Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus apa?
Laki-laki yang tertidur pulas di atas ranjang itu mulai mengerjap-ngerjapkan mata, dan berusaha mendudukkan tubuhnya. Kepalanya terasa sangat berat.
"Aakh ...!" rintih Reyhan sambil memegangi kepala.
"Sialan! Bagaimana mungkin aku tidak bisa mengontrol diriku," gerutunya sambil meraih ponsel diatas meja nakas.
"Halo, Don. Ke kantor sekarang dan bawakan aku setelan kerja!" Reyhan menutup telepon dan melemparnya ke samping.
tok–tok–tok!
Pintu terbuka, masuk seorang laki-laki berbadan tinggi dan gagah berusia 27 tahun. Doni Prasetya, asisten pribadi Reyhan yang memiliki wajah tak kalah tampan dengan bosnya itu masuk dan melihat sekeliling ruangan.
Dimana orang itu sekarang, pagi-pagi sudah mengganggu saja dan apa ini kenapa ruangan ini sangat berantakan? gerutunya dalam hati.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Reyhan yang hanya memakai handuk dililitkan pinggang itu langsung merebut paper bag yang dibawa Doni. Dia kembali masuk ke dalam kamar mandi, sedang Doni merapikan barang-barang yang sudah terjatuh berserakan di lantai.
"Ada apa ini, Bos? Apa semalam terjadi angin topan lokal?" tanya Doni penasaran.
"Kau itu asisten ku, bukan reporter. Bereskan saja itu dan setelah itu pergi ke ruang keamanan. Hapus rekaman cctv mulai jam delapan malam!"
Doni menautkan kedua alisnya mendengar perintah Reyhan.
"Apa semalam, Pak Reyhan habis mencuri di perusahaan sendiri?"
"Haiish ...," desis Reyhan kesal.
"Kalau kau tidak segera berangkat ke ruang keamanan, akanku pastikan kau besok berangkat ke Papua." Menunjuk wajah Doni dengan kesal.
"O–Oke. Saya kesana sekarang." Doni dengan cepat langsung berbalik meninggalkan ruangan.
"Orang itu benar-benar mengerikan." gumam Doni sambil berjalan cepat.
--------
Alina terlihat sudah rapi dengan setelan baju kerja di dalam kamar, tapi wajahnya terlihat begitu lesu tidak ada semangat sama sekali.
"Gw harus gimana sekarang?" gumamnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Ogah banget kalo ketemu sama laki-laki bajing*n itu lagi, tapi kalo gue keluar, ibu pasti curiga. Dan lagi, cari kerja kantoran sekarang kan susah banget. Gue nggak mau jadi pengangguran dan nyusahin ibu lagi. Nggak mau!" gerutu Alina sambil memandangi wajahnya di depan cermin.
"Haiisshhh...!" desis Alina sambil mengacak rambut kasar.
----
ceklek! brakk!
"Heii apa kau tidak punya sopan santun?" kesal Reyhan karena terkejut mendengar suara pintu yang terbuka dengan keras.
"Maaf, Bos. Tapi, apa anda benar-benar sudah memperkosa Alina?" tanya Doni dengan nafas ngos-ngosan, dia setengah berlari tadi karena ingin segera memastikan apa yang baru saja dilihatnya.
"Ya, mungkin. Aku bahkan tak tau siapa namanya," jawab Reyhan santai.
"Apa anda tidak ingin meminta maaf padanya, dia wanita baik-baik, Bos. Dia sudah 2 tahun bekerja dan menjadi salah satu karyawan teladan di perusahaan kita."
"Apa kau gila!" suaranya terdengar sedikit meninggi.
"Kau bahkan bisa tertipu dengan wajah polosnya itu. Tidak ku sangka kau benar-benar bodoh ternyata," cibirnya pada Doni dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Maksud anda?" Doni menautkan kedua alisnya merasa bingung dengan apa yang diucapkan bosnya barusan.
"Sudahlah jangan banyak bicara lagi! Ingat! jangan sampai ada yang tau masalah ini, termasuk ayah." Dia menekankan kata-katanya dengan menunjukkan tatapan tajam.
"Kalau sampai kau melapor pada ayah, akanku pastikan kau dikirim ke Afrika untuk menangani proyek baru," ancam Reyhan dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Iish ...! selalu saja mengancam kalau tidak ingat dengan jaji itu, sudahku gebuki orang ini, gerutunya dalam hati.
"Baik, Bos. Saya permisi," pamitnya dan hanya mendapatkan respon anggukan.
#######
Thank you gaes😉👍
Jangan lupa dukung penulis dengan cara :
Like
Komentar
Bintang 5 yaa
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