"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."
***
Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sanggar Tari Saru
Jam pulang kantor akhirnya tiba.
Suasana gedung mulai lengang. Para karyawan satu per satu meninggalkan meja kerja mereka, sementara Azzam dan Abi Athar berjalan keluar dengan langkah tenang namun tetap berwibawa.
Hari ini cukup melelahkan.
Bukan karena pekerjaan yang banyak—melainkan karena keputusan yang harus diambil.
Pemecatan.
Bagi Athar, itu bukan hal baru. Tapi tetap saja… tidak pernah menjadi hal yang ringan.
“Langsung pulang?” tanya Azzam sambil membuka pintu mobil.
“Iya,” jawab Athar singkat.
Keduanya masuk ke dalam mobil. Aldo kali ini tidak ikut—ia masih harus menyelesaikan beberapa urusan di kantor.
Azzam duduk di kursi pengemudi, sementara Athar di sampingnya. Mesin mobil dinyalakan, lalu mereka pun melaju meninggalkan gedung Malik Group.
Di tempat lain…
Aira sedang mengendarai motor tua milik Mang Arif. Suara mesinnya tidak sehalus motor sport yang biasa ia pinjam pada Ishaan, tapi cukup untuk membawanya ke tujuan.
Ia ingin menemui sahabatnya—Ishaan.
Angin sore menerpa wajahnya. Rambutnya tergerai bebas, tanpa penutup kepala. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap menyimpan keteguhan.
Pikirannya masih dipenuhi banyak hal.
Tentang uang.
Tentang Mang Arif.
Tentang masa depan yang belum jelas.
Di sebuah persimpangan jalan… Lampu merah menyala.
Mobil Azzam berhenti di barisan depan.
Di saat yang sama—motor Aira juga berhenti… tak jauh dari mobil itu.
Takdir kembali mempertemukan mereka. Tanpa direncanakan. Tanpa disadari.
Azzam yang sejak tadi menatap lurus ke depan, perlahan melirik ke samping kanan.
Dan saat itu juga—Ia terdiam.
Matanya tertuju pada sosok yang… sangat ia kenali.
Gadis itu.
Gadis yang semalam menolong kucing.
Gadis yang lima tahun lalu sempat mengisi sebagian kecil ingatannya.
Aira.
Azzam terpaku.
Sejenak… ia hanya memandang.
Wajah itu.
Ekspresi itu.
Masih sama.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Matanya sedikit melebar. “Kenapa dia… nggak pakai jilbab?” gumamnya dalam hati.
Ingatan itu kembali muncul.
Lima tahun lalu… gadis itu memakai jilbab.
Jelas. Ia ingat itu.
“Ah iya…” pikirnya lagi. “Semalam juga gak pakai…”
Azzam menundukkan pandangannya seketika.
Refleks.
Sebagai bentuk menjaga sikap.
Namun pikirannya justru semakin penuh.
Perubahan itu… membuatnya bertanya-tanya.
Belum sempat ia memikirkan lebih jauh—
“Zam.” Suara Abi Athar membuatnya tersentak. “Kenapa melamun? Itu sudah lampu hijau.”
Azzam langsung tersadar. “Ah… iya, Bi.”
Ia segera menginjak pedal gas, mobil melaju meninggalkan persimpangan.
Namun sesuatu tertinggal.
Bukan benda.
Melainkan… pikirannya.
Sepanjang perjalanan, Azzam lebih banyak diam.
Tangannya tetap fokus pada setir, tapi benaknya kembali dan kembali pada satu sosok.
Gadis itu.
Kenapa ia ada di sana?
Kenapa ia terlihat… berbeda?
Dan kenapa… perasaan itu semakin jelas?
Di sampingnya, Athar diam-diam memperhatikan.
Ia tidak buta.
Perubahan kecil pada putranya langsung tertangkap.
Tatapan yang kosong tadi.
Reaksi yang terlambat saat lampu berubah.
Itu bukan sekadar lelah.
Athar menyandarkan tubuhnya, memilih diam.
Namun dalam hatinya, ia sudah menyimpan satu pertanyaan.
Dan ia tau… pertanyaan itu akan ia tanyakan nanti. Saat mereka sudah sampai di rumah.
***
Motor tua itu berhenti tepat di parkiran Sanggar Tari Saru.
Mesinnya mati perlahan, menyisakan keheningan yang justru terasa semakin bising di dalam kepala Aira. Ia masih duduk di atas motor, tangannya menggenggam setang cukup erat, seolah menahan sesuatu yang ingin runtuh.
Matanya tertuju pada papan nama di depan.
Sanggar Tari Saru.
Tempat yang dulu ia datangi dengan penuh semangat…
Kini justru terasa begitu berat untuk dimasuki.
Aira menarik napas panjang.
Satu kali.
Dua kali.
Keputusannya sudah bulat.
Hari ini… ia akan berhenti.
