NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Pertempuran Teluk Merah

Fajar di Teluk Merah tidak datang dengan kelembutan. Langit berubah menjadi warna darah yang suram, dicampur dengan asap hitam tebal yang membubung dari lautan. Gelombang ombak tidak lagi berirama tenang, melainkan menghantam tebing batu dengan kemarahan, seolah alam sendiri merasa ngeri menyaksikan apa yang akan terjadi.

Di atas benteng batu setinggi tiga puluh meter yang menghadap laut, Jenderal Mark berdiri tegak. Angin laut yang asin dan dingin menerpa wajahnya yang kasar, tetapi dia tidak bergeming. Di tangannya, ia memegang teropong kuningan, matanya menatap tajam ke arah cakrawala.

"Mereka datang," gumam Mark, suaranya parau seperti gesekan batu karang.

Di kejauhan, armada Aethelgard muncul dari balik kabut pagi. Ratusan kapal perang berbentuk naga, dengan layar merah menyala dan lambung besi yang mengkilat, membelah ombak dengan kecepatan menakutkan. Suara dayung ribuan pendayur terdengar seperti gemuruh guntur yang tak henti-hentinya. Di kapal utama, The Iron Sovereign, bendera raksasa Ratu Isolde berkibar angkuh, dihiasi oleh simbol mahkota duri yang menusuk.

"Siapkan meriam sihir!" teriak Mark kepada para artilerinya. Suaranya menggema, mengalahkan deru ombak. "Targetkan kapal terdepan! Jangan biarkan mereka mendekat ke jarak seratus meter!"

Di sepanjang dinding benteng, ratusan penyihir tempur Mobelle mengangkat tongkat mereka. Ujung tongkat-tongkat itu mulai bersinar dengan cahaya biru dan ungu, mengumpulkan energi dari udara. Di bawah mereka, pasukan infanteri Kaelia berdiri dalam formasi phalanx yang rapat, perisai besar terkunci satu sama lain, menciptakan tembok baja yang tak tertembus. Panah-panah telah dipasang pada busur silang raksasa di menara penjaga.

Kapal-kapal Aethelgard semakin dekat. Jarak lima ratus meter. Empat ratus. Tiga ratus.

"Tembak!" perintah Mark.

BOOM!

Puluhan bola api dan petir buatan melesat dari benteng, melintasi udara dengan suara mendesis yang mengerikan. Ledakan pertama menghantam kapal terdepan Aethelgard. Kayu pecah berantakan, layar terbakar, dan jeritan para pelaut tenggelam dalam deburan air dan api. Namun, armada itu tidak berhenti. Kapal-kapal di belakangnya terus maju, menutupi celah yang ditinggalkan oleh kapal yang hancur. Mereka menggunakan taktik 'Gelombang Manusia'—mengorbankan beberapa unit untuk membuka jalan bagi yang lain.

"Mereka nekat," desis Kaelia, yang berdiri di samping Mark. Tangannya sudah berada di gagang pedangnya. "Mereka tahu kita punya meriam sihir, tapi mereka tetap menyerbu."

"Mereka ingin membuat kita kelelahan," jawab Mark dingin. "Setiap ledakan meriam sihir membutuhkan konsentrasi penyihir. Jika kita menembak terus-menerus, pertahanan sihir di dinding benteng akan melemah. Itu saat mereka akan menyerang."

Seolah menjawab perkataan Mark, dari dek kapal-kapal Aethelgard, katapel raksasa mulai beroperasi. Batu-batu besar yang dibalut rantai besi dilontarkan ke arah benteng.

CRASH!

Sebuah batu seukuran gerobak menghantam menara timur benteng. Batu-batu runtuh, debu beterbangan, dan beberapa prajurit Mobelle terjatuh bersama puing-puing. Jeritan kesakitan terdengar singkat sebelum ditelan oleh kebisingan pertempuran.

"Perbaiki formasi!" teriak Kaelia kepada pasukannya. "Jangan panik! Lindungi penyihir!"

Pasukan Aethelgard kini telah mencapai jarak lima puluh meter dari dinding benteng. Jembatan pengepungan raksasa, yang terbuat dari besi dan kayu berlapis kulit naga, dijulurkan dari kapal-kapal utama menuju dinding benteng. Dengan suara logam yang memekakkan telinga, jembatan-jembatan itu mengaitkan diri ke parapet benteng.

