Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 4
“Namun, sepertinya pasien benar-benar memiliki semangat hidup yang tinggi. Operasi yang nyaris menemui kegagalan justru berhasil di detik-detik terakhir. Pasien telah melewati masa kritisnya.”
Suasana tegang itu terpecah oleh kalimat terakhir sang dokter. Seperti ribuan kilo beban telah diluruhkan dari mereka.
“Dokter ... jadi, putri saya berhasil selamat, ‘kan?” Raut kebahagiaan terpancar di wajah ibu Amelia yang sebelumnya tampak suram.
“Benar, tapi ini bukan berarti pasien terbebas dari penyakitnya. Putri Anda masih harus menjalani pengobatan intensif di bawah pengawasan kami.”
Setelah merasa cukup dengan penjelasannya, sang dokter pamit dari ruang operasi. Tak lama kemudian disusul oleh perawat yang mendorong keluar brankar di mana Rosa masih terbaring tak sadarkan diri akibat pengaruh anestesi.
Amelia menegakkan punggungnya menatap sang kakak yang akhirnya melewati masa-masa kritisnya. Hatinya berkecamuk antara kebahagiaan dan kegelisahan atas apa yang akan terjadi di masa depan nanti.
“Semoga Mbak Rosa melupakan permintaannya.”
Itu adalah harapan terbesar Amelia saat ini. Saking kalutnya, dia bahkan tak berani masuk ke dalam ruangan Rosa dan hanya mengintip kakaknya itu yang sudah sadar beberapa jam kemudian.
“Ibu, di mana Amelia?”
Pertanyaan itu meluncur dari bibir pucat Rosa dan terdengar hingga keluar ruangan oleh Amelia. Gadis itu menggigil seolah hal buruk tengah mengincarnya. Tanpa bisa dicegah, kakinya melangkah cepat menjauh dari ruangan.
Tepat saat ibunya membuka pintu ruangan Rosa untuk menyuruh Amelia masuk, gadis itu sudah menghilang di balik lorong.
“Ke mana lagi anak itu pergi?” Sang ibu mendengus kesal saat kepalanya celingukan mencari sosok yang ditanyakan oleh putrinya itu, tapi hanya menyisakan samar-samar parfum manis stroberi favorit Amelia.
Sementara itu, Amelia menghubungi nomor Kanaya tanpa pikir panjang.
“Nay, bisakah kamu menjemputku di rumah sakit?”
Kanaya yang di rumahnya sedang menikmati drama bersama camilan langsung menghentikan aktivitasnya. Dia tak bertanya kenapa dan hanya meminta Amelia untuk menunggu.
“Baiklah, terima kasih, Nay.”
“No sorry, Mel.”
Amelia mondar-mandir di depan rumah sakit dengan kepala yang sesekali menengok ke dalam rumah sakit—khawatir jika keluarganya menyusul untuk mencarinya. Dia benar-benar belum siap bertemu dengan Rosa saat ini. Lebih baik menghindar untuk sementara, setidaknya dia sudah tahu keadaan Rosa benar-benar membaik.
“Mel, ayo!” seru Kanaya dari dalam mobil.
Amelia tampak semringah dan akhirnya bisa bernapas lega setelah mobil milik Kanaya melaju meninggalkan rumah sakit.
“Pasti ada sesuatu yang terjadi hingga kamu memilih kabur bersamaku.” Kanaya langsung menebak tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
“Maaf aku mengganggumu. Aku baru sadar ini sudah tengah malam.” Amelia menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut.
“Jangan konyol, Mel. Mengapa kamu selalu begitu sungkan padaku? Memangnya kita baru kenal kemarin sore?” Kanaya menggeleng pelan sembari memutar setir mobil untuk berbelok ke area perumahan keluarganya.
“Mbak Rosa sudah sadar dan saat ini aku tak ingin menemuinya dulu.”
Amelia langsung mengungkapkan alasannya. Dia tahu sahabatnya itu tak perlu ucapan maaf lebih jauh.
“Tumben?” Kanaya merespons langsung dengan wajah tak percaya karena biasanya Amelia rela menghabiskan waktunya demi menjaga kakaknya itu.
“Itu ....”
Amelia terdiam sejenak menyusun kalimat di kepalanya sebelum mengalirkan cerita keseluruhan yang berhasil membuat kening Kanaya berkerut dalam. Gadis itu tengah menahan diri agar tak memotong kalimat sahabatnya.
“Sepertinya keluargamu itu sudah gila.” Hanya itu yang terucap dari bibir Kanaya.
“Aku takut Ibu semakin marah karena aku tiba-tiba menghilang, tapi aku juga tidak bisa memaksakan diri saat ini. Aku benar-benar tidak mau menikah dengan Mas Hanan.”