Ia turun dari motor, tapi langkahnya belum juga bergerak. Ingatannya perlahan kembali membuka lembar demi lembar masa lalu yang selama ini ia simpan rapat.
Sanggar ini milik almarhum Saru—bundanya Ishaan. Wanita berdarah India yang begitu mencintai seni tari. Sanggar tari ini dibangun dari nol oleh Dada dan Dadi Ishaan. (Kakek Nenek pihak ayah). Kini… semuanya diteruskan oleh Ishaan.
Aira menunduk.
Ia sudah lama menjadi bagian dari tempat ini. Sejak dulu, ia diajak langsung oleh Saru—yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri.
Di sinilah Aira belajar menari. Di sinilah ia merasa dihargai.
Sanggar ini juga menerima undangan untuk tampil di berbagai acara, terutama pernikahan. Para penari akan disewa untuk memeriahkan suasana dengan tarian khas India yang indah dan penuh warna.
Sanggar tari ini juga selalu membuat parodi tarian india yang ditayangkan di channel youtubenya.
Dan Aira… pernah merasakannya.
Namun justru dari sanalah… semuanya mulai berubah.
Tiga tahun lalu.
Itu adalah pertama kalinya Aira tampil di sebuah acara pernikahan. Ia datang dengan penuh semangat. Gugup, tapi bahagia.
Namun saat itu… ia tidak tau satu hal.
Kostum.
Ketika melihat pakaian yang harus ia kenakan, langkahnya sempat terhenti. Terlalu terbuka. Jauh dari yang ia bayangkan.
“Aira, cepat ya, sudah mau mulai,” ujar seseorang saat itu.
Ia ingin menolak. Sangat ingin.
Tapi ia menoleh pada Saru.
Aunty-ji yang selalu baik padanya. Yang sudah mengajaknya ke dunia ini. Sudah di penghujung acara dan tidak mungkin ia mundur. Saru pun juga merasa tidak enak pada Aira. Ia tidak ingin Aira melakukan itu.
Namun karena Aira tidak tega dan juga tidak ada orang yang bisa menggantikannya. Ditambah lagi… ia butuh uang.
Akhirnya, dengan perasaan yang tidak nyaman, ia tetap menari malam itu.
Gerakannya tetap indah.
Penonton tetap terpukau.
Namun di dalam hatinya… ada sesuatu yang terasa tidak benar.
Sejak saat itu, Aira mulai membatasi dirinya.
Ia tetap datang ke sanggar.
Tetap berlatih.
Tapi ia menolak jika ditawarkan dengan menari dengan pakaian terbuka.
Namun kejadian itu… bukan satu-satunya.
Dua minggu lalu.
Sanggar sedang sepi. Hanya beberapa orang yang datang latihan. Aira sedang merapikan properti tari ketika seseorang masuk.
Dewa
Adik ipar dari ayah Ishaan.
Pria itu memang sering datang. Ia juga bagian dari penari di sanggar itu.
Awalnya biasa saja.
Sampai akhirnya… suasana berubah.
Cara Dewa berbicara mulai tidak nyaman.
Tatapannya berbeda.
Aira mencoba mengabaikan.
Tapi pria itu justru mendekat. Terlalu dekat.
“Aira… kamu kalau di panggung cantik banget,” ucapnya saat itu, nadanya membuat Aira merinding. Apalagi tatapan mata Dewa seolah menelanjanginya.
Aira mundur satu merinding. “Terima kasih… gue mau pulang dulu, Kak."
Namun Dewa menahan pergelangan tangannya. Detik itu… jantung Aira berdegup kencang.
"Lepasin gue, Kak!"
"{enapa sih Ai, hm? Gue gak akan nyakitin lo kok malah gue bakalan bikin lo keenakan."
Aira berdecih. "Jangan macem-macem atau lo-"
"Atau apa, sayang? Disini gak ada siapa-siapa."
Aira terus memberontak, mencoba melepaskan tangannya dari Dewa tapi Dewa semakin mendekatkan wajahnya.
Hampir… Hampir saja sesuatu yang buruk terjadi.
Beruntung, seseorang datang dari luar, membuat Dewa menjauh.
"Gue pasti akan dapetin lo, Ai!"
Aira langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Sejak hari itu… ia tidak pernah kembali bahkan untuk sekedar latihan.
Aira membuka matanya.
Napasnya terasa berat.
Dua kejadian itu… cukup.
Lebih dari cukup.
Ia tidak menyalahkan Ishaan.
Ia tau sahabatnya itu tidak tau apa-apa.
Dan justru karena itulah… Aira memilih diam. Memilih mundur. Daripada harus membuka semuanya… dan menghancurkan sesuatu yang selama ini baik-baik saja.
“Aku capek…” bisiknya lirih.
Langkahnya akhirnya bergerak.
Ia berjalan menuju pintu sanggar.
Keputusan ini mungkin akan melukai Ishaan.
