Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Pacar rahasia Ketos
Ahhh, elahhhh, kirain apa Ka!
Seru mereka bubar jalan, saat Naka hanya berkata, "selama ini sebenernya gue mau ngomong, thanks...lo semua pengurus OSIS yang royal banget. Berdedikasi yang pernah gue kenal." Ucapnya tenang, wajahnya lempeng tapi sorot matanya tak lepas menatap Shanum yang juga menatapnya nyalang hampir dibuat panik.
Jemima, "lucu banget Naka...ha-ha-ha! Daftar stand up comedy sana, Ka..." yang lucu sebenarnya bukan Naka, tapi wajah kecut teman-temannya.
Ada, huffftt----dari Shanum setelah itu sampai tali tas di sebelah pundak kirinya merosot hingga ke lengan.
Setelah membiarkan teman-temannya pulang duluan, termasuk Mima yang juga memesan ojol, Shanum baru naik ke boncengan Naka.
"Naik.." pinta Naka pada gadis yang cemberut itu.
/
Adit menepuk jidatnya saat terlupa jika sepatu futsalnya tertinggal di ruang OSIS tadi, sementara malam nanti ia memiliki janji futsal bersama teman di lingkungan rumahnya.
Ck! "elah, lupa lagi..." untung saja kunci ruangan itu ada di dirinya, membuat Adit memutar balikan motornya kembali ke sekolah.
Ada genggaman Shanum di pinggiran jaket Naka sesaat setelah naik termasuk Naka yang mulai melajukan motor keluar gerbang, hingga akhirnya mereka menyatu dengan jalanan.
Adit menghentikan laju motornya ketika melihat sosok-sosok yang dikenalnya baru saja melintas keluar sekolah di satu motor yang sama, iyaa...Shanum berada di boncengan Naka. Ia melongo tentu saja sesaat setelah menaikan kaca helm, "an jirr..." ia menggeleng, mendengus tak percaya meski kemudian bergegas kembali ke sekolah.
~~
Tidak semesra kemarin atau tadi pagi, Shanum justru memberikan jarak kali ini, kalo bisa ia akan duduk seujung mungkin.
Naka notice dengan hal itu, dan dengan sengaja ia menggeber dan rem dadakan dalam waktu yang hampir bersamaan, hal itu sukses membuat Shanum tersentak dan menempel seperti biasanya.
"Lo marah?"
"Engga." Jawabnya diantara terpaan angin jalanan. Sinar matahari sudah tak terlalu panas menyengat setengah beranjak ke petang tapi matanya masih tetap menyipit menghalau silau dan angin.
Dari raut wajah dan cara bicaranya, benar...Shanum sedang tak baik-baik saja.
"Gue sama Rea tadi bahas----"
"Masa lalu, tau. Ngga usah diceritain, paham banget gue mah." Jawabnya ketus meski nadanya itu melemah disertai lengu han jengah.
Naka mendengus, begini malasnya Shanum, begini ribetnya Shanum tapi sialnya ia sudah terlanjur sayang.
"Masalah ngga buat lo?" tanya nya lagi digelengi Shanum yang justru terlihat kesulitan menekan sarafff matanya yang panas itu untuk tidak kelilipan air mata.
"Engga, sama sekali." Lagi, elaknya dengan suara yang sudah hampir mengeluarkan getaran.
Jika merasa kesal, jengkel dan marah, ujung-ujungnya Shanum akan menangis, begitu sosok seorang Shanum Kamala. Anaknya ribet, begitu rumit, meski kelebihannya adalah, ia penurut.
Naka mengangguk, "oke. Syukur kalo gitu." Seolah---dimata Shanum kini ia tak peduli dan tak peka.
Hhaaa---hufffttt! Shanum menghela dan membuang nafasnya kasar. Mencari pengalihan melihat ke sekeliling jalanan, tapi tak bicara apapun. Yang jelas, keinginannya untuk menangis semakin besar sekarang.
Saking sibuknya ia mengalihkan pandangan dan mengatasi syaraff mata yang memanas, tanpa sadar Naka telah membelokan arah motor untuk menepi.
Shanum tersadar setelah laju motor terhenti di sebuah minimarket, tanpa bertanya atau bicara ia turun dari boncengan, barangkali Naka memang mau membeli sesuatu.
"Mau titip?" Naka melepas helmnya sejenak dan menaruh itu di atas motor sementara Shanum menggeleng bergegas mencari tempat duduk sambil mengeluarkan ponsel demi so sibuk.
