NovelToon NovelToon
NAFKAH YANG TERTUKAR

NAFKAH YANG TERTUKAR

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 4 Cahaya dibalik layar

____

​Suasana rumah terasa sedikit lebih lengang setelah Aris berangkat kerja dengan mobil mengkilapnya. Bagi Maya, deru mesin mobil yang menjauh itu bukan lagi suara rindu, melainkan tanda bahwa napasnya bisa sedikit lebih lega. Ia tidak perlu lagi mengatur ekspresi wajah agar tidak memicu kemarahan suaminya.

​Setelah menidurkan Dafa yang baru saja selesai menyusu, Maya bergegas menuju sudut meja makan. Ia mengeluarkan laptop tua yang semalam ia bersihkan. Jantungnya berdegup kencang, ada rasa takut sekaligus antusias yang membuncah. Ia merasa seperti seorang agen rahasia yang sedang melakukan misi terlarang di rumahnya sendiri.

​Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Pesan dari Raka.

​Raka: "Kebetulan banget, May! Klien gue lagi butuh copywriter buat campaign produk rumah tangga. Lo kan dulu ratunya bikin kata-kata persuasif. Gue kasih tes satu artikel dulu ya, kalau oke, rate-nya lumayan buat nambah uang jajan. Mau?"

​Maya tersenyum—senyum tulus pertama yang muncul di wajahnya setelah sekian lama. "Mau banget, Rak. Kirim brief-nya sekarang."

​Maya mulai bekerja. Jemarinya yang biasanya hanya memegang ulekan dan sikat cucian, kini mulai menari di atas keyboard. Awalnya terasa kaku, namun memori saat ia masih menjadi sekretaris eksekutif kembali pulih dengan cepat. Ia menyusun kalimat demi kalimat, membangun narasi tentang "Kehangatan Rumah Tangga" untuk sebuah produk alat masak.

​Ironis memang. Ia menulis tentang indahnya kebersamaan di dapur dan kasih sayang suami-istri, sementara realitas hidupnya sangat berbanding terbalik. Namun, Maya mencoba profesional. Ia menanamkan dalam benaknya bahwa setiap kata yang ia ketik adalah satu butir telur untuk Dafa, satu lembar rupiah untuk pengobatan Bapak, dan satu langkah menuju kemandiriannya.

​Satu jam, dua jam, Maya tenggelam dalam pekerjaannya. Ia sampai lupa waktu hingga suara pagar depan yang digeser dengan kasar mengejutkannya.

​Siapa? Jam segini Aris belum mungkin pulang, pikirnya panik.

​Maya dengan cepat menutup layar laptopnya dan menyembunyikannya di bawah tumpukan taplak meja cadangan. Ia merapikan rambutnya yang agak berantakan dan bergegas menuju pintu depan.

​Ternyata, itu adalah Siska.

​Adik iparnya itu datang dengan gaya perlente, kacamata hitam bertengger di kepalanya, dan tas pemberian Aris tersampir di bahu. Tanpa mengetuk atau mengucap salam dengan benar, Siska langsung melenggang masuk.

​"Mbak Maya! Duh, panas banget ya di luar. Buatkan aku es sirup dong, yang dingin ya," perintah Siska sambil mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.

​Maya menarik napas dalam, mencoba meredam emosinya. "Iya, Sis. Tunggu sebentar."

​Di dapur, Maya berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia tidak boleh terlihat mencurigakan. Siska ini adalah mata-mata terbaik Ibu Ratna. Apa pun yang dilihat Siska di rumah ini, pasti akan sampai ke telinga Aris dalam hitungan jam dengan bumbu-bumbu yang dilebih-lebihkan.

​"Lagi ngapain sih di dalam, Mbak? Kok tumben lama banget bukain pintu? Tadi aku lihat dari jendela kayak lagi sibuk di meja makan," tanya Siska saat Maya mengantarkan segelas es sirup. Matanya yang tajam mulai mengedar, menatap meja makan yang tampak sedikit berantakan.

​"Cuma lagi beresin sisa sarapan tadi, Sis. Ada apa tumben ke sini siang-siang?" tanya Maya berusaha mengalihkan pembicaraan.

​Siska menyesap sirupnya, lalu mengeluarkan sebuah katalog perhiasan dari tasnya. "Gini, Mbak. Minggu depan kan Mas Aris mau ajak Ibu dan keluarga besar makan malam mewah buat ngerayain proyek barunya yang tembus. Aku pengen beli kalung ini, cantik banget kan? Tapi Mas Aris bilang uang tunainya lagi kepakai buat operasional kantor."

​Maya hanya diam, menatap katalog perhiasan yang harganya bisa untuk membayar kontrakan rumah selama dua tahun itu.

​"Terus, Mas Aris bilang, coba tanya Mbak Maya, masih ada sisa uang tabungan atau uang darurat nggak? Katanya daripada disimpan di lemari, mending buat beliin aku ini dulu, nanti diganti pas bonusnya cair," lanjut Siska dengan wajah tanpa dosa.

