NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN HIDUP MATI

Zhao Tian melepaskan sembilan bola api itu sekaligus dengan raungan kemarahan yang murni. Udara di sekitar mereka seolah-olah mendidih dan meledak. Tanah di bawah kaki mereka berubah menjadi lava cair yang berpijar. Serangan ini adalah puncak dari kultivasi Zhao Tian, sebuah serangan yang sanggup menghapus sebuah klan kecil dalam satu hantaman.

Fang Han tahu ia tidak bisa menahan ini dengan Segel Inti Sukma biasa. Tubuhnya sudah terlalu lemah. Ia memejamkan matanya, mengalirkan sisa kesadarannya ke dalam pedang Sunya Long, berkomunikasi dengan jiwa naga yang tertidur di dalamnya.

"Jika kau memang peduli pada kehampaan... berikan aku segalanya sekarang! Bakar sisa umurku, ambil darahku, tapi berikan aku kekuatan untuk menghapus pengkhianat ini dari muka bumi!" batin Fang Han dengan teriakan jiwa yang membara.

Pedang Sunya Long merespons dengan cara yang mengerikan. Bilah putihnya mendadak berubah menjadi hitam pekat seolah-olah ia menyerap seluruh kegelapan malam, namun mengeluarkan aura cahaya biru petir yang menyilaukan mata. Tato di lengan Fang Han mulai menjalar dengan cepat ke leher dan wajahnya, menutupi mata kanannya dengan pola kehampaan yang berpendar gelap. Rambutnya yang hitam perlahan berubah menjadi abu-abu perak.

"Sunya Long: Gerbang Akhir Kehampaan!" bisik Fang Han

Fang Han tidak menghindar. Ia justru melangkah maju menantang sembilan matahari itu. Ia mengayunkan pedangnya secara vertikal dari atas ke bawah. Bukannya tebasan energi yang keluar, melainkan sebuah retakan ruang—sebuah lubang hitam kecil yang muncul tepat di ujung bilahnya. Lubang itu menghisap sembilan bola api raksasa milik Zhao Tian seolah-olah matahari-matahari itu hanyalah percikan api lilin yang tertiup angin.

Zhao Tian terbelalak hingga matanya seolah akan keluar dari kelopaknya. "Apa?! Itu mustahil! Itu bukan teknik manusia! Teknik iblis apa yang kau gunakan?!"

Tanpa memberi waktu sedetik pun untuk bereaksi, Fang Han sudah berada tepat di depan wajah Zhao Tian. Kecepatannya kini sudah tidak bisa lagi diikuti oleh mata manusia, ia bergerak seolah-olah ia sedang melompat antar dimensi.

Jleb!

Sunya Long menembus dada zirah emas Zhao Tian dengan mudah, tepat menghujam jantungnya. Namun, anehnya, pedang itu tidak mengeluarkan setetes darah pun. Sebaliknya, bilah pedang hitam itu mulai berpendar biru terang, dan Zhao Tian mulai berteriak dengan suara yang menyayat hati. Pedang itu mulai menghisap seluruh energi Qi emas, seluruh dasar kultivasi, dan seluruh esensi kehidupan milik Zhao Tian.

"Kau... kau tidak hanya membunuhku... kau mencuri seluruh esensi hidupku..." bisik Zhao Tian dengan suara gemetar, tubuhnya yang gagah mulai menyusut, kulitnya mengeriput, dan ia menua puluhan tahun dalam hitungan detik.

"Aku tidak mencuri apa pun darimu," sahut Fang Han dingin, membisikkannya tepat di telinga Zhao Tian yang sedang sekarat.

"Aku hanya mengembalikan apa yang bukan milikmu kepada alam semesta. Kau telah membangun hidupmu di atas kebohongan dan darah orang tak bersalah selama dua puluh tahun. Sekarang, kembalilah ke ketiadaan tempat asal pengkhianat sepertimu. Di sana, tidak ada tahta, tidak ada emas, hanya ada kegelapan abadi."

Zhao Tian mencoba bicara, mulutnya menganga namun suaranya hilang saat tubuhnya mulai pecah menjadi partikel-partikel debu halus, persis seperti para prajurit elitnya tadi. Penguasa Kota yang agung, sang pengkhianat Sekte Matahari Langit, kini lenyap tanpa bekas. Hanya pedang emasnya yang terjatuh di atas tanah berbatu dengan denting logam yang menyedihkan, sebuah benda mati yang tak lagi memiliki tuan.

