NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pengakuan di Bawah Atap Bocor

​Amukan badai di luar gubuk terdengar seperti raungan monster yang kelaparan. Hujan turun layaknya tirai air yang tebal, menghantam atap rumbia dan daun-daun jati di sekeliling mereka dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Angin kencang menyusup melalui celah-celah dinding anyaman bambu yang sudah lapuk, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang.

​Di dalam ruang berukuran tak lebih dari dua kali dua meter itu, kegelapan berkuasa mutlak. Hanya kilatan petir yang sesekali menyambar, memberikan pencahayaan sedetik yang memperlihatkan debu dan jaring laba-laba di sudut gubuk.

​Gani menyandarkan punggungnya ke dinding bambu yang terasa lembap. Dada pria itu masih naik turun dengan ritme yang memburu. Berlarian mendaki bukit lumpur sambil menggendong Kirana sejauh lima ratus meter telah menguras nyaris seluruh cadangan oksigen di paru-parunya.

​Namun, bukan kelelahannya sendiri yang menjadi fokus Gani saat ini.

​Di sebelahnya, Kirana duduk memeluk lutut. Gadis itu tenggelam di dalam jaket parka abu-abu milik Gani. Meski lapisan luar jaket itu basah kuyup oleh hujan, bagian dalamnya masih cukup kering. Tubuh Kirana bergetar pelan. Suara giginya yang bergemeretak menahan dingin terdengar jelas di sela-sela gemuruh hujan.

​Gani segera menggeser posisinya mendekat. Tanpa meminta izin, ia merengkuh tubuh mungil itu, menarik Kirana agar bersandar pada bidang dadanya. Ia melingkarkan kedua lengannya yang besar menutupi tubuh gadis itu, menciptakan sebuah kepompong kehangatan dari panas tubuhnya sendiri.

​Kirana tersentak kecil karena gerakan tiba-tiba itu, namun ia tidak menolak. Ia membiarkan dirinya ditarik ke dalam pelukan Gani, menyandarkan kepalanya di lekukan leher pria itu.

​"Kau kedinginan," gumam Gani, suaranya serak dan bergetar tepat di telinga Kirana. Ia mengusap-usap kedua lengan atas gadis itu dari luar jaket dengan gerakan cepat untuk memicu gesekan hangat. "Napasmu bagaimana? Ada yang sesak?"

​"T-tidak..." jawab Kirana terbata-bata, suaranya teredam oleh syal tebalnya. "Hanya... sedikit kaget. Dingin sekali."

​Gani mengutuk dalam hati. Ia mengutuk hujan, ia mengutuk rawa, dan yang paling keras, ia mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan gadis ini membujuknya keluar malam ini. Jika sampai kondisi jantung Kirana kembali drop karena hipotermia, Gani bersumpah ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri seumur hidup.

​"Bertahanlah," bisik Gani, mengeratkan pelukannya, menyalurkan setiap derajat suhu tubuh yang ia miliki. "Begitu hujannya mereda, kita akan langsung berlari ke puskesmas. Aku akan membangunkan Pak Mantri kalau perlu mendobrak pintunya."

​Kirana tertawa pelan, tawa yang terdengar lemah namun tulus. "Pak Mantri bisa jantungan kalau pintunya kau dobrak tengah malam begini, Komandan."

​Gadis itu sedikit mendongak, mencoba melihat wajah Gani dalam keremangan. Kilatan petir kembali menyambar di luar, memberikan Kirana kesempatan sepersekian detik untuk melihat rahang Gani yang mengeras dan matanya yang dipenuhi kepanikan.

​Kirana mengeluarkan tangan kanannya dari balik selimut jaket, lalu menyentuh pipi Gani yang basah oleh air hujan. Kulit pria itu terasa dingin.

​"Gani... kausmu basah kuyup," bisik Kirana, menyadari bahwa Gani hanya mengenakan kaus oblong tipis setelah meminjamkan jaket tebalnya. "Kau yang akan sakit kalau terus memelukku seperti ini dengan baju basah."

​"Fisikku seratus kali lebih kuat darimu, Tiran Kecil. Jangan memedulikanku," sahut Gani keras kepala, menangkap tangan Kirana yang menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya dan memasukkannya kembali ke dalam jaket agar tangan itu tetap hangat. "Tugasmu sekarang hanya satu: berhentilah menggigil."

​Namun, di ruangan sempit yang diisolasi oleh suara hujan itu, kedekatan fisik mereka menciptakan sebuah resonansi baru. Hawa dingin dari luar perlahan mulai kalah oleh suhu tubuh mereka yang saling bertukar. Aroma maskulin dari tubuh Gani—campuran antara keringat, hujan, dan kayu—menguar kuat, membuat Kirana merasa seolah ia sedang berlindung di dalam sebuah benteng yang tak tertembus.

