NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Aku menatap riak gelombang air laut yang memecah liar menghantam sisi kapal. Angin malam berembus kencang, menembus pakaian tipis yang kukenakan hingga rasanya menusuk sampai ke dalam tulang. Namun, aku abai. Bagiku, dinginnya samudra ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran yang kini bersarang di dalam dadaku.

​Aku tersenyum getir, menertawakan nasib sendiri. Status apa yang sebenarnya kusandang sekarang? Menikah, tapi terasa seperti janda. Dibilang perawan, tapi kesucianku sudah direnggut paksa. Entahlah, aku bahkan tidak tahu sebutan apa yang pas untuk menggambarkan kemalangan diriku saat ini.

​Sudah hampir sebelas hari aku terombang-ambing di atas kapal ini, tenggelam dalam lautan trauma. Dan besok, takdir akan membawaku menapakkan kaki kembali di tanah kelahiranku.

​Ayah, Ibu... tunggu Yasita pulang, bisikku lirih, menatap cakrawala malam yang pekat.

​Di satu sisi, di dalam ruang kerja yang megah namun terasa hampa, Jalal duduk dengan raut frustrasi. Jari-jarinya memijit pelipisnya yang berdenyut kencang menahan pening. Sejak kepergian istrinya, Laila, dia sama sekali tidak bisa tidur tenang. Ditambah lagi, bayang-bayang istri kedua yang terpaksa dia nikahi kini terus menghantunya setelah gadis itu minggat entah ke mana.

​"Rud...!" panggil Jalal dengan suara berat pada asisten pribadinya.

​Rudi yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana segera menghampiri. "Ya, Pak?"

​"Apa kamu tahu Yasita sebenarnya berasal dari kota mana?" tanya Jalal, mencoba terdengar tenang meski matanya menyiratkan kepanikan yang dalam.

​Rudi mengerutkan jidatnya, mencoba mengingat berkas lamaran kerja yang pernah dia periksa. "Di berkas Curriculum Vitae miliknya, dia berasal dari luar provinsi, Pak. Seingat saya, dia merantau jauh dari Sulawesi ke Bandung untuk mencari nafkah."

​Ucapan Rudi seketika menghantam telak dada Jalal bagai dihujam ribuan jarum. Rasa sesak menjalar di rongga dadanya. Sungguh, betapa jahat dan egoisnya dia, putrinya, bahkan mendiang istrinya. Mereka telah menyudutkan seorang gadis rantauan yang sebatang kara, memaksanya masuk ke dalam pernikahan yang tidak diinginkan, lalu dengan keji menghina, merendahkan, dan melecehkannya tanpa ampun.

​"Rud... saya sudah berdosa besar pada gadis itu," ucap Jalal parau, suaranya tercekat di tenggorokan. "Dia pasti sangat membenci saya sekarang. Saya... saya telah melecehkannya secara keji."

​Kalimat penuh penyesalan itu terus meluncur berulang-ulang dari bibir Jalal, mengikis habis wibawa yang selama ini dia agungkan.

​"Sudahlah, Pak. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda. Pengaruh alkohol malam itu dan rasa duka membuat semuanya menjadi kalap. Allah sudah menggariskan takdir ini, kita harus menerimanya mau tidak mau," kata Rudi bijak, mencoba menenangkan atasannya yang tampak begitu rapuh.

​Jalal tidak menyahut. Dia kembali terdiam dalam keheningan ruang kerjanya. Pria matang itu menunduk dalam-dalam, membiarkan setetes air mata penyesalan meleleh perlahan, melewati guratan tegas di wajahnya yang menyiratkan kepedihan yang terlambat.

Aku melangkahkan kakiku yang terasa teramat berat di pinggir pelabuhan. Dengan perasaan campur aduk, aku berdiri di tepi jalan menunggu mobil penumpang yang akan membawaku pulang ke kampung halaman. Sebuah desa yang masih sangat asri di daerah Moramo, yang terkenal dengan keindahan wisata air terjunnya.

​Tak lama, mobil penumpang yang kutunggu pun datang. Aku segera masuk dan mengambil tempat duduk di dalam.

​"Kita mau jalan ke mana?" tanya si sopir padaku dengan logat khas yang ramah.

​"Moramo nah, Om. Nanti rumahnya saya kasih tunjuk," jawabku, spontan mengikuti gaya logat daerahku yang sudah kurindukan.

​Mobil pun mulai melaju. Sungguh, jika harus memilih antara berlama-lama di dalam mobil atau di atas kapal, aku jauh lebih memilih kapal. Suasana berdesak-desakan di dalam mobil sempit ini benar-benar membuat kepalaku pusing dan mual.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!