NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Langkah kaki Reno terasa berat dan kaku saat ia akhirnya berbalik badan dan melangkah pergi dari tepian sungai. Di belakang punggungnya, sosok Zahrana masih terlihat sibuk dengan kegiatannya, tak sedikit pun menoleh atau memberikan perhatian lebih kepadanya. Namun, bayangan wajah gadis itu, sepasang mata bening yang menatapnya datar namun sopan, serta senyum tipis yang begitu tulus itu, seolah menempel kuat di retina matanya, berputar-putar terus di dalam kepalanya tanpa mau hilang.

Sepanjang jalan kembali menuju asrama, Reno diam seribu bahasa. Ia biasanya berjalan dengan langkah lebar, tegap, dan angkuh, seolah menginjakkan kakinya di atas dunia ini dengan penuh kekuasaan. Tapi sore ini, langkahnya pendek, pelan, dan pikirannya melayang entah ke mana. Di dalam benaknya yang biasanya hanya terisi angka, strategi bisnis, dan pandangan sinis tentang kehidupan, kini tiba-tiba dipenuhi seribu pertanyaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Siapa dia? Tentu saja aku tahu dia Zahrana, anak Kyai. Tapi kenapa dia beda? Kenapa saat menatapku, rasanya seperti aku ini bukan siapa-siapa? Bukan Reno Wijaya si CEO, bukan anak orang kaya, bukan pria ganteng yang biasa diperebutkan wanita. Aku cuma... orang biasa di matanya?

Pikiran itu membuat egonya yang setinggi langit terasa tertampar berkali-kali lipat. Selama ini, ke mana pun ia pergi, siapa pun yang ia temui, terutama wanita, pandangan mereka selalu sama: penuh kekaguman, rasa ingin tahu, atau terang-terangan bernafsu pada apa yang ia miliki. Mereka tersenyum manis, melambai, atau mencari alasan untuk sekadar bicara. Tapi Zahrana? Ia menyapa layaknya menyapa orang asing, lalu kembali sibuk dengan cucian kotornya seolah Reno tak lebih penting dari setumpuk kain lusuh itu.

Reno masuk ke kamar asramanya, membanting pintu kayu hingga bergetar dindingnya. Ia duduk di pinggir kasur tipisnya, mengacak-acak rambutnya yang berantakan karena angin sungai. Wajahnya terlihat bingung, kesal, dan sekaligus... penasaran. Rasa penasaran itu tumbuh begitu cepat, menyusup masuk ke celah-celah hatinya yang paling keras. Ia merasa ditantang. Bukan tantangan fisik atau bisnis, tapi tantangan harga diri dan keyakinannya selama ini.

Pasti dia pura-pura. Pasti dia cuma mau cari perhatian dengan cara bersikap dingin dan cuek. Wanita-wanita di kota banyak yang begitu. Pakai taktik tarik ulur supaya aku makin penasaran dan mengejarnya. Dasar sama saja! Batinnya berusaha meyakinkan diri sendiri, mencoba mengembalikan pandangannya yang lama bahwa semua wanita itu sama. Tapi kenapa hatinya tak mau diajak sepakat? Kenapa setiap kali ia mencoba membenci atau meremehkan gadis itu, bayangan ketenangan di mata Zahrana malah makin jelas dan nyata?

Sejak sore itu, kebiasaan Reno berubah pelan namun pasti. Dulu, setiap ada waktu luang, ia akan kabur ke tempat sepi, merokok, dan mengumpat nasibnya. Ia akan menghindari keramaian, menghindari tatapan orang lain, dan hidup di dunianya sendiri yang penuh kemarahan. Tapi sekarang, matanya tak henti mencari. Tanpa sadar, saat jam istirahat, saat lewat di depan rumah Kyai Ahmad, saat sedang duduk di beranda masjid, atau saat pulang dari ladang, matanya menyapu sekeliling mencari sosok bergaun sederhana dan berjilbab putih bersih itu.

