NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Klan Wyvern

Guild Jagadarma berdiri megah di jantung kota perbatasan Prefektur Draconis, bangunannya terbuat dari batu hitam yang diukir dengan relief naga dari tiga belas klan yang melingkari seluruh dinding luar.

Panel hologram besar tergantung di atas pintu masuk utama, menampilkan daftar buruan aktif yang berputar tanpa henti dengan nama dan hadiah yang menyala merah.

Arjuna melangkah masuk dengan langkah yang tidak terburu-buru.

Ruangan di dalam luas, dipenuhi ksatria dari berbagai ras yang duduk, berdiri, atau berdiskusi dalam kelompok kecil dengan suara yang bercampur menjadi kebisingan yang teratur.

Tapi kebisingan itu mereda ketika sosok Arjuna melewati ambang pintu.

Satu per satu kepala berpaling ke arahnya, mata dari berbagai warna dan bentuk memindai sosok manusia murni yang berjalan masuk ke guild yang didominasi ras Dragonoid itu dengan langkah seolah tempat ini miliknya.

"Manusia murni?" bisik seseorang di sudut ruangan, suaranya tidak berusaha pelan.

"Di Prefektur Draconis?" timpal suara lain dari arah yang berbeda. "Manusia murni nyasar rupanya."

Arjuna tidak merespons, langkahnya menuju meja pendaftaran di ujung ruangan tanpa satu pun perubahan di wajahnya.

Di belakang meja itu, Dyah Ayu Prameswari berdiri dengan seragam guild yang rapi, tubuhnya yang memiliki kecantikan yang sulit diabaikan kontras tajam dengan wajahnya yang sangat pucat seperti kertas yang tidak pernah terkena matahari.

Matanya menatap Arjuna dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara kekhawatiran dan sesuatu yang menyerupai simpati.

"Selamat datang di Guild Jagadarma," ucapnya pelan, suaranya hati-hati seperti seseorang yang terbiasa berbicara tanpa menarik perhatian. "Ada yang bisa aku bantu?"

"Pendaftaran ksatria baru," jawab Arjuna singkat.

Sebelum Dyah Ayu sempat menjawab, suara tawa yang kasar meledak dari arah kiri ruangan.

"Ksatria?" seru seorang Dragonoid klan Wyvern, sisik abu-abu kebiruannya berkilau dengan ekspresi jijik yang tidak disembunyikan. "Manusia murni ingin mendaftar sebagai ksatria di Guild Jagadarma?"

Tawa meledak dari berbagai sudut ruangan.

"Manusia murni tidak punya urat nadi spiritual yang layak," timpal Dragonoid kedua dari klan Wyvern, suaranya merendah penuh penghinaan. "Bahkan anak Dragonoid yang baru lahir pun ranahnya sudah melampaui manusia dewasa sepertimu."

"Lihat armornya," ejek Dragonoid ketiga, matanya memindai Gold Magna Cyborg Armor Arjuna dengan tatapan meremehkan. "Armor bagus hanya untuk mayat yang sedang berjalan."

Seorang Dragonoid dari klan lain berdiri dari kursinya, tubuhnya besar dengan sisik merah tua yang kasar.

"Aku sudah bertaruh dengan temanku," ucapnya keras, tawanya meledak menggema di seluruh ruangan. "Berapa lama manusia ini bertahan sebelum lari keluar dari guild dengan ekor di antara kedua kakinya?"

"Seminggu terlalu lama," sahut seseorang dari sudut ruangan. "Tiga hari sudah cukup untuk membuat dia menangis minta pulang."

"Tiga hari?" ulang Dragonoid Wyvern pertama, tawanya semakin keras. "Aku bilang hari ini saja dia sudah menyerah. Manusia murni tidak punya tulang punggung, apalagi nyali."

Hinaan demi hinaan bertumpuk dari berbagai arah sekaligus, bukan hanya dari klan Wyvern tapi dari hampir seluruh isi ruangan yang ikut menimpali satu sama lain.

"Tidak ada manusia murni yang layak menyandang gelar ksatria."

"Ras paling lemah di Benua Sangakama ingin bermain di kandang naga."

"Kasihan, sudah tidak tahu diri tidak tahu ranah pula."

"Pergi saja kau kembali ke lubang tempatmu berasal, manusia!"

Dyah Ayu menundukkan kepala di balik meja, tangannya menggenggam tepi meja dengan jari-jari yang memutih.

"Maaf," bisiknya pelan ke arah Arjuna, suaranya nyaris tidak terdengar di antara kebisingan hinaan yang bertumpuk. "Jangan hiraukan mereka. Aku akan memproses pendaftaranmu."

Arjuna tidak menjawab Dyah Ayu.

Dia berbalik menghadap seluruh ruangan dengan gerakan yang lambat dan penuh wibawa, matanya merah membara menyapu setiap wajah yang menertawakannya satu per satu.

Keheningan tidak turun seketika, tawa masih bergema di beberapa sudut.

Lalu tangan kanan Arjuna bergerak ke dalam bracelet penyimpanannya, mengeluarkan sebuah benda kecil yang diletakkan di atas meja pendaftaran dengan bunyi logam yang tipis tapi menggema di seluruh ruangan.

Lencana kepala Hydra dengan sisik hijau gelap yang diukir detail di permukaan logam hitamnya.

Tawa berhenti.

Satu per satu.

