NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersujud atau Di pukul?

Kehidupan Lilly sudah lebih tenang sejak menjauh dari Noah.

Namun, segala ketenangan itu telah runtuh malam ini. Keberaniannya muncul kembali di hadapan Noah ternyata adalah petaka.

Ia sempat berpikir mungkin Noah sudah melupakannya. Atau pria itu sudah benar-benar tidak peduli padanya.

Lilly menatap langit-langit kamar yang telah remang-remang. Kejadian itu sudah berlalu begitu lama.

Namun ia selalu mengingatnya. Ketika Noah menyatakan perasaan kala itu musim panas ke delapan setelah ibunya tiada.

Di belakang gedung sekolah, Noah menjadi orang yang lebih berani.

Buket bunga dan ucapan yang ia tolak selalu terngiang dalam pikirannya. Menempatkan Noah pada satu tempat khusus dalam hatinya.

Gadis itu telah berganti pakaian dengan sebuah gaun tidur tipis berwarna putih. Kini ia resmi menyandang status tahanan istana.

Ponselnya terus berderit sejak tadi. Omelan dari atasan adalah hal pertama yang ia terima. Ancaman pemecatan juga terjadi karena dianggap melakukan hal tak senonoh dan melecehkan kelas bangsawan elite.

Dia telah mencoba menjelaskannya, tapi ternyata atasannya masih sibuk menyalahkan Lilly. Sebab itu, ia tak mau melihat omelan yang akan menyayat hatinya lebih banyak.

Sebuah dering ponsel berbunyi.

Awalnya Lilly tak peduli, tapi setiap dering itu mati akan masuk kembali.

Dengan malasnya, Lilly melihat siapa gerangan yang meneleponnya. Mata Lilly melebar ketika membaca siapa orang itu, Dad. Segera ia menekan tombol jawab di layar ponselnya.

"Ayah?"

Suara diseberang menghela nafasnya panjang dengan berat. "Lilly, apakah benar di berita itu kamu?"

Lilly menggigit bibirnya, "Iya, benar," suaranya terjeda sesaat.

"Tapi ayah tenang saja semua akan baik-baik saja. Itu hanya salah paham."

"Salah paham bagaimana? Lilly yang sedang berurusan denganmu adalah Pangeran Mahkota Noah. Anggota keluarga kerajaan elite!" Suara ayahnya terdengar meninggi.

"Ayah, aku sedang menunggu keputusan. Raja sudah memberi titah."

"Titah apa?"

"Untuk menunggu Tuan Albert membantunya memberi saran."

Ayahnya menghela nafasnya kasar. "Lilly, kali ini akan sulit ditembus. Tuan Albert, siapa yang tak mengenalnya? Ia berambisi agar Nona Viviane menjadi Permaisuri kerajaan selanjutnya."

"Ayah, tolong tenanglah. Nikmati hari liburmu. Besok akan aku kabari."

"Lilly, apakah kau ingin ayahmu tidak bisa tidur? Dimana kau berada?"

"Aku menjadi tahanan istana."

"Apa?"

"Ayah tenang saja, aku di tempatkan dalam ruang kamar yang nyaman." Ucapnya sembari melihat sekeliling kamar tersebut.

Ia berusaha menenangkan ayahnya sedikit meski Lilly yakin itu tak akan berguna.

"Ayah akan memikirkan cara agar kamu bisa bebas."

"Aku akan bebas mungkin besok, jadi ayah tenangkan dirimu. Ayah tahu aku gadis kuat, kan?"

Ayahnya menghela nafas kali ini lebih panjang. "Ayah tahu, beristirahatlah."

"Baik ayah. Semoga tidur nyenyak."

Sambungan terputus begitu juga rasa tegang yang dirasakan oleh Lilly.

Billy Jones— ayahnya hanyalah seorang juru tulis di kerajaan.

Bekerja di bawah salah seorang kementerian. Ia hanyalah pejabat kelas bawah, orang sering mengatai mereka sebagai rakyat jelata yang tengah berusaha menaiki tangga sosial.

Memang benar keadaannya, di Vardoria banyak orang berebut jabatan. Mereka dari kelas bawah berusaha menanjak status, terutama jika memiliki kesempatan menikah dengan seorang bangsawan maka jauh lebih baik.

Biasanya pihak perempuan sering mencari kesempatan ini.

Ketika ia berhasil masuk sekolah menengah elite berkat beasiswa, Lilly awalnya begitu senang. Namun kesenangan itu hanya berjalan sesaat, gangguan dari beberapa bangsawan mulai datang.

