Nak." sanggahnya, tetap fokus pada pertanyaannya. "Kau pasti menjualnya, kan?"
Zalina lalu tersenyum tipis. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari ayahnya. Ia lalu menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya ia tidak menjualnya, ia meminjam uang pada Diandra dengan menggunakan kalung berliannya sebagai jaminan.
Meskipun pada awalnya, Diandra ingin memberikan uang itu secara sukarela padanya. Namun, Zalina menolak karena merasa sungkan padanya. Diandra sudah sering membantunya, bahkan memberikannya pekerjaan. Jika ia harus menerima bantuannya lagi, Zalina merasa seperti sedang memanfaatkan kebaikan sahabatnya itu.
"Aku tidak menjualnya, Ayah. Aku hanya menjadikannya sebagai jaminan. Nanti, saat aku punya uang, aku akan menebusnya kembali. Ayah jangan khawatir." jelas Zalina santai.
"Ya, sudah. Nanti Ayah yang akan menebusnya." ucapnya pelan, namun terdengar lirih. Reyhan memegang tangan putrinya. "Maafkan Ayah, Nak."
Zalina lalu menghela napas pelan. "Kenapa Ayah malah minta maaf? 'Kan Ayah yang terluka, bukan aku?"
Reyhan tersenyum tipis. "Ayah merasa gagal jadi ayah yang baik untukmu."
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Aku sudah sering bilang bukan, kalau Ayah adalah ayah terbaik di dunia." sanggah Zalina santai.
Reyhan lalu menatap dalam mata putrinya itu. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia benar-benar merasa beruntung memiliki putri seperti Zalina.
🥀🥀🥀
Tanpa terasa sudah satu minggu Reyhan dirawat di rumah sakit. Walaupun tangan dan kakinya masih di gips, namun ia sudah diperbolehkan untuk rawat jalan. Ia juga harus kembali ke rumah sakit untuk kontrol.
Zalina terpaksa harus cuti dari pekerjaannya untuk merawat sang ayah. Beruntung, ia memiliki sahabat seperti Diandra yang benar-benar pengertian padanya.
Diandra terkadang juga datang berkunjung ke rumah sakit. Ia membawakan caramel latte kesukaan Zalina.
Dan hari ini, gadis itu juga datang untuk menjemput Zalina dan ayahnya. Ia akan mengantarkan mereka pulang ke rumahnya.
Namun, ketika Zalina sedang bersiap-siap sambil menunggu Diandra datang, sepasang suami-istri masuk ke dalam kamar perawatan ayahnya.
Mereka tampaknya bukan orang sembarangan, jika dilihat dari penampilan mereka yang tidak biasa.
Reyhan yang sedang duduk di kursi roda, tampak membeku beberapa detik, merasa familiar dengan wajah-wajah itu.
"Zafran..." panggilnya pada sang pria.
Pria itu lalu berjalan mendekati Reyhan, tatapannya tampak berkaca-kaca. Ia meraih tangannya yang sehat, lalu menggenggamnya erat. Ia tersenyum lirih, bahkan seperti tidak mampu untuk berkata-kata.
"Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu sahabatku..." ucap pria itu akhirnya.
Reyhan juga tersenyum kepadanya, senyum lebar yang hangat dan menenangkan.
*
*
"Aku pulang dulu ya, Za." ucap Diandra, setelah mengantarkan Zalina dan ayahnya pulang ke rumah.
"Terima kasih ya, Di." ucap Zalina mengantarkan sahabatnya itu hingga ke depan pintu.
Ia juga berpamitan pada Reyhan dan tamunya. Reyhan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Diandra.
Setelah mengantarkan Diandra, Zalina pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Sementara Zafran dan istrinya, Belinda, menemani Reyhan duduk di ruang tamu mereka yang kecil.
"Dari mana kau tahu bahwa aku sedang berada di rumah sakit?" tanya Reyhan membuka cerita.
"Beberapa hari yang lalu, aku sempat datang ke sini. Tapi, tidak ada siapa pun di rumah. Lalu aku bertanya pada tetangga, katanya kau sedang dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Jadi, aku langsung datang ke sana untuk mencarimu." jelas Zafran.
"Oh, begitu." ucap Reyhan pelan. "Tapi, dari mana kau tahu bahwa aku tinggal di sini?" tanyanya bingung.
Zafran lalu tersenyum tipis. "Aku meminta asistenku untuk mencari tahu tentang keberadaanmu."
Pria itu lalu terdiam sejenak. Ia menatap dalam wajah sahabatnya itu. "Aku baru mendengar kabar bahwa pabrikmu..."
Ia bahkan tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Ia tidak ingin membuat sahabatnya kembali bersedih.
"Maaf... aku baru datang sekarang." pintanya dengan penuh ketulusan.
Reyhan tersenyum. "Tidak apa-apa, Zafran. Itu sudah menjadi bagian dari masa laluku. Aku sama sekali tidak menyalahkan dirimu. Jadi, buat apa kau minta maaf padaku." ucapnya lirih. "Aku senang karena kau masih mengingatku sebagai sahabatmu."
"Tentu saja, selamanya kau adalah sahabatku." ucapnya yakin. "Justru kedatanganku ke sini, untuk membantumu. Aku akan membeli kembali pabrik itu dan mengembalikannya padamu, Reyhan."
Reyhan dan Zalina yang baru saja datang tampak terkejut. Bahkan cangkir teh yang baru saja ia letakkan di atas meja nyaris jatuh, jika Belinda tidak segera menahannya.
"Hati-hati, sayang. Teh yang panas bisa melukai tanganmu." ucap wanita itu dengan penuh kelembutan.
"Ayo sini, duduk di samping Ibu." wanita itu menepuk kursi kosong di sampingnya.
Zalina duduk di sampingnya dengan canggung.
"Kau cantik sekali, Nak. Kau pasti Zalina, kan?" tanya Belinda padanya.
"I-iya... Bu... Apa Ibu mengenal saya?" tanya gadis itu gugup.
Belinda mengelus kepalanya dengan lembut. "Ya, tentu saja.Berapa usiamu?"
"Dua puluh dua tahun."
"Ternyata kau sudah menjadi seorang gadis dewasa. Kau pasti lupa pada Ibu. Dulu, kita pernah bertemu ketika kau masih kecil. Kau sangat lucu sekali waktu itu." ia tampak tertawa kecil, menatap Zalina dengan gemas.
"Apa kau ingat, kau bahkan sampai menangis karena tidak ingin berpisah dengan putra Ibu, Kaiden." Belinda tampak tersenyum geli ketika mengingat kembali masa-masa itu. "Kau pasti sudah lupa."
"Nanti, jika ada waktu, Ibu akan mempertemukanmu dengan Kaiden. Dia pasti senang sekali bertemu denganmu."
Zalina hanya tersenyum tipis ke arahnya. Ia sama sekali tidak ingat bagaimana wajahnya.
"Tapi..." Belinda tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. "Hmm... di mana istrimu? Sejak di rumah sakit aku sama sekali tidak melihatnya. Ku pikir dia berada di rumah, tapi sepertinya juga tidak ada."
Reyhan seketika berubah sendu. "Kami... sudah berpisah."
🥀🥀🥀
Ayo absen dulu. Jangan lupa tinggalkan jejak kamu di sini ya. 🤗
Bonus gambar .
Zalina Asyara, 22 tahun.
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...