​Selama beberapa belas menit, tidak ada yang bersuara. Mereka membiarkan alam yang mengamuk menjadi satu-satunya pembicara.

​Perlahan, getaran di tubuh Kirana mulai mereda. Kehangatan dari dada Gani berhasil mengembalikan suhu tubuh gadis itu ke tingkat normal. Ia menghela napas panjang dan teratur.

​"Maaf," suara Kirana tiba-tiba memecah keheningan, terdengar sangat kecil dan rapuh.

​Gani menundukkan pandangannya. "Untuk apa?"

​"Untuk malam ini. Karena memaksamu pergi ke rawa. Karena membuat kita terjebak di gubuk tua ini," Kirana menelan ludah. "Tarian kunang-kunangnya... aku mengacaukannya."

​Gani menghela napas panjang. Ia menempelkan pipinya ke puncak kepala Kirana, menghirup aroma rambut gadis itu. "Kau tidak mengacaukan apa-apa. Hujan adalah siklus alam. Lagipula, aku sudah sempat memotretnya. Kau terlihat sangat indah di tengah cahaya itu, Kirana."

​Jantung Kirana kembali berdebar, kali ini dengan ritme yang melompat-lompat gembira. Ingatan tentang apa yang hampir terjadi di tepi rawa tadi kembali menyergapnya. Wajah Gani yang mendekat. Hembusan napas yang menyapu kulitnya. Bibir mereka yang hanya berjarak hitungan milimeter sebelum tetesan hujan pertama menghancurkan momen itu.

​"Tadi..." Kirana memulai, suaranya sedikit ragu, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. "Tadi di rawa... kau bilang aku adalah kunang-kunang yang menerangi rawamu. Apa... apa maksudnya, Gani?"

​Gani terdiam. Otot lengannya yang melingkari tubuh Kirana sedikit menegang. Di tepi rawa tadi, di bawah pendaran cahaya ajaib, sangat mudah baginya untuk menyerah pada emosi dan melontarkan kalimat puitis. Namun sekarang, di dalam gubuk gelap yang dingin ini, pertanyaan itu menuntut sebuah kejujuran yang menakutkan baginya.

​Gani tidak pernah pandai bicara soal perasaan. Di kehidupan lamanya, romansa adalah soal transaksi. Makan malam mahal, perhiasan, liburan ke luar negeri. Namun dengan Kirana, hal-hal material itu tidak berlaku. Gadis ini hanya menuntut transparansi jiwa.

​"Kau tahu betul apa maksudnya, Kirana," jawab Gani akhirnya, suaranya merendah hingga menjadi bariton yang dalam.

​"Aku ingin mendengarnya darimu," desak Kirana lembut, menyandarkan kepalanya lebih nyaman di dada Gani. "Aku ingin tahu, seberapa gelap rawa yang ada di dalam dirimu, sampai kau merasa butuh cahayaku."

​Permintaan itu sangat sederhana, namun memaksa Gani untuk membuka kembali jahitan luka yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Ia tahu, ia tidak bisa lagi menyimpan masa lalunya sendirian. Terutama setelah surat dari Jakarta itu datang. Kirana berhak tahu iblis apa yang sedang mengejar mereka.

​Gani menarik napas panjang, menatap lurus ke arah kegelapan di luar celah pintu gubuk.

​"Rawaku sangat gelap, Kirana," Gani memulai, suaranya terdengar hampa, melempar kembali kesadarannya ke sebulan yang lalu. "Gelap, berbau busuk, dan dipenuhi oleh pengkhianatan."

​Kirana tidak menyela. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada pinggang Gani, memberikan sinyal bahwa ia ada di sana, mendengarkan.

​"Raka... pria yang namanya sering kusebut itu," lanjut Gani. "Dia bukan sekadar rekan bisnis. Kami tidur di kamar kos yang sama saat kuliah. Kami makan mi instan sebungkus berdua saat kami belum punya apa-apa. Saat ayahku meninggal, Raka yang mengurus semua administrasi pemakamannya di desa karena aku sedang ujian akhir di Jakarta. Bagiku, dia lebih dari seorang saudara."

​Gani menelan ludah yang terasa pahit. "Saat firma arsitektur kami mulai sukses, kami mulai menangani proyek-proyek besar. Aku yang mendesain, Raka yang mengurus keuangan dan investor. Aku terlalu percaya padanya. Aku menandatangani dokumen-dokumen procurement (pengadaan) tanpa membacanya, karena aku pikir tidak mungkin saudaraku sendiri akan mencelakaiku."

​Kilatan petir kembali menyambar, seolah memberikan efek dramatis pada cerita Gani.

