Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memancing Rasa
Matahari baru saja naik ke ufuk timur, sinarnya berwarna keemasan lembut. Di depan pagar kontrakan, Langit sudah berdiri santai bersandar di motornya. Pakaiannya sederhana dan rapi: kaos coklat susu, celana jeans panjang, dan sepatu karet. Di punggungnya ada tas berisi perlengkapan pancing, dua batang joran tersandar rapi di sampingnya. Wajahnya tenang, tersenyum tipis menunggu kedatangan wanita itu.
Belum lama ia menunggu, pintu terbuka. Dinara keluar dengan penampilan sederhana tapi segar: kemeja biru laut lengan panjang yang dilipat sampai siku, celana kain krem, dan rambut panjangnya diikat tinggi rapi. Langit langsung tersenyum lebih lebar, mengangguk sopan menyambutnya.
"Pagi Mbak Dinara. Sudah siap mancing? Maaf kalau saya lebih cepat datang, saya sengaja berangkat agak pagi supaya tidak kena terik matahari," sapa Langit dengan nada lembut dan tenang.
Dinara tersenyum balik sambil menutup kontrakan. Pak Djarot dan Bu Tita diam-diam mendengar dari balik jendela.
"Pagi juga, Mas. Aku yang minta maaf karena lama siap-siapnya. Ya sebenarnya aku juga bingung apa yang harus dipersiapkan, maklum aku baru pertama kali ke tengah laut. Jadi mohon bantuannya ya Mas. "
Langit tertawa kecil, suara tawanya rendah dan ramah. Ia melangkah maju sedikit, mengulurkan tangan membantu Dinara naik ke atas jok belakang motor dengan gerakan hati-hati dan menjaga sopan santun.
"Tidak usah persiapan apa-apa, yang penting kamu nyaman dan aman. Pegangan saja di pinggiran jok ya, nanti jalannya agak berliku sedikit kalau lewat pinggir pantai."
Dinara mengangguk, tangannya memegang pinggiran jok dengan rapi.
"Iya, siap. Mas Langit hati-hati ya bawa motornya, tidak usah buru-buru."
"Tenang saja Mbak, saya biasa lewat jalan ini," jawab Langit santai, lalu menyalakan mesin motornya pelan-pelan dan mengendarainya dengan kecepatan aman.
Perjalanan ke dermaga terasa menyenangkan, sepanjang jalan mereka mengobrol santai dengan nada bicara yang akrab namun tetap menjaga batas. Sesampainya di sana, Dinara langsung terpesona melihat kapal kayu kecil yang bersih, terawat baik, dan tertambat rapi di pinggir dermaga.
"Mas, ini kapal kamu? Bagus sekali, kok bersih dan rapi begini. Kirain kapal nelayan itu semuanya berantakan dan bau amis," ujar Dinara sambil mengamati sekeliling dengan takjub.
Langit tersenyum sambil berjalan di sampingnya, menuntun langkah Dinara menjauhi papan dermaga yang sedikit licin.
"Terima kasih, Mbak. Saya memang suka merawat barang, kalau dijaga baik-baik, barang pun awet dan enak dipakai. Amis itu ikannya, kapalnya kan kayu dan besi, kalau sering dibersihkan ya bersih saja. Ayo hati-hati turunnya, pegang bahu saya kalau perlu karena agak tinggi sedikit."
Dinara menuruni kapal perlahan sambil memegang ujung bahu jaket Langit.
"Iya, makasih ya. Oh ya, kapal ini khusus kamu pakai sendiri kah?"
"Iya Mbak, kapal kecil ini khusus untuk berlayar santai atau memancing sendiri. Kapal-kapal besar untuk usaha di pelabuhan utama. Kalau saya sendiri, lebih suka yang kecil begini, lebih dekat sama lautnya," jelas Langit sambil menyalakan mesin kapal. Suara deru halus terdengar, dan perlahan kapal mulai membelah air laut yang tenang berwarna biru kehijauan.
Angin laut langsung menyapa wajah mereka lebih kencang, membuat rambut Dinara sedikit berantakan terbang ke sana ke mari. Dinara sibuk merapikan rambutnya sambil memandang takjub ke arah lautan luas yang membentang tak bertepi, bertemu dengan langit biru di kejauhan.
