NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kadung emosi, kehormatan adalah bayarannya.

Malam melarutkan siang, senjanya pudar menjadi hitam yang sendu berkabut awan. Lampu jalanan menerangi setiap titik pergerakan. Meski, tak terlalu terang menyorot tanah yang dihujani kerinduan. Cakka, wajahnya memelas. Cape dan sesak, karena .....

Dua jam sebelum pulang....

Diruang latihan bernyanyi, semua orang sibuk dengan nada yang sudah diberikan oleh guru Chiki. Berkonsentrasi, mencari kestabilan suara pada lagu yang akan dinyanyikan nanti. Masing-masing berlatih, ditempat yang sama namun posisi berpencar.

Kau begitu sempurna

Dimataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan selalu memujamu..

Andra and the backbone, lagu mereka yang Cakka nyanyikan. Beberapa kali ia mengalami suara sumbang, namun tak menyerah untuk terus belajar mencapai suara yang diinginkan. Ditengah fokusnya belajar bernyanyi, tiba-tiba Debo dipanggil oleh salah satu staf kantor.

"Debo Anggara!"

Debo menoleh, ia menatap staf itu.

"Kata pak Kleo!"

Debo menghela nafas panjang, perlahan tubuhnya bangun. Pun kertas yang berisikan lirik lagu disimpannya, dimeja guru Chiki. Tanpa menoleh kebelakang ia pergi mengikuti staf kantor yang memanggilnya.

Ini saatnya!.

Cakka mengikuti kemana perginya Debo. Tentu ia berusaha untuk tidak ketahuan, disetiap Debo merasa diikuti dan berbalik melihat kebelakang. Cakka bersembunyi dibalik tembok, tanaman hias, bahkan pintu yang tak sengaja orang lain buka.

Sampai akhirnya Debo berhasil masuk kedalam ruangan pak Kleo, Cakka menguping disamping pintu yang tak tertutup rapat. Dia berjongkok seraya menyandarkan diri untuk bisa menahan bobot tubuh yang berat badannya lebih dari lima puluh kilo.

Suaranya teredam. Namun, masih terdengar jelas masuk ketelinga sang calon penyanyi yang baru dipuji dihari pertama belajar.

"Kamu mau debut kapan? Aku bisa kabulkan keinginan mu secepat mungkin"

Namun Debo tak bergeming......

"Ayolah! Jangan merajuk begitu! Bukannya ini bagian dari mimpi mu?"

"Mimpi yang mana?" Tanya Debo dengan suara gemetar.

"Menjadi artis! Kamu menerima ini karena bayaran nya tak mau dibagikan?"

Perlahan suara tangis Debo terdengar, dari pelan menjadi kencang. Tersedu, terisak, sakit dan pedih bercampur menjadi satu. Marah dan benci membunuh kendalinya. Debo terdengar mengobrak abrik ruang kerja Kleo.

Brak!!

Crak!!

Bugh!!

Suara pecahan kaca, kursi dibanting dan pukulan menyeruak diruangan itu. Cakka menahan diri untuk tidak masuk kedalam, ia ingin tahu kenapa Debo bisa semarah itu?!.

"Kamu pembohong! Kamu sudah menjual aku, iyakan?!"

Nafasnya terengah, bergemuruh pula didada yang naik turun.

"Apa maksudnya... Aku! Di.... Di.... "

Tak sanggup mengungkap kebenaran yang teramat pedih dihidupnya, mulut Debo terasa amat sangat jijik untuk berkata 'Dilecehkan'. Ya! Malam itu bukan hanya makan malam biasa. Tapi, ada sesuatu yang harus Debo lakukan untuk memuaskan para petinggi, yang berkuasa di dunia musik dan film.

Malam itu Debo menolak. Namun, ia dihajar habis oleh ajudan sang petinggi yang Debo sendiri tidak tahu namanya siapa, wajahnya pun Debo tak bisa lihat karena memakai topeng yang menutupi seluruh permukaan mukanya. Begitupun dengan petinggi yang sudah melecehkan Debo.

Semua orang penting yang ada disana menggunakan topeng kecuali, Debo. Gila! Debo sendiri tidak menyangka kalau ia dikirim kesarang yang berbahaya melebihi sengatan lebah rasa sakitnya.

Wajar bila sekarang ia marah besar dan menghancurkan barang-barang yang ada diruangan Kleo. Ini jelas sebuah jebakan atau suapan dari Kleo pada petinggi itu, agar nama perusahaannya tetap naik, agar anak-anak yang berada dibawah naungannya bisa terkenal, cepat dan viral.

