NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:786
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata di Balik Senyum Palsu Alessa

Pagi hari selalu datang tanpa permisi, membawa secercah cahaya yang sering kali terasa mengejek mereka yang sedang tenggelam dalam penderitaan. Bagi Alessa, fajar kali ini terasa laksana pisau bedah yang menguliti sisa-sisa kekuatannya. Setelah semalaman terkurung di dalam bak mandi semen yang dingin, lembap, dan berbau lumut, pintu itu akhirnya terbuka juga pada pukul lima pagi. Rian membukanya bukan karena rasa iba atau penyesalan yang mendalam, melainkan karena monster itu ingin menggunakan toilet sebelum pergi entah ke mana dengan terburu-buru. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rian hanya menendang kaki Alessa yang menjulur keluar dari bak, lalu mendengus jijik seolah melihat seonggok sampah yang menghalangi jalannya.

​Begitu mendengar suara pintu depan rumah kembali dibanting dan langkah kaki Rian menjauh ke ujung gang, Alessa perlahan-lahan merangkak keluar dari bak mandi. Tubuhnya gemetar hebat karena hipotermia tingkat awal. Kaus tipis yang dikenakannya telah lengket dengan darah kering yang menempel pada jalur-jalur luka sabetan ikat pinggang semalam. Saat dia mencoba menegakkan punggungnya, rasa sakit yang teramat sangat langsung menusuk hingga ke saraf pusat, memaksanya melepaskan erangan tertahan yang menyayat hati.

​Dengan sisa-sisa tenaga yang dikumpulkan dari rasa putus asa, Alessa berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandinya yang reyot untuk membersihkan diri. Dia tidak berani menyiram punggungnya dengan air dingin secara langsung; rasanya pasti akan seperti disiram air raksa yang membakar. Sebagai gantinya, dia mengambil selembar kain bersih, membasahinya perlahan, lalu menepuk-nepuk kulitnya yang robek dengan sangat hati-hati. Air matanya mengalir deras tanpa suara, membasahi pipinya yang bengkak. Setiap tetes air mata itu terasa hangat, kontras dengan dinginnya atmosfer rumah terkutuk itu. Kesedihan yang mendalam, rasa kesepian yang mutlak, dan amarah yang mengkristal di dalam dada membuat jiwanya terasa benar-benar hancur berkeping-keping.

​Namun, hidup harus tetap berjalan. Atau lebih tepatnya, Alessa harus tetap berpura-pura hidup demi mempertahankan sisa harga dirinya di depan dunia luar. Dua jam kemudian, Alessa sudah berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang retak di dalam kamar. Dia menatap bayangan dirinya sendiri. Di dalam cermin itu, tampak seorang gadis muda dengan struktur wajah yang luar biasa proporsional—warisan genetik garis keturunan ibunya yang berdarah Italia. Matanya yang bulat dengan bulu mata lentik seharusnya memancarkan binar keindahan yang mampu memikat siapa saja yang memandang. Namun hari ini, keindahan itu tertutup oleh awan kelabu yang pekat. Pipinya lebam keunguan, dan sudut bibirnya yang pecah mulai mengering namun tetap terlihat mengerikan.

​Alessa mengembuskan napas panjang. Dia membuka laci mejanya, mengambil sebuah wadah kosmetik murah yang isinya sudah hampir habis—sebuah foundation dan bedak padat yang dibelinya dari toko kelontong beberapa bulan lalu. Dengan ketelitian seorang pelukis, Alessa mulai mengoleskan cairan kental itu ke pipinya. Dia menekan-nekankan spons dengan perlahan. Sakit? Luar biasa sakit. Setiap kali spons itu menekan kulit yang lebam, Alessa harus memejamkan mata rapat-rapat dan mencengkeram tepi meja hingga jari-jarinya memutih.

​"Ayo, Alessa. Kamu bisa. Sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyemangati jiwanya yang rapuh.