"Masya Allah luas sekali ya laut ini. Rasanya kalau melihat ke kejauhan, semua beban di dada rasanya ikut terbawa angin," gumam Dinara pelan, matanya berbinar damai.
Langit yang sedang memegang kemudi menoleh sebentar, matanya ikut memandang luasnya samudra dengan tatapan teduh.
"Betul, Mbak. Laut itu tempat paling damai buat saya. Kalau hati sedang berat atau sedih, datanglah ke sini. Lihatlah seberapa luasnya air, seberapa tingginya langit. Nanti kita jadi sadar, bahwa masalah manusia itu kecil sekali dibandingkan kebesaran Tuhan. Di sini kita belajar rendah hati."
Dinara menoleh, menatap wajah samping Langit yang tampak begitu tenang dan bijaksana. Kata-kata itu sederhana, namun maknanya begitu dalam, seolah ditujukan khusus untuk menenangkan sisa-sisa luka di hati Dinara.
"Benar-benar ucapan yang sangat bermakna, Mas." puji Dinara tulus.
Langit tersenyum simpul, sedikit menggelengkan kepala.
" Itu pelajaran hidup saja, Mbak. Saya sudah sering jatuh, jadi tahu mana yang benar dan mana yang tidak. Nah sebentar lagi sampai tempat yang pas untuk mancing, disini airnya dalam dan tenang, biasanya ikan-ikan besar suka lewat sini."
Setelah perjalanan sekitar 20 menit, Langit mematikan mesin kapal. Keheningan damai menyelimuti mereka, hanya diisi suara deburan ombak kecil ke lambung kapal dan suara burung camar yang sesekali melintas. Langit segera menyiapkan dua batang pancing, lalu memberikan satu yang lebih ringan dan nyaman genggamannya ke tangan Dinara.
"Nah ini alatnya Mba, ini yang lebih ringan senarnya juga lentur, pas buat pemula. Begini caranya pasang umpannya, potong sedikit cuminya terus pasang di kailnya dengan rapat, tapi jangan sampai kailnya tertutup semua. Nanti ikannya gigit tapi tidak nyangkut."
Langit menjelaskan pelan dan sabar, tangannya bergerak cekatan namun lembut mendemonstrasikan cara memasang umpan. Dinara mengamati dengan saksama, lalu mencoba melakukannya sendiri. Tangannya agak kaku dan ragu-ragu, jarinya sedikit gemetar karena takut terkena bagian tajam kail.
"Mas ini tajam banget ya. Aku takut tergores, tanganku gemetar ini," ucap Dinara pelan.
Langit langsung menyadari keraguan Dinara, ia berdiri di sisi yang aman lalu mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Sini biar saya bantu. Pegangannya begini saja, jari-jari kamu ditekuk sedikit supaya aman. Pelan saja tidak perlu terburu-buru. Tangan kamu harus dijaga baik-baik, jangan sampai terluka gara-gara kail pancing."
Gerakan tangan Langit menuntun tangan Dinara begitu lembut dan hati-hati. Ucapannya tenang, tidak ada nada menggoda atau berlebihan, tapi perhatiannya begitu jelas terasa, membuat hati Dinara terasa hangat dan nyaman.
"Gampang kan?"
" Lumayan juga Mas. "
"Nanti kalau sudah dilempar senarnya, kita diam saja menunggu. Memancing itu seni menunggu, Mbak. Kita nikmati saja waktu diamnya sambil lihat pemandangan. Nanti kalau ada yang gigit, jorannya bakal melengkung sendiri, rasanya ada tarikan halus dari bawah."
Dinara mengangguk paham, lalu melempar senarnya ke arah yang ditunjuk Langit dengan hati-hati.
"Terima kasih ya sudah sabar mengajari aku. Mudah-mudahan ada yang nyangkut mau makan umpanku."
Langit ikut melempar senarnya sendiri, lalu duduk bersandar di pinggiran kapal di samping Dinara dengan jarak sopan.
"Sama-sama Mbak. Kalau dingin bilang ya, angin laut ini kadang tiba-tiba kencang."
" Nggih Mas."
Belum lama mereka duduk diam menikmati suasana, angin berhembus agak kencang dan sejuk membuat Dinara sedikit menggigil dan tanpa sadar menggosok-gosok lengannya. Langit yang peka langsung menangkap gerakan kecil itu. Tanpa banyak bicara ia segera melepas rompi tebal yang ia pakai, lalu menyampirkan ke bahu Dinara dengan lembut namun pasti.
