Deg.
Vina terhuyung ke belakang setelah mendengar perkataan Devan barusan.
Tadinya Vina datang berniat memberitahu Devan bahwa dirinya hamil, tapi siapa sangka Vina malah mendengar kabar menyakitkan tentang hubungan mereka.
Tanpa pikir panjang Vina langsung berlari keluar dari apartemen itu dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Vina pergi tanpa memberitahu Devan soal kehamilannya. Toh hubungan mereka tidak bisa lagi di perjuangkan, itu sebabnya Vina memutuskan untuk merawat sendiri bayi yang masih ada di dalam perutnya.
Vina memutuskan pulang ke kampung halamannya meninggalkan semua kenangan yang ada di kota itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delfi Sofya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Vina sedang melayani pembeli Ketika Frans datang menghampirinya.
“Vin.” Sapa Frans.
Vina yang melihat Frans datang hanya mampu menghela napasnya pelan, selama ini wanita itu sudah berusaha untuk menghindari Frans tapi laki-laki itu tetap saja muncul membuatnya tidak nyaman.
Namun sebisa mungkin Vina menyembunyikan rasa tidak nyaman itu.
“Ya. Ada apa ya?” Vina balik bertanya.
“Ada yang ingin ku tanyakan padamu.” Seru Frans.
“Tanyakan apa?” Balas Vina dengan dahi mengkerut seperti sedang berpikir.
“Apa betul orang yang datang ke rumahmu hari ini adalah ayah kandung Naya?” Tanya Frans. Laki-laki itu takut mendengar kenyataan yang akan disampaikan Vina.
Frans mungkin tidak akan bisa menerima bahwa saingannya lebih segalanya daripada dirinya.
“Mereka sudah tiba? Kenapa cepat sekali ya.” Gumam Vina bertanya-tanya.
Dan ternyata itu di dengar oleh Frans.
“Jadi benar itu ayah kandung Naya?” Tanya Frans lagi karna tak kunjung mendapatkan jawaban dari Vina.
“Ya.” Sahut Vina.
Saingan ku sungguh berat kali ini. Batin Frans.
“Tapi kenapa dia datang kembali dan bagaimana dia tau kamu ada disini?” Ucap Frans dengan berbagai pertanyaan yang keluar.
Dengan entengnya Vina mengedikkan bahunya tanda tidak tau.
Vina tidak boleh kembali pada orang itu, Vina harus jadi milikku. Sudah terlalu lama aku memendam rasa padanya. Ucap Devan dalam hati.
“Maaf kalau sudah tidak ada lagi, aku akan kembali kebelakang untuk membersihkan piring-piring yang akan digunakan. Permisi.” Pamit Vina sengaja untuk menghindari laki-laki itu.
Frans hanya mengangguk pasrah.
***
“Jadi kalian akan tinggal di desa kecil ini selama sebulan?” Tanya Adi pada Devan dan papanya.
“Iya ayah. Selama sebulan itu akan Devan gunakan untuk membuktikan cinta Devan pada Vina. Aku ingin Naya memiliki keluarga yang lengkap dan utuh.” Jawab Devan.
“Saya minta maaf untuk semua yang telah keluarga saya perbuat pada anak anda. Jujur saya pun merasa bersalah karna tidak bisa membantu mereka saat itu.” Kali ini Bayu yang berbicara.
“Semua sudah terjadi, yang lalu biarlah berlalu.” Balas Adi.
Mau apalagi, memang benar semua sudah berlalu dan waktu tidak bisa di putar kembali. Yang Adi harapkan kali ini hanya ingin melihat anak dan cucunya bahagia sebelum ia tiada nanti. Setidaknya ia bisa pergi dengan hati yang damai saat itu.
“Mohon doanya ayah, papa. Semoga Vina mau menerima Devan kembali dan kita bisa berkumpul bersama sebagai satu keluarga.” Mohon Devan.
“Amin. Doa kami selalu menyertai kalian.” Balas dua laki-laki paruh baya itu bersamaan.
“Ayah, cara main permainan ini bagaimana?” Tiba-tiba Naya keluar dari kamar dengan iPad ditangannya.
Tidak tanggung-tanggung, ayahnya kali ini datang membawakan ole-ole sebuah iPad untuknya.
Dan itu kali pertama Naya melihat bentuk dan cara menggunakan iPad itu.
Teman-temannya yang lebih kaya di desa ini saja mungkin belum memiliki benda kotak besar seperti ini.
“Sini ayah ajarin.” Ucap Devan.
Naya pun berjalan menghampiri sang ayah dan duduk di pangkuannya.
Devan mengajarkan Naya cara menjalankan sebuah aplikasi. iPad itu juga sudah Devan atur hanya untuk bermain game dan belajar.
“Ingat! Ini hanya boleh di gunakan saat kamu sudah belajar, kalau sudah selesai belajar ataupun mengerjakan PR barulah Naya bisa menggunakan benda ini untuk bermain sebentar. Okey.” Ucap Devan mengingatkan.
“Oke ayah.” Sahut Naya cepat.
Gadis kecil itu mempraktekan apa yang Devan katakan tadi, semua permainan yang ada di dalam iPad itu di cobanya.
Sementara para orang dewasa kembali dengan perbincangan mereka.
***
Sore hari Vina pun bergegas pulang.
Wanita itu terpaksa pulang dengan Frans karna lelaki itu memaksa, bahkan tanpa malu menunggu dari siang hingga sore.
