Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Diantara Harapan dan Izin
Ivan dan Andika berjalan ke kantor.
"Van, nggak nyangka deh kalau kita bisa dipilih!!" ujar Andika sambil berjalan.
"Iya, apalagi kita bertiga dipilih," ujarku yang senang.
"Iya, aku yang jadi kiper dan kamu jadi striker. Seru kan?!" seru Andika.
"Iya," jawabku pelan.
"Kita jalan aja, sedikit lagi sampai kantor," ujarku.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku dan Andika.
Setibanya di kantor, aku dan Andika melihat Azzam sudah di sana dengan para murid-murid yang lainnya.
"Van, Dik!!" sapa Azzam.
"Zam," sapaku.
Azzam lalu menghampiri kami.
"Kita disini nunggu apa, Zam?!" tanya Andika.
"Nunggu, Pak Nur!!" jawabku.
"Omong-omong kalian tau nggak?!" tanya Azzam.
"Tau apa?!" sahutku.
"Semua yang dipilih itu dari kelas 12, artinya cuman kita sama Michel yang dari kelas 11," ujar Azzam sambil menunjuk para kakak kelas.
"Apa iya?!" sahutku pelan.
"Iya," Azzam yang mempertegas.
"Anak-anak, semuanya merapat ke depan sini!!" suara Pak Nur yang memberikan arahan.
Aku dan teman-temanku lalu mendekat ke Pak Nur.
"Ini ada beberapa informasi yang akan disampaikan untuk lomba di kecamatan, jadi di dengarkan dengan baik ya!!" seru Pak Nur.
"Baik, Pak!!" seru kami semua.
"Baik, untuk tim ini hanya kekurangan beberapa pemain cadangan. Dan pertandingan akan diselenggarakan hari senin minggu depan, untuk yang tidak bisa mewakili sekolah silakan segera beri tahu ke bapak!!" ujar Pak Nur sambil melihat ponselnya.
"Baik, Pak!!" jawab semuanya.
"Sekarang kalian bisa kembali ke kelas masing-masing!!" seru Pak Nur.
"Baik!!" jawab semua.
Aku, Andika, dan Azzam kembali ke kelas masing-masing. Karena kelasku dan Andika sama, kami pun berjalan bersama-sama.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku dan Andika.
"Dik, kira-kira aku dikasih izin ibu nggak?!" tanyaku pelan sambil menoleh ke Andika.
"Hmm... Aku sih nggak tahu ya, tapi karena ini perintah sekolah siapa tahu dikasih izin!!" ujar Andika, dia juga bingung soal izinku untuk bermain bola mewakili sekolah.
Setibanya di kelas, ternyata teman-teman sedang tidak ada pelajaran alias jam kosong.
"Woi!!! Huuu!!!" suara teman-temanku yang bermain di kelas.
Aku dan Andika lalu duduk di kursi masing-masing. Aku baru saja duduk di kursiku tapi langsung diberikan pertanyaan oleh Nadia.
"Van, kamu jadi apa?!" tanya Nadia, dengan pertanyaan yang tidak terlalu jelas.
"Apanya?!" tanyaku balik.
"Ini loh, soal tim sepak bola!!" ujar Nadia.
"Oh... Kalau aku jadi striker," jawabku pelan.
"Oh striker... Tapi striker itu apa?!" tanya Nadia yang tidak tahu.
"Huh..." aku menghela napas.
"Striker itu pemain depan, Nad!!" penjelasan singkat dariku
"Ohh...." seru Nadia.
Jam kosong ini sangat lama, bahkan sampai jam istirahat.
"Waktunya istirahat pertama dimulai!!" suara keras dari speaker sekolah.
Kelas yang awalnya berisik karena teriakan dan murid yang bermain, tiba-tiba langsung menjadi hening karena semua murid ke kelasku pergi keluar untuk bermain bola.
"Yeyy!!" teriakan seisi kelas sebelum pergi keluar.
Aku tidak keluar untuk bermain atau ke kantin. Aku hanya duduk di kelas, mencoba untuk tidur.
"Van, kamu nggak keluar?!" tanya Nadia.
"Nggak," jawabku singkat.
"Yaudah," ujar Nadia sebelum pergi.
"Tidur aja," gumamku.
Aku lalu mencoba untuk tidur sejenak di kelas. Setelah beberapa detik, akhirnya aku bisa tertidur.
Ivan lalu tidur sejenak di kelasnya. Sementara itu Azzam dan Andika yang sedang berdebat di kantin.
"Dik, Ivan kira-kira di beri izin ibunya nggak ya?!" tanya Azzam ke Andika.
"Nggak tahu, tapi kalau disuruh sekolah pasti diizinin!!" ucap Andika sambil mengunyah sepotong roti.
"Dik, katanya turnamen kecamatan yang kita ikutin itu bakal diawasi pelatih dari SSB Putra Bangsa!!" bisik Azzam.