Melihat pemimpin tertinggi mereka tewas dengan cara yang begitu mistis dan mengerikan, sisa ribuan prajurit itu kehilangan semangat tempur mereka secara total. Mereka menjatuhkan senjata, tameng, dan panah mereka. Ketakutan yang melumpuhkan jiwa membuat mereka lari kocar-kacir ke segala arah termasuk Zhao Chen, meninggalkan kaki gunung seolah-olah mereka sedang dikejar oleh dewa kematian itu sendiri.

Fang Han jatuh berlutut dengan satu tangan menopang tubuhnya menggunakan pedang Sunya Long. Tato di wajah dan lengannya perlahan memudar, meninggalkan rasa sakit yang membakar di sekujur sarafnya. Ia memuntahkan darah dalam jumlah besar; darah itu berwarna merah tua bercampur hitam. Penggunaan teknik "Gerbang Akhir" tadi telah menghancurkan hampir separuh dari wadah energinya sendiri. Ia merasa seolah-olah jiwanya sedang ditarik dari dua arah yang berbeda.

Mu Chen mulai tersadar dan terhuyung-huyung mendekati Fang Han. Ia menatap sekeliling dengan mata membelalak; ia melihat ribuan senjata berserakan dan gundukan debu abu-abu di tempat Zhao Tian tadi berdiri.

"Han-er... kau... kau benar-benar melakukannya. Kau membunuh seorang Penguasa Kota dengan tanganmu sendiri..." ucap Mu Chen dengan suara yang hampir tenggelam oleh isak tangis ketakutan dan kekaguman.

Fang Han tidak menjawab. Matanya tertuju pada pedang emas Zhao Tian yang tergeletak tak jauh darinya. Dengan sisa tenaganya, ia mengambil pedang itu dan menyimpannya ke dalam tas kulitnya.

"Mu Chen... perjalanannya belum berakhir di sini. Ternyata dugaanku selama ini salah... Paman Zhou bukan hanya korban penindasan biasa. Keluarga kita... kita memiliki musuh yang jauh lebih besar dan sejarah yang jauh lebih gelap dari yang pernah aku bayangkan," ucap Fang Han, suaranya parau.

Mu Chen memegang bahu Fang Han yang gemetar. "Apapun itu, Han-er, kita harus segera kembali ke Desa Qinghe. Pamanmu sedang sekarat menunggu bunga ini. Rahasia masa lalu bisa menunggu, tapi denyut nadi pamanmu tidak akan menunggu."

Fang Han menarik napas panjang, mencoba menstabilkan napasnya yang sesak. Ia menyarungkan kembali Sunya Long ke punggungnya. Pedang itu kini tampak sangat tenang dan berat, seolah ia baru saja kenyang setelah memakan jiwa seorang praktisi tingkat tinggi yang penuh dengan energi.

"Kau benar. Mari kita pulang sekarang juga," ucap Fang Han pelan.

Mereka berdua berjalan perlahan, tertatih-tatih meninggalkan kaki Puncak Menangis yang kini menjadi saksi bisu pembantaian massal yang tak akan pernah dilupakan oleh sejarah. Di belakang mereka, matahari kini sudah naik tinggi, menyinari lembah yang kini sunyi, hanya menyisakan ribuan senjata tak bertuan yang mulai tertutup salju tipis.

Namun, di dalam hati Fang Han, ada badai baru yang sedang berkecamuk lebih hebat dari badai mana pun yang pernah ia lalui. Ia menyadari bahwa setelah hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sekadar pelayan toko obat yang sedang mencari tanaman herbal. Ia telah melangkah masuk ke dalam pusaran konflik antar sekte besar dan rahasia kuno yang mungkin akan mengubah seluruh peta kekuatan di dunia kultivasi.

"Siapa aku sebenarnya, Paman Zhou?" bisik Fang Han pada angin pagi yang dingin saat mereka mulai menjauh.

"Dan mengapa aku merasa... bahwa kehampaan yang mematikan ini terasa begitu akrab bagi jiwaku? Apakah aku memang dilahirkan untuk menghancurkan, atau untuk menyelamatkan?"

Sosok Fang Han dan Mu Chen perlahan menghilang di balik bukit menuju arah Desa Qinghe, membawa satu-satunya harapan bagi nyawa yang mereka sayangi, namun juga membawa beban rahasia yang sanggup meruntuhkan sebuah kerajaan jika terungkap ke permukaan. Badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!