Seperti lilin yang dipadamkan oleh angin yang sama.

Dragonoid klan Wyvern yang paling vokal tadi menatap lencana itu, wajahnya berubah dari tawa menjadi sesuatu yang jauh berbeda dalam waktu kurang dari satu detik.

Seluruh ruangan membeku.

"Lencana klan Hydra," desah seseorang, suaranya tidak lebih dari bisikan yang gemetar. "Dia membawa lencana klan Hydra."

Arjuna tidak bergerak, tidak berbicara, hanya berdiri dengan mata merah yang menyapu seluruh ruangan dengan tenang.

"Sekarang," ucap Arjuna akhirnya, suaranya rendah tapi bergema sampai ke sudut ruangan yang paling jauh. "Adakah yang masih ingin berkomentar?"

Dyah Ayu mengeluarkan sebuah kartu tipis berwarna hitam dengan ukiran relief naga di permukaannya, lalu menyerahkannya ke tangan Arjuna dengan gerakan yang masih hati-hati.

"Kartu ksatria Guild Jagadarma," ucapnya pelan, suaranya kembali tenang meskipun tangannya masih sedikit gemetar. "Rank awal semua ksatria baru dimulai dari Iron Rank."

Arjuna mengambil kartu itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian menyimpannya ke dalam bracelet penyimpanannya dengan gerakan yang efisien.

Matanya sekilas bertemu dengan mata Dyah Ayu sebelum dia berbalik, dan melangkah keluar dari Guild Jagadarma dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat dia masuk.

Seluruh ruangan masih membeku dalam keheningan sampai langkah Arjuna menghilang di balik pintu utama.

Lalu kebisingan kembali, tapi kali ini nadanya berbeda, lebih rendah, lebih tegang, dan tidak ada tawa di dalamnya.

Di sudut ruangan, tiga Dragonoid klan Wyvern berkumpul dalam lingkaran kecil yang rapat.

Sisik abu-abu kebiruan mereka berkilau redup di bawah cahaya panel hologram. Mata mereka mengikuti arah pintu yang baru saja dilewati Arjuna dengan tatapan yang jauh berbeda dari tawa penghinaan sebelumnya.

"Manusia itu membawa lencana klan Hydra," desah Dragonoid Wyvern pertama, suaranya rendah penuh amarah yang ditahan. "Jendral Harjasa memberikan perlindungan kepada manusia murni."

"Penghinaan," geram Dragonoid kedua, rahangnya terkatup rapat. "Klan Hydra semakin tidak tahu batas."

Dragonoid ketiga, yang paling besar di antara ketiganya dengan sisik yang lebih gelap dan aura Spirit Awakening Realm: Golden Star yang memancar tipis dari tubuhnya. Kemudian menyandarkan punggung ke dinding dengan ekspresi yang paling dingin.

"Lencana klan Hydra melindungi manusia itu di dalam Prefektur Draconis," ucap Dragonoid klan Wyvern yang pertama pelan, matanya berkilau dengan kalkulasi yang berbahaya. "Tapi lencana itu tidak bisa melindungi semua orang di sekitarnya."

Keheningan jatuh di antara ketiganya.

Dragonoid pertama menyipit, pemahamannya menangkap maksud kata-kata itu dengan cepat.

"Pelayan manusia di meja pendaftaran itu," bisik Dragonoid klan Wyvern kedua, matanya bergerak sekilas ke arah Dyah Ayu yang masih berdiri di balik mejanya dengan kepala menunduk. "Tidak ada lencana yang melindunginya."

Dragonoid ketiga mengangguk satu kali, dan sangat pelan.

"Kita tunggu sampai manusia itu cukup jauh," ucap Dragonoid pertama, suaranya tidak lebih dari hembusan angin. "Lalu kita ambil gadis itu sebagai pesan untuknya."

Dragonoid kedua tersenyum, tapi senyuman itu tidak menyentuh matanya sama sekali.

"Manusia murni yang baru saja naik menjadi ksatria Iron Rank," gumamnya penuh penghinaan. "Dia pikir lencana klan Hydra bisa melindunginya apabila berada selamanya di Prefektur Draconis."

"Biarkan dia menikmati harinya," balas Dragonoid ketiga, bangkit dari sandarannya dengan gerakan yang lambat tapi mengandung ancaman yang tidak perlu ditunjukkan. "Karena itu adalah hari terakhirnya."

***

Jauh di luar kota, tersembunyi di balik bayangan bangunan yang menghadap ke jalanan utama, sosok berbalut jubah hitam mengamati Arjuna yang berjalan menjauh dengan langkah yang tenang.

Tangannya bergerak, mengaktifkan komunikator hologram di pergelangan tangannya.

Cahaya biru tipis memancar.

"Target keluar dari Guild Jagadarma," ucapnya datar, "Membawa kartu ksatria Iron Rank dan lencana klan Hydra. Bergerak ke arah utara kota."

Di sisi lain sambungan, Komandan Wiryo menatap laporan itu dengan mata yang menyipit.

"Pantau terus!" jawab Wiryo, suaranya dingin seperti baja yang baru ditempa. "Eksekusi jika ada kesempatan. Phantom tidak boleh membiarkan manusia itu keluar dari Prefektur Draconis dalam keadaan hidup."

Sosok itu menutup komunikator tanpa menjawab, lalu menghilang ke dalam bayangan seperti dia tidak pernah ada

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!