Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDAI SINGGAH COFFEE
Setelah lima belas menit membelah jalanan di atas motor ojek online, Naya akhirnya tiba di depan kafe yang dimaksud Hana. Ia turun, merapikan sedikit pakaiannya yang agak kusut karena angin jalanan, lalu melangkah mantap mendekati pintu masuk.
Begitu mendorong pintu kaca, denting lonceng kecil di atasnya langsung menyambut kehadiran Naya. Bersamaan dengan itu, aroma pekat kopi yang hangat dan menenangkan segera memeluk indranya, mengusir sisa penat dari perjalanan.
"Selamat datang, Kak! Silakan," sapa seorang pramusaji di dekat meja barista dengan senyum ramah yang tulus.
Naya membalas sapaan itu dengan anggukan kecil dan senyum tipis. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang bernuansa kayu hangat tersebut, mencari sosok yang berjanji menemuinya. Tak butuh waktu lama, matanya langsung tertuju pada lambaian tangan heboh dari salah satu sudut dekat jendela.
Naya segera melangkah menghampiri meja di sudut itu, menyadari bahwa Hana sudah duduk dengan secangkir latte yang tampak hampir habis. Ia menarik kursi di depan sahabatnya, napasnya sedikit terengah karena sisa terburu-buru tadi.
"Sorry telat, Hana. Macet parah di persimpangan tadi," ucap Naya sembari meletakkan tasnya di atas meja.
"Enggak apa-apa, Nay. Maklum kok. Di mana-mana kalau orang yang lagi patah hati emang selalu hilang semangat untuk bergegas." Celetuk Hana terkekeh. Matanya menyipit, menangkap kilatan tersindir di manik mata Naya. Melihat sahabatnya itu tampak tidak nyaman, Hana segera melambaikan tangan di udara. "Eh, bercanda, Nay! Kamu mau pesan apa?"
Naya menggeleng. "Aku gak lagi mood buat minum kopi."
"Ini bukan soal mood. Kalau kamu haus yah harus minum, Nay."
Naya menggeleng, lagi. "Aku juga gak haus."
Hana mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi yang melembut. "Oke. Jadi... setelah tahu Tian akan segera menikah, aku tahu pasti hatimu terluka. Tapi Nay, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan setelah ini?"
Naya mendesis pahit. Ia memalingkan wajah, enggan membiarkan Hana melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. "Yang jelas, aku tidak akan datang ke pernikahan itu. Jujur, Han... aku ingin teriak. Aku ingin memaki takdir," ucapnya parau. "Bukan karena perasaanku pada Tian sudah hilang, tapi ini sudah kali kedua aku ditinggal menikah. Rasanya sesak sekali."
Hana mulai menatap sahabatnya itu dalam-dalam, membiarkan keheningan sejenak mengisi ruang di antara mereka sebelum akhirnya ia membalas dengan tatapan serius.
"Kamu sahabatku sejak SMA. Kamu saksi hidup bagaimana perjuanganku selalu kandas," lanjut Naya dengan nada bergetar. "Pertama Tian, lalu Randi. Mereka benar-benar jahat, meninggalkan aku begitu saja demi wanita lain. Apa sebenarnya yang salah denganku?"
Naya menoleh kembali, menatap sahabatnya dengan sorot nanar. "Meski aku tahu Tian bukan kekasihku secara resmi, tapi perasaan ini jauh lebih dalam dari sekadar status pacaran. Tiga tahun aku memupuk rasa kagum itu, memberiku harapan bahwa mungkin ada kesempatan untukku. Tapi nyatanya... takdir jauh lebih kejam dari yang kubayangkan."
Hana terdiam cukup lama. Ia tidak langsung membalas dengan kata-kata, merasa bahwa tidak ada kalimat penghibur yang cukup kuat untuk menampung luka yang Naya bawa. Perlahan, ia mengulurkan tangan melintasi meja, lalu jemarinya yang hangat menyentuh lembut punggung tangan Naya.
"Nay..." gumamnya pelan, suaranya sarat dengan rasa iba yang tulus.
Sentuhan itu terasa seperti jangkar bagi Naya yang hampir tenggelam dalam amarah dan kesedihannya sendiri. Hana mengusap pelan jemari sahabatnya itu, memberikan kenyamanan tanpa harus memaksa Naya untuk segera tegar.
"Kenapa, Han?" gumam Naya menundukkan kepalanya. Bulat bola matanya berkaca, menghangat dan perlahan tanpa sadar meneteskan air mata yang luruh membasahi wajahnya. "Kenapa takdir tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk merasakan seperti apa rasanya mencintai dan dicintai. Aku kadang iri melihat gadis lain yang berhasil memiliki kekasih yang mereka inginkan, atau bahkan di cinta tanpa harus mencintai."
Hana menelan saliva. "Nay, ayo laaah..."
Naya mengangkat wajahnya menatap lurus ke arah Hana. "Termasuk kamu, Han. Bilang kalau hidup kamu sempurna karena ada orang yang mencintai kamu. Iya, kan?"
Hana membisu.
"Jawab, Han?!" Desak Naya.
"Nay." Panggil Hana kemudian. Nadanya lembut, berusaha tetap tenang. "Aku tahu, semua rasa sakit ini terasa sangat tidak adil buat kamu. Tapi tolong, jangan buat dirimu jadi orang yang paling bersalah di sini. Apa yang mereka lakukan, dengan cara pergi meninggalkanmu tanpa penjelasan... itu sepenuhnya cerminan dari karakter mereka yang memang tidak layak, bukan karena ada yang salah dengan diri kamu, Nay. Enggak!"
