Namanya Dinara, perempuan 29 tahun yang terjebak dengan dua pria bermasalah dalam hubungan percintaannya, sehingga dirinya dijadikan bagian dari tumbal ilmu hitam.
Seseorang menginginkan kematiannya hanya karena dia di anggap sebagai wanita penggoda.
Dimulai dengan mantra pelet yang diterimanya, Dina menjadi pribadi yang berbeda dan setengah gila mengejar laki - laki yang tidak pernah disukainya.
Akhirnya santet berdatangan pada malam - malam dimana seharusnya Dina bisa tertidur lelap.
Dibantu ayahnya yang pernah ngelmu di sebuah padepokan Dina berusaha mempertahankan nyawanya.
Apakah Dina berhasil melewati angkara yang selalu didatangkan padanya? Apakah Dina akhirnya menemukan labuhan cintanya?
Simak kisah cinta Dinara dan perjalanan spiritualnya yang penuh air mata dan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 30
Matahari sudah tinggi ketika aku bangun. Cahaya kuning keemasan mengintip dari tirai jendela yang sedikit tersingkap. Aku mengelus dada berharap bisa mengurangi rasa sakitnya, beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela.
Aku menghirup udara pagi yang tidak lagi dingin sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-paru, aku ingat bagaimana sakitnya kekurangan oksigen. Aku bersyukur masih bernafas hari ini.
Mas Ari datang membawakan sarapan dan camilan yang dibuat istrinya. Mungkin bapak yang memintanya datang karena beberapa hari ini Mas Ari tidak mampir ke rumah.
Aku menguap dan mengucek mata, mencuci muka dan langsung duduk di meja makan. Aku lapar sekali. Sementara Bapak dan Mas Ari sudah sarapan duluan.
"Mas datang jam berapa kok Dina gak dengar suara apa-apa dari kamar?" tanyaku setelah menelan suapan pertama.
"Setengah delapan, Bapak telepon bilang pingin rawon masakan Mbakmu subuh tadi."
"Gimana kabar Mbak? Kapan prediksi ponakan Dina lahir?"
"Dua minggu lagi kata bidannya," jawab Mas Ari sembari mengamati wajahku. "Kondisimu parah ya Din, kamu pucat banget. Dina gak apa-apa ta Pak?" tanya Mas Ari pada Bapak.
"Gak apa-apa, dia kuat dan tahan banting," canda Bapak sambil tertawa kecil. "Itu jamu kunyit di meja dihabiskan Nduk, biar enakan badanmu."
"Iya Pak," jawabku sambil menggigit kerupuk udang. "Rawonnya enak, kerupuknya enak, sambelnya juga enak, apalagi daging empalnya ... Dina mau nambah." Dengan tanpa malu aku mengambil nasi dan menyiramnya dengan kuah rawon, nyomot empal dua dan tiga kerupuk. "Berangkat jam berapa kita Pak?"
"Habis luhur aja, kakakmu gak bisa ikut, jadi kita pinjam mobilnya sampai besok pagi."
Mas Ari keluar melihat tamu yang datang, aku mendengar sepertinya itu suara Alan. Senang sekali dia mengganggu orang di pagi hari.
Aku makan dengan lambat sembari menyimak pembicaraan Mas Ari di teras. Mas Ari memang kurang suka dengan Alan dari sejak awal, jadi dengan banyaknya kejadian yang menimpaku dia tidak membiarkan Alan dengan mudah menemuiku pagi ini.
Rasanya aku harus berterima kasih pada kakakku itu. Aku malas bertemu dengan Alan, hatiku masih meradang.
Alan segera pamit ketika Mas Ari mengatakan kalau aku mau keluar sama Bapak sebentar lagi. Aku dengar Alan menitipkan sesuatu pada Mas Ari untuk diberikan padaku. Semoga bukan bunga, setidaknya dia punya malu kalau sampai menitipkan bunga sama kakakku.
Mas Ari meletakkan paper bag di meja makan, "Nih ada titipan buatmu dari Alan."
"Terima kasih, aku senang dia tidak maksa ketemu Dina."
"Mas mengusirnya halus, lagian kamu masih rembes gitu mau terima tamu."
Untung saja Bapak sedang mandi pas Alan datang, kalau ada Bapak nggak mungkin Alan bertamu hanya beberapa menit saja.
Aku mengintip isi paper bag tanpa minat membukanya, ada amplop merah muda kecil dan sesuatu dibungkus kertas kado.
Aku membuka amplop yang isinya kertas merah bertuliskan 'I am sorry', memasukkan kembali ke dalam paper bag dan menyimpannya dalam kamarku. Aku tidak akan membukanya, aku akan mengirim kembali hadiah ini padanya seperti sebelumnya.
***
"Sebenarnya kita mau kemana Pak?" tanyaku penasaran ketika kami mulai masuk perbatasan Mojokerto.
"Syekh Jumadil Kubro."
