Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan di Hutan Kabut Hitam
"Lanjutkan." Ucap Zhao Hu menoleh, ketertarikan mulai muncul di wajahnya yang bengis.
Hutan Kabut Hitam adalah wilayah luar yang berbatasan langsung dengan Zona Terlarang Sembilan Kematian. Binatang-binatang buas sekte secara rutin dibawa ke sana untuk menyerap aura alam liar agar insting bertarung mereka tetap tajam. Medan yang sulit dan kabut yang pekat menjadikannya tempat paling sempurna untuk sebuah "kecelakaan."
"Tugas mengantar kereta binatang biasanya diberikan pada pelayan kasta rendah. Kita bisa mengatur agar Ling Yun yang menarik kereta itu ke titik pelepasan," bisik murid itu dengan senyum jahat. "Begitu sampai di perbatasan Zona Terlarang, kita cukup merusak segel penahan kereta dari jauh. Di tengah kabut itu, tidak akan ada saksi mata. Ling Yun akan hilang ditelan hutan, entah dimakan oleh binatang itu atau tersesat masuk ke Zona Terlarang. Takkan ada yang peduli pada nasib satu pelayan cacat yang hilang di luar tembok sekte."
Zhao Hu terdiam sejenak, membayangkan Ling Yun yang sendirian dan tak berdaya di tengah kabut yang dipenuhi raungan monster. Perlahan, seringai kejam mulai terbentuk di bibirnya. Rasa kesal yang tadi meluap kini berganti menjadi antisipasi yang dingin.
"Rencana yang bagus. Pastikan penatua logistik menerima sogokan kita agar nama si cacat itu muncul di daftar pengantar," ucap Zhao Hu dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Aku ingin melihat apakah tatapan matanya masih akan setajam itu saat ia dikepung oleh kegelapan Hutan Kabut Hitam. Pelayan sampah tetaplah sampah, dan hutan itu adalah kuburan yang sangat pantas untuknya."
Di bawah temaram cahaya senja yang mulai memudar, tawa licik mereka tenggelam oleh suara angin gunung, membawa sebuah rencana maut yang akan segera menyapa Ling Yun dalam perjalanan menuju maut yang tak terelakkan.
...----------------...
Dua hari kemudian, hawa dingin yang tak biasa menyelimuti pelataran divisi logistik Sekte Langit Abadi. Matahari baru saja mengintip dari balik cakrawala, namun kabut tebal sudah turun dari puncak gunung, menciptakan suasana suram yang mencekam. Di depan sebuah gerobak besi raksasa yang dilapisi oleh rantai-rantai penahan energi, Ling Yun berdiri dengan ekspresi datar.
Di dalam gerobak itu, seekor Sanca Kerak Bumi berukuran tiga kali pelukan orang dewasa terus mendesis rendah. Sisik-sisiknya yang berwarna cokelat tua tampak seperti batuan keras yang siap meremukkan apa saja. Energi elemen tanah yang pekat menguar dari tubuh binatang buas tersebut, membuat udara di sekitarnya terasa berat.
"Kenapa harus kita yang mengantar binatang tingkat menengah ini, Kak Lu?" tanya Ling Yun pelan, tangannya menggenggam tali kekang kulit yang tebal.
Lu Han, yang berdiri di sampingnya dengan wajah sepucat kain kafan, berulang kali menyeka keringat dingin di dahinya. "Aku juga tidak tahu, Yun. Tiba-tiba saja Penatua Logistik memberikan gulungan tugas ini pada kita semalam. Katanya, pelayan lain sedang sibuk mempersiapkan upacara tahunan sekte. Sialan... ini sama saja dengan mengirim kita ke rahang kematian!"
Ling Yun tidak menjawab. Ia hanya menatap diam jimat penyegel berwarna kuning yang tertempel pada engsel gerobak besi itu, lalu menghela napas pendek. Baginya, tugas ini hanyalah rutinitas melelahkan lainnya yang harus ia selesaikan sebagai pelayan kasta bawah.
"Sudahlah, tidak ada gunanya mengeluh. Jika kita menolak perintah divisi logistik, kita akan langsung diusir dari sekte atau dieksekusi karena pembangkangan," keluh Lu Han pasrah. "Ayo jalan, Yun. Semakin cepat kita sampai di titik pelepasan, semakin cepat kita bisa kembali ke asrama yang aman."