Dan setiap kali ia melihat Zahrana, jantungnya selalu bereaksi aneh. Entah saat gadis itu sedang membawa nampan makanan untuk dibagikan ke tamu, sedang mengajar anak-anak kecil mengaji di bawah pohon rindang, sedang membantu para santriwati menganyam tikar, atau sedang berjalan santai membawa ember air—setiap gerak-geriknya terlihat begitu anggun, begitu lembut, dan begitu tulus. Ia tak pernah melihat Zahrana bermuka masam, tak pernah mendengar suaranya meninggi, dan tak pernah melihatnya membedakan pelayanan pada siapa pun. Kepada orang tua, ia tunduk hormat. Kepada anak kecil, ia tersenyum dan bermain. Kepada orang sakit atau susah, ia datang menolong tanpa diminta.

"Aneh sekali wanita itu," gumam Reno pelan saat sedang bersandar di tiang, mengawasi dari kejauhan. "Dia hidup di sini, di tempat yang serba terbatas, jauh dari kemewahan, jauh dari hiburan, tapi wajahnya selalu bersinar bahagia. Apa yang dia punya sampai bisa sesenyum itu? Apa dia tidak tahu kalau di luar sana ada kehidupan yang jauh lebih enak, jauh lebih mewah?"

Reno mulai mencari-cari informasi tentang Zahrana, tapi caranya tetap dengan gengsi tinggi dan diam-diam. Suatu kali saat sedang istirahat makan siang, ia sengaja duduk agak dekat dengan sekelompok santri yang sedang membicarakan anak Kyai itu.

"Zahrana itu luar biasa sekali ya, Mas. Cantik, alim, dan rajinnya bukan main. Belum pernah ada orang yang melihat dia bermalas-malasan," ucap seorang santri muda bernama Budi dengan nada kagum.

"Iya, benar sekali. Katanya, sejak kecil Ibu Nyai dan Bapak Kyai memang mendidiknya dengan keras tapi penuh kasih. Dia tidak pernah disayang berlebihan, malah disuruh melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, sama seperti santri lain. Padahal dia anak satu-satunya, anak pemilik pesantren ini. Dia bisa saja hidup enak, disuapi, dan disuruh-suruh. Tapi dia malah memilih melayani orang lain," sambung santri lainnya.

"Dan yang paling jarang ada pada gadis zaman sekarang, dia itu tidak pernah tergiur harta atau kedudukan. Dulu pernah ada anak pejabat tinggi yang datang melamar, membawa harta melimpah, tapi dia tolak halus. Katanya dia mau menunggu orang yang hatinya baik dan sejalan, bukan yang kantongnya tebal. Katanya, kalau cuma cari harta, dia sudah punya pesantren ini, dia sudah cukup."

Kalimat terakhir itu menohok dada Reno sekeras pukulan palu.

Dia menolak anak pejabat kaya? Dia bilang dia tidak butuh harta? Benarkah ada wanita seperti itu di dunia ini? Atau ini cuma omong kosong supaya dianggap suci?

Keraguan Reno makin menjadi-jadi, tapi rasa ingin tahunya makin meluap. Ia ingin membuktikan sendiri apakah Zahrana benar-benar tulus, atau hanya memakai topeng kesalehan yang indah. Ia ingin tahu apakah kalau ia memperkenalkan diri sebagai Reno Wijaya, sang miliarder, wajah tenang itu akan berubah menjadi kagum dan tertarik. Ia ingin melihat apakah wanita ini juga akan jatuh tersungkur pada kekayaannya seperti yang lain.

Kesempatan itu datang tak lama kemudian. Saat itu, cuaca di pedalaman Kalimantan sedang berubah ekstrem. Hujan turun deras sekali selama berhari-hari tanpa henti, membuat suhu udara menjadi sangat dingin dan lembap. Karena kondisi lingkungan dan tubuhnya yang belum terbiasa dengan kondisi alam seperti ini, Reno akhirnya jatuh sakit parah. Demamnya naik tinggi, badannya panas membara, dan kepalanya terasa seperti disundik jarum. Tulang-tulangnya terasa nyeri seolah dipukul benda tumpul, dan sekujur tubuhnya gemetar kedinginan meski sudah membungkus diri dengan semua kain yang ia punya.

Ia terbaring lemah di kasur tipisnya, tak sanggup bangun, tak ada nafsu makan, dan rasanya tulang-tulangnya serasa copot satu per satu. Di saat sakit begini, rasa kesepian dan keterasingan yang biasa ia tahan kini meledak tak terbendung. Ia merasa sangat menyedihkan. Di Jakarta, kalau sakit sedikit saja, tim dokter pribadi akan langsung datang, obat-obatan terbaik tersedia, pelayan akan mengurus segala kebutuhannya, dan tempat tidurnya empuk serta hangat. Di sini? Ia sendirian, di kamar sempit, dingin, jauh dari siapa pun.

