NovelToon NovelToon
Seputih Melati

Seputih Melati

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:65.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dede Dewi

Melati adalah seorang gadis dengan keterbatasan fisik, yang membuat dirinya menjadi gadis yang tertinggal dari teman seusianya. Dan bermula di usia SMP, dia mulai mengenal teman dekat yang begitu baik, guru yang baik, dan tetangga yang sangat baik. Namun, di waktu itu pula, dimana cinta pertamanya harus meninggal dunia karena kecelakaan, membuat dirinya mampu berdiri lebih kuat, dan mampu mencapai suatu perubahan yang dirasanya mustahil, atas kerja keras dan usaha nya yang tak mengenal putus asa. Hal baik apa yang akan dia temui nantinya? Siapa sesungguhnya cinta pertamanya?

Bagaimana perjalanan hidup Melati? Yuk, simak cerita Seputih Melati ini sampai selesai. Jangan lupa tinggalkan jejakmu😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuh

"Ya ampun Mel, aku cariin ke kelasmu, ternyata kamu disini?" kata Zia yang tiba-tiba muncul.

"Hehe, iya. Ini nih. Satria yang ngajak." kata Melati menunjuk Satria.

"Ya udah, aku ikut gabung boleh?" tanya Zia kepada Satria.

"Oh, ya boleh lah." jawab Satria.

Mereka bertiga pun makan bersama hingga bel masuk berbunyi. Melati dan Satria langsung menuju kelas, begitupun dengan Zia yang kelasnya lebih dekat, langsung masuk ke kelasnya.

Jam pulang sekolahpun tiba, Melati dan Zia seperti biasa pulang sekolah bersama. Dengan Melati menunggu Zia di parkiran, karena kelasnya lebih dahulu keluar.

"Mel, pulang bareng yuk." ajak Satria yang sudah Mengkreng di sepeda gunungnya.

"Duluan aja lah, aku masih nunggu Zia."

"Oh, ya udah Aku duluan ya." kata Satria.

"Iya." jawab Melati.

Tak lama kemudian, Zia datang.

"Maaf ya Mel, lama. Biasalah, bu Kus kalo ngasih catetan seabrek." kata Zia.

"Oh, iya Zi. Gapapa."

"Ya udah yuk pulang."

"Yuk."

Melati dan Zia pun pulang bersama dengan menaiki sepeda mini mereka. Saat sampai di jalan ramai, Melati bersepeda di depan dan Zia di belakang. Tiba-tiba,

Brugh...

Melati jatuh dari sepedanya, hampir saja Zia menabrak Melati, namun dia langsung bisa mengkondisikan sepedanya.

"Mel..." teriak Zia saat melihat Melati jatuh dan tertindih sepeda.

"Ada yang sakit?" tanya Zia mengamati tubuh Melati yang masih terduduk.

"Biasa Zi, tanganku mati rasa. Lemes ga bertenaga." kata Zia dengan kedua tangannya bertumpu di pangkuan.

"Yaa Allah Mel. Aku boncengin aja ya." kata Zia.

"Ga usah Zi, bentar lagi juga sembuh." kata Melati.

"Ya udah, kamu minum dulu Mel." kata Zia sambil memberikan air mineral dari dalam tasnya.

"Makasih." kata Melati yang meneguk minuman dari botol Zia yang disuapin Zia.

Saat Melati sedang minum, sebuah motor berhenti tepat ditempat mereka duduk.

"Melati?" sapa seorang laki-laki. Zia dan Melati menoleh bersama ke arah sumber suara.

"Pak Dewa?" kata Zia.

"Melati kenapa?" tanya pak Dewa sambil berjongkok mengamati keadaan Melati.

"Tadi jatuh pak." kata Zia.

"Astaghfirullah. Ada yang luka?" tanya Pak Dewa.

"Saya gapapa pak." kata Melati.

"Gapapa bagaimana? Kamu jatuh dari sepeda, dan lihat ini, telapak tanganmu lecet. Sudah, sekarang kamu saya antar pulang." kata pak Dewa.