​"Tapi uang bisa mengubah manusia menjadi monster," suara Gani mulai bergetar oleh amarah yang tertahan bertahun-tahun. "Dia memalsukan spesifikasi material. Membeli bahan murahan namun menagih harga premium pada investor. Sisanya, ia masukkan ke rekening pribadinya di luar negeri. Saat struktur bangunan proyek terbesar kami bermasalah dan diaudit... Raka menghilang. Dia kabur, meninggalkan namaku di semua dokumen yang bermasalah."

​Kirana menahan napasnya. Membayangkan sahabat terdekat menusuk dari belakang adalah sebuah rasa sakit yang tidak bisa ia bayangkan. "Lalu... apa yang terjadi?"

​"Hancur," Gani tertawa sinis, tawa yang tidak memiliki unsur humor sama sekali. "Investor menuntutku. Perusahaanku disita. Rekeningku dibekukan. Tapi tahukah kau apa yang paling menghancurkanku, Kirana? Bukan uangnya. Uang bisa dicari lagi."

​Gani menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di rambut Kirana.

​"Yang paling menghancurkanku adalah Sania," bisik Gani, menyebut nama wanita itu untuk pertama kalinya. "Dia tunanganku. Kami berencana menikah bulan depan. Aku mencintainya, atau setidaknya... kupikir aku mencintainya. Saat sidang kebangkrutanku berlangsung, dia datang. Aku berharap dia akan memelukku, bilang bahwa kita bisa memulai semuanya dari nol."

​Dada Gani naik turun dengan cepat. Ingatan tentang cincin yang berdenting di lantai marmer itu kembali memutar layarnya di dalam kepala.

​"Tapi dia justru berdiri di ruang sidang. Dia melepaskan cincin pertunangan kami, menjatuhkannya ke lantai, dan menatapku dengan sorot mata jijik. Dia bilang aku bukan pria yang pantas untuknya lagi. Dia bilang dia butuh pria dengan masa depan, bukan pecundang dengan tumpukan utang."

​Suara Gani pecah di akhir kalimat. Kesombongan dan topeng CEO-nya runtuh tak tersisa. Di dalam gubuk yang dingin itu, ia hanyalah seorang pria yang hatinya pernah dicabik-cabik hingga tak berbentuk.

​"Hari itu, aku menyadari bahwa aku tidak punya siapa-siapa. Semua orang yang ada di sekelilingku hanya mencintai 'Gani si Arsitek Sukses'. Tidak ada satupun yang mencintai 'Gani'. Saat hartaku hilang, nilai kemanusiaanku di mata mereka ikut hilang. Itulah kenapa aku kembali ke desa ini membawa tali nilon, Kirana. Aku merasa tidak berguna. Aku merasa bahwa eksistensiku di bumi ini hanyalah sebuah lelucon."

​Keheningan yang luar biasa berat mengambil alih. Hujan di luar seolah ikut meredam suaranya, memberikan ruang bagi kesedihan Gani untuk bergema.

​Namun, alih-alih merespons dengan kata-kata kasihan atau membelai kepalanya dengan penuh simpati seperti yang dilakukan tokoh-tokoh dalam novel, Kirana melakukan hal yang sama sekali berbeda.

​Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Gani. Ia mendongak, mengangkat kedua tangannya keluar dari balik jaket, lalu menangkup wajah pria itu. Telapak tangan Kirana terasa hangat sekarang.

​Dalam kegelapan yang sesekali diterangi kilat, Gani bisa melihat mata Kirana yang menyala oleh ketegasan yang luar biasa berani. Tidak ada rasa kasihan di sana. Yang ada hanyalah sebuah validasi yang membakar.

​"Dengarkan aku, Gani Raditya," ucap Kirana, suaranya sangat jelas dan tegas, memotong semua keraguan di kepala Gani. "Wanita bernama Sania itu... dia adalah orang paling buta dan paling bodoh yang pernah ada di dunia ini."

​Gani tertegun. Matanya membelalak kecil mendengar makian kasar yang sangat tidak biasa keluar dari mulut gadis itu.

​Ibu jari Kirana mengusap tulang pipi Gani. "Dia buta karena dia tidak bisa melihat bahwa nilai dirimu tidak terletak pada angka di rekening bank. Dia bodoh karena membuang seorang pria yang rela menghancurkan tangannya sendiri memotong bambu, hanya demi membangun tempat perlindungan untuk seorang gadis cacat dan anak-anak desa."

​"Kirana—"

​"Jangan memotongku," sela Kirana cepat, matanya berkaca-kaca namun suaranya tidak goyah. "Dulu, saat kau berdiri di ruang sidang itu, mungkin kau merasa tidak punya siapa-siapa yang mencintai dirimu apa adanya. Tapi itu dulu. Jangan pernah membawa perasaan itu ke desa ini."

