NovelToon NovelToon
Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:820.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Azura Ryn

Ina ingin punya pacar dingin seperti di novel-novel lokal yang sering dia baca. Akhirnya dia pun jadian dengan cowok paling dingin di sekolah, Azam. Namun sayang, tidak seperti tokoh-tokoh idamannya yang berubah dari dingin jadi bucin, cowok itu malah makin nyebelin.

"Kenapa Azam gak bucin kayak di novel-novel aja, sih?"
- Ina -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Ryn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dor

Jantungku memompa darah dengan lebih cepat, bunyinya juga terdengar semakin kuat. Aku tidak terkena penyakit jantung, kan?

Aku mengelap telapak tangan ke baju, haduh, padahal baru selesai cuci tangan, kenapa lihat Azam malah jadi keringetan gini, sih? Apa aku punya kelainan? Penyakit mematikan? Hih, amit-amit, deh.

Selain keringetan, tanganku juga gemetaran. Kepalaku pening memikirkan dua pilihan, tembak atau jangan? Duh, Dedek Ina dilema.

Nembak cowok itu gak boleh sembarangan, aku harus pikirkan dulu untung dan ruginya. Baiklah, mari kita jabarkan untung dan rugi nembak Azam.

Keuntungan:

Kalau diterima, keinginanku untuk menjadi pacar Azam akhirnya kesampaian.

Kalau diterima, aku bakal punya cowok ganteng.

Duh, apa lagi, ya? Kok otakku jadi blank begini.

Setelah beberapa menit pun otakku tetap tidak menemukan keuntungan lainnya. Baiklah, mari kita pikirkan kerugiannya terlebih dahulu saja.

Kalau ditolak, aku pasti jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas, atau mungkin satu sekolah.

Kalau diterima, aku bakal diledek habis-habisan, ya, teman sekelasku memang semenyebalkan itu.

Kalau diterima, aku bakal jadi musuh macan-macan betina di seluruh sekolah. Aduh, kok jadi merinding, ya?

Kalau ditolak, aku bakal patah hati, galau, dan penyakit menyebalkan lainnya. Bisa-bisa badan langsingku jadi kurus tak terurus. Ih, gak mau.

Kalau pas nembak diacuhkan, aku pasti kesal setengah mati dan badmood keterusan.

Oke, tunggu, kenapa ini malah banyak kerugiannya? Apa menembak Azam memang seberesiko itu?

Apa aku gak usah nembak aja, ya? Perasaanku jadi gak enak soalnya. Ini mungkin semacam feeling yang dirasakan sama tokoh-tokoh sinetron ketika akan ada kejadian buruk.

Tapi, kalau aku gak nembak sekarang, kapan lagi? Kebetulan banget ini suasananya sepi, jadi kalau pun ditolak gak akan banyak yang tahu. Aku percaya Azam gak akan nyebarin gosip, jadi berita kalau aku ditolak gak bakal bocor kecuali aku sendiri yang buka aib. Lah, orang Azam aja kayaknya gak pernah ngomong gitu, kok. Dia bukan tipe-tipe cowok tukang gosip seperti teman sekelasku.

Duh, gimana, ya?

Setelah merenung sejenak, aku memantapkan hati. Baiklah, aku akan menembak Azam saja. Kapan lagi kesempatan ketika kami hanya berdua datang lagi? Pastinya tidak dalam waktu dekat.

Ini adalah masa paling penting dalam sejarah percintaanku, berhenti tumbuh atau mulai berbunga. Aku ingin segera terbebas dari belenggu cinta tak tersampaikan. Aku bosan dipanggil bucin lemah terus. Jawaban Azam akan menentukan aku untuk move on atau tetap menyukainya.

Hati kecilku sih berharap bisa jadi pacarnya, tapi kadang kenyataan sering gak selaras dengan keinginan. Jadi aku tidak akan terlalu berharap banyak, kalau pun jatuh, semoga sakitnya gak terlalu serius. Jangan sampai deh aku jadi galau, depresi, terus gila. Ih, amit-amit.

Setelah menarik napas dan menghembuskannya sebanyak tiga kali, aku mendekati Azam. Dia sedang duduk di kursi sambil mengoperasikan gawainya. Hm, pantas saja dia sering ke toilet, ternyata ngadem.

Masih diiringi nada detak jantungku sendiri, aku mencoba untuk menyapa. "A-Azam." Duh, karena gugup, suaraku malah jadi terdengar seperti memanggilnya a.

Setelah satu ekskul, aku mulai berhenti memanggilnya a. Kenapa? Karena dia orangnya terlalu ngeselin. Siapa yang sudi manggil dia aa dengan penuh hormat? Tak seorang pun.