"Tidak usah pak, saya masih bisa naik sepeda sendiri." kata Melati bersikeras.

"Okey." kata pak Dewa yang justru tiba-tiba membopong tubuh Melati, Dan seketika Melati terkejut akan hal itu. Tangannya masih sangat lemas untuk bergerak, membuatnya hanya diam tak melawan. Melatipun dinaikkan di motornya, kemudian pak Dewa menstater motornya.

"Mbak, kamu titipin dulu sepeda Melati di warung itu ya." kata pak Dewa kepada Zia.

"Ba baik pak." jawa Zia yang juga kaget dengan sikap pak guru nya.

Sepeninggal Pak Dewa dan Melati, Zia menitipkan sepeda Melati ke warung terdekat, lalu Zia melanjutkan perjalanan nya pulang ke rumah.

Sedangkan Melati di motor hanya diam, dia masih syok dengan perlakuan gurunya, karena ini kali pertama dia digendong seorang laki-laki yang bukan keluarganya dalam keadaan sadar. Karena biasanya, dia memang sering jatuh, tetapi dia tidak digendong seperti itu, tetapi dia juga sering pingsan, sehingga ketika pingsan dia tidak sadar, siapa yang menggendongnya. Sepanjang jalan, Melati hanya duduk biasa tanpa berpegangan, ketika akan melewati jalan yang kurang bagus, Pak Dewa mencari tangan Melati di belakang, dan meletakkan tangan itu di pinggangnya.

"Berpegangan Melati. Jangan melamun, nanti kamu jatuh lagi." kata Pak Dewa.

"Ehm, ya pak." Melatipun berpegangan pada pinggangnya Pak Dewa dan tangan satunya memegang jok belakang. Tangannya sudah mendingan rasanya, tidak seperti saat jatuh tadi.

Sesampainya di rumah, Melati langsung turun, dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada pak Guru nya.

"Terimakasih pak."

"Ya, sama-sama. Beristirahat lah." kata pak Dewa sambil tersenyum.

"Bapak ga mampir dulu?" tanya Melati.

Tak berapa lama seorang wanita yang sudah lanjut usia tampak keluar rumah, sambil menggendong seorang anak berusia dua tahun dan yang satu tampak sedang asyik bermain di teras.

"Eh, mas ini siapa?" tanya nenek Melati.

"Saya gurunya Melati bu." jawab Pak Dewa.

"Oh, pak Guru? Monggo pak silakan mampir dulu, istirahat dulu." kata nenek.

"Terimakasih bu, tapi saya harus segera pulang. Ini tadi saya menemukan Melati jatuh di jalan bu, makannya saya antar dia ke rumah, sepedanya dititipkan di warung dekat Melati jatuh." kata Pak Dewa.

"Astaga Melati. kamu jatuh lagi? Makannya kalau nyepeda itu hati-hati. Sudah dibilangin berulang kali, masih saja suka jatuh." omel nenek.

"Maaf nek." kata Melati tertunduk.

"Ehm, ya sudah bu, saya permisi dulu." kata pak Dewa berpamitan.

"Ya pak. Terimakasih ya pak, sudah diantarkan sampe rumah cucu saya." kata nenek.

"Sama-sama bu." jawab pak Dewa.

"Mel, bapak pulang dulu ya. Assalamualaikum." salam pak Dewa.

"Wa'alaikumsalam." jawab Melati

Sepeninggal gurunya, Melati mulai dihujani banyak pertanyaan oleh neneknya, yang akhirnya membuat Melati kembali disalahkan lagi oleh neneknya. Hal itu membuat Melati stress dan dia memilih masuk kamar dan menuruti perintah gurunya tadi untuk segera istirahat. Saat Melati di kamar, rebahan, tiba-tiba salah satu adiknya menangia karena mainannya di ambil paksa oleh sarunga, membuat neneknya marah, lalu menggedor pintu kamarnya.

"Bangun Mel, kamu ini apa ga dengar adiknya berantem kaya gitu? Bantuin nenek dong, bangun, ga tidur aja. Nenek kewalahan ini mengasuh kedua adikmu." omel nenek luar.

