Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pedang Bayangan Kuno dan Keberangkatan
Lin Zhennan dan Lin Bao menatap kosong saat Lin Feng melangkah keluar dari kolam yang sekarang hampir jernih. Aura yang dipancarkan pemuda itu tidak lagi ganas, tetapi dalam dan tak terduga seperti lautan bintang. Mereka, sebagai ahli Alam Yayasan Roh, bahkan merasa sedikit tertekan oleh kehadiran seorang junior di Alam Penempaan Tubuh. Ini benar-benar tidak pernah terdengar.
"Bagus... bagus... bagus!" Lin Zhennan berkata "bagus" tiga kali berturut-turut, suaranya dipenuhi dengan kekaguman yang tulus. "Klan Lin kita, dengan adanya dirimu, tidak perlu lagi khawatir untuk seratus tahun ke depan!"
Lin Feng mengenakan kembali pakaiannya. Setelah penempaan oleh darah naga, kulitnya yang seperti giok tampak memancarkan cahaya samar. Dia hanya mengangguk menanggapi pujian itu.
"Kompetisi akan dimulai dalam seminggu," kata Lin Zhennan, memulihkan ketenangannya sebagai Kepala Klan. "Kau telah mencapai puncak Alam Penempaan Tubuh. Sekarang, kau membutuhkan senjata yang cocok."
Dia memberi isyarat agar Lin Feng mengikutinya. "Ikut aku ke Gudang Senjata Inti."
Gudang Senjata Inti adalah tempat lain yang dijaga ketat, menyimpan senjata-senjata terbaik yang telah dikumpulkan Klan Lin selama beberapa generasi.
Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai macam senjata yang memancarkan aura tajam. Ada tombak yang berkedip dengan cahaya petir, pedang lebar yang terasa berat dan kokoh, serta busur yang dibuat dari kayu spiritual.
"Pilihlah sesukamu," kata Lin Zhennan dengan murah hati. "Senjata apa pun di sini, kau boleh mengambilnya."
Lin Feng berjalan perlahan melewati rak-rak senjata. Di matanya, senjata-senjata ini memang berkualitas baik untuk dunia fana, tetapi tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya. Kebanyakan dari mereka terlalu mencolok dan kurang memiliki substansi.
Saat dia berjalan ke sudut yang paling dalam dan paling berdebu, matanya tertuju pada sebuah pedang panjang yang diletakkan di rak paling bawah.
Pedang itu tampak sangat biasa. Sarung dan gagangnya terbuat dari kayu hitam yang tidak diketahui jenisnya, tanpa ukiran apa pun. Tidak ada aura tajam atau fluktuasi energi yang berasal darinya. Itu tampak lebih seperti pedang latihan yang usang daripada senjata berharga.
"Oh, pedang itu?" Lin Bao mengerutkan kening. "Kami menemukannya di reruntuhan kuno beberapa dekade yang lalu. Tidak ada yang tahu terbuat dari apa. Itu sangat berat dan tumpul. Kami bahkan tidak bisa mengasahnya. Kami hanya menyimpannya di sini karena bahannya yang aneh."
Lin Feng berjalan mendekat dan mengambil pedang itu. Seperti yang dikatakan Lin Bao, pedang itu sangat berat, setidaknya beberapa ratus kilogram. Beban ini tidak akan berarti apa-apa bagi seorang ahli Alam Penempaan Tubuh, tetapi aneh bagi pedang dengan ukuran seperti itu.
Dia menarik pedang itu dari sarungnya.
Bilahnya berwarna abu-abu gelap, tanpa kilau sedikit pun. Permukaannya tidak memantulkan cahaya, seolah-olah menyerap semua cahaya yang jatuh padanya. Tepi bilahnya memang tumpul, seperti penggaris logam.
Namun, saat Lin Feng menyalurkan sedikit Qi Kekacauan ke dalamnya, matanya berbinar. Pedang itu sedikit bergetar, dan dia bisa merasakan "kehausan" yang samar darinya—kehausan akan energi yang berkualitas tinggi.
"Aku pilih yang ini," kata Lin Feng tanpa ragu.
Lin Zhennan dan Lin Bao saling berpandangan, bingung dengan pilihannya, tetapi mereka tidak membantah. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan."
Lin Feng menyarungkan kembali pedang itu. Dia merasa pedang ini, yang tampak biasa, menyembunyikan rahasia yang dalam. Dia akan menamainya "Pedang Bayangan Kuno."