Awalnya hanya sindiran halus guna mengingat statusnya. Lama kelamaan mulai berubah perundungan secara verbal dalam balutan kalimat puitis dan diplomatis.

Terutama mereka penggemar Noah hanya karena pangeran itu sering kali memberi perhatian kecil.

"Mengapa jadi ingat masa lalu?" gumamnya pelan.

Kejadian itu telah berlalu, Lilly pikir semuanya sudah baik-baik saja. Akan tetapi pilihannya bergabung ke Tim Khusus EO malam ini adalah petaka sendiri.

Lilly merasakan ada kebencian dari Noah. Mengingat lelaki itu mengatakan akan menikah dengannya berarti memang sengaja menjadikannya sasaran empuk para pejabat haus kekuasaan.

"Noah." Panggilnya pelan. Matanya masih memandang langit-langit kamar ini.

"Ternyata memang pilihanku saat itu tepat." Ucapnya pelan. Menarik selimut dan mulai memejamkan mata.

*****

Sarapan di meja makan kerajaan hari ini begitu panas. Sonya dan para keturunannya ikut meramaikan dengan gunjingan.

Bagaimana bisa kakaknya yang merupakan pangeran mahkota berciuman depan umum dengan seorang rakyat jelata.

"Jika mencintai seseorang carilah yang sederajat, Ronny." Sindiran sang selit kesayangan tak digubris oleh Noah.

Bagi Noah mulut paling beracun di istana ini adalah milik selir Sonya. Paras cantiknya yang terlihat elegan adalah kamuflase paling sempurna untuk menyembunyikan bagaimana jahatnya bibir.

Sudah berapa banyak pelayan yang akhirnya keluar dari istana setelah melayani Selir Sonya.

"Aku akan mencari pangeran dari kerajaan lain." Sahut putrinya, Grace. Noah meliriknya sekilas, ibu anak ini adalah manusia yang paling tak disukai Noah.

Mulut mereka kejam dan jahat.Bahkan untuk kelas bangsawan mereka tak segan untuk terlalu frontal menyampaikan hinaan.

Bagi Nyonya Sonya dan Grace, siapa yang ada di bawah mereka pantas untuk diinjak lalu siapa yang ada di atasnya pantas untuk dijilat.

"Itu bagus, Grace. Jika kau berciuman di depan umum dengan seorang pangeran maka berita yang tersebar akan lebih positif daripada dengan rakyat jelata," ucap Selir Sonya dengan penekanan di kalimat terakhirnya.

Berpura tak mendengarnya bagi Noah itu tentu jauh lebih baik. Tak berselang lama Raja dan Permaisuri datang lalu duduk di kursi kebesaran keduanya.

Acara makan pagi itu berlangsung dengan keheningan diantara mereka hingga selesai.

Hanya di depan Raja—

Selir Sonya akan menjaga marwah dan mulutnya.

"Noah, datanglah ke ruang kerjaku. Kita akan melanjutkan diskusi semalam."

Titah itu muncul setelah sang Raja mengelap bibirnya lalu bangkit dan meninggalkan meja makan diikuti sang Permaisuri.

"Apakah akan disuruh bersujud atau akan dipukul?" bisik Selir Sonya samar nyaris tak terdengar jika ruangan itu tak sepi.

Namun Noah sudah terlalu bosan mendengar ocehan sang Selir itu.

Ia segera pergi dari sana daripada harus mendengarkan ocehan tak bermanfaat di hidupnya.

Noah mengikuti kedua orang tuanya dengan langkah pelan. Dengan pikiran mulai menebak yang terburuk. Lilly mungkin akan dipenjara atau diusir dari Vardoria.

Begitu memasuki ruang kerja ayahnya, Noah mulai memikirkan cara paling tepat menolong gadis itu.

Bagaimana kalau dibawa kabur?

Bagaimana kalau ia yang mengaku?

Mereka duduk dalam posisi yang sama seperti semalam. Dalam dua puluh menit itu, segalanya terasa melambat. Noah duduk dengan menyandarkan tubuh. Melipat tangannya di dadanya. Jemarinya bertaut di depan dagu, bergerak gelisah tanpa sadar.

Seseorang baru saja di umumkan masuk—

Tuan Albert.

Pria yang memegang arah atas keputusan kerajaan. Di mata Noah, Ayahnya terlalu bergantung pada pria berkumis ini.

"Salam, Yang Mulia Raja. Salam, Yang Mulia Permaisuri. Salam, Pangeran Mahkota." Pria itu menundukkan tubuhnya.