"Ini dia!" seru Mark. "Panah api! Sekarang!"

Hujan panah berujung api melesat dari menara, menghujani para penyerang yang sedang menyeberangi jembatan. Banyak prajurit Aethelgard terbakar dan jatuh ke laut yang bergolak di bawah. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Untuk setiap satu yang jatuh, dua lainnya mengambil tempatnya. Mereka menerjang dengan perisai besar, mendorong mundur pasukan depan Mobelle.

Pertempuran jarak dekat pun pecah.

Kaelia adalah yang pertama terjun ke dalam kekacauan. Pedangnya, Shadowfang, berkilat seperti kilatan petir di tengah asap. Dia bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak manusiawi, menebas, menangkis, dan menusuk dengan presisi bedah. Setiap ayunan pedangnya menjatuhkan musuh. Darah menyemprot, mencampuri abu dan debu di udara.

Di sampingnya, para prajurit Mobelle bertarung dengan putus asa. Mereka lebih sedikit jumlahnya, tapi mereka bertarung untuk rumah mereka. Seorang prajurit muda, mungkin baru berusia delapan belas tahun, berhasil menusuk perut seorang ksatria Aethelgard yang jauh lebih besar, meski akhirnya dia sendiri terhunjam tombak di bahunya. Dia tidak jatuh. Dia menarik musuhnya bersamanya ke tepi dinding, dan keduanya jatuh ke laut dalam.

"General Mark!" teriak seorang letnan dari atas menara. "Kapal induk mereka... The Iron Sovereign... mereka menyiapkan senjata utama!"

Mark menoleh cepat. Di dek kapal terbesar itu, sebuah meriam raksasa berbahan kristal hitam sedang diisi dengan energi sihir gelap yang pekat. Cahaya ungu tua berdenyut-denyut di dalamnya, semakin terang, semakin berbahaya.

"Itu Meriam Pemecah Benteng," kata Mark, wajahnya pucat. "Jika itu ditembakkan, setengah dari dinding selatan kita akan hancur. Pasukan mereka akan masuk lewat sana."

"Berapa lama waktu pengisiannya?" tanya Kaelia, sambil membersihkan darah dari pipinya.

"Dua menit!" jawab letnan.

"Kita tidak punya dua menit," geram Mark. Dia menoleh pada Julian, yang berdiri di belakang garis pertahanan, menjaga perisai magis utama benteng. Wajah Julian pucat pasi, keringat membanjiri dahinya (mempertahankan) perisai sebesar ini menguras tenaganya dengan cepat.

"Julian!" teriak Mark. "Bisakah kau menembus perisai sihir kapal itu?"

Julian menggeleng, napasnya tersengal-sengal. "Energi di dalam meriam itu terlalu padat. Jika aku mencoba menembusnya, umpan baliknya akan membunuhku. Dan jika perisai benteng turun sebentar saja, mereka akan menghabisi mu semua."

Mark menggeram frustrasi. Dia melihat ke sekeliling. Pasukannya mulai terdesak. Jembatan pengepungan kedua dan ketiga sudah terhubung. Prajurit Aethelgard membanjiri dinding barat.

Tiba-tiba, sebuah ide liar muncul di kepala Mark. Ide yang gila. Ide yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah kehilangan segalanya kecuali kehormatan.

"Kaelia!" panggil Mark. "Serahkan komando lapangan padamu. Aku punya rencana."

"Apa rencanamu?" tanya Kaelia, sambil menangkis serangan kapak ganda dari musuh.

"Aku akan menurunkan perisai sektor timur selama lima detik," kata Mark cepat. "Hanya lima detik. Itu akan memancing mereka untuk menembakkan meriam itu lebih awal, sebelum siap sepenuhnya. Energinya akan tidak stabil."

"Dan kau?"

"Aku akan menangkap energinya," kata Mark, tersenyum pahit. "Dengan tubuhku."

Kaelia terbelalak. "Itu bunuh diri!"

"Lakukan!" teriak Mark, mendorong Kaelia ke arah pasukan cadangan. "Jaga benteng! Jangan biarkan satu pun lolos!"

Sebelum Kaelia bisa protes, Mark berlari menuju menara kontrol sihir di puncak benteng timur. Dia meraih tuas utama yang mengendalikan aliran mana ke perisai.