​Setelah tiga puluh menit berjuang melawan rasa perih, keajaiban kosmetik murah itu akhirnya bekerja. Lebam keunguan di pipinya berhasil tersamarkan di balik lapisan bedak yang agak tebal, meskipun jika dilihat dari dekat, tekstur kulitnya tetap terlihat tidak rata. Untuk menyembunyikan luka sabetan di lengan dan punggungnya, Alessa memilih mengenakan kemeja lengan panjang berukuran longgar milik mendiang ayahnya yang berwarna biru pudar. Dia mengancingkan kemeja itu hingga ke bagian kerah tertinggi demi menutupi garis luka yang nyaris mencapai lehernya.

​Setelah memastikan penampilannya "cukup normal" untuk standar masyarakat umum, Alessa memaksakan kedua sudut bibirnya untuk tertarik ke atas. Dia berlatih tersenyum di depan cermin. Satu detik, dua detik... senyuman itu terlihat sangat kaku, seperti senyuman boneka porselen yang retak. Namun bagi orang asing yang tidak peduli, senyuman itu sudah lebih dari cukup untuk mengelabui mata mereka. Itu adalah senyum palsu terbaiknya—sebuah topeng kokoh yang menyembunyikan lautan air mata di baliknya.

​Tujuan Alessa hari ini adalah pergi ke tempat kerjanya, sebuah toko roti kecil yang terletak di dekat pasar tradisional, sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumahnya. Dia membutuhkan uang. Setiap sen yang dia hasilkan dari memotong roti dan melayani pembeli adalah modal berharga yang dia kumpulkan secara diam-diam di dalam kaus kaki bekas untuk rencana pelarian besarnya kelak.

​Saat berjalan menyusuri gang sempit kompleks perumahannya, Alessa berpapasan dengan beberapa tetangga paruh baya yang sedang menyapu halaman atau sekadar bergosip di depan pagar.

​"Pagi, Alessa! Mau berangkat kerja ya? Ya ampun, mukanya kok pucat banget begitu? Kurang tidur ya, Neng?" tanya Bu RT, seorang wanita bertubuh tambun yang terkenal sangat kepo dengan urusan seluruh warga kompleks.

​Alessa menghentikan langkahnya sejenak. Jantungnya berdegup agak kencang, takut jika lapisan bedaknya retak dan memperlihatkan lebamnya. Namun, dengan kecepatan refleks yang mengagumkan, Alessa langsung memasang topeng senyum palsunya yang paling ramah.

​"Eh, iya, Pagi Bu RT," jawab Alessa dengan nada suara yang dibuat seceria mungkin, seolah-olah semalam dia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja digebukin pakai ikat pinggang. "Ini biasa, Bu... Semalam saya begadang maraton nonton drama Korea sampai subuh. Tokoh utamanya ganteng banget sih, Bu, sampai-sampai saya lupa waktu dan lupa kalau saya ini cuma rakyat jelata yang harus kerja cari duit pagi-pagi."

​Bu RT langsung tertawa terbahak-bahak, menepuk pundak Alessa dengan santai—tindakan yang hampir saja membuat Alessa menjerit histeris karena tepukan itu secara tidak sengaja menggetarkan otot punggungnya yang terluka berat. Alessa menahan napas, giginya bergelatuk menahan perih, namun matanya tetap tersenyum lebar.

​"Kamu itu ada-ada saja, Alessa! Masih muda memang harus begitu, dinikmati hidupnya! Ya sudah, hati-hati di jalan ya!" kata Bu RT tanpa menaruh curiga sedikit pun.

​"Iya, Bu RT. Grazie (terima kasih)!" sahut Alessa sambil melambaikan tangannya dan segera mempercepat langkah kakinya sebelum Bu RT memutuskan untuk menepuk pundaknya untuk kedua kali.

​Begitu berbelok di tikungan gang yang sepi, senyuman di wajah Alessa langsung runtuh seketika. Dia bersandar pada dinding batako sebuah rumah kosong, memegangi dadanya sambil mengatur napas yang tersengal-sengal. Air mata yang sejak tadi dia tahan di balik senyum palsunya kini merembes keluar, merusak sedikit riasan bedak di sudut matanya. Rasanya sungguh melelahkan. Berpura-pura baik-baik saja di saat seluruh duniamu sedang runtuh adalah bentuk penyiksaan mental yang tidak kalah kejam daripada sabetan Rian.