"Duduklah, Albert."

"Baik Yang Mulia."

Albert memilih duduk sebelah Noah yang terlihat tak tenang.

Tanpa menunggu waktu lama, tersangka diseret ke ruang kerja. Tubuh kecil itu masih sama.

Diseret.

Dihempaskan begitu saja pada karpet permadani.

Dan terduduk dengan lutut yang menabrak lantai.

Wajahnya menunduk.

Lalu dengan suara lirih memberi hormat pada yang lebih berkuasa di sana. Mata Noah melirik padanya.

Gadis itu sudah berganti pakaian dengan bawahan loose pants warna brown dan atasan sebuah blouse merah tanpa kerah namun terdapat aksen dasi memanjang. Rambutnya tak lagi dikepang, gadis itu membiarkannya terurai dengan rapi.

Di mata Noah, Lilly masih sama cantik dengan kepolosannya sewaktu Sekolah Menengah.

Ruang kerja Raja terasa terlalu sunyi.

Lilly masih berlutut di atas permadani merah tua itu. Punggungnya tegak, tetapi jemarinya perlahan saling menggenggam semakin erat di atas paha.

Noah duduk tak jauh darinya.

Diam.

Namun tatapan pria itu terus tertuju pada Lilly seolah takut gadis itu benar-benar akan dihancurkan di depan matanya.

Raja Valden II menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara,

“Kami sudah memutuskan hukuman yang paling tepat untuk kasus ini.”

Suasana langsung menegang.

Lilly menundukkan kepala lebih dalam.

“Baik, Yang Mulia.”

“Dua hari lagi akan diadakan konferensi pers.” Raja menatap lurus ke arahnya. “Di sana kau akan mengakui bahwa kaulah yang menggoda Pangeran Mahkota dan memaksakan ciuman itu.”

Noah langsung mengangkat kepalanya.

“Ayahanda—”

“Diam.”

Satu kata itu membuat ruangan kembali sunyi.

Tuan Albert menyilangkan kakinya pelan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

“Ini demi menjaga martabat kerajaan,” ujarnya datar. “Publik harus mengetahui bahwa keluarga kerajaan adalah korban dalam kasus ini.”

Lilly merasakan tenggorokannya tercekat.

Nafasnya tertahan, suaranya menghilang.

Jika ia mengaku…

Maka hidupnya selesai.

Bukan hanya pekerjaannya.

Bukan hanya reputasinya.

Tetapi seluruh masa depannya.

Tak akan ada pria bangsawan yang mau mendekatinya.

Tak akan ada keluarga terhormat yang menerimanya.

Namanya akan hidup sebagai perempuan murahan yang mencoba merayu pewaris tahta.

“Dan jika saya menolak?” suara Lilly terdengar kecil.

Raja Valden II menatapnya tanpa perubahan ekspresi.

“Maka hukumanmu diganti menjadi lima puluh cambukan dan penjara kerajaan.”

Darah Noah langsung terasa dingin.

“Itu hukuman mati,” gumamnya.

“Pangeran Mahkota.” Tuan Albert tersenyum tipis. “Kerajaan tidak bisa bersikap lunak pada rakyat yang berani mencoreng nama keluarga kerajaan.”

“Ayahanda.” Noah berdiri mendadak. “Ini tidak adil.”

“Duduk kembali.”

“No.”

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, emosi Noah benar-benar terlihat jelas.

Rahangnya mengeras.

Tatapannya menajam.

“Kita semua tahu Lilly tidak bersalah.”

“Cukup.”

“Tidak!” Noah melangkah maju. “Ayahanda sendiri mengatakan akan memberinya hukuman yang adil!”

“Dan ini hukuman yang paling tepat.”

“Tepat menurut Ayahanda?” Noah menoleh tajam pada Tuan Albert. “Atau tepat menurut Perdana Menteri?”

Ruangan langsung membeku.

Permaisuri memejamkan mata pelan.

Sedangkan Tuan Albert hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga pemberontakan kecil itu akan terjadi.

“Pengawal,” titah Raja Valden II dingin. “Bawa Pangeran Mahkota keluar.”

Noah mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Ayahanda—”

“Kurung dia di kamarnya selama satu hari.”

Dua pengawal segera masuk.

Lilly refleks mengangkat kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, pandangan mereka bertemu dalam balutan kecemasan.

Noah terlihat marah.

Frustrasi.

Dan tak berdaya.

Sedangkan Lilly…

Hanya terlihat ingin menangis

****

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!