Aku memang belum pernah menyapanya, tapi memerhatikan Azam hampir setiap hari membuatku tahu kebiasaannya. Dia jarang berbicara, kecuali kalau sedang bersama A Akbar yang aku tahu sahabatnya sejak TK. Azam bahkan tidak sopan sama kakak pelatih voli, dia kadang cuma ngangguk, senyum yang terlihat kaku alias senyum basa basi, dan kalau ditanya jawabannya cuma: hm, ya, atau menggelengkan kepala. Kecuali memang pertanyaannya yang butuh jawaban panjang, itu juga dia jawab sesingkat mungkin. Aku jadi penasaran, saat ulangan dia ngerjain soalnya gimana, ya? Sesingkat obrolannya, kah? Itu guru yang ngecek masih sehat sampai sekarang, kah? Gak kena darah tinggi, kan?

Azam mengangat kepalanya, menatapku sekilas, lalu kembali fokus pada game di gawainya. Tsk, inginku berkata kasar. Jadi dia sering mojok di depan toilet buat main game? Kenapa gak di kelas aja? Dasar aneh! By the way, ini orang benar-benar minta disleding, ya? Masa ada cewek cantik manggil responnya cuma gitu? Yakin nih aku mau jadi pacar dia?

Tunggu, Na, jangan suudzon dulu, siapa tahu dia so sweet kalau sama pacarnya. Jadi jangan berburuk sangka dulu. Tetap positif!

Tapi dia ini pelit reaksi banget, ya. Tanya kenapa kek atau apa gitu. Masa dia gak penasaran kenapa aku nyapa, padahal selama ini belum pernah.

Kesal, aku menaikkan suaraku, "Azam!"

"Ya?" Dia menjawab tanpa menatapku. Ish. Menyebalkan sekali. Gimana aku mau nyatain perasaan kalau begini? Hancur sudah khayalanku tentang ditembak dengan manis. Padahal aku ingin seperti di novel-novel, ditembak dengan romantis. Pakai bunga, es krim, atau apa kek gitu. Ini malah aku yang nembak, diacuhkan pula. Sedih amat nasibku.

Aku menggembungkan pipi, lalu duduk di sampingnya tanpa permisi. Kalau aku ambil gawainya dia marah gak, ya? Pengen tahu sih gimana dia kalau lagi marah, tapi kok bulu kudukku pada berdiri? Ya udah deh, jangan. Gak sopan juga.

"A-aku ... anu, boleh minta waktunya sebentar?"

Akhirnya dia berhenti main game, lalu menatapku dengan alis terangkat. Aku menunggu beberapa saat, tidak mengerti arti tatapannya. Dia mengizinkanku untuk berbicara atau tidak?

Mata tajamnya menatap lurus mataku, membuat darah naik ke wajah. Duh, ini orang gak sadar apa kalau tatapannya berbahaya? Aku menunudukkan kepala sedikit. Aku gugup, banget!

Dia hanya menatapku, dan aku menunduk. Ini dia mengizinkan aku untuk bicara atau enggak, sih? Gak jelas banget!

Setelah beberapa saat, kulihat dia mengambil kembali ponselnya. Jadi dia mempersilakanku tadi? Ngomong kek! Jangan cuma natap doang! Kan aku gak ngerti. Ya kalau aku bisa baca pikiran orang, baru deh ngerti tanpa harus dia ngomong.

Tanpa sadar aku menahan gerakan tangannya, ini tanganku ganjen banget deh nyentuh tangan Azam, ya walau cuma ujung bajunya. Seketika tatapannya berubah semakin tajam, sepertinya dia tidak suka.

Aku segera menarik tanganku, lalu menunduk kembali. "Maaf."

Aku menarik napas sejenak, mencoba menenangkan dan memantapkan hatiku sendiri. Aku menatap wajahnya, dan menantang diriku sendiri untuk tidak berpaling.

"A-aku ... itu ... ermm ... anu ...." Kenapa malah jadi gak bisa keluar sih ini kata-katanya, padahal cuma tinggal bilang aku suka kamu aja! Ayolah mulut! Bekerjasamalah!

Baiklah, aku tidak boleh membuat Azam semakin kesal. Aku tidak mau dia membenciku, netral aja nyesek apalagi kalau dibenci. Langsung move on deh aku, haha. Ngapain galauin orang yang benci kita, iya, enggak? Duh, otakku jadi kacau gini, gak ngerti lagi mikirin apa.

"A-aku ... aku suka kamu." Aku mengucapkannya dengan kecepatan cahaya. Bahkan aku sampai tidak berpikir Azam bisa menangkap apa yang aku ucapkan.

Aku membeku menunggu reaksinya, sementara Azam membeku entah karena apa, kaget mungkin? Hm, ternyata dia bisa kaget juga?

Hatiku penuh harap dia akan menerima pernyataanku, walau kemungkinannnya kurang dari satu persen. Kenapa? Ya, karena dia kenal aku aja enggak, gimana mau pacaran? Kayaknya aku pasti aneh banget di mata dia, orang asing tiba-tiba nyatain perasaan. Duh, aku aja kalau jadi Azam juga bakal nolak. Males banget pacaran sama orang yang gak dikenal.