"Putra Bangsa... SSB apa itu?!" tanya balik Andika.
"Ya, SSB!!" seru Azzam.
"Waktu istirahat pertama sudah selesai, silakan kembali ke kelas masing-masing!!" suara dari speaker sekolah.
"Aku ke kelas dulu, Zam!!" seru Andika sambil berjalan pergi.
Karena suara speaker yang keras itu, Ivan lalu terbangun.
"Huah..." aku menguap.
"Ihh... Imut!!" seru Nadia disampingku.
Aku kaget dan refleks menyentuh pipi Nadia.
"Jahat!!" ucap Nadia pelan sambil menahan sakit.
"M-maaf, Nad. Aku nggak sengaja!!" ucapku yang meminta maaf.
"Iya," seru Nadia sambil memegangi pipinya yang sakit.
"Sekali lagi, maaf ya!!" seruku.
Itulah hari pertamaku di kelas 11. Singkat cerita saat waktu pulang sekolah.
"Pelajaran hari ini sudah selesai, murid-murid bisa pulang ke rumah masing-masing!!" suara keras dari speaker sekolah.
"Akhirnya," batinku pelan.
"Oke, anak-anak. Kalian bisa pulang!!" seru Bu Iza yang sedang mengajar.
"Baik, Bu!!" seru teman-teman satu kelas.
Aku lalu berjalan ke luar kelas. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Azzam.
"Zam," sapaku.
"Van," sapa Azzam.
Aku berjalan mendekat ke arah Azzam.
"Kita jalan pulang yuk," usulku.
"Boleh," jawab Azzam.
Aku lalu berjalan pulang bersama Azzam. Aku pulang sekolah di jam 2 siang.
"Panas," gumamku pelan sambil terus berjalan.
"Van, kita latihan mulai sore nanti!!" ujar Azzam.
"Sore?!" tanyaku sambil menoleh ke Azzam.
"Iya, tempatnya di lapangan belakang sekolah ya," ujar Azzam.
"Udah, padahal aku belum tahu ibu kasih izin aku nggak?!" batinku yang agak cemas.
"Yaudah, Van. Aku belok dulu!!" ujar Azzam sebelum berbelok.
"Iya," sahutku sambil melambaikan tangan.
Setibanya di rumah, aku langsung disambut oleh suara ibu dari dapur.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
"Krek!!" suara pintu terbuka.
"Ibu, aku sudah pulang," seruku sambil melepas sepatu.
"Setelah ganti baju kamu langsung makan ya!!" seru ibu dari dapur.
"Iya," sahutku.
Begitu aku masuk rumah, aku langsung menuju ke kamarku untuk mengganti baju.
"Huh..." aku menghela napas.
"Gimana caranya aku bilang ke ibu ya, soal mewakili sekolah?!" batinku sambil mengganti baju.
Setelah selesai mengganti baju, aku lalu berjalan ke dapur untuk makan.
Aku berjalan sambil terus berpikir soal cara untuk membuat ibu memberikan izin bermain bola, apalagi aku dipercaya jadi striker.
"Hmm...." pikirku sambil memandangi langit-langi rumah.
Sesampainya di dapur, aku duduk dan mencoba berbicara soal turnamen ke ibu.
"Bu," ucapku pelan.
"Iya, ada apa?!" tanya balik ibu sembari duduk di kursi.
"Ada yang mau Ivan tanyain!!" seruku sambil mulai mengambil nasi
"Yaudah, tanya aja," sahut ibu sambil mengunyah makanan.
"Apa aku boleh ikut turnamen bola?!" tanyaku dengan nada pelan dan khawatir.
"Kamu udah ibu bilang, jangan main bola apalagi ikut turnamen. Memangnya main bola bisa kasih kita uang, kan nggak!!" ujar ibu yang marah.
"Tapi Bu, aku disuruh sekolah untuk mewakili di turnamen bola," seruku yang coba menjelaskan.
"Mau disuruh sekolah, kabupaten, maupun negara. Kalau ibu bilang nggak ya nggak!!" ujar ibu yang tambah marah.
"Iya Bu," jawabku pelan sambil menundukkan kepala.
Ibu lalu berjalan ke kamarnya.
"Ini penting buat perjalanan ku. Restu ibu itu penting tapi?!" seruku.
"Oke, aku ambil keputusan sendiri!!" batinku sambil berdiri dan berjalan ke kamar.
Di kamar, aku mencari sepatu untuk bermain dan juga kaos kaki yang panjang.
"Jam 4 sore," gumamku saat membaca pesan dari grup di ponselku.
"Aku harus pergi kesana, tapi ibu nggak boleh tahu!!" batinku.
Aku melihat bola yang ku simpan di bawah ranjangku.
"Bola adalah teman!!" ucapku saat membaca tulisan di bola.
Ivan bertekad untuk bermain walaupun ibunya melarangnya. Jadi, apakah perjalanan Ivan melawan restu orang tua akan berjalan mulus?
Bersambung...