Karna merasa tidak enak, Vina pun menurut. Lagipula tubuhnya juga sudah lelah dan tidak mungkin berjalan untuk sampai ke rumah.
Frans menghentikan motornya tepat di halaman rumah Vina.
“Terima kasih untuk tumpangannya, lain kali kamu tidak perlu menunggu sampai seperti itu.” Ujar Vina tidak enak hati.
“Tidak masalah, apapun untukmu.” Balas Frans tersenyum
Tanpa mereka sadari, dibelakang ada Naya dan Devan yang sedang berdiri memperhatikan mereka.
Devan sebisa mungkin menahan emosinya, ia tidak ingin di hari pertamanya untuk berjuang sudah mendapat kesan buruk dari Vina.
“Bunda.” Panggil Naya karna Devan tak kunjung bergerak menghampiri sang bunda dan malah diam di depan pintu.
Refleks Vina dan Frans berbalik ke belakang.
Betapa terkejutnya Vina saat melihat Devan di sana, apalagi tatapan pria itu begitu tajam menusuk.
Sementara Frans yang berada di sana balik menatap tajam Devan yang saat itu menatapnya dengan raut permusuhan.
“Besok aku akan datang lagi untuk menjemputmu.” Ucap Frans dengan sedikit membesarkan suaranya agar di dengar oleh Devan.
“Aku rasa itu tidak perlu Frans, aku tidak ingin merepotkan orang lain.” Tolak Vina halus.
“Tidak, itu tidak merepotkan sama sekali.” Sergah Frans cepat, laki-laki itu tidak ingin Vina menolak tawarannya.
Saat Vina hendak bersuara ingin menolak tawaran Frans, tiba-tiba Devan datang dan berdiri di samping wanita itu dengan Naya bersamanya.
“Tidak perlu, lagipula Vina sudah menolak. Kenapa malah kau seperti memaksanya!” Tekan Devan sambil matanya menatap tajam Frans.
“Bukan urusanmu!” Frans balik menantang.
“Jelas urusan ku, jangan lupa dia adalah ibu dari anakku.” Balas Devan dengan tatapan mengejek merasa menang satu langkah dari laki-laki itu.
“Kenapa baru sekarang kau mengakui mereka, dulu kemana saja kau?” Frans semakin menyulut emosi Devan.
“Diamlah karna kau tidak tau kejadian sebenarnya.” Balas Devan masih berusaha menahan tangannya yang ingin sekali menonjok laki-laki itu.
Vina yang merasa suasana sudah tidak kondusif pun cepat-cepat melerai mereka.
“Sudah-sudah. Apa kalian tidak malu bertengkar di depan anak kecil, apa kalian juga ingin mengundang warga datang kemari dan menonton kalian.” Seru Vina menghentikan adu mulut di antara kedua pria itu.
“Naya, ajak ayahmu masuk.” Perintah Vina.
“Dan Frans, terima kasih untuk tumpangannya.” Lanjut Vina berbicara.
Setelah mengucapkan kata itu, Vina pun berbalik menyusul Naya dan Devan yang sudah lebih dulu masuk.
Laki-laki sialan, sombong sekali dia. Maki Frans dalam hatinya.
Frans pun kembali menyalakan motornya meninggalkan halaman rumah Vina.
Saat masuk, mereka sudah di tunggu empat pasang mata. Siapa lagi kalau bukan Adi dan Bayu.
“Ada apa? Kenapa ribut-ribut diluar?” Tanya Adi dan Bayu.
Vina dan Devan saling memandang satu sama lain, bingung ingin menjawab apa.
“Ayah dan om Frans bertengkar.” Celetuk Vina sontak membuat Vina menepuk dahinya.
“Ada Frans disini?” Tiba-tiba Adi bertanya.
“Ada ayah. Tadi dia yang mengantarkan Vina pulang.” Jawab wanita itu.
Seakan tersadar dengan keberadaan Bayu, Vina pun refleks berjalan menuju pria paruh baya itu.
“Om.” Sapa Vina sopan.
Dengan senang hati Bayu menyambut uluran tangan Vina, ternyata apa yang ada dalam pikirannya tidak benar-benar terjadi.
Tadinya Bayu berpikir Vina tidak akan menyambut baik mereka di tempat itu, apalagi setelah semua yang telah keluarganya lakukan selama ini, terlebih istrinya Santi.
“Maafkan Om untuk semuanya.” Tulus Bayu berbicara.
“Vina sudah melupakan semuanya om. Yang lalu biarlah berlalu.” Balas Vina.
“Kamu memang gadis baik, om tau itu sejak awal. Hanya saja karna mama Devan yang saat itu sakit membuat kami tidak bisa melawan perkataannya.” Sesal Bayu.
“Tolong maafkan semua kesalahan anak om yang bodoh ini. Om berharap kalian bisa bersama seperti dulu, apalagi sudah ada anak ditengah-tengah kalian.” Sambung Bayu.
“Maaf om, Vina sudah memaafkan semuanya. Tapi untuk kembali sepertinya itu tidak mungkin, Vina juga sudah nyaman seperti ini.” Balas Vina.
Apa yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan hatinya.
Mulutnya menolak kembali tapi hati kecilnya ingin kembali.
Tapi lagi-lagi rasa kecewa masih lebih besar dari rasa ingin kembali itu.
❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak melalui vote, like dan komen kalian😊🤗