​"Gila..." gumam Alessa sambil menyeka air matanya dengan ujung jari secara hati-hati agar tidak menghapus foundation-nya. "Tepukan Bu RT tadi rasanya kayak dihantam palu Thor. Kalau gue gak kuat iman, tadi gue pasti sudah reflek ngeluarin jurus karate kuno buat ngebales."

​Dia tertawa getir, sebuah tawa sarkas yang memecah kesunyian gang sepi itu. "Hebat banget kamu, Alessa. Bakat aktingmu ini kalau dibawa ke Hollywood pasti sudah bisa mengalahkan aktris peraih Oscar. Sayangnya, panggungmu cuma di gang senggol dan penontonmu cuma Bu RT yang hobi gosip."

​Dia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu kembali merapikan kerah kemejanya. Dia tahu dia tidak boleh terlihat lemah. Dunia ini terlalu kejam untuk orang-orang yang menunjukkan air matanya di tempat umum. Orang-orang tidak akan menolongmu; mereka hanya akan menonton, bersimpati selama lima menit, lalu menjadikan kemalanganmu sebagai bahan obrolan saat minum teh di sore hari.

​Alessa kembali berjalan menuju toko roti. Sepanjang sisa perjalanan, dia terus mengulang-ulang topeng senyumannya di dalam pikiran. Dia mengingat kata-kata ibunya dulu bahwa senyuman adalah perisai terbaik seorang wanita, meskipun sang ibu pasti tidak pernah membayangkan bahwa putrinya harus menggunakan senyuman itu untuk menyembunyikan bekas siksaan fisik dari kakak kandungnya sendiri.

​Ketika dia sampai di toko roti bernama "Bakery Lezat", bau harum mentega, ragi, dan selai stroberi yang baru dipanggang langsung menyambut indra penciumannya. Alessa menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma manis itu sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Dia melangkah masuk, menyapa pemilik toko dengan senyuman palsunya yang sudah terkalibrasi dengan sempurna sejak di jalan tadi.

​"Pagi, Pak Bos! Wah, aroma rotinya hari ini wangi banget, sewangi masa depan kita semua!" seru Alessa saat memasuki area kasir.

​Pemilik toko, seorang pria paruh baya keturunan Tionghoa yang baik hati bernama Ko Alung, menoleh dan tersenyum lebar. "Ah, Alessa! Pagi-pagi sudah pintar saja kamu merayu. Ya sudah, cepat ganti baju sergamu dan bantu potong roti tawar di belakang ya. Hari ini ada pesanan banyak untuk katering pernikahan."

​"Siap dilaksanakan, Kapten!" jawab Alessa sambil memberikan penghormatan ala militer yang konyol, memicu tawa kecil dari Ko Alung.

​Namun, begitu Alessa berjalan menuju ruang karyawan di bagian belakang, langkahnya mendadak melambat. Di dalam ruang ganti yang sepi itu, dia menatap apron celemek kerja yang menggantung di dinding. Dia tahu, selama delapan jam ke depan, dia harus berdiri, bergerak, mengangkat nampan-nampan berat, dan terus tersenyum manis kepada setiap pelanggan yang datang membeli roti. Punggungnya yang terluka pasti akan menjerit memprotes setiap gerakan yang dia buat.

​Sebelum memakai apron, Alessa berjalan menuju wastafel kecil di sudut ruangan. Dia menatap cermin di atas wastafel. Perlahan, dia membiarkan topeng senyum palsunya terlepas untuk beberapa detik. Di dalam pantulan kaca itu, yang tersisa hanyalah seorang Alessa yang asli—gadis yatim piatu yang ketakutan, kesepian, menanggung rasa sakit fisik yang membakar, dan memiliki mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis di dalam kegelapan.

​Satu tetes air mata kembali lolos dari pelupuk matanya, meluncur lambat di atas lapisan bedak tebal yang menutupi lebam di pipinya. Alessa menatap tetesan air mata itu dengan pandangan yang kosong namun sarat akan penderitaan. Di balik senyum palsu yang selalu dia tunjukkan kepada dunia, ada sepotong jiwa yang sedang berdarah-darah, menjerit meminta tolong pada langit yang bisu, berharap bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang atau sesuatu yang datang untuk menghapus air mata ini secara nyata, tanpa perlu dia sembunyikan lagi di balik topeng yang menyiksa.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!