Puella Beradette Giorgio ingin memenuhi permintaan terakhir mommynya yaitu melihatnya menikah dan bahagia bersama orang yang dicintai. Dia meminta sang kekasih, Orsino Giatrakos untuk mulai merencanakan pernikahan karena mereka saling cinta.
Namun, sama-sama suka saja tidak cukup membuat hidup keduanya bahagia. Orang tua Orsino tidak menyukai Puella karena memiliki keterbatasan yang tidak sempurna, dan hal itu menjadi alasan untuk membencinya hingga berusaha memisahkan dua manusia yang saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
"Cucu dari keluarga Dominique dan Giorgio, kan?" Melly melipat kedua tangan di depan dada, tidak lupa menyunggingkan senyum sinis. Padahal anak sendiri, dia tetap menunjukkan sisi meremehkan. "Memangnya kau pikir aku tidak tahu siapa kekasih cacatmu itu?"
"Dia istimewa, bukan cacat. Ingat itu, Mom!" tegas Orsino. Rasanya tetap sama, tidak terima jika ada yang menghina dan merendahkan kekasihnya. Biar pun Puella terlahir dalam kondisi tidak sempurna, tapi di matanya, wanita itu adalah sosok yang paling bersinar jika dilihat dari sisi manapun.
"Suka-suka aku, mulutku yang bicara. Kenapa kau mengatur?" Melly mengayunkan kaki menuju kursi. Dia mau duduk, lelah berdiri terus.
Begitu pun dengan Orsino, berusaha mendekat. Ia duduk di ujung ranjang. Saling bertatapan dengan sang Mommy. "Kau sudah tahu Puella dari keluarga mana. Tapi, tetap saja tidak mau memberikan kami restu?"
"Memangnya kenapa? Apa bedanya keluarga Dominique, Giorgio itu dengan kita?" Suara Melly terkesan menantang, menunjukkan bahwa ia tidak ada takut sedikit pun atau merubah pikiran, meski tahu latar belakang kekasih anaknya.
Orsino meraih tangan mommynya. Menggenggam dan memberikan keyakinan. "Mereka orang yang sangat berpengaruh. Apa kau tidak tertarik sedikit pun? Bisa mengambil keuntungan jika memiliki ikatan dengan keluarga Dominique dan Giorgio. Mommy jangan bodoh. Pikirkan baik-baik tentang itu," bujuknya.
Biasanya para orang tua akan senang jika mendengar hendak memiliki menantu dari keluarga kaya. Tapi, tidak dengan reaksi wajah Melly. Dia tetap menunjukkan rasa tidak suka. "Memangnya kenapa kalau mereka para pebisnis sukses? Kau pikir aku mata duitan? Lalu mau memberimu izin menikah begitu saja dengan wanita cacat, kaki hanya satu, begitu? Yang ada aku malu jika memiliki menantu seperti kekasih tak bergunamu itu!" Ia tarik tangan yang digenggam sang putra, melengoskan kepala. "Jawabanku tetap sama. Tidak akan memberimu restu!"
Menghembuskan napas, Orsino memutar otak lagi untuk berpikir. Mencari bujukan lain yang bisa melunakkan keras hati mommynya.
Karena tidak ditatap, Orsino pun pindah. Bersimpuh di depan Melly. Dia sampai memohon dengan sepenuh hati. Dahulu ia sosok yang angkuh, tapi itu sebelum kenal Puella. Setelah menjalin hubungan dengan sosok berhati lembut, semakin lama pun tertular juga dengan kebaikan sang kekasih yang luar biasa besar.
"Mommynya Puella sedang sakit, dia ingin menyaksikan pernikahan kami karena sudah lama tahu kalau aku dan Puella saling cinta. Permintaannya sangat sederhana, dan aku ingin mengabulkan itu. Keluarganya sangat baik denganku. Bahkan aku diperlakukan seperti anak sendiri di sana, tanpa membeda-bedakan." Orsino menundukkan kepala, kedua tangan bertumpu pada lutut. "Aku sangat menghargaimu sebagai orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkanku. Jadi, tolong berikan izin supaya pernikahan kami bisa berjalan lancar," pintanya dengan sungguh-sungguh.
"Yang sakit itu 'kan keluarga mereka. Kenapa harus kau yang pusing mengabulkan permintaannya?" Melly sangat sulit sekali disentuh hatinya. Bahkan tidak ada rasa kasihan sedikit pun.
Kepala Orsino bergeleng pelan. Dia sampai bingung dan lelah harus bagaimana lagi membuat mommynya melunakkan sisi angkuh. Berdiri, kali ini tidak bisa selembut tadi. Ia sudah mencoba untuk berbicara dengan susunan kata yang baik dan sopan. Tapi, tetap tidak didengarkan. Jadi, untuk apa juga bersimpuh hingga menunduk seperti orang bodoh yang penurut.
"Kau juga seorang wanita, ibu. Seharusnya tahu bagaimana dan apa yang dirasakan oleh mommynya Puella. Tapi, ternyata kau tidak lebih dari seonggok daging yang tak memiliki hati. Miris." Orsino meninggalkan kamar orang tuanya begitu saja. Percuma juga, tidak akan ada kemajuan apa pun, walau ia bersujud dan mencium kaki.