NovelToon NovelToon
Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Gelora Hati Seorang Gus Dan Gadis Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.

Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.

Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.

Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.

Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla

Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Ruang kerja itu sunyi, hanya terdengar suara ketukan meja dari Pedro Aditya.

Tirai tebal berterbangan membuat cahaya siang tak sepenuhnya masuk.

Aditya Suradinata duduk di kursi utama, kulit hitam yang dingin dan kokoh.

Tubuhnya masih gagah meski usianya sudah paruh baya, tatapannya tajam, penuh perhitungan.

Di depannya, kursi putar Nayla duduk dengan punggung tegak.

Kaki dan tangannya yang di perban, nampak di letakan dengan hati-hati---menunggu pertanyaan yang terlontar dari bibir Pedro Aditya.

Di belakang, Gani dan Raffi berdiri memperhatikan situasi dengan serius.

Aditya menautkan kedua tangannya di atas meja, menghela napas lalu mengajukan pertanyaan pada Nayla.

"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanyanya pelan dengan nada berat.

"Kenapa para aparat bisa menemukan markas bisnismu?" tanya lagi.

Nayla menghela napas dan memejamkan matanya.

"Pedro...," ucapnya lirih.

"Saat aku produksi film dewasa dan mengatur pengiriman beberapa perempuan ke UEA untuk jalur kasino kita. Polisi sudah menemukan lokasi saya."

Gani langsung menegangkan kepala dan segera mengatakan jika, Aparat bisa menemukan jejak Nayla--karena kebocoran data atau sudah di hacker.

Nayla menganggukkan kepala.

"Mereka bukan patroli tapi sudah siap dengan tim khusus," ujar Nayla dengan mata yang terpejam.

Pak Aditya memejamkan matanya, dan mencari solusi.

"Gani bagaimana darahku yang tercecer di trotoar? aku takut polisi melacakku lewat DNA?" tanya Nayla.

Aditya segera menatap Gani dan menanyakan. lalu Gani mengatakan jika sudah di selesaikan dengan menggunakan cairan yang membuat DNA menjadi terurai.

"Kamu tenang saja, soal polisi saya akan tangani. Sementara bisnis rumah bordil dan Kasino sementara saya serahkan pada Yuka Anandi," ujar Aditya.

Anak buah wanita yang lain, karena untuk rumah bordil soal wanita----dengan mengirim wanita jadi akan tahu seluk-beluk soal wanita dan apa saja yang di butuhkan.

Pria itu bangkit perlahan dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berdiri di depan Nayla.

"Gani!" panggil Aditya.

"Iya Pedro!" sahut Gani.

"Berapa korban kita?" tanya Aditya kepada Gani.

Gani mengatakan belum di ketahui, tapi baik dari aparat dan pihak geng keihn banyak berjatuhan.

"Sebelum memulai bisnis yang di jalankan oleh Yuka, Kita bersihkan jejak. Pindahkan aset digital. Putus semua komunikasi lama."

Gani hanya mengatakan 'siap pedro' dan langsung Gani membawa Nayla masuk ke kamar setelah di suruh oleh Aditya.

"Nayla istirahat, dan soal jejak DNA kamu saya bersihkan. Di kamar kamu pantau semua bisnis saya lewat jaringan internet," pinta Aditya.

"Baik Pedro," sahut Nayla.

Nayla segera di bawa ke kamar oleh Gani, sementara Raffi masih disana berbicara untuk bisnis Kasino yang memang harus berjalan.

Aditya duduk dan memijit pelipisnya, dirinya harus mencari cara untuk menyuap salah satu polisi berpangkat tinggi agar bisnisnya tetap berjalan.

Di lain sisi.

Di Pesantren.

Tadi di masjid Gus Ali mengganti bajunya dengan baju dari penjaga masjid, lalu mengembalikannya hanya untuk solat.

Tanpa sadar disana ada bercak darah milik Nayla, itu termasuk DNA yang bisa membantu pihak kepolisian.

Tadi setelah ceramah, Gus Ali kembali mengenakan baju yang ada darah Nayla.

Karena dirinya amat sungkan mengenakan barang milik orang lain, dan sebagai rasa terimakasihnya penjaga Masjid di perbolehkan ke pesantren untuk mengunjunginya.