"Dasar Ayah jahat... mau membunuhku ya..." gumamnya lemah, matanya mulai berkaca karena rasa sakit dan rasa sedih yang mendalam.

Beberapa santri memang sudah menengok sebentar, menawarkan obat warung atau sekadar menanyakan kabar. Tapi karena sikap Reno yang selama ini kasar dan menjauhkan diri, mereka pun tak berani terlalu dekat atau terlalu lama. Mereka hanya memberi obat lalu pergi kembali ke kegiatan masing-masing. Reno merasa tak ada yang peduli, tak ada yang benar-benar mengkhawatirkannya. Ia merasa seperti sampah yang terbuang.

Hingga menjelang sore, saat hujan masih turun rintik-rintik dan langit mulai gelap, pintu kamarnya diketuk pelan.

"Masuk..." jawabnya lirih, tak punya tenaga untuk bersuara keras.

Pintu kayu itu terbuka perlahan, dan sosok yang masuk ke dalam membuat jantung Reno yang sedang lemah itu seolah berhenti berdetak sejenak. Itu Zahrana.

Ia masuk dengan langkah halus, membawa nampan kayu di tangannya. Ia mengenakan gamis cokelat tua dan jilbab yang menutup rapat, wajahnya terlihat serius namun penuh kelembutan. Di dalam nampan itu ada mangkuk berisi cairan hitam pekat berbau rempah, kompresan kain, dan sebotol air hangat.

"Mendengar Mas Reno sedang sakit, saya izin datang menjenguk," ucap Zahrana pelan dan lembut, suaranya terdengar begitu meneduhkan di tengah kesunyian dan rasa sakit Reno. Ia mendekat, meletakkan nampan di meja kecil, lalu duduk di tepi kasur dengan sopan dan hati-hati.

Reno menatapnya lekat-lekat, matanya sayu namun tak lepas sedikit pun. Kenapa dia datang? Padahal aku orang asing, padahal aku orang yang sombong dan kasar, padahal aku tak pernah baik padanya sedikitpun. Kenapa dia mau repot-repot datang ke kamar santri laki-laki begini?

"Kenapa kamu mau datang? Kamu tidak tahu kan aku ini orang jahat, orang sombong, orang yang benci tempat ini?" tanya Reno dengan sisa tenaga yang ada, suaranya parau dan lemah. Ia sengaja bicara kasar, berharap bisa menguji ketulusan gadis ini.

Namun Zahrana sama sekali tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis, lalu mengusap pelan kening Reno yang basah keringat panas dengan kain bersih. Sentuhan tangannya begitu halus, dingin, dan menenangkan, membuat seluruh saraf Reno yang tegang mendadak rileks seketika.

"Siapa yang tidak pernah berbuat salah, Mas? Siapa yang hatinya langsung baik begitu lahir ke dunia? Semua butuh proses, semua butuh waktu. Saya tahu, mungkin hati Mas sedang kesal, sedang marah, dan sedang tidak enak hati. Tapi rasa sakit di badan tidak bersalah. Manusia itu sama, kalau sakit pasti merana, kalau sedih pasti butuh teman," jawab Zahrana tenang, tanpa sedikitpun nada menghakimi atau menyindir.

Ia lalu mengambil mangkuk berisi jamu pahit itu, mengaduknya pelan. "Ini jamu racikan Ibu Nyai. Bahan-bahannya dari tanaman di kebun belakang. Rasanya memang pahit sekali, tapi ampuh sekali untuk menurunkan panas dan mengusap angin dingin. Minumlah pelan-pelan, biar badannya enakan."

"Saya tidak mau. Rasanya pasti menjijikkan. Saya biasa minum obat dari apotek, obat mahal yang rasanya manis atau tawar," tolak Reno, memalingkan wajah. Egonya masih berusaha bertahan, meski rasa sakitnya menjerit minta pertolongan.

"Obat mahal memang bagus, tapi kadang alam yang memberi obat paling mujarab. Coba saja dulu, Mas. Demamnya tinggi sekali, kalau dibiarkan bisa makin parah. Anggap saja ini cara mencoba hal baru, selain hal-hal mahal yang Mas biasa kenal," bujuk Zahrana lembut, namun nadanya tegas dan tak bisa ditolak begitu saja.