"Pakai ini saja, Mbak. Jangan ditolak, anginnya mulai kencang. Nanti kamu masuk angin, kasihan nanti badannya sakit. Saya sudah biasa di laut, kulit saya sudah terbiasa sama angin begini."
Nada bicaranya tegas tapi penuh kelembutan, seolah itu kewajiban mutlak baginya untuk menjaga kenyamanan wanita di sampingnya. Dinara menarik ujung rompi tebal itu lebih rapat ke tubuhnya, merasakan hangat sisa badan Langit yang masih tersisa di sana, aroma tubuhnya yang bersih bercampur wangi laut.
"Terima kasih ya, Mas. Sudah mengajak aku mancing, terlebih memperhatikan keselamatan dan kenyamananku," ucap Dinara pelan.
Langit tersenyum lembut, menatap jauh ke arah cakrawala yang memudar menjadi biru muda.
"Mungkin karena kita senasib sepenanggungan ya, Mbak. Sama-sama pernah merasakan pahitnya hidup, sama-sama pernah jatuh. Jadi saya mengerti rasanya butuh diperhatikan, butuh dijaga, dan butuh merasa aman. Almarhum bapak pernah berpesan sama saya, laki-laki itu tugas utamanya bertanggung jawab. Kalau sudah ada wanita di dekatnya, wajib hukumnya menjaga kenyamanan dan keselamatannya. Itu bukan rayuan tapi prinsip saya."
Dinara diam mendengarkan, hatinya meleleh sepenuhnya. Laki-laki ini persis sekali tipe yang selalu ia impikan. Laki-laki yang tenang, yang bijak, yang asyik diajak mengobrol, tapi yang paling penting, Langit adalah laki-laki yang tahu cara menghargai dan menjaga wanita tanpa harus banyak bicara manis atau bersikap berlebihan. Laki-laki yang menunjukkan ketulusan lewat tindakan, bukan lewat kata-kata genit.
Belum sempat Dinara membalas ucapan itu, tiba-tiba joran di tangannya melengkung tajam ke bawah, tali senarnya ditarik kencang sampai bergetar kuat.
"Mas Langit! Ada yang menarik! Mas, lihat ini... berat sekali rasanya!" seru Dinara kaget, matanya terbelalak campur rasa kaget dan antusias.
Langit langsung melompat berdiri sigap, wajahnya berubah fokus namun matanya berbinar senang melihat semangat Dinara. Ia berdiri tepat di sisi wanita itu, siap membantu tapi tidak merebut kendali.
"Tenang Mba jangan panik! Pegang erat-erat gagangnya, jangan ditarik mendadak. Biarkan dia menarik dulu sampai tenaganya habis, jangan dilawan paksa nanti senarnya putus. Kalau dia diam berhenti menarik, baru kita gulung pelan-pelan senarnya. Ayo pelan saja, kamu pasti bisa."
Langit memberi arahan dengan suara tenang dan meyakinkan, nada bicaranya lembut tapi tegas, membuat rasa cemas Dinara perlahan hilang berganti rasa percaya diri.
"Berat sekali nih, Mas. Sepertinya besar sekali ikannya," keluh Dinara sambil tertawa kecil, napasnya sedikit memburu menahan beban tarikan dari dalam air.
"Kuat sedikit lagi, kamu wanita hebat, saya tahu kamu sanggup. Di laut ini kita berdua tim, ya. Kamu yang kendalikan, saya yang awasi sampingan. Tenang saja, tidak akan saya biarkan kamu kalah sama ikan atau sampai celaka sedikit pun."
Ucapan itu sederhana, tapi rasa aman yang ditimbulkannya begitu besar. Selama hampir sepuluh menit mereka berjuang bersama. Dinara memegang kendali dengan gigih sementara Langit berdiri siaga di sampingnya, sesekali menuntun posisi tangan Dinara agar lebih kuat, sesekali mengingatkan untuk bernapas dengan tenang.
"Nah dia mulai lelah. Sekarang tarik pelan-pelan... gulung lagi... nah begitu... bagus sekali!" arah Langit dengan nada bangga yang nyata.
