Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Bibiku Datang
Ponsel di tangan Arkana masih menyala terang di tengah remang kamar balkon. Nama “MIRANTI KUSUMA” terpampang jelas di layar hitam itu. Dalam sekejap, tubuh Kemuning langsung menegang keras di pelukan Arkana. Napas gadis itu berubah pendek dan gemetar tanpa bisa ia kendalikan.
Nama itu selalu membawa rasa takut yang sama. Seperti luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Kemuning bahkan merasa ujung jemarinya ikut dingin hanya karena mendengarnya. Selama bertahun-tahun, Miranti adalah sumber semua ketakutan dalam hidupnya.
Arkana langsung menyadari perubahan itu. Tubuh kecil di pelukannya tadi masih gemetar pelan. Tanpa sadar, pria itu mengeratkan lengannya sedikit sebelum mengangkat telepon. Tatapannya tetap tertuju pada wajah pucat Kemuning.
“Aku di sini,” ucap Arkana rendah sebelum menjawab panggilan itu. Kalimat sederhana tersebut membuat dada Kemuning langsung sesak. Suara pria itu terdengar begitu tenang dan melindungi. Dan untuk alasan yang semakin berbahaya, Kemuning mulai bergantung pada ketenangan itu.
Arkana akhirnya menerima telepon tersebut. Suara Miranti langsung terdengar dari seberang dengan nada panik dan bergetar. Namun entah kenapa, kepanikan itu terdengar terlalu dibuat-buat di telinga Arkana. Pria itu langsung menangkap nada manipulatif di balik suaranya.
“Kemuning ada di sana, kan?” suara Miranti terdengar tergesa. “Saya cuma khawatir sama anak itu. Ada masalah besar sekarang. Masalah hutang... dan keselamatan mereka.”
Kemuning langsung menatap Arkana gugup. Ia belum pernah mendengar bibinya bicara selembut itu padanya. Biasanya Miranti hanya memaki atau membentaknya tanpa ampun. Dan perubahan mendadak itu justru membuat Kemuning semakin bingung.
Namun Arkana tidak percaya sedikit pun. Tatapan pria itu berubah semakin dingin selama mendengar suara Miranti. Instingnya mengatakan wanita itu sedang menginginkan sesuatu. Dan Arkana sangat jarang salah soal instingnya.
“Apa maumu?” tanya Arkana datar. Nada suaranya membuat Kemuning ikut merinding. Di seberang sana, Miranti langsung terdiam sesaat. Wanita itu jelas gugup menghadapi aura Arkana Mahendra.
Miranti akhirnya meminta bertemu langsung di mansion Mahendra besok pagi. Katanya ada sesuatu yang harus dibicarakan langsung soal Kemuning. Sesuatu yang terlalu berbahaya jika dibahas lewat telepon. Dan ucapan itu membuat wajah Kemuning semakin pucat.
Ia langsung panik begitu telepon selesai. “Bibiku jangan sampai membuat masalah lagi,” lirihnya takut. “Agam pasti takut kalau melihat dia dan Nyonya Ratih pasti semakin membenciku.”
“Biarkan dia datang.” Jawaban Arkana keluar cepat dan dingin. Nada suaranya penuh kontrol seolah semuanya ada dalam genggamannya.
Kemuning langsung menoleh pelan menatap pria di depannya. Arkana terlihat terlalu tenang menghadapi ancaman seperti ini. Namun justru ketenangan itulah yang membuat jantung Kemuning semakin kacau. Ia kembali meminta maaf dengan suara kecil. Merasa dirinya lagi-lagi membawa masalah ke hidup pria itu. Dan kali ini, Arkana benar-benar kehilangan kesabaran.
Pria itu menahan dagu Kemuning lebih tegas. Kemuning langsung membeku saat wajah mereka kembali terlalu dekat. Tatapan Arkana begitu gelap dan intens sampai sulit dihindari. Napas hangat pria itu bahkan menyentuh wajahnya samar.
“Kau pikir aku masih membiarkanmu di sini karena kasihan?”
Kalimat itu menghantam Kemuning jauh lebih keras dari seharusnya. Jantungnya langsung berdetak kacau di balik dada. Ia mulai sadar perhatian Arkana sudah terlalu dalam untuk disebut belas kasihan. Dan kesadaran itu justru membuatnya takut kehilangan pria itu lebih jauh.
Arkana perlahan mengusap sisa air mata di pipi Kemuning dengan ibu jarinya. Sentuhan lembut itu membuat napas Kemuning kembali tidak stabil. Tatapan pria itu terasa terlalu dekat dan terlalu hangat malam ini. Hampir seperti pengakuan yang tidak berani mereka ucapkan.
Namun Arkana akhirnya menjauh lebih dulu. Rahang pria itu mengeras pelan seperti sedang menahan sesuatu. Sedangkan Kemuning hanya bisa berdiri diam dengan jantung kacau. Malam itu terasa terlalu penuh untuk dipahami.
