Jangan lupa membaca Menikahi Pria Tua agar alur cerita lebih mudah dipahami ya. 😘💕
Odet Alesha, gadis mungil berwajah baby face yang dijuluki Queen of Game, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu malam yang penuh kekacauan.
Alexandre Mahendra, CEO muda di balik perusahaan gaming terbesar, dikenal dingin, sempurna, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajamnya, tersimpan luka mendalam akibat cinta pertama yang memilih kakaknya sendiri.
Sebuah kesalahan di acara anniversary Mommy Keyna dan Daddy Devan membuat mereka terikat dalam pernikahan yang tak pernah diinginkan.
Di antara pertengkaran, rasa benci, dan luka masa lalu, benih-benih cinta perlahan tumbuh. Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, keduanya harus memilih...
Mempertahankan cinta yang telah diperjuangkan... atau melepaskan orang yang akhirnya menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
“Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Odet sambil membungkukkan badannya dengan gugup.
Namun pria itu hanya berdiri diam sambil membersihkan jas mahalnya menggunakan tisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapannya tetap dingin dan datar seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar.
“Apa orang ini nggak bisa bicara? Ah, nggak mungkin… dia terlihat seperti orang kaya, mana mungkin bisu. Aish, dasar Odet! Kenapa malah mikirin hal begitu sekarang?” batin Odet panik sendiri.
Tiba-tiba seorang pria lain datang menghampiri mereka. Lelaki itu menatap Odet lalu pria yang sejak tadi diam memandanginya dengan dingin.
“Maafkan kakak saya, Nona,” ucap lelaki itu ramah.
“Ah, bukan salah Kakak Anda, Tuan. Ini murni kesalahan saya karena tidak sengaja menumpahkan minuman ke jas beliau,” jawab Odet sopan sambil terus menundukkan kepalanya. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya sedikit pun.
“Bereskan,” ucap pria dingin itu dengan suara berat dan ekspresi datar yang membuat siapa pun merasa merinding. Setelah mengatakan itu, ia langsung berjalan keluar dari kafe.
“Nama saya Andre Mahendra. Saya adik sekaligus sekretaris pribadi pria tadi,” ujar Andre memperkenalkan diri.
“Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Odet sambil akhirnya memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap wajah Andre.
Mata Andre langsung membesar saat melihat wajah Odet dengan jelas.
“Bukankah wanita ini yang tadi pagi menghajar para siswa itu? Wah… kebetulan yang menarik,” batin Andre sambil menahan senyum.
Sementara itu, Odet yang melihat ekspresi terkejut Andre langsung memegang wajahnya sendiri.
“Apa ada yang salah dengan wajahku?” batin Odet bingung.
Tak lama kemudian, Andre memanggil manajer kafe dan berbicara pelan dengannya. Hal itu justru membuat Odet semakin panik.
“Semoga pekerjaanku nggak jadi taruhannya…” batin Odet cemas.
“Baik, Tuan. Kami mengerti. Atas nama Odet, saya selaku manajer meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami Tuan Alex,” ucap manajer itu sambil menundukkan kepala.
“Baiklah, saya permisi,” ujar Andre sebelum menatap Odet sekilas lalu meninggalkan kafe.
Tak lama setelah itu, manajer tadi menghampiri Odet dengan aura menyeramkan menurut versi Odet.
“Ah, perasaanku benar-benar nggak enak…” batin Odet gelisah.
“Odet, apa kamu tahu siapa mereka tadi?” tanya manajer dengan nada tegas.
“Saya tidak tahu, Pak,” jawab Odet jujur.
“Kamu tahu keluarga Mahendra?” tanya manajer lagi.
“Tidak,” balas Odet polos.
“Apa kamu benar-benar tidak tahu, Odet?! Mereka keluarga terpandang dan pemilik perusahaan terbesar di negeri ini!” pekik sang manajer hingga perhatian para pelanggan langsung tertuju pada mereka.
“Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Odet sambil menunduk takut.
“Saya tidak butuh permintaan maafmu! Kamu baru saja membuat Tuan Alex Mahendra marah. Apa kamu tahu dia seorang CEO muda yang sangat kaya dan pewaris keluarga Mahendra?” terang manajer itu lantang.
Mendengar hal tersebut, Odet langsung mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
“Maafkan saya…” ucapnya pelan.
“Dasar bodoh,” batin Odet frustrasi.
“Saya sudah bilang, saya tidak butuh permintaan maafmu. Untung saja Tuan Andre masih berbesar hati dan memaafkan kesalahanmu kepada Tuan Alex,” lanjut manajer itu tegas.
“Maafkan saya… saya janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Odet lirih.
“Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu dengan baik. Dan bersyukurlah pada Tuan Andre,” ujar sang manajer sebelum pergi meninggalkan Odet sendirian.
Kini seluruh isi kafe memperhatikannya. Ada yang merasa iba, namun ada juga yang bersikap biasa saja.