Tangis Debo kini meraung, memperlihatkan bahwa ia lemah didepan Kleo, memperlihatkan bahwa ia hanyalah anak lelaki polos yang dinodai oleh bajingan penggila lubang anus.

Cakka, ia pun ikut menangis. Perlahan kakinya melemah dan tubuhnya ambruk kelantai. Memikirkan, ikut merasakan, betapa hancurnya Debo sekarang. Tubuhnya juga gemetar, ia takut kalau hal ini juga bisa terjadi padanya kapan saja.

"Sekarang aku tahu, kenapa kamu bersikap ramah ketika dipasar kala itu! Uang dua juta yang ku jambret namun tak berhasil ku ambil, kamu ganti secara cuma-cuma didepan muka ku, ternyata ini yang harus ku bayar? Ini?!"

Debo meremas rambutnya, menunduk dan berlutut didepan Kleo.

"Jangan lakukan ini pada yang lain aku mohon! Cukup aku saja yang kamu kirim, biarkan yang lain berhasil dengan bakat mereka masing-masing"

"Dan tolong, jangan sampai... Kamu juga jadi predator, sama seperti mereka"

Tak tahan mendengar itu Cakka berdiri, ia berlari, menuju toilet.

Tak! Tak! Tak!

Suara sepatunya bergema dilorong gedung, ia menangis sesekali diusap kasar oleh lengannya. Masuk kedalam toilet, mengunci pintunya.

Brak! Clek!.

Menutup lubang pembuangan air wastafel menggunakan kain yang menggantung didekat cermin, ia menghidupkan kerannya untuk mengisi wastafel penuh dengan air. Sembari menunggu Cakka terdiam, ia teringat sikap Debo yang tiba-tiba berubah.

Pantas saja Debo bersikap acuh pada Cakka, mungkin disisi lain Debo menyesal kenapa dia tidak mengikuti pilihan temannya?. Kalau saja kemarin Debo satu suara dengan Cakka, kejadian naas seperti apa yang didengarnya tak akan terjadi!.

Dan Cakka merasa bersalah, kenapa ia tidak bersih keras melarang Debo untuk jangan datang!. Lagi-lagi Cakka menangis, ia bercermin menatap dirinya.

Jangan-jangan, aku juga akan diperlakukan hal yang sama! Operasi wajah ini, pasti aku harus membayar lebih!. Uang dua juta saja Debo harus melayani manusia keparat itu! Aku? Bagaimana?!.

Brush!!!!

Cakka menenggelamkan wajahnya kedalam wastafel. Memendam marah dan sedihnya didalam sana.

Trash!!!!!

Diangkatnya wajah Cakka untuk mengambil nafas panjang.

Brush!!!!

Ia tenggelamkan lagi, agar emosinya lebih stabil dan ingatannya tentang Debo sedikit berkurang atau terlupakan karena harus menahan nafas didalam air.

Trash!!!!!!

Dicabutnya kain penyumbat itu dan ia membiarkan air yang menjadi media pelampiasan amarahnya, larut kealiran pipa pembuangan.

Hah!!! Hah!!!!

Nafas Cakka terengah-engah.

(***)

Berusaha memejamkan mata untuk bisa tertidur sejenak dalam perjalanan, namun kenyataanya tak bisa. Ia malah fokus pada Debo yang sedang duduk dijajaran pertama.

Pasti saat ini dunianya hancur!

Cakka mengigit giginya sendiri, rahang mengeras dan kesal dengan takdir yang tak bisa berpihak baik padanya, pada orang yang masa lalunya hancur berkeping dan sekarang, lebur menjadi abu yang ditiup kapan saja bisa terhempas kemana arah mata angin itu pergi.

Si cantik, kekasih hati dari dunia lain tiba-tiba menampakkan diri. Duduk disebelah Cakka menyandarkan kepala kebahunya.

"Maaf aku tak mengatakan yang sebenarnya, tapi apa yang Debo katakan, itu lah yang terjadi"

"Cih! Kamu bilang Kleo jujur, nyatanya perjanjian kecil saja ia ingkari dan sekarang? Kehormatan manusia ia injak sesuka hati"

"Sisi gelap Kleo, tak ada manusia yang sempurna, Cakka."

"Ya aku tahu! Tapi bukan berarti dijual, apalagi untuk menjadi seorang artis. Dimana otaknya?!"

Aulia menenangkan Cakka yang sudah emosi. Ia hanya bisa mengelus lengan sang kekasih berkali-kali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!