Pagi di mansion Mahendra terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Para pelayan bergerak cepat menyiapkan ruang tamu utama. Ratih duduk elegan sambil meminum teh tanpa banyak bicara, sedangkan Kemuning tidak bisa berhenti gelisah sejak bangun tidur. Agam bahkan langsung menangis kecil saat mendengar nama Miranti disebut. Anak itu refleks memeluk pinggang Kemuning erat. Wajah kecilnya pucat penuh ketakutan. Ia benar-benar trauma pada wanita itu sekarang.
“Aku nggak mau ketemu Bibi,” bisik Agam gemetar. “Kakak jangan tinggalin Agam.”
Kemuning langsung memeluk kepala adiknya penuh rasa bersalah. Dadanya terasa sakit melihat ketakutan itu.
Arkana yang berdiri tak jauh dari mereka memperhatikan diam-diam. Tanpa sadar, pria itu mengusap kepala Agam pelan. Sentuhan sederhana yang dulu mustahil dilakukan Arkana Mahendra. Namun sekarang terasa begitu natural di dekat mereka.
Ratih melihat semuanya dari jauh. Dan untuk pertama kalinya, wanita itu benar-benar merasa takut. Arkana sudah bertindak seperti kepala keluarga bagi Kemuning dan Agam. Dan kedekatan itu berkembang terlalu cepat.
Tak lama kemudian, suara mobil memasuki halaman mansion terdengar pelan. Tubuh Kemuning langsung menegang refleks. Agam bahkan buru-buru bersembunyi di belakang Arkana. Anak kecil itu memegang ujung kemeja pria tersebut erat-erat.
Mobil hitam tua berhenti di depan mansion besar Mahendra. Miranti turun dengan pakaian mencolok dan perhiasan berlebihan. Wajahnya dibuat sedih dan penuh penyesalan. Namun sorot matanya tetap licik dan penuh hitungan.
Begitu melihat kemewahan mansion Mahendra, matanya langsung berubah. Ada rasa iri yang tidak bisa disembunyikan di sana. Miranti baru sadar Kemuning kini hidup jauh lebih baik dibanding dirinya. Dan rasa iri itu perlahan berubah menjadi niat buruk.
Saat pintu mansion terbuka, suasana langsung membeku. Kemuning turun tangga bersama Arkana dan Agam. Agam langsung bersembunyi di belakang tubuh Arkana begitu melihat Miranti, sedangkan Kemuning refleks memucat ketakutan.
Arkana berdiri sedikit di depan mereka. Posisinya jelas seperti pelindung tanpa perlu mengatakan apa pun. Tatapan pria itu dingin dan penuh tekanan. Membuat Miranti mulai benar-benar gugup.
“Kemuning,” suara Miranti langsung dibuat bergetar. “Bibi cuma khawatir sama kalian.” Wanita itu bahkan pura-pura menangis sambil melangkah mendekat.
Namun Agam justru menangis histeris ketakutan. “Jangan bawa Agam lagi!”
Suasana ruang tengah langsung sunyi total. Tangisan kecil Agam menghancurkan topeng Miranti seketika. Wajah wanita itu langsung berubah panik, sedangkan tatapan Arkana perlahan berubah sangat gelap.
Untuk pertama kalinya, Miranti benar-benar takut pada Arkana Mahendra. Aura pria itu terasa dingin dan menekan seluruh ruangan, bahkan para pelayan ikut menunduk tegang. Tak seorang pun berani bersuara.
Mahardika akhirnya masuk ke ruang tengah saat suasana memanas. Pria tua itu langsung menangkap ketegangan di udara. Tatapannya berhenti pada Miranti yang terlihat gelisah, lalu perlahan berubah tajam.
Miranti menelan ludah sebelum akhirnya bicara cepat. “Aku datang bukan buat minta maaf. Ada orang yang lagi cari Kemuning dan mereka sudah tahu semuanya.”
Kemuning langsung membeku, sedangkan Arkana menyipitkan mata dingin. Ratih ikut menatap Miranti tajam dari sofa. Suasana ruangan berubah semakin mencekam.
“Maksudmu apa?” suara Mahardika terdengar berat.
Miranti menatap Kemuning beberapa detik terlalu lama, lalu wanita itu berkata dengan suara pelan namun membuat seluruh ruangan membeku. “Mereka tahu anak Bagaskara masih hidup.”
Kemuning langsung tidak mengerti apa maksud ucapan itu. Mahardika yang menuju ruang tamu tiba-tiba berhenti berjalan dengan ekspresi berubah tajam, sedangkan Arkana perlahan menyadari satu hal yang jauh lebih besar. Masa lalu orang tua Kemuning ternyata jauh lebih berbahaya dari yang mereka kira.