"Makasih ya sudah meminjamkan baju," ujar Ali.

"Ya sama-sama Gus," sahut penjaga masjid.

"Besok deh jumat, saya khutbah disini sekalian bajunya saja balikin," ujar Gus Ali.

"Iya Gus," sahut penjaga masjid.

Gus Ali segera ke pesantren dan mengenakan baju koko yang panjang miliknya---berdarah di lengan.

Karena baju penjaga masjid hanya sampai lengan, dirinya tak nyaman mengenakan baju lengan pendek.

Gus Ali berjalan dari Masjid menuju pondok pesantren, orang-orang menanyakan kenapa dengan lengan bajunya Gus Ali.

Tapi Gus Ali hanya menjawab jika habis menolong orang saat solat subuh.

Langkahnya berjalan sampai di pondok pesantren, Gus Ali berjalan kaki tanpa mobil dan tanpa iring-iringan---Karena menjunjung tinggi kesederhanaan.

Di pesantren.

Para Santri dan Santriwati mengerubunginya untuk menyalami tangannya, lalu mata para santri heran dengan lengan baju Gus Ali yang ada darahnya.

"Gus itu lengannya kenapa? Apa Gus terluka?" tanya Santriwati.

Mata Gus Ali melihat lengannya, darah Nayla masih ada disana.

"Apa tadi ada serangan Mafia?" tanya salah seorang santri.

"Nggak ini tadi nyelametin orang," ucap Gus Ali.

"Kenapa memangnya?" tanya Gus Ali dengan Santri dan santriwati di sekelilingnya.

"Ustad tadi pagi pertarungan antara Mafia dan polisi terjadi di jalan Sadewo," ujar Santriwati.

Hal yang membuat Gus Ali menatap santriwatinya, dan mengernyitkan keningnya pelan.

"Kalian dapat info darimana?" tanya Gus Ali, karena para santri tak boleh keluar dan tak memegang ponsel.

Santriwati mengatakan jika Bu Halimah yang bertugas untuk para santriwati di dapur dan untuk menu makanan---yang mendapatkan info itu.

"Astagfirullah, yaudah kalian masuk kelas karena mau ada kajian fiqih kan?" ucap Gus Ali.

Para Santri menurut, sebelum itu Gus Ali mengentikan santri favoritnya Dandi.

"Dandi nanti baju saya bisa cuci yang ini?" pinta Gus Ali.

"Baik Gus," sahut Dandi.

Mereka semua bubar satu persatu untuk masuk kelas, Gus Ali akan mandi untuk mengajarkan santrinya kajian fiqih.

Sampai ayahnya Kiyai Ridwan kembali dari wilayah Jawa Tengah, saat di kamar mandi.

Ali membayangkan wajah gadis Mafia itu, wajahnya timur tengah---namun terlihat bengis.

"Bagaimana bisa orang Arab tapi terjerat dunia mafia begitu," pikir Gus Ali.

Sebenernya apa yang membuat Nayla terjebak dalam dunia Mafia, yang perang antara geng dan wilayah bisnis.

"Aku belum tahu lagi namanya," lanjut Gus Ali mengguyurkan air di kepalanya.

Pikirannya masih membayangkan wajah Nayla, di kegelapan subuh---bagaimana mungkin cintanya dengan seorang gadis Mafia.

Dan pasti Abi---Kiyai Ridwan tak akan setuju jika dirinya berbicara apalagi dekat dengan gadis Mafia.

Sehabis mandi pria itu berwudhu, untuk ke kelas kajian fiqih.

Bayangan gadis Mafia---Nayla.

Masih terbayang bagaimana Nayla di pelukannya, masih terbayang pula darah yang mengalir dengan lantunan suara adzan di langit subuh.

Apa yang akan terjadi.

*

*

*

1
Dayang Rindu
Hay kak, karya baru? 🔥
Dayang Rindu: sama aja, 😁
total 2 replies
Muhammad Isha
iklan buat mu
Putri Sabina: makasih udah mampir Kak
total 1 replies
Muhammad Isha
jangan lupa mampir
knovitriana
cerita yang menarik
knovitriana: iklan buat mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!