Perlahan tapi pasti, seekor ikan kakap merah besar menyembul ke permukaan air, tubuhnya berwarna keperakan kemerahan yang indah, ekornya memukul-mukul air hebat. Langit segera mengambil jala besar yang sudah disiapkan, lalu dengan gerakan cekatan dan terampil, ia menyambar ikan itu dan mengangkatnya naik ke atas kapal.
"Wih! Besar sekali, Mbak! Hebat sekali kamu, baru pertama kali langsung dapat kakap merah sebesar ini. Jarang sekali dapat yang sebesar ini di kedalaman begini," seru Langit antusias, wajahnya tampak lebih bahagia daripada Dinara sendiri. Ia meletakkan ikan itu ke dalam kotak berisi air dengan hati-hati agar tidak rusak.
Dinara bertepuk tangan kecil sambil tersenyum bahagia, wajahnya bersinar terang terkena sinar matahari.
"Wah, bagus sekali warnanya, merah cantik mempesona. Terima kasih ya Mas, makasih sudah ajari aku, makasih sudah sabar banget. Kalau tidak ada kamu, pasti ikannya sudah kabur atau aku yang sudah pusing sendiri."
Langit berdiri tegap di hadapannya, menatap wajah cantik Dinara dengan tatapan lembut, dalam, dan penuh rasa hormat, tatapan yang membuat Dinara merasa menjadi wanita paling berharga di dunia ini.
"Terima kasih kembali, Dinara. Kamu hebat sekali lho, lebih hebat dari yang saya bayangkan. Sabar, tekun, dan kuat. Ikan ini cuma bonus kecil lho buat saya. Hal yang paling berharga hari ini adalah bisa melihatmu tersenyum bahagia di samping saya."
Dinara terdiam, menatap manik mata Langit yang begitu tulus dan jujur. Di hadapannya berdiri laki-laki yang sempurna, laki-laki yang memenuhi setiap kriteria lelaki idaman yang ia cari sejak dulu, baik, sopan, tenang, pekerja keras, dan yang paling utama adalah laki-laki yang menghargainya dengan sepenuh hati tanpa pernah bersikap berlebihan atau kurang ajar.
Angin laut berhembus lembut, mengibarkan ujung rompi yang dipakai Dinara. Di kejauhan, matahari semakin naik tinggi, bersinar terang dan hangat, menyinari dua manusia yang berdiri berhadapan di atas kapal kecil itu. Laut yang luas, langit yang biru, dan ikan besar hasil tangkapan mereka menjadi saksi bisu momen berdua tanpa rasa kaku seperti saat jadi model konten Mbak Nina.
Dinara tersenyum, senyum yang paling tulus dan paling bahagia sejak saat putusan pengadilan itu. Senyum yang melepaskan sisa-sisa rasa sakit masa lalu, dan menyambut kebahagiaan yang kini datang mengetuk pintu hatinya.
"Yaudah, ayo lanjut mancing lagi ya, Mas! Aku mau cari yang lebih besar lagi, biar nanti kita bisa makan bareng sama Bapak dan Ibu," seru Dinara bersemangat sambil kembali memegang jorannya dengan percaya diri.
Langit tertawa renyah, suara tawanya bergema indah terbawa angin laut, tenang dan bahagia.
"Siap, Mbak. Ayo kita cari lagi. Yang penting kamu senang, saya ikut bahagia saja. "
Di atas kapal kecil itu, di tengah lautan luas, dua hati yang pernah hancur perlahan menyatu, ditenun oleh kelembutan, perhatian, dan ketulusan yang murni.
kok udh tamat aj kk othor?😔☹️
Terimakasih ya sudah membersamai Dinara dan Langit dari awal sampai akhir.
Sampai bertemu lagi di buku selanjutnya.
Sekarang saia sedang mempersiapkan buku baru di Tatangga Oren. love you all 🥰
"Semoga Allah memberkahimu atas anugerah yang diberikan kepadamu, kamu mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga anak ini mencapai usia dewasa, dan kamu diberi rezeki berupa baktinya anak tersebut."
Aamiin 🤲 Selamat utk Dinara, mas Langit & kedua ortu atas kelahiran anak pertamanya 🙏💐🎊
Selamat u Dinara n mas Langit dah resmi jadi Ortu... 🥰🥰