​Kirana mencondongkan tubuhnya ke depan. "Karena di sini... di Karangbanyu... kau adalah pahlawan bagi Udin. Kau adalah pemuda kebanggaan bagi Pak Kades dan Kang Ujang. Dan bagiku..."

​Suara Kirana merendah, berubah menjadi sebuah bisikan yang membelai relung hati Gani yang paling rapuh.

​"...bagiku, kau adalah pria yang membawakanku semangkuk bubur polos saat aku sekarat. Kau adalah pria yang menggendongku menembus badai agar aku tidak kedinginan. Sania mungkin kehilangan seorang arsitek kaya raya. Tapi aku... aku menemukan seorang pria dengan hati paling besar yang pernah kukenal."

​Tenggorokan Gani tercekat hebat. Ribuan ton beban tak kasat mata yang selama ini bertengger di pundaknya, hancur lebur menjadi debu dalam satu kedipan mata.

​Semua validasi yang selama ini ia cari dari dunia luar, semua pengakuan yang ia kejar setengah mati di Jakarta, ternyata bisa ia dapatkan secara utuh dari seorang gadis desa di dalam gubuk tua yang bocor. Kirana tidak hanya menghentikannya dari bunuh diri; gadis ini telah menjahit kembali jiwa Gani yang robek, benang demi benang.

​"Tiran Kecil..." suara Gani bergetar. Ia menaikkan tangannya, menutupi punggung tangan Kirana yang masih menangkup wajahnya.

​"Kau bukan pecundang, Gani," bisik Kirana lagi, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Dan kau sangat, sangat pantas untuk dicintai."

​Kalimat terakhir itu meruntuhkan sisa jarak di antara mereka.

​Gani tidak bisa menahannya lagi. Logikanya, ketakutannya akan penyakit Kirana, kecemasannya pada masa depan—semuanya tersapu bersih oleh luapan cinta yang begitu masif.

​Gani menundukkan wajahnya, memangkas jarak yang sempat tertunda di tepi rawa tadi. Kali ini, tidak ada keraguan, tidak ada tetesan hujan yang menginterupsi.

​Bibir Gani menyentuh bibir Kirana dengan sangat lembut. Sebuah ciuman yang tidak ditunggangi oleh nafsu, melainkan dipenuhi oleh rasa syukur, pemujaan, dan janji perlindungan yang absolut.

​Kirana memejamkan matanya rapat-rapat, membalas ciuman itu. Air matanya turun membasahi pipi mereka yang bersentuhan. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan Gani, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang seirama dengan miliknya. Di tengah badai yang mengamuk, ciuman itu adalah sebuah proklamasi sunyi: bahwa mereka mungkin adalah dua jiwa yang hancur, namun bersama-sama, mereka telah menemukan jalan pulang.

​Ketika Gani perlahan menarik wajahnya, ia menyandarkan keningnya ke kening Kirana. Napas mereka saling berbaur dalam ruang sempit yang kini terasa begitu hangat.

​Gani menatap mata Kirana dalam keremangan. "Aku mencintaimu, Kirana," bisiknya, mengucapkan tiga kata yang sudah lama kehilangan maknanya di masa lalunya, kini dihidupkan kembali dengan makna yang sepenuhnya baru. "Entah berapa lama waktu yang kau punya... entah satu bulan, satu tahun, atau lima puluh tahun lagi... sisa waktumu itu adalah milikku untuk kujaga. Dan sisa nyawaku, adalah milikmu."

​Kirana terisak pelan. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gani, memeluk pria itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Gani... aku tidak mau pergi... aku mau hidup bersamamu."

​"Kau akan hidup. Aku berjanji padamu," Gani membalas pelukan itu tak kalah erat, rahangnya mengeras penuh determinasi. "Aku tidak akan membiarkan apa pun membawamu pergi. Tidak penyakit ini, tidak badai ini."

​Malam itu, di bawah atap rumbia yang bocor di beberapa sisi, badai terus mengamuk hingga menjelang fajar. Namun Gani tidak pernah melepaskan pelukannya. Ia berjaga sepanjang malam, memastikan Kirana tertidur lelap di dadanya tanpa kedinginan.

​Pria itu menatap lurus ke arah kegelapan di luar pintu gubuk. Hatinya tidak lagi takut pada surat segel merah di saku celananya, atau pada ancaman Bratasena & Partners. Ia kini punya alasan yang sangat jelas untuk bertarung. Ia punya sebuah desa untuk dipertahankan, dan seorang gadis untuk diselamatkan.

​Dan jika Jakarta ingin merebut semua itu darinya, Gani akan memastikan mereka harus melangkah melewati mayatnya terlebih dahulu.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!