Tapi kalian tahu bagaimana responnya? Dia hanya menghembuskan napas, lalu berujar, "Tahu." Setelah itu fokus menatap ke depan, atau lebih tepatnya toilet.

Aku hanya mampu merespon, "Hah?" dengan wajah bloon. Apa maksudnya tahu? Dan lagi, apa toilet lebih menarik dari aku? Kenapa dia lebih milih natap toilet daripada gadis cantik di sampingnya? Apa aku benar-benar setidak menarik itu di matanya?

Hatiku menjerit, tidak mungkin! Kayaknya Azam beneran gak normal. Dia ... benar-benar tidak peduli dengan perasaanku?

Tiba-tiba aku mendengar suara retakan, ini hatiku gak bakal hancur lebur kan? Ditolak baik-baik masih mending daripada diacuhkan begini.

"Semuanya tahu," lanjutnya kembali menatapku.

Aku kembali memasang wajah bloon, maksudnya? Semuanya tahu? Satu sekolahan tahu? Sejak kapan? Kukira cuma teman sekelasku aja. Siapa nih ember bocor yang berani menyebarkan berita asli ini? Mama, rasanya aku pengen nangis.

Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi, yang jelas sekarang aku benar-benar ingin menembak Azam dengan serius, menembaknya dengan pistol sungguhan sampai darah bercucuran maksudnya. Dia gak bisa apa ya menanggapi pernyataan sukaku dengan normal? Heran aku.

Azam tahu sejak kapan perasaanku padanya? Rasanya malu setengah mati. Jika dia tahu, apa dia juga sadar aku sering memerhatikannya? Ya Allah, lubang di mana lubang? Aku ingin mengubur diriku sendiri!

Hah, yasudahlah. Kepalang malu, sekalian aja putuskan urat malu. Aku menatap Azam serius. "Kamu ... mau gak jadi pacarku?"

Uh, oh. Aku mengucapkannya dengan lancar! Rasa gugupku sudah hilang digantikan kesal. Kesal karena responnya yang tidak manusiawi itu. Kenapa dia malah bongkar aibku sih? Kalau udah tahu ya tinggal langsung jawab aja, dia suka aku apa enggak. Jadinya suaraku agak terdengar ngegas barusan.

Azam memalingkan wajah, dia nampak berpikir keras. "Hm."

Hah? Hm? Hm apa maksudnya? Diterima apa enggak? Azam kok gak jelas banget! Aku jadi tertarik buat mutilasi dia dan kubuang potongan-potongan tubuhnya ke kolam piranha! Ditembak kok jawabannya hm, sih!

Belum sempat aku menanyakan maksudnya, bel pulang berbunyi. Ya ampun, aku terlalu lama di luar kelas! Tugasku belum selesai! Lupa akan kejelasan jawaban Azam, aku segera berlari menuju kelas. Tidak, aku tidak mau kebagian mengumpulkan buku tugas ke ruang guru!

1
Najaem
lanjutin plsss
atmaranii
pokonya bsa bkin kngen dan pngn BCA ulang
atmaranii
kngen ma novel ini...pas nengok blm up LG..smga authornya sehat2 y biar bsa up lg🤲
‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎𝐎𝒇𝒇🔇 ‎: udah 5th kak ngga ada up samsek, sumpah sampe skrng aku masih penasaran pake banget😭😭
total 1 replies
Pitpitawewew
masih nungguin di 2025
Riski
Luar biasa
Mala Sia
Lumayan
Kiky Nurischa
ya ampun ngakak bacax si ina berharap si azam peka sampe kucing bertelur jg gak akan peka si azam mah dia tipe org yg hrs ngomong to the point🤣🤣🤣
Kiky Nurischa
astaga temen2 gak ada akhlak malah ditinggalin😆😆
Fitri Lin
baca berulang tetep meleleh dgn gombalan azzam..pdhl yg digombalin ina hiks hiks..kpn nih up lg thor
Shafira Amelia
kpn up nya kk
Najaem
Gatau ini udh berapa tahun nunggu up
Elisa Queen
sudah 3x lebaran thor aku menunggumu
Elisa Queen
kami menanti kelanjutan cerita ini
Elisa Queen
thor lupa sandi kah atau gimna aduh thor
Elisa Queen
aku nunggu 2 thn loh ibi thor
Fullsun Chann
Kak, apa Azzam gamau bukber bareng Ina wkwk
Meida Atini
kasian sekali kamu ya na,heheee
MF -尺ノム刀ノ
kakkk lanjutt dongg.....
kapan up nya thorrr
Huaaaaaaa
Anonim
thor ini uda 2022,, trus nasip pembaca setia karyamu ini bagaimana,,, 😭
Anonim
selalu buka dan cek,,, uda lebih dari setahun thorr,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!