“Ah, syukurlah… aku nggak sampai dipecat,” gumam Odet sambil mengusap dadanya lega sebelum kembali bekerja.
✦✦✦
Sementara di tempat lain, Alex tampak beberapa kali menyentuh telinganya dengan wajah tidak nyaman.
“Ada apa dengan telingamu, Kak?” tanya Andre yang duduk di sampingnya.
“Tidak apa-apa,” jawab Alex singkat.
“Apa telingamu gatal atau bergerak-gerak?” tanya Andre lagi dan kali ini Alex mengangguk pelan.
“Kata orang-orang tua dulu, kalau telinga bergerak berarti ada yang sedang membicarakan kita,” ujar Andre santai.
“Tapi siapa ya? Daddy atau Mommy mungkin?” lanjutnya sambil berpikir.
“Entahlah,” balas Alex datar sambil kembali menatap layar laptopnya.
Alex memang terkenal sangat dingin dan hemat bicara. Bahkan dalam sehari, kalimat yang keluar dari mulutnya bisa dihitung dengan jari.
“Oh iya, Kak. Tadi Kak Aditya menelepon. Mommy menyuruh kita makan malam bersama keluarga,” ucap Andre semangat.
“Baiklah,” jawab Alex singkat.
“Tapi Kakak nggak apa-apa? Di sana ada Kak Keyla…” goda Andre pelan.
Namun ucapan itu langsung dibalas tatapan tajam dari Alex hingga Andre spontan menelan ludah kasar dan memilih diam.
“Mommy ngidam apa sih sampai Alex bisa sedingin ini?” batin Andre.
Sementara sopir pribadi mereka yang menyetir di depan hanya tersenyum geli melihat ketakutan Andre pada kakaknya sendiri.
✦✦✦
Malam harinya, keluarga Mahendra berkumpul bersama. Di ruang makan sudah ada Alex, Andre, dan Aditya bersama Mommy Keyna serta Devan.
Tak lama kemudian, Gibran dan Ica datang bersama Alice dan Angga yang baru pulang dari Italia seminggu lalu.
Ivan dan Tata juga hadir bersama Robin anak tertua mereka yang kini bekerja di perusahaan Aditya menggantikan posisi ayahnya serta Keyla, anak kedua Ivan dan Tata yang diam-diam dikagumi Alex tanpa diketahui siapa pun selain Andre.
“Wah, Kakak!” seru Keyna sambil memeluk Gibran dan Ica hangat.
“Kamu sudah tua tapi masih manja,” goda Gibran.
“Ish! Mana pelukan ponakan buat Mommy?” rengek Keyna lalu memeluk Alice dan Angga bergantian.
“Mommy makin cantik aja,” ucap Alice manja.
“Wah, ada yang modus lagi tuh. Padahal baru kemarin ketemu Mommy,” celetuk Andre jahil.
“Apasih, Kak Andre! Alice cuma ngomong jujur. Mommy memang cantik, nggak kayak Kak Andre yang jelek banget,” balas Alice kesal sambil memanyunkan bibirnya.
Alice memang terkenal manja dan sangat suka dijahili Andre. Gadis itu baru berusia sembilan belas tahun dan masih kuliah semester awal.
“Hei, Angga! Apa kabar?” sapa Andre sambil memeluk sepupunya itu.
“Aku baik-baik aja, Kak Andre,” jawab Angga tersenyum.
“Kak Aditya, Kak Alex,” lanjut Angga sambil memeluk kedua sepupunya itu.
“Bagaimana kuliah S2-mu di Italia? Nyaman di sana?” tanya Aditya.
“Baik, Kak. Aku sangat nyaman kuliah di sana,” jawab Angga sopan.
“Baguslah kalau begitu,” ujar Aditya puas.
“Aku nggak dipeluk?” tanya Alice manja.
“Oh, sini adik manis Kakak,” ucap Aditya sambil memeluk tubuh mungil Alice.
Setelah itu Alice memeluk Alex singkat. Namun saat berhadapan dengan Andre yang sudah merentangkan kedua tangannya, Alice justru melewatinya begitu saja.
“Hei bocil! Kamu nggak punya sopan santun, ya? Sengaja banget lewatin aku,” protes Andre kesal.
“Oh maaf, aku nggak merasa punya kakak seperti kamu,” balas Alice sinis sambil menjulurkan lidahnya jahil.
“Wah, anak ini mulai nakal ya!” ujar Andre lalu menjewer telinga Alice.
“Ah… ah… Kak Andre, ampun!” teriak Alice membuat seluruh keluarga tertawa geli.
Namun tidak dengan Alex. Pria itu tetap memasang wajah datar dan dingin seperti biasa. Sejak kecil, ia memang jarang sekali tersenyum, entah mewarisi sifat siapa.
**Bersambung…**
upp terus ya