CERITANYA DIJAMIN SERU, LUCU, ROMANTIS, UWU, N BIKIN BAPER!
Nadira Khansa Salsabila. Atau biasa dipanggil Dira.
Tidak pernah terpikir di benaknya harus menuruti kemauan kedua orang tuanya untuk menikah di usianya yang masih 18 tahun!
Ya, di saat sedang antusias-antusiasnya karena memasuki bangku kuliah, tiba-tiba saja dia dipaksa menuruti kemauan orang tua nya untuk menikah dengan Muhammad Fahri.
Fahri merupakan sahabat sang kakak di waktu kuliah.
Dira tidak sadar, kalau sebenarnya awal perkenalannya dengan Fahri adalah sebuah skenario kedua orang tua nya dan sang kakak, Adit. Yang sudah sejak lama memang merencanakan menjodohkan Dira dan sahabat kakak nya itu.
Tidak sulit untuk Fahri jatuh cinta pada Dira yang cantik, supel, dan ceria.
Namun kebalikannya, Dira justru merasa perjodohannya dengan Fahri merupakan awal malapetaka baginya. Dia yang baru saja memasuki bangku kuliah, dan ingin merasakan kebebasan menjadi mahasiwi. Masih ingin menikmati jalan-jalan bareng teman-temannya, berlama-lama di salon, shopping, atau sekedar flirthing cowok-cowok keren di kampusnya. Malah harus terikat dengan sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak dicintainya, dan itu artinya, masa-masa mudanya akan terenggut oleh belenggu pernikahan yang sama sekali tak diinginkannya! OMG!
Karena sesungguhnya, dibalik semua itu, ada suatu alasan sehingga kedua orang tua nya menikahkan Dira di usianya yang masih sangat belia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamiya Muminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Jadii... gue udah baikan kok sama Alif," ucap Dira sambil mengunyah baksonya. Sisi yang duduk di hadapannya manggut-manggut.
Di hadapan mereka sudah tersaji berbagai macam makanan. Bakso, mie ayam, seblak jeletet, gorengan, sama es campur. Walaupun mereka berdua adalah cewek yang sangat memperhatikan penampilan, tapi mereka gak jaim soal makanan. Karena kedua cewek cantik itu emang doyan jajan dan makan. Karena memiliki hobi yang sama itulah yang membuat mereka klop banget menjadi sahabat kental. Berburu kuliner sudah sering mereka lakukan.
Untunglah kedua cewek itu tipe MBT3G. Alias Makan Banyak Tapi Gak Gendut-Gendut. Hahaha, maksa banget ya...
"Iya, jadi semalem dia WA gue. Yah... minta maaf gitu deh. Trus janji nanti malam minggu ini mau anterin gue nyalon. Abis gimna gue gak kesel Si, malam minggu kemaren kan dia udah janji. Mau nemenin gue nyalon. Eh... dia malah ingkar janji. Milih futsal sama temen-temennya! Yaudah gue ngambek aja!"
"Hihihi... Lagian lo tuh ya. Cowok mana ada yang betah sih disuruh nungguin ceweknya nyalon berjam-jam?"
"Ya harus betah lah. Dan harus mau! Kan gue ceweknya. Kalo dia beneran sayang sama gue, harusnya apapun yang gue minta diturutin,"
"Dasar ya emang. Cewek selalu benar!"
"Yup! Tepat sekali." Dira tersenyum penuh arti. "Sesuai 'Paraturan Per-Undang-Undangan antara Cowok dan Cewek'. Yang berbunyi: Pasal 1: Cowok dilarang menyalahkan cewek. Pasal 2: Jika cewek bersalah, kembali ke pasal 1. Pasal 3: Jika cowok tidak bersalah, maka cewek berhak menyalahkan secara sepihak."
Mereka berdua tertawa keras bersama.
"Tapi lo beruntung lho Dir. Punya pacar ganteng,keren, udah gitu mau lagi nganterin ceweknya ke salon. Jarang-jarang ada cowok yang mau anterin ceweknya nyalon,"
"Hmm... Iya lah. Makanya kan gue sayang banget sama Alif!"
"Duileeeee, so sweet banget sih!" Sisi tersenyum penuh arti. "Bikin gue envy aja kalian berdua." Tiba-tiba Sisi mendesah panjang. " Nasib jadi jomblo ngenes!" gerutunya.
Dira malah ngakak. "Lagian lo tuh. Cakep-cakep jomblo. Cari pacar kek sono, Si!"
"Lo kira cari pacar segampang beli timun sama tomat ya?"
Dira ngikik lagi.
"Ehem, ehem... Ni ada apa sih rame-rame? Lagi pada ngomongin gue ya...?" tanpa disadari mereka berdua, tiba-tiba Alif muncul dengan senyum maut khas nya. Kemudian dia langsung duduk di sebelah Dira.
"Ciee, cieee... Panjang umur. Pangerannya dateng!" goda Sisi sambil menaik-naikkan alis dengan gaya jail.
"Iih, ge-er banget sih kamu. Siapa juga yang lagi ngomongin kamu?" ucap Dira salah tingkah.
"Udah ke-gap masih aja ya gak mau ngaku," ucap Alif sambil mencubit pelan kedua pipi Dira dan menggoyang-goyangkannya ke kiri dan kanan.
"Aaw... sakit tau Yank!" Dira pura-pura marah.
"Hehehe, abis kamu gemesin banget sih!"
"Duhhh... Nasib, nasib... Jadi jomblo. Cuma bisa jadi obat nyamuk melihat pasangan ini bermesraan di depan mata gue!" tiba-tiba Sisi nyeletuk dengan suara keras. "Dunia udah serasa milik berdua. Sampe nggak sadar di depannya ada seonggok manusia yang harus dijaga perasaannya!"
Dira dan Alif bengong sesaat, sampai akhirnya mereka berdua tertawa geli melihat tingkah Sisi.
"Udah ah, gue cabut duluan ke kelas. Nggak mau lama-lama jadi obat nyamuk, daaahhh!" tanpa basa-basi lagi Sisi langsung melesat dengan lincah.
"Kamu udah makan?"
Alif mengangguk sambil menatap Dira dengan lembut.
"Makasih ya, kamu udah nggak marah lagi sama aku,"
"Iya, tapi kamu jangan kayak gitu lagi! Kalo kayak gitu lagi, aku nggak mau maafin kamu!"
"Jangan doongg... Gimana hidup aku kalo tanpa kamu...?"
"Hueekkss... Gombaalll."
"Ih, kok malah dibilang gombal? Serius tau."
"Hmm... Iya aja deh...!"
Alif tertawa kecil. "Nanti pulangnya bareng aku ya,"
"Hmmm... Tapi nanti mampir ya ke McD,"
"Ih, dasar ya... Anak tukang jajan!"
Dira meletin lidah. "Yaudah kalo nggak mau, aku nggak mau pulang bareng kamu!"
"Oohhh... Awas yaaa... Kamu ngancem-ngancem aku? Aku cubit lagi nih pipinya,"
"Iihh... Coba aja kalo berani, aku jewer kamu!"
Alif tertawa sambil mencubit hidung Dira pelan. "Iyaaa... Nanti mampir ke McD. Apa sih yang enggak buat kamu...?"
"Huekkss... Gombaall,"
"Ih, malah bilang gombal lagi,"
"Yaudah gembel!"
"Eh, awas ya kamu!"
"Hahaha..."
penasaran
penasaran