Di kapal The Iron Sovereign, komandan Aethelgard melihat perisai di sektor timur berkedip dan mati. "Sekarang! Tembak!" teriaknya.

Meriam Pemecah Benteng melepaskan tembakannya. Sinar energi ungu pekat, sebesar batang pohon, melesat keluar dari mulut meriam, mengarah tepat ke menara tempat Mark berdiri.

Namun, Mark tidak menghindar. Dia justru membuka kedua tangannya, dan dengan kekuatan willpower yang luar biasa, dia memanggil sisa-sisa energi sihir benteng yang tersisa, bukan untuk menahan, tapi untuk menyerap.

Dia menciptakan vakum sihir kecil di depan dadanya.

Sinar energi itu menghantam dada Mark.

BOOOOM!

Ledakan cahaya menyilaukan membutakan semua orang di sekitar. Suara dentuman itu begitu keras hingga gendang telinga banyak prajurit pecah. Tanah berguncang hebat.

Ketika cahaya mereda, Mark terlempar ke belakang, tubuhnya terpental menabrak dinding batu. Armor besinya hangus, asap mengepul dari tubuhnya. Dia tidak bergerak.

Tapi meriam di kapal Aethelgard... meledak.

Karena energinya diserap sebagian dan dialihkan secara paksa, reaksi berantai terjadi di dalam laras meriam kristal. Kapal The Iron Sovereign terguncang hebat. Bagian depan kapal hancur lebur, api membakar layar-layarnya. Kekacauan melanda armada Aethelgard. Kapal-kapal di sekitarnya bertabrakan dalam kepanikan.

"GENERAL MARK!" teriak Kaelia, matanya berkaca-kaca.

Tapi dia tidak punya waktu untuk berduka.

"Maju!" teriak Kaelia, suaranya pecah oleh rasa sakit dan amarah. "Untuk General Mark! Usir mereka kembali ke laut!"

Melihat pemimpin mereka hancur, moral pasukan Aethelgard yang sudah goyah karena ledakan kapal induk mereka, akhirnya runtuh. Mereka mulai mundur, berebut naik kembali ke jembatan pengepungan yang sempit.

Pasukan Mobelle, didorong oleh dendam dan adrenalin, menerjang maju. Mereka mendorong musuh-musuh mereka kembali ke laut. Panah-panah terakhir dilepaskan, menghujani para perenang yang berusaha menyelamatkan diri.

Dalam satu jam, Teluk Merah berubah menjadi kuburan massal. Air laut berwarna merah pekat oleh darah. Puing-puing kapal terbakar mengapung seperti peti mati raksasa.

Kaelia berdiri di tepi dinding benteng yang hancur sebagian. Napasnya berat. Pedangnya patah di ujungnya. Dia menatap tubuh Mark yang terbaring tak bernyawa di reruntuhan menara. Dua penyihir medis sedang berusaha mendekat, tapi Kaelia tahu. Tidak ada yang bisa menyelamatkan seseorang yang telah menyerap inti dari Meriam Pemecah Benteng.

Dia berlutut di samping jenderal tua itu. Wajah Mark tenang, seolah-olah dia akhirnya menemukan istirahat yang lama dia cari.

Kaelia menggenggam tangan Mark yang dingin. Air mata tunggal mengalir di pipinya yang kotor oleh asap dan darah.

"Kau idiot," bisiknya, suaranya serak. "Kau idiot yang berani."

Dia berdiri, menatap sisa-sisa armada Aethelgard yang kini mundur kacau-balau ke laut lepas. Mereka kalah dalam putaran pertama. Tapi perang belum selesai. Isolde masih punya pasukan darat di utara. Dan Valerius... Valerius pasti sudah bangun dari tidurnya.

Kaelia mengusap air matanya dengan kasar. Topeng dinginnya kembali terkunci.

"Kumpulkan yang terluka," perintahnya pada para letnan yang masih hidup. "Perbaiki dinding. Siapkan logistik. Mereka akan kembali. Dan kali ini, kita akan siap."

Di kejauhan, matahari akhirnya menembus awan asap, menyinari medan perang yang hancur. Kemenangan ini mahal. Sangat mahal. Tapi Mobelle masih berdiri.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!