Reno menatap mata gadis itu. Di sana, tak ada kepura-puraan. Tak ada rencana jahat. Tak ada maksud mencari untung. Yang ada hanyalah ketulusan murni, perhatian yang tulus, dan kasih sayang yang mengalir begitu saja seolah itu adalah napas baginya. Untuk pertama kalinya dalam hidup Reno, ada wanita yang merawatnya bukan karena ia anak orang kaya, bukan karena ia ganteng, bukan karena ia punya jabatan, tapi semata-mata karena ia manusia yang sedang sakit dan butuh pertolongan.

Perlahan, Reno membuka mulutnya, membiarkan Zahrana menyuapinya sedikit demi sedikit. Rasanya memang pahit luar biasa, membuat tenggorokannya seolah terbakar, tapi ada rasa hangat yang menyebar dari kerongkongan ke seluruh tubuhnya. Sepanjang malam itu, Zahrana tak beranjak jauh. Ia duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan, sesekali bangun mengganti kompresan di kening dan ketiak Reno, mengusap punggungnya, dan memastikan Reno minum air hangat. Ia juga membacakan doa-doa pelan yang terdengar syahdu dan menenangkan.

Di tengah malam, saat kesadaran Reno naik turun karena demam, ia sempat membuka mata dan melihat Zahrana masih duduk di sana, menahan kantuknya, matanya terpejam namun tetap bersiap siaga.

"Kamu... kamu tidak tahu siapa saya sebenarnya kan?" bisik Reno lirih, rasa penasaran dan rasa haru bercampur jadi satu. "Saya Reno Wijaya. Saya anak tunggal pemilik Wijaya Group. Saya punya uang triliunan. Saya bisa beli apa saja yang saya mau. Rumah saya sebesar istana, mobil saya banyak, dan orang-orang di luar sana berebut melayani saya demi uang. Kamu tahu itu?"

Zahrana membuka matanya, menatap Reno dalam-dalam. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Tidak ada keterkejutan, tidak ada kekaguman, tidak ada tatapan terpesona. Hanya tatapan teduh yang sama.

"Saya tahu, Mas. Ayahmu pernah bercerita sedikit pada Bapak Kyai sebelum Mas datang ke sini. Saya tahu Mas orang besar di luar sana. Tapi di sini, di dalam kamar kecil ini, yang saya lihat hanyalah seorang manusia muda yang sedang sakit dan butuh pertolongan. Bagi saya, pemilik triliunan atau petani yang tidak punya sepeser pun, kalau sedang sakit dan kesusahan, derajatnya sama di mata saya. Harta itu milik Tuhan, titipan yang dipinjamkan. Kalau sudah mati nanti, tidak dibawa ke liang kubur. Yang dibawa cuma perilaku dan hati yang dibersihkan," jawab Zahrana lembut namun penuh makna.

Kalimat itu menghantam hati Reno lebih keras daripada seribu kata-kata manis atau seribu pukulan fisik. Di saat itu, di tengah rasa sakit dan lemasnya tubuh, dinding tinggi yang selama ini ia bangun di hatinya mulai retak perlahan. Pandangannya tentang dunia, tentang wanita, tentang hidup, perlahan mulai goyah.

Ia sadar, di depan matanya ini, ia menemukan sesuatu yang paling langka, paling mahal, dan paling tak ternilai harganya. Sesuatu yang tak pernah ia dapatkan di antara tumpukan uang dan kemewahannya di kota. Dan rasa penasaran itu kini telah berubah bentuk, berubah menjadi rasa kagum yang dalam, dan benih-benih rasa cinta yang perlahan mulai tumbuh akarnya di tanah hatinya yang kering dan tandus.

"Terima kasih, Zahra..." bisiknya pelan, sebelum akhirnya matanya terpejam lelap, tidur dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan damai daripada malam-malam sebelumnya.

Zahrana tersenyum, mengusap keningnya sekali lagi. "Istirahatlah, Mas. Semoga sakitnya jadi penggugur dosa dan pembuka hati."

Dan malam itu, Reno tidur bukan lagi sebagai CEO yang angkuh dan kesepian, melainkan sebagai seorang pria yang baru saja menemukan alasan untuk percaya kembali pada kebaikan dan ketulusan manusia.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!