Dengan mengerahkan kekuatan fisik mereka, kedua pelayan itu mulai menarik gerobak besi tersebut keluar dari gerbang sekte. Berbeda dengan Lu Han yang terengah-engah dan menggunakan seluruh tenaganya, Ling Yun menarik dengan santai. Kekuatan fisiknya yang telah ditempa secara rahasia selama sepuluh tahun membuat beban ribuan kati itu terasa seperti menarik tumpukan jerami. Namun, ia sengaja mengatur napas dan langkahnya agar terlihat sama lelahnya dengan Lu Han.
Perjalanan menuju wilayah terluar sekte memakan waktu beberapa jam melewati jalan setapak yang curam dan berbatu. Semakin jauh mereka melangkah, pepohonan di sekitar mereka berubah menjadi semakin gelap, bengkok, dan diselimuti kabut hitam yang legam. Hawa dingin yang menusuk tulang perlahan berganti dengan aroma anyir darah dan pembusukan—ciri khas dari Zona Terlarang Sembilan Kematian, tempat yang kini menjadi tujuan akhir pengantaran mereka.
"Tempat ini benar-benar membuat bulu kuduk berdiri," bisik Lu Han, suaranya gemetar saat raungan binatang buas tak dikenal terdengar bergema dari balik pekatnya kabut Zona Terlarang Sembilan Kematian. "Yun, tetap dekat denganku. Begitu kita melepaskan Sanca Kerak Bumi ini di altar perbatasan, kita langsung lari kembali."
Ling Yun hanya mengangguk, namun seluruh indranya telah bersiaga penuh. Melalui sela-sela poni rambutnya, matanya berkilat waspada. Di tempat yang pekat akan energi alam liar seperti ini, Dan Tian-nya yang hancur kembali bergejolak. Dirinya tersentak kaget, Rasa perih yang ia rasakan mulai menusuk perutnya saat empat elemen di dalam dirinya mencoba merespons aura ganas yang tiba-tiba ia rasakan
"Kughkkk?! Apa-apaan ini?!" Batin Ling Yun kaget, ia refleks meringis ketika merasakan hal perih tersebut.
Tiba-tiba, Sanca Kerak Bumi di dalam gerobak mengamuk. Makhluk itu menghantamkan kepalanya ke dinding besi dengan keras, membuat seluruh gerobak terguncang hebat.
Clang!
Suara retakan logam yang nyaring terdengar. Jimat penyegel yang menempel di engsel gerobak tiba-tiba terbakar oleh api hitam yang aneh, melelehkan rantai penahan energi dalam sekejap. Pintu gerobak besi itu terlempar terbuka, hancur berkeping-keping.
"S-Segelnya lepas?! Bagaimana mungkin?!" Lu Han menjerit histeris, tubuhnya langsung lemas hingga jatuh terduduk di tanah berlumpur.
Sanca Kerak Bumi itu meluncur keluar dari gerobak, mata vertikal nya yang kuning menyala menatap kedua manusia di hadapannya dengan rasa lapar yang membara. Lidahnya yang bercabang menjulur, mendeteksi ketakutan yang luar biasa dari tubuh Lu Han. Mengikuti insting predatornya yang kembali tajam karena hawa liar Zona Terlarang Sembilan Kematian, ular raksasa itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, siap untuk menerkam Lu Han yang sudah tidak bisa bergerak karena ketakutan.
Namun, di tengah kepanikan itu, perhatian ular raksasa tersebut mendadak teralih. Dari arah semak-semak yang gelap di sekitar mereka, tiga buah jarum hitam beraliran Qi melesat cepat dan menancap tepat di bagian ekor Sanca Kerak Bumi. Jarum itu tidak membunuh, melainkan menyuntikkan sejenis ramuan perangsang yang membuat mata ular tersebut seketika berubah menjadi merah darah penuh kegilaan.
"Siapa di sana?!" Ling Yun berteriak dingin, matanya langsung tertuju pada balik pohon besar tempat jarum itu berasal.
Dari balik kegelapan kabut, tiga sosok bermasker kain hitam melompat keluar dengan senjata telanjang di tangan mereka. Salah satu dari mereka, yang memiliki postur tubuh tirus dan sepasang mata yang sangat familier, tertawa mengejek di balik maskernya. Meskipun suaranya disamarkan, Ling Yun langsung mengenali siapa dia.
"Hahaha! Sungguh kecelakaan yang malang! Dua pelayan bodoh tewas karena kelalaian mereka sendiri dalam menjaga binatang buas sekte!" seru pria bermasker itu dengan nada yang dipenuhi kepuasan.
"Zhao Hu..." desis Ling Yun rendah, suaranya begitu dingin hingga membuat kabut di sekitarnya seolah membeku sesaat.
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat semua dari author, jangan lupa tinggalkan jejak ya... Semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.