Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Spiritual
Hei Sanfeng sama sekali belum menyadari keberadaan Bai Muzhi dan Ruu. Kepalanya masih pusing karena tergantung terbalik. Kedua sayapnya terus mengepak panik, sementara matanya menatap Li Yunru dengan penuh ketidakpercayaan.
Seorang manusia benar-benar menggantungnya seperti ayam! Ia benar-benar telah meremehkan gadis manusia ini!
Beberapa saat kemudian, mata elang itu akhirnya menangkap sosok Bai Muzhi yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria berambut putih itu hanya menonton dengan tenang, seolah sedang menikmati sebuah lelucon.
Di samping Bai Muzhi, seekor kelinci gemuk berdiri dengan kedua telinga tegak. Sial! Sejak kapan naga sakit dan kelinci gendut itu datang? gerutunya kesal.
"Bai Muzhi! Cepat bantu aku! Bujuk pasanganmu itu untuk segera melepaskanku!" teriaknya.
Bai Muzhi menatapnya dengan ekspresi datar seperti biasa. "Bukankah kamu kuat?"
"Sekuat-kuatnya diriku, aku tetaplah seekor burung!"
"Kamu akhirnya sadar diri."
"...."
Hei Sanfeng hampir muntah darah mendengar jawaban itu. Ia benar-benar ingin melepaskan diri dan bertarung dengan Bai Muzhi. Setidaknya itu jauh lebih terhormat daripada digantung seperti ayam oleh seorang manusia.
Setiap kali berniat melawan atau menyerang Li Yunru, aura spiritual hijau samar di tubuh gadis itu seolah menekan niatnya.
Entah mengapa, bulu di leher Hei Sanfeng akhirnya meremang saat menatap gadis manusia itu. Nalurinya terus memperingatkan agar tidak macam-macam dengannya.
"Tuan!"
Ruu tiba-tiba berteriak gembira. Kelinci gemuk itu segera berlari menghampiri, lalu melompat dan memeluk paha Li Yunru dengan keempat kakinya. Kedua telinganya terkulai manja ke belakang.
"Tuan, jangan pergi! Aku akan ikut denganmu."
Li Yunru mengalihkan pandangannya kepada kelinci putih gemuk itu, lalu melirik elang hitam yang kedua kakinya masih berada dalam genggamannya. Tanpa banyak bicara, ia mengayunkan tangan dan melempar elang hitam jelmaan Hei Sanfeng ke arah Bai Muzhi.
Hei Sanfeng melayang di udara sebelum akhirnya ditangkap Bai Muzhi dengan mudah.
Setelah itu, Li Yunru langsung meraih si kelinci. "Aku hanya ingin pulang. Cepat katakan, di mana jalan pulangnya?"
Ruu menatapnya dengan mata bulat yang sedikit sedih. "Kamu tidak bisa kembali lagi, Tuan. Kamu sudah terikat dengan dunia ini. Relakan saja semuanya."
"Relakan telingamu! Pokoknya aku mau pulang! Aku tidak mau tinggal di tempat antah berantah seperti ini! Kembali saja pada tuan narsistikmu itu!"
Li Yunru melempar kelinci gemuk itu ke arah Bai Muzhi yang masih memegang Hei Sanfeng. Mau tak mau, Bai Muzhi menangkapnya dengan tangan yang masih bebas.
Li Yunru langsung melengos pergi dengan langkah lebar, jelas tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. "Tampan tapi narsistik! Dasar manusia setengah binatang, sombongnya selangit!" gerutunya sebal.
Baru beberapa langkah berjalan, Li Yunru merasakan cincin naga perak di jari manis tangan kirinya sedikit mengencang. Ia pun menghentikan langkah dan memeriksa cincinnya.
Sebelum sempat mengerti apa yang terjadi, pandangannya mulai berkunang-kunang, sementara dunia di sekelilingnya terasa berputar. Tanah di bawah kakinya seolah bergoyang hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Tak lama kemudian, ia kehilangan keseimbangan dan pingsan.
Bai Muzhi yang melihatnya langsung bereaksi. Tanpa memedulikan Hei Sanfeng yang terus mengumpat ringan, ia melempar elang hitam dan kelinci gemuk itu ke tanah. Dengan gerakan cepat, dia menangkap tubuh Li Yunru sebelum jatuh.
Melihat Li Yunru yang pingsan, Ruu langsung panik. Ia segera menoleh ke arah elang hitam itu dengan tatapan penuh tuduhan.
"Ini semua salahmu! Kamu pasti melakukan sesuatu pada tuanku! Mengaku saja! Racun apa yang kamu berikan padanya? Cepat beri aku penawarnya!"
Kelinci spiritual itu langsung menendang dan mencakar elang hitam yang terlempar ke tanah bersamanya.
Hei Sanfeng merasa benar-benar teraniaya. Baru saja kehilangan segenggam bulu di kepalanya, sekarang ia kembali dicakar kelinci gendut itu hingga beberapa bulunya rontok lagi.