Entahlah ia akan so sibuk dengan cara apa, melihat foto-foto di galeri ponselkah, atau sekedar room chat WhatsApp kah...yang jelas, setidaknya itu bisa mengalihkan perhatiannya dari Naka, dari ketidakpekaan Naka pikirnya.
Netranya sempat menangkap gestur dan gerak gerik Naka di dalam sana yang tengah memilih menyerbu showcase.
Sepuluh menit, Naka kembali keluar dengan menenteng kresek yang terisi cemilan, mengeluarkan sejenak minuman rasa buah dengan nata de coco di dalamnya untuk ia teguk.
Sementara sisanya, ia menyerahkan itu pada Shanum, "nih."
Shanum melihat itu lalu mendongak menatap wajah Naka, "apa?"
"Buat nyemil."
"Gue ngga minta." Jawab Shanum, semakin saja ia dibuat kesal, maunya apa dikasihnya apa...
Naka menghela nafasnya lagi, menarik kursi demi bisa duduk menghadap ke arah Shanum, "oke, kita ngomong....Rea minta ijin buat terbitkan mading pekan ini, makanya tadi ajak Daffa juga karena memang biasanya ijin dan urusan buat mading 'Mak Buti' lewat Daffa terus ke gue. Karena Daffa sekarang wakil ketua panitia, jadi untuk urusan mading itu, ngga bisa urus lama-lama. Sementara untuk hal ini, gue free karena gue cuma anggota kepanitiaan aja..."
Lagi-lagi Naka menghela nafasnya, "Sha, Lo sendiri yang pengen hubungan kita diumpetin begini. Sekarang Lo juga yang repot sendiri sama pemikiran lo....gue tanya, seenggak mau itu Lo publish? Why?"
Shanum menatap Naka yang kemudian air matanya tak bisa dibendung lagi, ia sudah menangkup wajahnya dengan kedua tangan, "ngga tau. Emang gue ribet..."
Naka meraih Shanum ke dalam pelukannya setelah Shanum berhasil menumpahkan tangisan yang sejak tadi ia tahan, dengan sisa air matanya ia berani menatap Naka, "mau gue simple aja sebenernya---- pengen hidup gue lempeng di sekolah, damai seperti biasanya, ngga terusik siapapun. Tetep jadi diri gue yang ngga pernah dilihat siapapun."
Oke, sampai sini Naka paham. Sesederhana itu alasan Shanum, tapi justru semuanya jadi rumit saat *pacar---tunangan--pasangannya* itu adalah dirinya, seorang Mainaka Praveen Rajendra, ketua OSIS SMA Budi Pekerti X, seseorang yang terlihat sejak awal kedatangannya, seseorang yang kemanapun langkahnya akan selalu diikuti orang-orang, entah itu suka atau tidak seolah privasinya menjadi barang mahal. Dan sesuatu yang patut dijual...
Naka selalu ingat, dimana ada sorotan untuknya, Shanum selalu tenggelam. Shanum memilih asik dengan teman-teman seupritnya, makan---nyemil dan nge-jokes bersama. Bahkan dari sekian banyaknya teman dan siswa di sekolah, Shanum hanya ngumpul dengan mereka-mereka saja, geng ceriwis.
Ia sangat tau, Shanum akan lebih memilih iseng membuat graffiti ketimbang muncul di permukaan sebagai kandidat abang--none. Atau seseorang dengan fisik baik dan mencuri perhatian. Meskipun berlian tetap akan terlihat diantara dalamnya kedalaman laut.
Sosok riang tapi tak suka dengan keramaian dan sorotan.
Kembali, Naka meraihnya ke dalam pelukan, "ya udah ngga usah nangis."
"Gue pasti bilang, gue pasti jawab kalo yang lain tanya kok, tapi sejauh ini yang mereka ributin kan cuma antara Airani--Rea sama bocah SMP."
"Tapi gue ngga mau unjuk diri dan mencolok, biar mereka tau karena memang udah waktunya aja. Gue ngga mau diribetin sama cuitan genit atau godaan yang ganggu banget. Pun, tatapan ngga suka yang nantinya bakalan bikin gue risih ada di sekolah terutama dari cewek-cewek yang suka sama Lo, barisan fanbase lo." Shanum memutar bola matanya.
Kemudian ia menyeka sisa air matanya, "bayanginnya aja udah melelahkan, Ka. Beban banget..." akuinya.
.
.
.
.
buat apa uang Naka banyak kalau GK buat dihabisin🤣
yokkk go public 🫵