Tapi Aira tau— Ia harus memilih dirinya sendiri kali ini. Dan itu… bukan hal yang salah.
***
“Apa?!” Pekikan Ishaan menggema di dalam sanggar, membuat beberapa orang yang sedang latihan menoleh sekilas. “Kenapa, Ai?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan tapi penuh tekanan.
Aira menghela napas, berusaha tetap tenang. “Ya… lo tau sendiri kan, Shaan. Gue udah mau berhijab. Jadi gue gak mau nari-nari lagi.”
Ishaan mengernyit. Pandangannya langsung jatuh pada kepala Aira. “Sekarang aja lo gak pakai hijab.”
Aira refleks menyentuh rambutnya, lalu tersenyum canggung. “Ya… itu gue lupa,” jawabnya cepat. “Mulai hari ini gue mau istiqomah. Gue gak mau ngecewain Bik Lastri… sama almarhum bunda gue lagi.”
Ada jeda.
Ishaan menatapnya lama. Seolah mencoba membaca apakah itu benar alasan utamanya… atau hanya sebagian dari sesuatu yang disembunyikan.
“Tapi…” Ishaan kembali membuka suara, “sebulan lebih lagi ada acara pernikahan di rumah Tante Mega, Ai. Dia ngarep banget lo yang isi tarian itu… sama Om Dewa.”
Nama itu—Membuat tubuh Aira menegang seketika.
Namun hanya sepersekian detik.
Ia segera mengalihkan pandangannya, berpura-pura santai.
“Oh ya?” jawabnya datar.
Ishaan tidak menyadari perubahan itu. Ia melanjutkan,
“Dan bisa pakai hijab kok. Lagipula… gue juga gak mau kejadian tiga tahun lalu keulang lagi di lo, Ai. Itu pesan almarhumah bunda gue."
Aira menelan ludah. “Iya… tapi gue tetep gak bisa,” katanya pelan namun tegas. “Masih banyak penari lain. Ada pacarnya Dewa juga kan di sini? Si Tara.”
“Sayang, Ai… uangnya lumayan,” ujar Ishaan, mencoba membujuk.
Aira tersenyum tipis. “Iya, gue tau,” katanya. “Tapi sekarang gue mau istiqomah, Shaan. Lo dukung gue kan?”
Hening sejenak.
Ishaan menghela napas panjang, berat. “Pasti lah gue dukung,” akhirnya ia berkata. “Gue sahabat lo.”
Senyum Aira kali ini sedikit lebih tulus. “Makasih, Shaan.”
“Nanti gue sampein ke Om Dewa ya,” lanjut Ishaan.
Aira hanya mengangguk. “Hm.”
Ia melirik jam di tangannya, lalu mundur selangkah. “Gue balik ya. Ntar malam gue mau gantiin Mang Arif narik.”
Ishaan langsung menatapnya heran. “Lo jadi kurir makanan?”
“Yoi,” jawab Aira ringan.
Ishaan menggeleng, setengah kagum, setengah kasihan. “Padahal bokap minta lo ke rumah.”
Aira mengernyit. “Ngapain Om Daffa minta gue ke rumah?”
Ishaan mengangkat bahu. “Gak tau."
Aira terdiam sejenak.
Ia tau.
Ia sangat tau.
Om Daffa… kakak kelas almarhum ibunya sewaktu sekolah. Orang yang sudah lama mengenalnya, bahkan sejak kecil. Dan sejak dulu juga… pria itu tidak pernah benar-benar lepas memperhatikan Aira.
Terutama saat tau kondisi Aira sekarang.
Ia ingin membantu.
Selalu ingin.
Namun justru itu yang membuat Aira menahan diri.
“Belum sempat gue,” jawab Aira akhirnya. “Sampein maaf sama salam gue aja ya… sama Om ganteng.”
Ishaan terkekeh kecil. "Eh jangan-janhan bokap gue mau jadiin lo istrinya lagi."
Mata Aira membulat seketika. "Astaga Ishaaann!! Ngawur aja lo, itu bokap lo tau!"
Ishaan hanya tertawa tanpa dosa. "Canda elah!"
"Gak lucu tau et dah ya prindapan!"
"Hahaha yaudah sana gih."
Aira mencebik lalu berbalik.
Langkahnya ringan… tapi hatinya tidak.
Ia tau keluarga Ishaan sudah banyak membantu dirinya. Terlalu banyak.
Dan meski semua itu dilakukan dengan tulus— Aira tidak ingin terus menerus menerima.
Ia tidak ingin suatu hari… merasa berhutang budi lagi.
Karena ia sudah cukup sering mendengar kalimat yang menyakitkan tentang “balas jasa”.
Aira melangkah keluar dari sanggar.
Udara sore menyambutnya. Kali ini, langkahnya tidak ragu.
Mungkin jalan yang ia pilih lebih sulit.
Mungkin ia harus bekerja lebih keras.
Tapi setidaknya—Itu adalah jalannya sendiri.
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/