​Darah Maya mendidih. Aris benar-benar keterlaluan. Dia tahu Maya tidak punya uang sepeser pun selain uang dapur yang ia jatah dengan sangat ketat. Tapi di depan adiknya, Aris seolah-olah menjadikan Maya sebagai "bendahara" yang pelit, seakan-akan uang itu ada di tangan Maya namun Maya enggan memberikannya.

​"Mas Aris bilang begitu?" suara Maya bergetar.

​"Iya! Kata Mas Aris, Mbak Maya itu pinter banget nyimpan uang, saking pinter sampai pelit buat keluarga sendiri. Gimana, Mbak? Ada kan? Lagian Mbak Maya kan nggak butuh perhiasan begini, dasteran terus di rumah juga nggak ada yang lihat," sindir Siska sambil tertawa kecil.

​Maya mengepalkan tangannya di balik daster. Ini adalah penghinaan yang sistematis. Aris sedang memutarbalikkan fakta. Di depan Maya, Aris mengaku tidak punya uang untuk SPP Dafa. Di depan keluarganya, Aris memposisikan Maya sebagai istri yang menimbun harta dan tidak mau berbagi.

​"Maaf, Sis. Uang tabungan yang mana ya? Mas Aris setiap minggu catat semua pengeluaran sampai ke recehannya. Kamu tahu sendiri kan masmu itu orangnya teliti sekali?" jawab Maya dengan nada tenang yang dipaksakan.

​Wajah Siska langsung berubah masam. "Halah, Mbak jangan bohong deh. Masa Manager Regional istrinya nggak pegang uang simpanan? Pelit amat sih sama ipar sendiri. Pantesan Mas Aris sering ngeluh kalau di rumah itu suasananya suram."

​Siska berdiri, menghentakkan kakinya dengan kesal. "Ya sudah kalau nggak mau bantu. Nanti aku bilang sama Ibu kalau Mbak Maya nggak mau kasih pinjam uang. Biar Mas Aris yang urus."

​Tanpa menghabiskan minumnya, Siska keluar dari rumah sambil membanting pintu depan.

​Maya terduduk lemas di lantai ruang tamu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Rasa sakitnya bukan karena ucapan Siska, tapi karena fakta bahwa suaminya sendiri yang menciptakan narasi buruk tentang dirinya di mata keluarga besar.

​Namun, alih-alih meratap lama, Maya segera bangkit. Ia mengusap air matanya dengan kasar. Kejadian barusan justru menjadi bahan bakar yang membara di dadanya.

​Ia kembali ke meja makan, mengeluarkan laptopnya yang tersembunyi.

​"Aku harus selesaiin artikel ini sekarang," gumamnya pada diri sendiri.

​Jemari Maya bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Setiap kata yang ia ketik sekarang terasa seperti peluru yang ia siapkan untuk menembak jatuh tembok kesombongan Aris. Jika Aris ingin menjadikannya tokoh antagonis yang "pelit" di mata keluarganya, maka Maya akan benar-benar menjadi wanita yang memegang kendali atas keuangannya sendiri. Bukan dari uang Aris, tapi dari hasil keringatnya yang tak tersentuh oleh tangan kikir suaminya.

​Sore itu, sebelum Aris pulang, Maya berhasil mengirimkan artikel pertamanya ke Raka. Satu jam kemudian, balasan masuk.

​Raka: "Gila, May! Klien langsung ACC! Tulisannya dapet banget emosinya. Transferan pertama meluncur ya, cek rekening lo malam ini."

​Malam itu, saat Aris pulang dengan wajah lelah dan mulai mengomel tentang rasa kopi yang kurang pas, Maya hanya menanggapi dengan senyuman tipis yang misterius. Aris tidak tahu, di dalam saldo rekening rahasia istrinya, kini telah terisi uang pertama hasil kerja kerasnya—uang yang jumlahnya lebih besar dari uang belanja yang Aris berikan untuk satu minggu.

​Maya menatap punggung Aris yang sedang membuka kemeja mahalnya. Nikmati saja kesombonganmu, Mas. Karena pelan-pelan, aku akan membangun duniaku sendiri di mana kamu tidak akan pernah bisa menjangkaunya lagi.

____

1
Thewie
keren thor. kanjut karya baru ya
Thewie
gak akan kembali ke mantan ya Thor. mantan itu di buang ke t4 yg seharusnya wkwkkw
Thewie: haha iya banget Thor. patah tumbuh hilang berganti🤣🤣.. cari yg baru
total 2 replies
Thewie
semangat maya
Thewie
keren thor💪
Thewie
keren Maya.. lelaki sperti itu hempaskan ... mati kau arisss.. matiii lah kau
AwandaMw: ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍
JasmineA
menjahit? bukan nya dia jadi head content writer ya thor? Raka yg ngasih kerja ke dia?
AwandaMw: tq kaaaa....aku baru konek😭😭
total 1 replies
JasmineA
Bintang siapa? anak nya Dafa bukan?
JasmineA
Rika apa siska?
Marifatul Marifatul
lnjttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!