Terpaksa Melati kembali bangun dari tempat tidurnya, mau tak mau, dia harus segera bangun, dan membantu neneknya mengasih kedua adik kembarnya.

"Mentang-mentang abis jatuh, dianterin pak guru, seenaknya saja ga bantuin nenek untuk mengasuh kedua adikmu. Nenek ini juga capek, ngurusin adik-adikmu." omel Nenek saat Melati sudah keluar dari kamarnya.

Tanpa mengindahkan suara perutnya yang melilit karena menahan lapar, Melati segera menggendong satu adiknya untuk diajak bermain di depan TV. Sedangkan Aldo masih dalam gendongan neneknya sambil menangis.

" Aldi sudah makan belum?" tanya Melati pada adiknya.

Aldi hanya menggeleng.

"Ya sudah, sini mbak ambilin makan dulu, Aldi makan dulu ya." kaga Melati.

"Aldo jni juga belum makan Mel." kata nenek.

"Ya nek." jawab Melati yang mengambil porsi makan cukup banyak untuk kedua adiknya. Sehingga Melati mengurus dua adiknya, dab menyuapi keduanya dengan telaten.

"Ini Aldo. Bismillah dulu." kata Melati sambil menyiapkan nasi sayur ke mulut adiknya.

"Ini Aldi." kata Melati berganti pada adiknya yang bermain sendiri.

"Alhamdulillah, masih ada orang yang peduli sama aku. Terimakasih pak Dewa.". batin Melati mengingat kebaikan pak Dewa.

1
Nuryuniati Haryono
jalur cerita sangat menarik, terus berkarya.. 💪💪
Dede Dewi: terimakasih kak😍
total 1 replies
Neulis Saja
Thor, lanjut dong dgn putra dan putri dari para ortunya siapa tahu ada yg jadi besanan misalnya satria besanan sama keluarga melati kayanya seru yah Thor tidak menyambungkan keturunan. reader tunggu yah 🙏
Dede Dewi: siap kak. InshaaAllah author buat
total 1 replies
Neulis Saja
marwa menjadi obat bagi keluarga dari segala kepahitan, kesusahan dan kepedihan tergantikan dgn kebahagian yg tiada terkira semoga menjadi harapan bahagia bagi orang tuamu, bagi semua yg ada disekitarmu
Neulis Saja
semoga selamat sampai lahiran yah
Neulis Saja
next
Neulis Saja
udahlah jgn diingat kalau akhirnya akan merasa tersakiti dgn tindakannya
Neulis Saja
i agree with your attitude
Neulis Saja
duh pak guru udah bucin akut nyampe gak mau lepas nempel aja kayak perangko dgn amplonya
Neulis Saja
tinggal bahagia yg dirasakan berdua karena kepedihan dan kesulitan telah dilaluinya
Neulis Saja
cepet hamil biar tsabita ada temennya
Neulis Saja
ehm
Neulis Saja
hotel kali ko rumah
Neulis Saja
ehm tak berarti apa2 karena melati sdh jadi istri orang
Neulis Saja
oh panggilannya jadi mas yah ok lah gak my hubby
Neulis Saja
next
Neulis Saja
terasa beban berkurang padahal yg ngalamin melati dan pak guru kenapa serasa reader yg ngalamin yah itulah hebatnya author yg bisa membawa reader ke suasana yg ada dalam novel good job 👍
Neulis Saja
ehm sebuah pengorbanan yg luar biasa buat mereka, ugi yg telah membantu ibunya laili, pak guru yg membantu melati ketika di smp, dan melati membantu pak guru utk anak2nya yg sdh menganggap melati seperti ibunya itulah org2 yg success dlm artian telah memberikan manfaat utk sekitarnya
Neulis Saja
ehm sangat menyentuh di part ini sampai menitipkan air mata 😥
Neulis Saja
setiap kesusahan akan datang kebahagian
Neulis Saja
as a life lesson for front
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!