Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi itu, setelah selesai check-out dari hotel, Rendra membawa Medina menuju bandara. Hari yang mereka nanti akhirnya tiba — penerbangan menuju Maldives untuk bulan madu. Sepanjang perjalanan, Medina diam dengan hati yang berdebar. Entah karena gugup, malu, atau karena mulai merasakan cinta yang perlahan tumbuh dari sikap lembut suaminya. Rendra, yang dulu ia pandang sebagai sosok kakak penuh wibawa, kini memperlakukannya sebagai istri yang begitu ia sayangi.
Perhatian Rendra kini terasa berbeda. Jika dulu ia menjaga jarak walau selalu peduli, kini Rendra tak lagi menahan diri. Ia dengan lembut menggenggam tangan Medina, sesekali mengecup keningnya tanpa ragu. Medina hanya bisa tersenyum malu, pipinya merona setiap kali Rendra memperlakukannya seperti itu.
Sesampainya di Maldives, Rendra menyewa sebuah resort mewah dengan villa terapung yang memiliki akses langsung ke laut biru jernih. Begitu mereka tiba, mata Medina berbinar-binar. Hamparan laut yang tenang, suara debur ombak lembut, dan semilir angin asin membuatnya terpana.
“Indah sekali, Mas…” ucapnya pelan, menatap panorama luas di hadapan mereka.
Rendra tersenyum, memeluk pinggang istrinya dari belakang. “Kamu suka?”
Medina menoleh, senyumnya merekah. “Suka banget. Rasanya seperti mimpi.”
“Kalau begitu, jangan bangun dari mimpi ini,” bisik Rendra, mengecup puncak kepala Medina.
Esoknya, Rendra mengajak Medina snorkeling bersama ikan pari. Air laut sebening kaca membuat segala warna kehidupan bawah laut tampak jelas. Senyum Medina tak pernah lepas dari wajahnya. Rendra memandangi perempuan itu dengan tatapan yang lembut dan penuh kasih. Dalam hati, ia merasa semakin yakin — rasa sayangnya pada Medina bukan lagi sekadar kasih seorang kakak.
Bagi Rendra, Medina adalah gadis yang istimewa. Wajahnya menyejukkan, bola matanya berwarna hazel memantulkan sinar lembut matahari tropis. Tutur katanya selalu menenangkan. Ia tahu, Medina adalah sosok yang ingin ia jaga selamanya — pendamping hidup, juga kelak ibu bagi anak-anak mereka.
Siang harinya, mereka makan di restoran bawah laut. Dikelilingi terumbu karang dan ikan warna-warni, Medina berkali-kali menatap sekeliling dengan takjub.
“Mas… tempat ini luar biasa,” katanya dengan mata berbinar.
Rendra tersenyum, menggenggam jemari Medina di atas meja kaca yang tembus pandang ke lautan. “Tidak lebih luar biasa dari kamu.”
Medina tertawa kecil, malu-malu. Tapi tawa itu segera terhenti ketika Rendra mengecup lembut jemarinya, lalu sekilas menyentuh bibirnya dengan kecupan singkat. Hangat dan mengejutkan — membuat jantung Medina berdebar kencang. Wajahnya langsung memerah, membuat Rendra tak kuasa menahan tawa kecil.
“Lucu banget kalau kamu malu begini,” godanya.
Medina menunduk, menyembunyikan pipinya yang merona. “Mas Rendra…”
“Ya?”
“Jangan buat aku deg-degan terus,” bisiknya dengan suara hampir tak terdengar.
Rendra tersenyum lembut, lalu menjawab pelan,
“Kalau begitu, biar deg-degannya jadi tanda kalau kamu mulai jatuh cinta padaku.”
🌸🌸🌸
Senja menyapa mereka yang sedang duduk manis di depan penginapan. Pemandangan laut yang biru sungguh memanjakan mata. Semilir angin berhembus menghampiri dia sejoli itu.
Jemari Rendra membelai lembut pipi Medina yang mulus seputih susu. Perlahan, ia mulai mengecup pipi merona itu karena menahan malu. Sungguh menggemaskan bagi Rendra.
Tangan Rendra kembali menyentuh dagu Medina, dan menarik nya ke atas dengan lembut. Rendra mengecup bibir berwarna merah muda yang sejak berapa hari terakhir sudah menggoda imannya. Ia kembali mengecup, hingga menyesap bibir Medina bergantian. Menyesap dengan lembut namun semakin menuntut. Medina hampir kehabisan nafas, ia menepuk pundak suaminya. Rendra melepas pagutannya, dan mengusap bibir Medina yang sedikit bengkak dan basah karena ulahnya.
Netranya menatap kedua bola mata berwarna Hazel itu dengan intens. Pandangannya sudah berkabut menahan gairah. Namun Rendra masih tetap meminta izin kepada istrinya.
"Apa, aku sudah boleh untuk meminta hak ku? " tanya Rendra dengan nafas yang sudah tak beraturan. Baru kali ini, ia merasakan debaran jantung serasa ingin meledak. 'Perasaan apa ini, apa ini cinta?' batinnya.
Medina hanya menunduk dan mengangguk kaku. Ia sungguh merasa malu untuk menjawab bahkan sekadar bilang IYA saja, Medina tak mampu bersuara.
"Kamu, sangat menggemaskan saat malu-malu begini. " goda Rendra.
Akhirnya Rendra menggendong Medina ala bridal style, dan membawanya masuk ke dalam kamar.
******
Sementara di sisi negara lain. Seorang wanita berambut blonde panjang sebahu sedang melemparkan barang-barang seisi ruangan.
Sang asisten tak mampu berbuat apa-apa, hanya mencoba menenangkan namun nihil. Wanita itu semakin menjadi-jadi seperti orang yang tak waras.
"Aaaaarghh!! Rendra... Kenapa kamu tega! Siapa wanita itu, siapa wanita yang berani merebutmu dari aku!! "
"Vanessa, tenangkan dirimu. " ucap Dita, asisten nya.
"Tenang? Kau pikir aku bisa tenang saat dia menikahi wanita lain?!
Aku yang selama ini ada di sisinya. Aku yang selalu menemani rasa kesepiannya. Aku juga yang selalu menghangatkan ranjangnya. Berani sekali wanita itu, merebut milikku!! "
"Besok, kau coba hubungi Rendra lagi untuk meminta penjelasan. Aku dengar, pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang di inginkan ibunya. "
"Persetan!! " bentak Vanessa.
"Aku bela-bela in datang ke Amerika buat nemenin dia. Bahkan, aku jadi model disini, demi bisa selalu bersama dia. Rendra yang selalu jadi sponsor buat aku. Apa aku kurang cantik, Dit?? " ucapnya lagi dengan bibir bergetar.
"Cukup Vanessa. Jangan bersedih lagi. Nanti jika Rendra kembali, kau boleh tanyakan padanya. Aku yakin, Rendra masih berpihak padamu. "
"Aku beneran cinta pada Rendra, aku gak mau kehilangan dia Dit. " tangis Vanessa semakin pecah saat di pelukan asistennya.
Vanessa meremas jari jemarinya. Ia bersumpah, akan menghancurkan hidup wanita manapun yang berani merebut Rendra dari pelukannya.
...----------------...