Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kabut tebal berwarna ungu kehitaman mulai menyelimuti jembatan batu yang terbentang di atas jurang dimensi tersebut.
Langkah kaki rombongan kecil itu terdengar menggema di tengah keheningan yang semakin mencekam.
"Tetap berdekatan, jangan sampai ada yang terpisah dari pandanganku." perintah Lin Xiao dengan suara bariton yang tegas.
"Kabut ini mengandung fluktuasi energi spiritual yang bisa mengacaukan indra pendengaran dan penglihatan kita."
Namun, tepat setelah kalimat itu diucapkan, kabut di sekitar mereka mendadak berputar dengan sangat cepat layaknya badai topan.
Wush.
"Lin Xiao! Kabut ini menarik tubuhku secara paksa!" jeritan panik Xue Mingyue terdengar dari arah belakang.
Lin Xiao segera menoleh ke belakang dengan cepat, namun sosok gadis pewaris es utara itu telah menghilang sepenuhnya dari pandangan.
Tidak hanya Xue Mingyue, Meng Shan dan Nona Yue juga telah lenyap ditelan oleh pusaran kabut ungu tersebut.
Lin Xiao mencoba mengaktifkan Mata Visi Jiwa miliknya, namun pandangannya justru menjadi buram dan menggelap secara tidak wajar.
Sring.
Ketika pandangan Lin Xiao kembali jernih beberapa detik kemudian, dia tidak lagi berdiri di atas jembatan batu melayang tersebut.
Dia berdiri di tengah sebuah tanah lapang yang gersang, dikelilingi oleh ribuan batu nisan raksasa yang sebagian besar sudah hancur menjadi puing.
'Ini adalah ruang batin dari Makam Para Raja.' batin Lin Xiao mengenali tempat yang sangat familier tersebut.
Namun ada yang aneh dengan tempat ini, karena biasanya dia hanya bisa masuk ke sini dalam wujud proyeksi roh saat sedang bermeditasi.
Saat ini, Lin Xiao merasa tubuh fisiknya sepenuhnya berada di dalam ruangan tersebut, sesuatu yang seharusnya mustahil terjadi.
Tiba-tiba, lima pilar cahaya dengan warna yang berbeda-beda meledak dari langit dan menghantam tanah di sekelilingnya.
Duarr.
Dari dalam pilar-pilar cahaya itu, lima sosok pria tua yang memancarkan aura dominasi masa lalu melangkah keluar secara serempak.
Mereka adalah perwujudan fisik dari kelima roh kaisar yang selama ini bersemayam dan meminjamkan kekuatan di dalam Dantiannya.
"Kerja yang sangat bagus, bocah arogan." ucap Kaisar Pedang Haus Darah dengan senyum sinis yang sangat licik.
"Kau telah berhasil mematangkan wadah ini hingga mencapai tahap Inti Emas Menengah yang sangat kokoh dan sempurna."
Lin Xiao menyipitkan matanya, tangan kanannya secara insting meraba gagang pedang di pinggangnya untuk berjaga-jaga.
Namun pedang peraknya yang berevolusi dari Besi Bintang Jatuh itu sama sekali tidak ada di sana.
"Jangan repot-repot mencari senjatamu, Lin Xiao." ejek Kaisar Roh Kematian yang wajah tengkoraknya tertutup oleh tudung jubah hitam.
"Di dalam ruang ilusi pemisahan jiwa ini, kau hanyalah seekor domba lumpuh yang tidak memiliki taring untuk menggigit."
Roh Penguasa Glasial melangkah maju, memancarkan hawa dingin yang jauh lebih mengerikan dari sekadar teknik Domain Nol Mutlak miliknya.
"Sudah saatnya kau menyerahkan kendali atas tubuh fisikmu yang berharga ini kepada kami, bocah." tuntut kaisar es tersebut dengan arogan.
"Kami telah memberimu kekuatan untuk membalas dendam di benua lama, kini giliranmu untuk membayar hutang budi tersebut dengan nyawamu." sambung Kaisar Bayangan Pemakan Bulan.
Kelima kaisar kuno itu mulai berjalan melingkar, melepaskan tekanan spiritual gabungan yang seharusnya bisa menghancurkan jiwa kultivator mana pun berkeping-keping.
Mereka mencoba menggunakan kesempatan dari anomali ruang jembatan ini untuk memberontak dan mengambil alih tubuh inang mereka secara paksa.
Namun bukannya jatuh berlutut atau meratap memohon ampunan, Lin Xiao justru mendongakkan kepalanya ke udara gelap di atas makam.
"Hahaha... hahahaha!"
Tawa yang luar biasa keras dan meremehkan meledak secara spontan dari mulut pemuda dari Kota Jade River tersebut.
Kelima kaisar kuno itu seketika menghentikan langkah mereka dengan kening berkerut bingung karena reaksi mangsanya sama sekali tidak sesuai harapan.
"Apa yang kau tertawakan, dasar bocah bodoh yang sebentar lagi akan kehilangan tubuhnya?!" raung Kaisar Racun Tanpa Wujud dengan amarah yang memuncak.
Lin Xiao menghentikan tawanya dan menatap kelima roh kuno itu dengan mata cokelat yang memancarkan kekosongan empati secara mutlak.
"Kalian berlima selalu menyebut diri kalian sebagai kaisar penakluk dunia yang tiada tandingannya?" ejek Lin Xiao dengan suara yang luar biasa dingin.
"Kalian tidak lebih dari sekumpulan parasit tua yang bersembunyi di dalam batu nisan karena terlalu pengecut untuk menghadapi kematian yang sesungguhnya."
Kaisar Pedang Haus Darah menggertakkan giginya dan langsung memanggil pedang energi berwarna merah pekat dari telapak tangannya.
"Beraninya wadah rendahan sepertimu menghina kami secara langsung! Mati kau sekarang juga!" raung kaisar pedang itu melesat menebas lurus ke arah leher Lin Xiao.
Wush.
Tebasan mematikan itu melaju dengan kecepatan kilat, membawa niat membunuh murni yang bisa membelah gunung menjadi dua.
Namun Lin Xiao sama sekali tidak berkedip atau memindahkan kakinya satu sentimeter pun untuk menghindar.
Tepat saat bilah pedang merah itu berjarak satu inci dari lehernya, senjata energi tersebut mendadak berhenti dan bergetar hebat.