Elang hitam itu langsung murka, tetapi jelas tidak siap menghadapi serangan bertubi-tubi dari seekor kelinci yang sedang mengamuk.
"Apakah kamu buta? Tidakkah kamu lihat akulah korbannya? Kepalaku botak!"
Ia bahkan mengangkat kepalanya untuk memperlihatkan bagian yang kini mulai gundul. Gadis manusia itulah pelakunya, tetapi justru dirinya yang menjadi elang botak. Seandainya kepalanya tidak botak, ia pasti sudah berubah kembali menjadi manusia dan merebus kelinci gemuk itu menjadi sup herbal.
Kedua hewan berbulu itu akhirnya berguling-guling sambil bertengkar di halaman berumput Istana Yayue. Ruu melompat seperti bola putih dan menubruk Hei Sanfeng.
"Rasakan ini! Tubrukan kelinci!"
"Ahhh! Dasar kelinci gendut yang tak takut mati! Rasakan serangan balasanku!" Elang hitam itu mengepakkan sayapnya dengan marah.
"Tidak kena! Elang botak! Giliranku, tendangan kaki kelinci! Tamparan telinga kelinci ...!"
"Kamu curang!"
Sementara itu, Bai Muzhi sama sekali tidak memedulikan keributan di dekatnya. Bahkan saat beberapa pelayan dan penjaga Istana Yayue datang melihat keadaan, tak seorang pun berani melerai dua makhluk berbulu yang sedang bertarung.
Perhatian Bai Muzhi sepenuhnya tertuju pada gadis manusia di pelukannya. Ia melihat cincin naga perak di jari manis kiri Li Yunru memancarkan cahaya samar.
Alisnya sedikit terangkat. Ia merasakan kembali ikatan antara cincin itu dan dirinya. Dan melalui ikatan cincin yang terhubung dengan Li Yunru, Bai Muzhi melihat laut kesadaran gadis itu. Potongan-potongan gambar asing mulai melintas di benaknya.
Bangunan-bangunan tinggi yang aneh, jalanan yang dipenuhi kendaraan beroda empat mengeluarkan suara bising, serta lampu-lampu terang tanpa api menerangi segala penjuru. Tempat itu jelas bukan bagian dari dunia ini.
Bai Muzhi tertegun. Tempat apa itu? Meski begitu, ia masih sulit percaya bahwa gadis manusia ini bisa memakai cincin naga peraknya.
Seraya membopong Li Yunru yang pingsan, Bai Muzhi bergumam pelan, "Dia jelas berasal dari belahan dunia lain. Mengapa memiliki darah keturunan peri hutan dari dunia ini?"
Sudah sangat lama sejak terakhir kali pria itu mendengar kabar tentang ras peri hutan. Matanya kembali menyipit. Aura gadis manusia ini sangat mirip dengan ras peri hutan yang telah lama menghilang.
Jika Li Yunru benar-benar memiliki darah peri hutan, kemungkinan besar ada kisah tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun.
......................
Kesadaran Li Yunru yang ditarik ke suatu tempat, tiba-tiba saja muncul di udara kosong dan jatuh tersungkur. Ia nyaris membentur batu besar di hadapannya. Namun sebelum sempat bernapas lega, sebuah tangan tak kasat mata mendadak mendorong kepalanya dengan keras.
Duk!
"Aduhh ...!" Li Yunru memegangi dahinya yang berdenyut. Saat berdiri, ia menyentuh dahinya dan melihat sedikit darah. "Siapa? Siapa yang mendorongku? Keluar!" teriaknya sambil menoleh ke kanan dan kiri.
"Nak, kita bertemu lagi."
Li Yunru yang masih sedikit pusing berusaha menenangkan diri. Ia lalu menoleh ke arah sumber suara dan langsung mengenali sosok itu. Bukankah pria tua ini yang memberinya kelinci gemuk?
"Kakek tua?" Li Yunru menyipitkan mata. "Si penjual di toko hewan peliharaan?"
Tanpa menunggu pria tua itu berbicara, Li Yunru menoleh ke sekeliling. Lagi-lagi ia berada di tempat asing. Entah sudah berapa kali hari ini ia berpindah ke tempat yang tidak dikenalnya. Namun kali ini suasananya terasa berbeda.
Hamparan rumput hijau membentang cukup luas. Di tengahnya terdapat kolam spiritual berair jernih. Di samping kolam terdapat sebuah batu besar, sementara dari celahnya mengalir air jernih seperti air terjun kecil.
"Selamat datang di ruang spiritual naga putih, Nak," kata pria tua itu ramah. "Akhirnya cincin ruang spiritual ini mendapatkan pemilik baru."
Li Yunru mengerutkan kening. "Siapa sebenarnya kamu? Dan apa maksudmu dengan ruang spiritual?"
Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sejak bertemu kelinci yang bisa berbicara hingga elang yang berubah menjadi manusia, kepalanya hampir meledak.
Pria tua itu menatap Li Yunru cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Aku hanyalah lelaki tua dari masa lalu. Tapi, Nak, apakah kamu benar-benar tidak menyukai dunia ini?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