"Dina belum pernah ke sana Pak," kataku sembari menyalakan GPS di ponsel yang diberi Andric. "Itu yang makamnya satu area sama makam kerajaan Majapahit ya Pak?"
"Iya, Bapak beberapa kali ke sana sama Ibumu."
Bapak memang suka dengan kegiatan wisata religi. Banyak hal yang bisa diambil dengan meneladani para penyebar agama Islam dahulu.
"Syekh Jumadil Kubro itu termasuk penganut ilmu kedigdayaan Nduk, banyak ilmu kedigdayaan Beliau yang diwariskan kepada muridnya."
"Dulu Bapak juga kan belajar ilmu kedigdayaan waktu di padepokan, apa itu ilmu yang sama pak?"
"Itu ilmu kejawen Nduk, tidak bernafas Islam. Ilmu itu disertai dengan mantra berbahasa Jawa kuno dan lelaku yang tidak berdasar agama. Selalu ada pantangan yang tidak boleh dilanggar.
Bapak sudah 20 tahun lebih meninggalkan ilmu-ilmu yang Bapak pelajari di padepokan itu. Bapak merasa tidak ada gunanya punya ilmu itu, Bapak merasa dijauhkan dari Tuhan."
Aku masih mengingat dulu waktu kecil kadang menemukan bekas sesajen di kamar Bapak. Dua gelas kopi, dua gelas teh, dua gelas air putih, bunga kenanga, kanthil putih, daun sirih dan pinang muda, rokok, jajan pasar, ketan putih, nasi putih, ayam ingkung dan entah apalagi aku tidak begitu ingat.
Bapak juga tidak menunaikan sholat atau mengaji sebagaimana orang yang mengaku beragama Islam. Tapi kami semua anak Bapak diwajibkan untuk pergi belajar mengaji setiap hari.
Bapak meneruskan ceritanya, "Bapak sangat berterima kasih pada Pak Nahrawi yang sudah membimbing Bapak dan mengajari Bapak mengaji. Sayang sekali Beliau sudah tiada."
Aku ingat siapa Pak Nahrawi, Beliau adalah guru ngaji dan pengurus masjid yang umurnya mungkin sama dengan Bapak. Pada masa itu aku juga tahu Beliau selalu mengunjungi Bapak setiap malam untuk mengajari Bapak mengaji.
Dan dari sejak itu aku melihat perubahan besar pada Bapak, ibadahnya sangat tekun, bahkan waktu senggangnya selalu dipakai untuk mengaji. Sepertinya Beliau ingin membayar kesalahan telah melupakan Sang Pencipta begitu lama.
Tidak ada lagi sesajen, tidak lagi terlihat barang-barang koleksi Bapak yang berupa pusaka seperti keris, tombak dan batu. Entah dibuang atau disimpan dimana aku juga tidak tahu.
Jika tidak ada kejadian ini aku mungkin juga tidak akan memahami masa lalu Bapak. Perjalanan spiritual Bapak menemukan Tuhannya ternyata tidak menghilangkan kekuatan supranaturalnya.
Bapak masih peka dengan kehadiran makhluk halus di sekitarnya, masih punya kekuatan memerintah mereka untuk pergi dan tidak mengganggu orang-orang yang dirasukinya.
Bapak juga seperti punya perisai pelindung diri tak kasat mata yang tidak bisa ditembus ilmu hitam. Sungguh aku bangga dengan Bapak.
Matahari sudah condong ke barat ketika kami memasuki area makam. Kami memang berangkat lebih siang dari jadwal karena Bapak minta istirahat tidur sebentar. Beliau juga kelelahan, mungkin lebih lelah daripada aku yang masih muda.
Kami menunaikan ibadah sholat ashar dan melanjutkan duduk di dekat makam untuk membaca doa dan tahlil.
Bapak mengusap wajah lelahnya ketika tahlil kami selesai. Aku mengangkat wajah dan memperhatikan makam Syekh Jumadil Kubro, tidak ada nama pada nisannya.
Pada nisan itu terdapat kutipan ayat-ayat Al-Qur'an. Aku membacanya satu persatu, ada dua kutipan ayat yang sangat mengena di hatiku yaitu 'setiap yang bernyawa akan merasakan mati, Al-Anbiya :35 dan tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah, Al-Qasas:88'
Aku membuka ponselku dan mencari lebih lengkap kutipan dua ayat tersebut. Aku mengulang beberapa kali ayat itu. Aku merasa lebih tenang membaca janji Allah pada ayat tersebut. Bahwa hanya Dia yang tidak akan binasa, bahwa hanya Dia yang terkuat.
Aku tidak perlu takut pada Pakde, aku tidak perlu takut pada kekuatan lain selain kekuatan-Nya. Bapak hanya memperhatikanku sembari tersenyum, seolah bisa membaca isi pikiranku.
Adzan magrib membawa kami pergi dari sana untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid.
"Setelah magrib kita akan mulai pelajaranmu."
***
tapi tetap suka ceritanya