Keduanya sudah sampai di garasi mobil Kanaya. Mereka tak langsung keluar.
“Bagus, itu keputusan yang paling benar. Kamu tidak bisa hidup dengan bayang-bayang mereka. Aku bisa mencarikanmu pasangan yang seratus kali lebih baik dan tentunya akan menjadikanmu satu-satunya.” Kanaya berucap penuh tekad mengundang senyum tipis di bibir Amelia.
“Aku menginap di rumahmu dulu, boleh, ‘kan, Nay?”
“Tentu saja boleh. Kamu bisa beristirahat sepuasmu. Aku tahu kamu butuh ketenangan.”
Amelia sering kali sangat berhati-hati pada Kanaya, padahal gadis itu berharap Amelia lebih terbuka padanya dan membuang semua sikap sungkan itu. Namun, Amelia hanyalah seorang gadis yang tumbuh di tengah keluarga yang minim kasih sayang. Perhatian dan kebaikan orang lain terkadang membuatnya merasa berhutang budi.
Amelia adalah contoh pribadi yang akan memberikan sepuluh balasan saat diberi satu kebaikan oleh orang lain. Dan Kanaya—dia takut jika sahabatnya akan dimanfaatkan oleh orang lain karena sikapnya ini.
Obrolan keduanya terhenti saat kaca mobil diketuk dari luar.
“Nay, dari mana kamu keluar tengah malam?”
Di luar mobil ada kedua orang tua Kanaya yang menunggu dengan raut cemas.
“Astaga. Aku lupa minta izin saat keluar tadi. Ayo, Mel.”
Kanaya buru-buru keluar dan menghampiri orang tuanya. Gadis itu tersenyum kikuk.
“Maaf, Bunda, Ayah. Tadi Naya buru-buru menjemput Amelia di rumah sakit. Jangan marah, oke.”
“Maaf, Bibi, Paman. Ini salahku karena meminta Kanaya menjemputku tanpa melihat jam lebih dulu.”
Mendengar permintaan maaf kedua gadis di depan mereka, keduanya menghela napas pelan.
“Dasar gadis-gadis nakal. Kalian membuat kami cemas. Sudahlah, kita bahas besok saja. Sekarang waktunya istirahat. Kalian pasti lelah, ‘kan.” Kecemasan sang ibu runtuh, digantikan oleh raut lembut khas seorang ibu. Tangannya mengelus pelan kepala kedua gadis itu bersamaan.
Merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari wanita di depannya, Amelia tersenyum tanpa sadar. Bahkan ibu sahabatnya itu memperlakukannya seperti anak sendiri, nyaris tak ada perbedaan antara dia dan Kanaya.
Andai keluarga Amelia memiliki sedikit dari kepedulian yang dimiliki oleh orang tua Kanaya, maka Amelia tak akan menuntut hal lebih lagi dalam hidupnya.
“Jangan sedih. Kamu bisa tinggal di sini dulu jika itu membuat perasaanmu lebih baik. Jangan terlalu kaku. Rumah ini selalu terbuka untukmu.”
Amelia menoleh saat tubuhnya dirangkul lembut oleh wanita cantik itu.
“Terima kasih, Bibi.”
Melihat Amelia yang terlihat begitu rapuh membuat jiwa keibuan wanita itu tersentil. Dia selalu menyayangi Kanaya dengan sepenuh hati. Mengetahui dari Kanaya bahwa ada seorang anak perempuan yang diperlakukan tidak adil di luar sana membuatnya tak terima, tapi dia tak bisa melakukan apa pun. Dia tetaplah orang luar jika dikaitkan dengan ikatan darah.
Melihat Amelia selalu berhasil mengingatkannya dengan kembaran Kanaya yang meninggal saat lahir. Butuh waktu lama bagi wanita itu bisa menerima kepergian putrinya hingga akhirnya kehadiran Amelia membuatnya dejavu kembali seolah jiwa bayi kecilnya ada pada sahabat putrinya itu.
“Kapan kamu memanggil Bibi dengan panggilan Bunda?”
Amelia menunduk malu saat pertanyaan itu kembali diajukan oleh wanita itu. Sejak awal bertemu, wanita itu memang memintanya memanggil ‘Bunda’, hanya saja Amelia terlalu sungkan dan canggung. Dengan ibunya saja dia memanggil ‘ibu’ dengan kaku. Sangat sulit baginya yang tak terbiasa dengan sosok figur ibu.
“Aku janji suatu saat nanti, Bibi—suatu saat nanti saat aku sudah terlepas dari semua ini.”