Hana menarik napas panjang, menatap Naya tepat di manik matanya, berusaha menyalurkan seluruh kekuatannya. "Kamu berhak sedih, kamu berhak marah. Tapi jangan biarkan luka ini membuatmu lupa kalau kamu berharga, jauh sebelum mereka datang dan menghancurkan dunia kamu."
Naya kini membisu.
"Kamu harus percaya, Tuhan telah mempersiapkan jodoh yang baik buat kamu tapi gak sekarang." Sambung Hana. "Takdir gak pernah jahat pada siapapun, Nay. Justru takdir lah yang memberikan kejutan baik yang seringkali kita anggap itu buruk. Kamu harus percaya, jodoh kamu itu ada!"
Kring!
Naya memalingkan wajah, menatap ke arah pintu kafe yang terbuka. Langkah kakinya terhenti ketika sesosok lelaki melangkah masuk dengan gaya yang begitu asing. Sosok yang bukan lagi remaja yang ia ingat, melainkan pria dewasa dengan aura yang sangat berbeda.
"Zaki..." gumam Naya, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam di antara denting sendok dan mesin kopi.
Ya. Zaki tampak begitu kontras dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke sikut, memperlihatkan lengannya yang tampak lebih kokoh. Sedangkan, celana hitam kain yang dikenakannya memberikan kesan formal namun tetap santai. Lelaki itu pun menyapa beberapa karyawan dengan ramah sebelum melangkah mantap menuju meja barista.
Seakan tak menyadari ada seseorang yang terpaku memperhatikannya, gerakannya luwes ketika Zaki segera meraih gelas, bersiap memulai rutinitasnya di balik mesin espresso.
Saya barista di kedai kopi yang letaknya gak jauh dari daerah sini, Bu.
"Jadi, ini kedai yang Zaki maksud..." bisik Naya pelan, matanya terkunci pada gerakan cekatan tangan Zaki yang sedang meracik minuman. Ia terpaku, seolah dunia di sekitarnya mendadak sunyi.
"Nay?"
Suara Hana memecah lamunannya. Naya tersentak, menoleh dengan tatapan yang masih menyisakan sisa keterkejutan. Hana menatapnya bingung, mengikuti arah pandangan Naya ke meja barista, lalu kembali menatap sahabatnya dengan alis bertaut.
"Nay, kamu kenapa? Ada apa?" tanya Hana, menyadarkan Naya bahwa ia terlalu lama mematung.
"Uhm... a-aku haus," jawab Naya asal, berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar gemetar.
"Haus?" Ulang Hana. "Katanya tadi kamu bilang gak haus..."
"I-Iya. A-aku... aku mungkin kebanyakan ngomong sama nangis Han." Tergagap Naya.
"Oke. Jadi, kamu mau minum apa? Biar aku yang pesankan," tawar Hana, mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung.
Namun, belum sempat Naya membuka mulut, sebuah getaran panjang di atas meja mengejutkan keduanya. Ponsel Hana menyala, menampilkan nama suaminya di layar. Ia pun segera mengangkatnya dengan ekspresi yang berubah drastis dalam hitungan detik.
"Halo? Apa? Ya Tuhan... iya, aku pulang sekarang!" Hana menutup telepon dengan tangan gemetar. Wajahnya yang penuh semangat seketika digantikan oleh gurat kepanikan yang kentara.
"Kenapa, Han?" tanya Naya cemas.
"Suamiku, Nay. Kikan tiba-tiba demam tinggi. Kayaknya efek imunisasi kemarin. Maaf banget, aku harus segera pulang," ucap Hana terburu-buru sembari menyambar tasnya.
Naya mengangguk cepat, rasa empati segera mengalahkan kegelisahannya sendiri. "Iya, nggak apa-apa! Kikan lebih penting. Kamu hati-hati di jalan ya."
"Sekalian lewat, aku pesankan minuman buat kamu di sana," ujar Hana sambil menunjuk ke arah meja barista sebelum Naya sempat menolak.
Tanpa menunggu jawaban atau protes lebih lanjut, Hana sudah bergegas melangkah. Namun, jantung Naya seolah berhenti berdetak saat melihat ke mana arah langkah sahabatnya itu. Hana tidak menuju kasir, melainkan langsung menuju meja barista—tepat ke arah Zaki.
Dari jarak beberapa meter, Naya melihat Hana berbicara singkat pada Zaki. Zaki yang semula fokus pada mesin kopi, mendongak. Sesaat kemudian, Hana menunjuk ke arah meja tempat Naya duduk.
Dan di detik itu juga, tatapan mereka terkunci.
Zaki berhenti bergerak. Matanya yang tajam dan tenang kini menatap lurus ke arah Naya dengan ekspresi yang sulit diartikan—ada keterkejutan, namun juga sesuatu yang lebih dalam yang membuat Naya terpaku di tempatnya. Naya merasa dunianya seolah menyempit, hanya menyisakan jarak antara dirinya dan pria yang kini perlahan meletakkan gelasnya, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari di tengah ramainya kafe.
Tak lama, Hana pun melambaikan tangan dari kejauhan, memberi isyarat bahwa ia harus segera pergi, meninggalkan Naya yang kini terjebak dalam tatapan intens Zaki yang tak kunjung lepas dari wajahnya.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri